KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (69) BERITA MEDIA (47) CATATAN HARIAN (47) GoBlog (12) PUISI (11) CERPEN (8)

24 July 2014

Mantan Pemberontak

@serbasejarah.wordpres.com
Lelaki hampir se-abad itu duduk diam di sebuah kursi bambu kumal. Tatap matanya tajam melihat ke depan. Tak ada yang terlalu dirisaukannya. Sore itu udara dingin membelai tubuhnya. Tak kulihat ia memakai jaket tebal. Ia memakai kaos Oblong dengan tulisan di punggungnya yang bertuliskan “Iwan Fals, orang Aseli Indonesia”. Entah pula ia tau siap Iwan Fals itu. Sang musisi besar di negeri ini yang memutuskan tetap bernyanyi ketimbang jadi gubernur atau bupati. Aneh memang orang-orang kita, setelah terkenal jadi selebritis, terus jadi pejabat. Biaya kampanye pun tak perlu keluarkan uang miliyaran. Toh, entertaiment tiap hari bersua kabar atau gosip yang selalu menimpa mereka. Ada-ada saja.


Ia mengambil tembakau, lalu dibungkus dengan lembaran daun nipah. Si tua bangka itu membakar rokok daun nipahnya. Ia menghisap rokok itu dalam-dalam. Asap agak hitam membelai wajah keriputnya. Ia telah tua. Tua banget malah.

Sebelumnya, mari kuceritakan siapa sebenarnya kakek tua itu. Kau ingin mendengarnya teman? Tentu. Baiklah kalau begitu. Tapi dari mana aku harus memulai cerita ini. Dari awal, atau kau perlu tau siapa dia sebenarnya. Oke, baiklah kawan. Kau dengar saja. Jangan banyak bertanya sebelum selesai cerita ini. Nanti aku bisa lupa menyusun kalimat-perkalimat dari mulutku. Supaya kau juga paham dan tak ada berita yang terlewatkan. Kau dengarlah baik-baik.

Aku bertemu dengannya tiga tahun yang lalu di sebuah pasar kumuh di sebuah kota tua Pusaka Radja. Umur kota itu lebih tua dari umur si kakek itu. Sekarang kota itu tak semegah pada masa kerajaan jaman dahulu. Ah, tak baik rasanya aku bermegah-megah dengan kejayaan Sultan terdahulu. Sekarang kau bisa lihat saja, apa yang terjadi dengan kota yang telah setua ini. Setiap jengkal tanah telah tumbuh dengan subur deretan toko-toko berlantai tiga. Letak bangun tak tertata dengan baik. Bangunan rumah toko berjejer di sisi kiri kanan jalan. Tak ada halaman tempat parkir kendaraan. Paling cuma bisa satu dua mobil saja yang bisa parkir. Selebihnya parkir dipinggir jalan. Maka macet datang tiap waktu sibuk. Sore atau pagi biasanya. Jangan kau tanya dimana saluran air, jika sekali waktu hujan. Maka banjirlah. Lalu mereka mempersalahkan rakyat yang buang sampah sembarangan.


Entahlah, aku juga tak seberapa tau dengan orang yang menata kota ini. Seorang kawanku pernah menjulukinya Pak Wagito. Walikota gila toko katanya. Kau tau, di sepanjang jalan utama kota ini tumbuh toko-toko yang berjejer bak jamur di musim hujan. Bukti kota yang maju?
Seumur-umurku, baru kali ini aku terkagum dengan cerita kakek ini. Lebih kurang begini ceritanya. Sore itu tanpa sengaja aku sempat berbincang dengannya di sebuah taman yang letak bangunan di tengahnya mirip seperti gedung setan. Tak jelas arsitekturnya. Kau lihat saja, yang rancang bangun gedung itu, sesuai dengan keinginan mereka selaku donor yang datang membantu rakyat kota yang luluh lantak setelah amuk air laut yang datang ke darat akhir desember 2004 lalu. Orang bilang gerdung itu mirip sebuah bangunan tempat ibadah orang yang bukan mayoritas kaumnya di sini. Ada banyak orang-orang yang protes juga. Tapi, ya itulah! Mereka hanya sebatas protes. Tak berani melawan sampai titik keringat penghabisan. Setiap mulut mereka telah disumpal dengan berjuta uang.

“ Dulu saya sempat melihat Soekarno menangis di Hotel itu” ia menunujuk ke arah sebuah pancang tiang baja yang menurut kabar ‘radio bergigi’ pernah di bangun Hotel Atjeh. Setelah negeri ini merdeka, Holtel itu di hancurkan. Merusak pemandangan tempat ibadah di sampingnya, Mesjid Raya. Aku juga dengar akan dibangun lagi hotel itu.Tapi kulihat tak pernah dibangun sampai sekarang. Masih ribut tentang pemilik tanah itu. Entah mana yang benar.

“Saya dulu pernah bekerja di hotel itu” katanya lagi penuh bangga. “Kau tau, ketika Soekarno datang meminta bantuan pada Rakyat Aceh”.

“ Tidak” jawabku cepat.

“ha…ha…ha..” ia tertawa sehingga menampakkan giginya yang hitam menguning. Beberapa gigi depannya tak lagi tumbuh. Telah runtuh.

“Kau ini ada sekolah?”

“Ia, saya sempat tamat SMA, kek”.

“Aku tau, guru-guru di sekolahmu tidak cerita sejarah yang sebenarnya, mereka itu antek-antek pemerintah Jawakartis, tak boleh cerita yang macam-macam”

“Maksud kakek apa?” tanyaku penasaran ingin cepat tau.

“Dulu, di Hotel Atjeh itu, Soekarno menangis merintih meminta kasihan dari Dawod Beureueh”

“Pimpinan DI/TII itu kek ya”

“Kau jangan panggil aku kakek, aku ini masih muda. Lihat, aku masih sanggup kawin sekali lagi”. Lalu kakek itu tertawa. Mulutnya terbuka lebar. Kulit keriput di wajahnya seperti tidak tampak jika usianya sudah 90 tahun.

Aku hanya tersenyum melihat tingkah anehnya itu. Ia mengambil beberapa lembar daun nipah yang telah dibungkus dengan tembakau. Lalu dibakarnya rokok daun nipah itu. Ia memutar rokok itu pelan sambil menguyah sirih yang memerah. Ku lihat rasa senang di wajahnya. Ia seperti tersenyum dengan sedikit memaksa.

“Kakek sekarang tinggal dimana”

“ Aku tinggal di Negara Aceh”.

“Tapi setau saya, Aceh belum jadi negara kek”

“Siapa bilang?, kau ini gimana. Susah juga aku bicara dengan anak tidak sekolahan”

Aku sempat mengernyitkan dahi.

“Tengku Osman Bin Lahdong itu Presiden Negara Aceh, aku sempat menjadi anak buahnya sewaktu bekerja di Hotel Aceh dulu. Cuma dia anak Panglima Polem, jadi sekarang sah-sah saja ia jadi Presiden. Sedang aku, tak suka jabatan tinggi-tinggi, kemana-mana harus dikawal, susah sekali jadi orang penting”.

“Namamu siapa?”. Matanya melotot memandang. Aku tersentak kejut. Suara kakek itu seperti menggertak.

“Teuku Fahri Amin, kek?
“Teuku?, tak ada yang bisa kau banggakan dengan gelar itu sekarang. Kalau dulu ya, kakek-kakekmu tinggal tunjuk saja mana tanah yang dia suka. Termasuk tanahku disamping kuburan Belanda itu di ambil.”

Lalu ia melanjutkan.

“Dulu, serdadu-serdadu Jawakarta pernah mengejar Yah Wa sampai ke Gunong Geureudong. Tempat jin buang anak. Dan tempat tercepelai bagi uang. Mereka menyebut Yah Wa pemberontak terhadap keutuhan negara ini. Waktu itu jaman Orde Baru. Siap saja yang berpikir kritis akan ‘disekolahkan’.

Dianggap separatis ketika orang-orang di kampung kita tau tentang sejarah perjuangan endatu kita dulu. Pada Belanda saja kita menyerah. Tapi sekarang lain, orang-orang sudah ribut dengan uang receh seperti waktu Belanda dulu melemparkan uang ke perdu-perdu bambu. Kita lalai dengan nasib masa depan yang penuh gemilang dan cita-cita para pejuang dahulu. Bahwa kita harus bebas dan mendapat derajat sebagai bangsa yang bermartabat. Tapi bukan untuk merdeka. Kata-kata itu tak boleh lagi di sebut setelah perjanjian damai di Finlandia.”

Ia kemudian diam. Lalu dibakar rokoknya sebatang lagi. Setelah itu ia pergi menuju kearah suara azan. Senja perlahan turun. Hari berganti dengan malam.
***
Setelah pertemuan itu. Aku tak pernah lagi kulihat ia di taman. Padahal ingin juga aku mendengar cerita-cerita seru selanjutnya dari Yah Wa. Berhari-hari, berminggu-minggu hingga tiga bulan setelahnya kudengar kabar yang sangat mengejutkan. Dari seorang petugas taman kota. Ia tewas mengenaskan setelah sebuah truk trailer pengangkut batu menabraknya dari samping. Tubuhnya tergilas hingga otaknya terburai tumpah di pinggir jalan. Truk itu tak berhenti dan terus melaju menembus kabut debu jalan.

“Ia di kuburkan di pemakaman umum, tak ada yang mengaku sebagai keluarganya di kota ini”. Kata penjaga taman padaku sambil bergegas pergi. Sebab tugasnya telah selesai hari ini.

Aku berjalan menapaki jalan yang berdebu. Lalu lalang ramai mobil-mobil mewah di jalan tak kuhiraukan. Sampailah pada Mesjid Raya. Setelah shalat Ashar kuhadiahkan sahalat ghaib untuk Yah Wa. Semoga ia mendapa tempat yang layak di sisi-Nya. Amin. [Harian Aceh Independen, 24 Mei 2009]

No comments:

Post a Comment