KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (68) CATATAN HARIAN (47) BERITA MEDIA (45) GoBlog (11) PUISI (11) CERPEN (8)

20 February 2014

Atas Jilbab, Bawah Ketat!

Add caption
Tulisan ini bukanlah untuk saling menuding siapa yang salah dan mana benar. Bisa juga salah saya karena menghambat ‘hak-hak asasi perempuan’, atau persamaan gender yang diperjuangkan sampai sekarang oleh orang-orang yang masih merasa terzalimi oleh kaum Adam.Mereka tidak mau lagi di tuntut, kalau perempuan itu harus selalu di bawah. Sekali-kali kan bisa ganti posisi dong. Bisa jadi seperti itu kata mereka.

Seorang teman perempuan, di kampus dimana tempat saya kuliah. Pernah suatu waktu saya menegur sambil bergurau tentang cara dia berpakaian yang tidak islami. Dia pun menjawab dengan serius perkataan saya. “aku berpakaian gini, kan tidak menggangu orang”. Berkata seperti itu, saya tersenyum sambil melihat tingkahnya dengan ujung mata.

Adalah ketika kita melihat fenomena cara perempuan dalam berpakaian yang sudah modern dan maju. Para pemangku adat akan berpendapat, bangsa kita sedang dalam krisis moral. Krisis moral kita yang memang sedang di uji, kata para ahli agama. Lalu ada lagi yang mengatakan bahwa kondisi bangsa kita sedang mencari gaya hidup ala orang-orang Barat. Biar cepat maju dengan mengikuti gaya, trend ala Eropa. Biar tidak dikatakan ketinggalan jaman. Tidak kuno. Atau kampungan habis. Para anak-anak gadis kita pun dengan bangga mengatakan; biar gaul.

Sah-sah saja jika tingkah dan prilaku ABG (Aneuk Bineh Glee?) yang hidup di kota besar semacam Jakarta, Bandung atawa Medan. Memakai celana di atas lutut dan baju kaos oblong yang menonjolkan susu “SGM 2” nya. Ada juga yang meniru gaya grup band Nidji, dengan celana ketat yang ujung tumitnya mengecil. Celana pensil istilahnya. Lalu sibuklah para lelaki perjaka yang tak tau melampiaskan kemana.

Maka , apa yang terjadi jika gaya anak-anak ABG seperti itu hidup di nanggroe yang berstatus Syariat Islam seperti di Aceh. Atas jelbab, bawah ketat. Apa guna jika jelbab mereka pakai jika bentuk di bawah pusat seperti huruf V menonjol sangat.

Siapa yang dosa?
Sebagian kaum laki-laki akan berkata mubazir jika tidak melihat dan menghayati. Sebagai lelaki normal tentunya. Sebagian lagi ada juga yang mencaci maki sekedar membenci orang yang bermaksiat. Bagaimana tidak, jika kita lihat sepintas kadang ada rasa jijik bercampur benci juga rasanya. Bagian kepala mereka tutup dengan jelbab berbunga dan mahal (ada yang lilit ke leher lagi) . Sedang “barang” yang berharga mereka biarkan dilihat oleh siapa saja yang kebetulan atau sengaja melihat. Bulat dan ketat. Persis seperti buah labu air. Mirip sekali. Cuma bedanya buah labu enak dimakan, sedang ini berisi tinja. Alamak!

Saya pernah mendengar penuturan seorang ibu yang takut jika anaknya tidak ‘laku” kalau tidak memakai baju dan celana ketat. Ini terjadi di Aceh. Takut di katakan kuno dan kampungan sekali jika memakai baju ala muslimah sesuai ajaran islam. Dengan jelbab besar menutupi seluruh bagian dada. Sedang baju yang di pakai, tak sedikitpun menampakkan setiap lekuk dan bentuk tubuh. Ini yang tidak banyak dilakukan oleh ABG-ABG Aceh.

Siapa yang harus kita salahkan jika ini terjadi pada anak-anak gadis kita yang baru dan sedang akan menginjak usia remaja. Penjual baju di pasarkah? Atau orang tua yang sengaja membiarkan anak-anak perempuannya 'menjual barang'; "ini lo punya anak saya yang lebih bagus.

Jika kita mengamati wanita yang masuk dalam kategori, atas jelbab bawah ketat. Maka boleh di kata cukup begitu banyak cewek-cewek di Aceh yang masuk dalam nominasi itu. Sedang trendy atawa ikut mode. Tidak usah jauh-jauh. Di kampus-kampus di Banda Aceh misalnya, cukup banyak wanita-wanita yang masuk dalam kategori ini. Seharusnya rektor bisa membuat semacam "SK"; intinya tidak ada pelayanan bagi mahasiswi yang berpakaian seronoh. Aceh kan daerah modal dan model, kata Mantan Ketua DPR Aceh, Sayed Fuad Zakaria.

Sedang mereka mengaku orang-orang intelektual dan pembaharu bangsa. Ya pembaharu bangsa yang akan menjadi bangsa-bangsa yang bangsat tentunya. Orang luar tentu bisa menilai etika kita dalam sosial kehidupan bermasyarakat. Berpakaian adalah etika sopan dan santun dalam pergaulan. Ini penting untuk kita cermati bersama. Apakah memakai baju muslimah sudah jaminan akhlaknya baik? belum tentu! Perkara soal berpakaian menutup aurat tidak bisa dijadikan alasan kalau yang bersangkutan orang baik. Jadi baik adalah bentuk sikap dewasa, sedangkan menutup aurat adalah kewajiban sebagai ummat muslim.

Ketika seorang perempuan memakai baju membungkus badan, dengan likuk dan goyang pinggul yang aduhai saat berjalan. Sedang ketika duduk terlihat merk celana dalam yang di pakai, menampakkan princunnya yang membuat para kaum lelaki menunjuk pada 'jam 12 tepat' dan bila ada kaum lelaki yang melihat dan menghayatinya. Sudah pasti niat jahat akan menghantui pikiran si lelaki ini. Maka wajar saja, namanya juga lelaki normal. Punya nafsu dan keinginan untuk menyelesaikan hajatannya.tapi hanya nafsu besar, sedang tenaga pas-pasan. Ingat, kemaksiatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya, tapi karena ada kesempatan.

Kalau ada terjadi kasus perempuan yang memakai baju ketat, yang membuat lelaki bernafsu. Lalu, siapa yang salah?. Jawaban saya, kedua-duanya. Tentu pemicu utama dari konflik menghayal ini dari perempuan. (Wilayatul Hibah WH) hanya mengawasi jalannya syariat islam di Aceh, sekaligus sebagai lembaga yang menindak untuk orang orang yang melanggar syariat islam di Aceh.

WH Juga Manusia.
Tidak mungkin mereka merazia perempuan memakai celana ketat di setiap tempat. Kesadaran dari kita tentunya. Karena ini negeri bersyariat. Kalau tidak sanggup patuhi, silakan saja bungkus baju minggat dari sini. Nanggroe syariat islam, yang dari jaman dahulu juga sudah bersyariat.

Jikalau ada perempuan yang memakai baju sopan dan sesuai seperti yang di anjurkan dalam Al-Qur’an. Saya yakin sekali, tingkat pemerkosaan dan pelecehan terhadap perempuan akan kurang, saya tidak berani mengatakan tidak ada sama sekali. Ini penting untuk kita cermati dan menjadi—kalau Anda setuju dengan saya—untuk menjaga agar anak-anak inong kita tidak membuka aurat di depan publik. Mahkota kok di obral. Seperti baju monja saja. Ada-ada saja tingkah aneuk dara Aceh kita. [banda aceh, 2008 dari situs: Sindikat Dokarim]

4 comments: