KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (68) CATATAN HARIAN (47) BERITA MEDIA (45) GoBlog (11) PUISI (11) CERPEN (8)

18 June 2013

Saya, Tiga Puluh Tahun Lalu [2]

Tidak dapat ku hitung berapa kali saya kena rotan yang terbelah tujuh dari Ayah, setiap ada kesalahan berat, selalu saja kena. Seringnya menerima hukuman pada sore hari, yang paling di benci dan sering mendapat hukuman adalah kalau tidak shalat ashar, karena lalai bermain atau mandi disungai. Maka sore harinya sebelum magrib, aku disuruh berdiri di sumur, kalau tidak shalat itu kenak pukul rotan sampai 5 kali. Disuruh hitung sendiri lagi. Ayah tidak pernah menampar atau memukul di punggung, selalu dipukul di betis, atau di telapak tangan. Waled bilang, itu yang di pukul adalah jin yang singgah pada tubuh saya. Makanya diusir, tapi ayah orangnya bisa memukul dengan tanpa emosi.

Ada jeda ketika dipukul dengan rotan, ditanya apa ada sakit? Kalau jawab iya, maka ayah bilangnya ini cuma baru sedikit dari laknat kepada orang orang yang malas shalat. Satu yang aku bangga: Waled tidak pernah menampar, tidak pernah memukul di punggung, selalu di betis. Sekarang aku rindu sekali kenal pukul dengan rotan itu, tapi tak dapat lagi. Dan rotan itu masih tersimpan di atas bara pintu rumah depan, sampai dengan sekarang. Selepas dipukul biasanya nenek datang melerai, sambil menangis yang tersedak-sedak, aku dibawa ke sumur, dimandikan.

Nenek memang orang yang selalu jadi pembela, asal kita jadi rajin dan patuh. Kalau hujan dikala sore tiba, kami selalu mandi hujan dengan teman2, loncat sana sini, itu tak pernah di larang, tak ada sedikitpun ayah khawatir kalau sakit. Paling ibu yang sering mengomel. Selesai mandi hujan, badan basah kuyup bergetar, ngak ada yang dikhawatirkan, nenek selalu memasak air panas di dapur.

Ingat kapan kalian di sunat, Maop? Ya, sewaktu mau naik kelas dua SMP. Seumuran aku waktu itu sudah telat sih, teman sebaya banyak yang disunat kala kelas 6 SD. Pada masa liburan sekolah. Nah, ada cerita menarik teman yang disunat, saling intip punya kawan masing masing. Hhaha, lucu sih, tapi kupikir kalian(laki-laki) juga pernah. Anak anak yang disunat seringnya tetap bandel bermain seperti biasanyadengan memakai kain sarung, pada hari kedua misalnya ada yang ikut bermain bola juga, walau larinya Cuma bisa seadanya, ada yang mandi disungai malah. Hhahaa.

Kawan yang disunat ini membalut buah zakarnya dengan plastik, supaya tidak kenak air, kalau kenak air kan bisa lama sembuhnya. Waktu disunat juga harus pantang banyak makanan, saya cuma makan ikan teri atau ikan asin yang dibakar, dengan kuah sayur bening selama seminggu. Aku tidak pernah keluar rumah bermain ketika disunat itu, seringnya duduk di rumah.

Waled membuka sebuah kedai kelontong di depan rumah, kami saling berganti menjaga kedai. Di kampung saya bukan kedai namanya untuk sebutan kios kelontong, tapi “Gudang”. “Tolong beli Gula sebentar di Gudang Tgk. Saleh” begitu orang sering menyebut dan sebagainya. Aneh memang, daerah Matang Gelumpang dua malam disebut Bank. Ini lebih lebih lucu lagi wak. Hhaha.

Kami menjaga kedai(lebih tepatnya kios) itu secara bergantian sewaktu pulang sekolah, kalau malam seringnya di jaga oleh Ayah sambil membikin tugas sekolah atau mengetik surat dari kantor kecamatan. Ayah punya mesin ketik sendiri, satu-satunya mesin ketik dikampung kami. Banyak orang orang kampung tetangga yang mau bikin surat tanah, surat ini selalu menyuruh sama Waled, dengan upah seikhlasnya. Kalau lagi musim buah-buahan, seringnya dibawah buah. Urusan surat menyurat Waled memang paling lihai. Aku juga belajar banyak kala sekolah. Kalau waktu musim turun ke sawah, kios itu akan ditutup, dibuka pada malam harinya. Aku sama adik atau abang, jaganya sering bergiliran, sering juga kadang ada waktu main bersama, ngak ada yang jaga, kios ditutup, sore harinya kena tegur sama Waled.

Waled punya sebuah sepeda motor, Honda Cup 70, dibeli baru dulunya, persis seperti Si Romlah yang aku pakai sekarang. Makanya kalian Maop, ngak usah terlalu banyak bertanya apa alasanku tetap setia dengan si Romlah. Hueheue. Setelah Waled meninggal, motor itu dijual karena sering mogok-mogok, kami masih kecil2, ngak tau cara merawatnya. Di ganti dengan motor merk Honda Grand bekas pada tahun 1999. Dengan sepeda motor itulah kami sering diajak jalan-jalan kala sore harinya, singgah ke tempat-tempat penting, atau mencari ikan di sawah dengan jaring. Soal kepandaian mencari ikan di sawah, aku belajar banyak hal sama Waled, ngak ada duanya, belum lagi cara mencara mencari burung-burung sejenis unggas yang ada sewaktu padi mulai berbuah. Amboi, indah sekali kalau diingat masa-masa itu. bersambung ke Saya, Tiga Puluh Tahun Lalu [3]

Kantor Fatayat NU, Jum’at, 15 Juni 2012

No comments:

Post a Comment