KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (68) CATATAN HARIAN (47) BERITA MEDIA (45) GoBlog (11) PUISI (11) CERPEN (8)

13 September 2014

Ospek itu Bernama SIKAT!


KITABMAOP- Berbicara tentang SIKAT (Silaturahmi Keakraban Aneuk Teknik) Saya ingin mengulang kaji kenangan sedikit tentang ospek yang sebagian orang dianggap cara cara kekerasan itu. Saya jelas menolak sebutan SIKAT sebagai bagian dari kekerasan. Bagi saya SIKAT itu penting untuk membikin mahasiswa baru tau karakter dan diri dalam memasuki dunia kampus yang begitu jauh berbeda dengan kondisi sekolah.

Sebagai sebuah catatan harian ini, sebelum mengulas lebih jauh tentang apa penting atau tidaknya seorang anak culun dari SMA ketika telah lulus jadi mahasiswa di Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala. Sebelum lebih jauh catatan ini ditulis, saya ingin jelaskan sedikit tentang latar belakang saya. Ini mungkin terlalu berlebihan menulis tentang diri sendiri.

Saya berasal dari Bireuen, tepatnya dipedalaman kecamatan Kutablang. Basis di mana era tahun 1999-2002 kami anak remaja dikampung, lebih bangga duduk bersama orang orang yang memegang Handy Talky dari orang orang perjuangan Aceh, dibandingkan dengan menjadi seorang nasionalis Indonesia. Masa dimana kami lebih memilih tidak mau ikut upacara dan membenci pelajaran PPKN, Bahasa Indonesia dan hal hal yang berbau pancasila dan Indonesia.

Saya tamat di jurusan Teknik Pengolahan Logam (TPL) STM Negeri Bireuen tahun 2001. Bermodal sangak cap raheung dan nekat dengan ijazah andalan STM, ikut UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), kalian bisa bayangkan bagaimana dungunya kami menjawab soal soal IPA yang ribet, di STM jam mata pelajaran matematik itu cuma 2 jam/minggu. Di SMA? 8 jam/minggu! Bahasa Inggris, Fisika juga 2 jam/minggu.

Saya terpaksa kuliah karena Mak yang memaksakan harus kuliah di Banda Aceh. Keinginan saya waktu itu tetap bisa bekerja jadi teknisi mesin bubut di bengkel-bengkel ternama di Bireuen kandas di tengah jalan. Tapi Mak ingin selamatkan saya dari kondisi kampung yang sedang berkecamuk adu peluru dari kubu para serdadu. Teman teman seangkatan di kampung umumnya memilih membantu atau langsung jadi bagian dari GAM, walaupun posisinya hanya sebagai pasukan jaga radio (HT). Beberapa ada yang "diselamatkan" oleh saudaranya merantau ke Pulau Jawa, Batam dan Malaya. Saya "diselamatkan" dengan harus kuliah ke Banda Aceh, kota di mana perang tidak begitu riuh dibandingkan di kampung-kampung saat itu.

Almarhum Ayah saya seorang guru SD, meninggal karena sakit sewaktu saya kelas 1 STM, 5 Maret 1999. Ibu saya petani, kami modal kuliah hanya mengandalkan hasil dari sawah dan pelihara ayam petelur dikampung. Sewaktu STM saya sudah bekerja sebagai buruh penambang pasir di sungai Peusangan, jadi tukang angkat pasir dari pantai ke truck. Soal ongkos itu begitu menggiurkan, tapi selepas engkau dari tambang pasir itu, rasa lapar bukan kepalang, ketika ke warung kopi, itu balok sekalipun enak dimakan.

Tahun 2001 namanya masih UMPTN, saya memilih Teknik Mesin sebagai pilihan pertama. Pilihan ke dua, FKIP. Ini atas pilihan keinginan Mak saya supaya jadi guru, karena saya tertarik ke Fisika, saya ambil Jurusan Fisika waktu itu. Dan hasilanya kedua pilihan itu tidak lulus. Masuk universitas negeri impian semua anak anak mantan SMA, tapi ikut seleksi UMPTN tanpa persiapan tentu sulit untuk tembus dan lolos di jurusan yang kita inginkan. Buruh persiapan yang memadai, apalagi kami dari STM yang bermodal pelajaran IPA kalah jauh dibandingkan dengan siswa SMA/MAN.

Menganggur di Banda Aceh selama setahun karena tidak lulus UMPTN. Masuk Universitas swasta tentu begitu mahal, Mak juga melarang. Kalau masuk kampus swasta, mending kuliah di Universitas Al Muslim, Bireuen. Waktu itu belum begitu maju. Tapi ya sama saja, kondisi kampung masing sering masuk serdadu, kontak senjata hampir terjadi setiap hari. Saya memilih tidak dikampung sebab kondisi kampung waktu itu lebih banyak serdadu dibandingkan sapi. Tahun 2002 atas saran kakak saya yang kuliah di IAIN untuk mengikuti bimbel. Ikut bimbel awalnya bikin pusing, saya berurusan dengan mata pelajaran IPA. Banyak yang tidak saya pahami, saya cemburu lihat anak anak SMA dikelas yang begitu jago dan lihai dalam menjawab soal atau bertanya pada tentor bimbel.

Mengikuti Bimbel sebulan bikin saya banyak paham soal trik dan tips untuk tembus UMPTN. Kami waktu itu mendaftar satu kelompok berharap bisa dalam satu ruangan, minimal tidak sendiri dalam ruang ujian. Ini penting bagi psikologi ikut ujian. di Bimbel ada bagian psikologi yang selalu dibimbing kami. Lumayan membantu saya walaupun harus bayar mahal.

Tahun 2002, UMPTN berubah namanya jadi SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Saya tetap memilih Jurusan Teknik Mesin sebagai pilihan pertama. Pilihan kedua memilih Teknik Pertanian, toh saya seorang petani sejak kecil dikampung. Demikian alasan waktu itu, namanya juga masih Teknik walau bukan di Fakultas Teknik. Akhirnya saya lulus Teknik Mesin, nama saya urutan pertama sekali. Bangga bukan main. Ada 6 orang dikampung saya yang ikut UMPTN waktu itu, cuma 2 yang lulus, satu lagi di FKH, tapi berhenti saat semester 3. Oke, lulus di Teknik adalah kebanggaan tentunya. Mak saya bangga sekali, tentu bagi kalian juga merasakan saat ditetapkan telah lulus SPMB di halaman koran Serambi Indonesia, waktu itu internet masih sulit sekali dijangkau.

Masuk Teknik Unsyiah, tentu harus ikut SIKAT, sebuah syarat agar engkau dicap sebagai "Aneuk Teknik" ini awalnya saya ketahui karena tetangga kost adalah anak Teknik 2001. Dia banyak cerita dan sedikit menakuti tentang ospek di Teknik. Dia memang cerita sedikit soal SIKAT, tentang lagu, tentang senam tengkorak tentang kompak dan ajang keakraban sesama leting. Saya tidak begitu peduli soal ketakutan yang dia bangun kalai itu, karena saya tau sekali bagaimana sebuah keakraban itu terbangun jika memang cara mengenal sesama itu tidak melalui ruangan yang berAC, alasan kedua juga karena waktu lulus STM tahun 1998, kami ikut orientasi ospek langsung oleh Tentara dari Yonif 113 Bireuen dan di bantu oleh anak anak pramuka STM. Motivasi untuk ikut SIKAT juga karena tanpa ikut SIKAT itu maka tidak dapat sertifikat yang nantinya akan begitu penting saat masuk lab dan segala keperluan lainnya.

Sebelum ikut SIKAT, kami ikut dulu ordikmaru ditingkat universitas setengah hari, di sini bisa ketawa ketawa tanpa beban dengan semua leting jurusan lain di Unsyiah, kami bertemu dengan abang abang memakai jas almamater unsyiah yang keren keren itu, kami anak anak baru juga memakai almamater, dengan baju putih lengan panjang dan celana hitam. Saya tidak memakai almamater dan ditanya oleh panitia kenapa tidak memakai, waktu itu tidak cukup uang untuk membeli saya jelaskan sama mereka. Sampai sekarang saya tidak punya almamater Unsyiah.

Setengah hari ketawa ketiwi sama panitia BEM Universitas dengan pengenalan segala hal umum dilingkungan unversitas. Siangnya lepas makan dan shalat zuhur, kami baru dijemput oleh panitia SIKAT, dari gedung Biro Rektor kami disambut ala Teknik. Baju almamater disuruh masukkan dalam tas semua. Barulah segala ketawa ketiwi sebelumnya lenyap seketika ketika penyambutan -aku tidak sepakat disebut pembantaian- dari Mentor/Panitia SIKAT Fakultas itu. Pantianya dari angkatan 1999, dan mentornya dari angkatan 1998.

Kami bertemu wajah wajah garang dan sangar tanpa memamakai jas almamater, mereka memakai tanda kain orange dilengan tangan. Kami dibariskan didepan pintu gerbang dekat Biro Rektorat, segala gertakan dimulai, mahasiswa dari Fakultas lain dijemput oleh senior masing masing. Tapi mereka diperlakuan lebih aman.

Ya namanya juga masih anak anak baru yang culun dan lucu. Ada dari yang belum mencukur rambutnya dibariskan dalam satu kelompok. Hampir selalu ada saja salah dalam menindaklanjuti perintah dari mentor kami sesekali kena push up di aspal, ada yang sit up juga. Ketika barisan sudah oke, barulah kami disuruh jalan.

Kami tidak langsung dibawa ke Fakultas Teknik. Kami dibawa ke lapangan Geulanggang, di bawah terik matahari jam 2 siang kami disoraki dengan segala perintah baris berbaris, sedikit salah sudah pasti kena setrap push up atau sit-up. Kami melakukan itu dibawah tekanan, saya beberapa kali kena push up karena menertawakan kawan disamping, dia orangnya gendung, sulit sekali push up. Jika kau melihat itu, tentu juga akan menertawakannya.

Setelah shalat Ashar, kami baru diarahkan ke Fakultas Teknik. Saat jalan di depan Teknik disuruh menunduk tak boleh melihat ke arah Gedung Fakultas. Disini lebih parah, kami bertemu dengan begitu banyak abang angkatan dengan corak berbagai model, umumnya masih gondrong, memakai celana robek dilutut, baju kaos dipadukan kemeja dengan kancing baju terbuka, memakai sepatu dan tas ransel. Yang mentor cewek garangnya juga bukan kepalang, saya terpikir saat itu. Inilah dunia mahasiswa Teknik, dengan segala gaya dan karakternya masing masing. Yang mentor cewek ini, kakak yang kece dan cakep menggertak kami yang laki laki. Mau melawan banyak sekali mentor laki laki, mana berani tentunya.

Memasuki halaman parkir teknik, dengan segala suara perintah riuh dan tidak jelas. Kami banyak jadi bingung, ketika salah sudah pasti kena sanksi, waktu sanksi dilaksanakan tidak kompak maka akan berlanjut pad sanksi selanjutnya. Hingga sore jam 6, barulah kami dapat tugas harus membawa pernak pernik alat kelengkapan SIKAT besok harinya. Bulu ayam ekor jago untuk anak laki laki, kartun orange dengan ukuran disebutkan dalam bentuk hitungan yang harus kami jumlahkan dulu, nama jelek ditulis disitu, bawang putih, kacang hijau dengan jumlah harus 1963 butir, tas ransel, sepatu, sandal, air minum merk vit warna orange (ini yang paling sulit dicari), malamnya repotlah sampai jam 2 malam harus menyiapkan alat itu. Saya harus masuk kandang ayam tetangga untuk mencabut ekor bulu ayam, ini perjuangan berat sekali perjuangannya.

Besoknya kami masuk jam 7 pagi dengan mata yang masih melawan kantuk harus hadir tepat waktu. Kalau ada yang terlambat, mereka harus berjalan jongkok dari simpang 4 masuk Teknik. Tidak boleh ada yang turun kenderaan dari depan Teknik, teman kami yang diantar oleh kelaurganya harus turun kenderaan di simpang sempat Geulanggang.

Acara pagi-pagi itu kami mengikuti senam tengkorak yang dipandu oleh Mentor SIKAT, umumnya dari Mapala. Ada beberapa instruktur berdiri di depan barisan dengan tangan terlentang ke samping, ganti ke atas, mereka melakukannya dengan baik tanpa menurunkannya. Ini disebut senam tengkorak, saya baru tau kemudian. Saya tidak tau darimana asal usul sebutan nama itu. Tapi cukup bikin tangan pegal bukan kepalang. Kami cuma bisa bertahan 5 menit, sedikit diturunkan maka alamat batu harus dipegang sebagai ganjalan. Tidak usah tanya yang tumbang, banyak sekali, umumnya tidak sarapan dari rumah.

Kami ikut SIKAT selama 3 hari penuh, banyak hal yang diajarkan tentang pengenalan kampus yang tentunya sangat jauh berbeda dengan fakultas lainnya. Bagi saya SIKAT itu sebagai ajang untuk saling kenal satu sama lainnya antar leting dan senior mahasiswa. Untuk sesama leting misalnya, sampai selesai kuliah saya yang dari kampung bisa bergaul dengan anak anak kelas kaya dan kota tanpa memandang sebagai perbedaan pendapatan orang tua. Ini satu contoh bagian dari SIKAT yang memang jadi penting dilakukan. Lalu dengan kondisi sekarangi ini apakah penting SIKAT mesti dipertahankan lagi seperti ketika SIKAT dulu?

Masuk Teknik itu susah, keluarnya lebih susah lagi. Keluar dengan Hormat Teknik tentunya sewaktu wisuda. Saya wisuda pada 14 Mei 2010, tepat 8 tahun sejak masuk pada Juni 2002. Ambil cuti 2 semester. Ketika awal awal kuliah, saya masih teringat seorang dosen kalkulus yang memberikan filosofi kapada kami, lebih kurang beliau megatakan begini: "Kalian ini kuliah di Teknik Mesin, ibarat segerombolan tentara yang dilemparkan di hutan belantara. Kalian dikasi modal dasar sedikit, untuk bertahan dalam hutan dan harus balik ke kota dengan selamat. Jumlah yang selamst tentunya bisa jadi setengah dari yang dilemparkan sewaktu di gunung. Kalian didititip oleh rektorat kepada kami untuk di ospek dengan maksimal waktu tujuh tahun. Bisa aja nanti yang wisuda setengah dari ini. Ada yang mati, sakit ditengah jalan dan tidak lagi punya semangat untuk bisa sampai di markas”

Saya masih ingat gimana susahnya waktu sedang bikin TA, 2 tahun melanglang buana harus berjuang, berat sekali rasanya. kalian yang pernah alami ini tentu sangat paham akan susahnya kuliah di Teknik. Apalagi Teknik Mesin, harus kuat mental seperti baja, tidak boleh cengeng.

Sewaktu ikut SIKAT, kalimat paling sering terdengar adalah: “Turun Ko Dek, Ngak usah Ambel Untong, Ngak Kompak Klean, Anak Teknik Tu Harus Kompak, Klean Masuk sama sama, keluar juga sama sama. Kuliah Itu ngak perlu pande, tapi pande pande klean.”

Sekarang nama SIKAT udah diganti jadi Pakarmaru. Saya alumni yang tidak begitu peduli dengan hal kegiatan alumni dikampus, sebab jika engkau balik kampus, adik leting akan bertanya tentang di mana kerja sekarang, itu sangat menyedihkan bagi yang belum ada kerjaan tetap.

Saat semester awal kuliah, leting 2002 terdaftar mahasiswa 100 lebih. Tetapi yang dapat keluar dengar hormat melalui wisuda di Unsyiah cuma sekitar 45 orang, sisanya ada yang berhenti, korban tsunami dan pindah kampus. Saya termasuk beruntung jadi salah satu dari 45 orang tersebut, yang berhasil keluar dari Teknik Unsyiah dengan terhormat.[]

1 comment: