KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (69) BERITA MEDIA (47) CATATAN HARIAN (47) GoBlog (12) PUISI (11) CERPEN (8)

16 June 2013

Menunggu Janda





Illustrasi | Gambar Orang
Samir duduk diam termangu di tangga rumah panggung peninggalan orang tuanya. Wajah lesu tak bergairah menampakkan kalau ia sedang mengalami sesuatu hal yang paling buruk semasa hidupnya. Seburuk status yang disandang selama ini, perjaka tua.

Umur kepala empat bukanlah masa yang baik untuk seorang lelaki yang masih perjaka. Perjaka ting-ting! Pekerjannya sebagai guru sastra di sekolah menengah pertama tak selamanya membuat ia bisa menikmati hidup ini dengan bahagia. Sebagai lelaki yang sudah lebih separuh baya, belum memiliki pendamping hidup bukanlah hal yang tepat. Sedang adiknya Rohid telah lama berkawin dan telah punya anak tiga. Ketiga-tiganya perempuan. Samir bukan tidak bisa kawin bersebab harga emas untuk membayar mahar perempuan di Aceh yang terlalu tinggi. Tidak! Bukan itu alasan Samir belum berkeluarga. Ia pernah ungkap padaku ketika lebaran haji lalu berkunjung ke rumahnya dengan istriku yang dulunya satu sekolah dasar dengan Samir.

Maknya pernah menawarkan si Romlah kepadanya. Janda beranak dua yang di tinggal mati suaminya ketika sebuah peluru nyasar kian hari menyalak di kampungnya. Tapi Samir menyebut tidak sedikit pun menaruh perasaan pada Romlah. Tak paham ia ketika banyak duda dari kampung sebelah yang mengincar Romlah. Sedang Samir menolak mentah-mentah janda Romlah itu. Padahal, Romlah boleh di kata seorang janda cantik dengan tinggi semampai. Kulit Betisnya saja kuning langsat membunting bak biji padi yang menguning. Halus mulus tanpa polesan. Tapi Samir tak juga keluar air liurnya melihat ustadzah itu. Tubuhnya yang ranum menampakkan kalau ia masih bisa memberikan anak untuk Samir. Kini Romlah hanya menjadi guru mengaji anak-anak di balai dayah Haji Suman di kampungnya.

Samir perjaka waktu ia masih kuliah di Darussalam adalah sosok wajah lumayan tampan. Kepalanya yang tampak botak menunjukkan kalau ia seorang mahasiswa yang pintar, apalagi di tambah dengan memakai kacamata seakan menunjukkan ia orang yang pintar. Beberapa mahasiswi pernah menaruh perhatian padanya. Entah saja mahasiswi itu melirik Samir yang punya sepeda motor merek Honda Cup 70 kala itu. Jarang sekali mahasiswa bisa pakai sepeda motor di tahun 80-an waktu itu. Para mahasiswi itu ada yang mengajaknya menemani mereka ketika membuat tugas di perpustakaan kampus. Tapi Samir tetap saja menolak ketika seseorang dari mereka mengajak kencan malam mingguan. Samir ingin menjaga perasaanya pada Nurol, seorang aktivis dakwah di kampusnya. Sosok perempuan yang pernah menolak cinta Samir ketika mereka minum bandrek di depan BRI Darussalam. Nurol menolak dengan halus. Tidak pula ia jelaskan alasannya kenapa. Gundah gulana benar hati Samir ketika itu. Pernah pula ia berpikir untuk meloncat saja ke krueng Lamnyong ketika cintanya kepada Nurol bertepuk sebelah tangan.

***
Pagi itu Samir tertegun ketika sebuah sepeda motor melintas di depan rumahnya. Sepasang suami istri mengendarainya. Mereka terkesan mesra sekali. Mirip sepasang pengantin baru menikah, walau sebenarnya sepasang suami istri itu telah berumah tangga sepuluh tahun lalu. Tercengang Samir melihat kejadian itu.

“Bukankah itu Kasem?” ia mengucap dalam hati. Ia tertegun membisu. Detak jantungnya seperti terhenti. Berlinang air mata Samir melihat sepasang pasutri itu melintas. Wajahnya tertunduk lesu melihat kejadian itu. Tak kuasa ia melihat Kasem telah memperistri Nurol. Kasem teman seperjuangannya di kampus.

“Aku masih menunggumu Nurol, kutunggu jandamu walau engkau telah jadi nenek nantinya, hanya padamu aku masih berharap cinta dan kasih sayang. Aku masih berharap engkau akan jadi ibu bagi anak-anakku”

Setelah berkata seperti itu dalam hatinya, Samir ke kamar merebahkan badannya yang layu. Otot-ototnya lemas terkulai. Sorot tajam matanya memandang ke sebuah foto dalam bingkai besar di dinding kamarnya. Di bawahnya bertuliskan sebuah kata-kata begini; Permataku Yang Hilang, Kutunggu Jandamu. [Harian Serambi Indonesia, 4 Oktober 2009]

Darussalam, 2 Juni 2009

1 comment: