KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (70) BERITA MEDIA (47) CATATAN HARIAN (47) GoBlog (12) PUISI (11) CERPEN (8)

25 March 2015

3/25/2015 09:39:00 AM

Seandainya Aceh Konflik dan Perang Media Sosial

Apa jadinya kalau sekarang ini Aceh kembali berkonflik seperti tahun 1998 hingga 2005 lagi? Bagi yang pernah hidup kala itu di perkampungan pedalaman Aceh tentu akan paham. Merasakan bagaimana susahnya bekerja dan hidup dengan daerah konflik. Sekolah dibakar, anak anak jadi sulit mengakses pendidikan. Para petani sudah bekera di sawah. Razia dan para tentara turun kampung, jaga malam diberlakukan. Sweping paling sering terjadi di jalan raya. KTP jadi barang wajib harus dibawa kemana saja pergi. Tanpa KTP siap siap saja diangkut ke pos terdekat. Pos aparat keamanan ada di mana mana. Berondongan senjata sering terjadi dan banyaknya jatuh korban dari pihak sipil tak bersenjata dan pihak yang bertikai. Malam hari adalah waktu paling mencekam. Listrik tidak beda jauh dengan sekarang, juga paling sering dipadamkan.  di depan pos pos aparat keamanan harus dilewati drum zag-zig.

Aceh benar benar jadi tempat yang asing dan sulit terakses ke luar bagi orang yang ingin mengetahuinya keadaan. Malam hari harus tidur dilantai, demi menghindari peluru nyasar andai ada kontak tembak senjata. Warung kopi jarang buka malam hari. Ekonomi tak bergairah. Truk reo dengan dinding anti peluru paling sering berkonvoi, wajah seram aparat keamanan paling garang dan sering menaruh curiga pada orang orang yang diduga sebagai kaum pemberontak. Kala itu, sulit nya serdadu membedakan mana GAM dan mana warga sipil tak terlibat. GAM adalah orang Aceh, tetapi tidak semua orang Aceh adalah GAM.

Pernyataan lazim dari serdadu dalam menggambarkan Aceh: orang Aceh kalau siang lempar senyum, kalau malam lempar granat. Kalimat itu dimaksudkan kalau siang hari ada GAM yang melewati pos dan mengangkat tangan sebagai bentuk ramah kepada serdadu yang berada di pos aparat. Malam hari mereka melempar granat.

Tahun 2000an, teknologi belum berkembang semudah sekarang ini.  Telepon genggam belum banyak yang gunakan. Informasi hanya tersebar via mulut ke mulut atau akses dari handy talky milik pasukan Gerakan Aceh Merdeka. Kadang juga informasi yang tersebar dari informan GAM menyamar sebagai tukang ojek [RBT] atau dengan profesi yang lain. Baik pihak GAM dan TNI/Polri juga punya gaya masing masing dalam menyebarkan informan ke kampung-kampung, beberapa ditangkap oleh pihak lawan. Beberapa selamat memberi informasi bantuan.

Bandingkan dengan kejadian hari ini. Sewaktu konflik dulu, jika ada  letusan senjata, atau terjadi pembunuhan, perampokan, dan isu lainnya yang  ratusan kilometer jauh dengan tempat tinggal kita, baru dapat diketahui melalui koran cetak yang terbit besok. Itupun setelah melalui sensor. Judul berita koran yang tak kalah mencekam bagi kita yang membacanya. Saling bantah antara pihak TNI/Polri dengan GAM. Ada koran yang dituduh pro GAM, ada yang dituduh pro aparat pemerintah. Tetapi membaca koran tidak juga begitu mudah. Akses koran harus menunggu waktu siangnya baru ada di warung kopi. Beberapa pedalaman tentu lebih sulit lagi mengakses berita kejadian sehari sebelumnya. Kondisi benar benar sangat minim informasi atas kejadian di Aceh.

Mengandalkan  berita radio atau televisi bisa jadi alasan yang lain. Hanya saja, akses informasi tidak begitu cepat diketahui seperti sekarang ini. Kejadian pagi, baru dapat kita nonton TV sore/malam/esok harinya. Waktu sekarang ini, informasi begitu cepat sampai tiap ada kejadian di Aceh. Terlepas info itu benar atau salah, isu begitu mudah tersebar ke publik. Kecanggihan teknologi telepon pintar yang murah dan mudah dibeli oleh siapa saja, menjadikan satu alasan tersendiri cepatnya informasi.

Foto foto kejadian misalnya akan cepat sampai ke media sosial facebook, twitter, path dan sebagainya. Orang tinggal bagikan semudah jempolnya menekan tomblo share. Jadilah informasi itu tersebar dengan cepat. Kadang kala, foto-foto yang tidak sepantasnya dilihat publik luas tersebar begitu cepat. Anehnya foto begitu dishare oleh orang yang berpendidikan tinggi. Saya tidak tau, apa alasan bagi mereka dan betapa mirisnya jika saja yang dalam foto tersebut adalah keluarnya. Bagi saya ini sangat menyedihkan sekali.

Canggihnya teknologi informasi membuat tidak canggih pikiran orang dalam memberikan informasi di media sosial. Satu sisi memang bagus juga jika sekarang ini informasi begitu mudah dan cepat kita dapatkan. Satu sisi lain, kadang kala informasi hoax yang belum jelas infonya tersebar begitu mudah dan cepat. Maka penting mengetahui etika dalam menyebarkan informasi.

Saya jadi berpikir, kalau misalnya (semoga saja tidak) sekarang ini Aceh berkonflik lagi, maka akan banyak orang yang mengakses dan membagikan info via status facebook dan twitter. Informasi tentang razia dan pemberondongan akan cepat tersebar juga. Foto-foto kejadian bisa mudah diupload oleh siapa saja.  Dari banyak penjuru kampung sekalipun. Grup-grup facebook akan diramaikan dengan informasi kejadian-kejadian kontak senjata. Info-info grebek markas GAM akan tersebar luas ke masyarakat, begitu juga info lokasi sweping tentara. Tangkap menangkap akan mudah diketahui, penculikan cepat terupdate ke media sosial.

Jika demikian, apakah media sosial seperti fesbuk, twitter, path dan media media online lainnya akan dibatasi di Aceh? Jika tidak, maka informasi akan sangat mudah diketahui oleh lawan yang lagi bertikai. Saya berharap itu tidak terjadi, mengingat akses informasi kondisi daerah konflik sangat penting diketahui, apalagi bagi orang yang ada keluarganya di Aceh. Tinggal bagaimana kita bisa memilah dan memilih mana informasi yang akurat dan tepat. Jangan sampai juga, mudahnya informasi yang tersebar akan jadi provokasi massa yang sangat menakutkan. Media sosial bisa jadi ancaman yang menakutkan atas pergerakan massa, dia punya peran penting dalam mengumpulkan massa.

Sekarang, tiap ada kejadian di Aceh begitu mudah tersebarkan informasi. Internet jadi alat penting dalam mengetahui/menyebarkan info tersebut. Orang di seluruh dunia jadi lebih cepat tau tiap ada kejadian di Aceh. Media online tumbuh dengan sangat banyak sekali. Tsunami informasi sangat cepat sampai ke seluruh penjuru dunia. Mengaksesnya pun cukup mudah, kita hanya memiliki telepon pintar, lalu semua informasi dapat diketahui. Perang informasi melalui media sosial tak kalah panas dna mencekam dari dunia nyata. Saya sulit membayangkan bagaimana seandainya itu terjadi. Jika Aceh terjadi konflik lagi, apa kira kira status facebook kalian? []




23 March 2015

3/23/2015 10:31:00 AM

Istri Orang dan Komunikasi Tak Berlebihan

Saya sering kali tak berani mengobrol terlalu jauh pada teman wanita yang sudah berumah tangga. Tepatnya wanita yang jadi teman, kemudian dia menikah. Saya kerap menghindari berbicara terlalu canda sok dekat dan akrab. Maka tak perlu heran jika ada teman teman yang sudah jadi istri orang, saya memilih tak mengobrol lebih inten sewaktu dia masih gadis.

Ini mungkin bagian dari curhat ke blog, sebagai bagian dari kita untuk tau sikap dan karakter masing masing dalam berteman. Beberapa hari lalu ada teman saya, cewek. Sudah menikah. Ia menghubungi saya via pesan blackberry. saya menanggapi biasa saja, tak seperti ketika dia masih sebagai gadis, misalnya dalam hal bercanda dan melawak. Saya tidak ingin, tiba tiba saja isi pembicaraan itu diketahui oleh suaminya. Tipe suami bisa macam macam, takutnya nanti saya dikira mengganggu istri orang. Apalagi suaminya tidak kenal baik dengan saya.

Dalam berteman dengan wanita yang sudah bersuami, saya kerap menghindari hal hal terlalu jauh dalam berdiskusi. Saya mencoba menjaga hubungan itu tidak jadi persoalan kemudian harinya. Memang tidak bermaksud ganjil, tetapi lebih baik saya menghindari hal hal saling curiga. Pernah suatu ketika karena satu hal, seorang teman saya ingin telpon. Terlebih dahulu dia sms saya meminta atas kesedian waktu. Saya mengiyakan dengan terlebih dulu dia memberitahu kepada suaminya. Begitu saran saya.

Wanita yang sudah ambil posisi sebagai istri, mestinya menghindari berhubungan yang lebih jauh dengan laki laki. Saya tidak ingin nantinya dicap kurang ajar karena keterlaluan berhubungan/ komunikasi dengan istri orang, baik itu dalam hal isi bbm dan bicara.  Bisa salah paham ketika suaminya mengetahui. Jika sang suami mengenal dan saling kenal, hal ini tentu akan berbeda.

Saya pernah mendapat semacam teror dari suami si wanita yang teman saya. Padahal waktu itu saya hanya bertanya kabarnya dan kabar janinnya. Sang suami protes apa urusan saya untuk tanya hal begitu. Saya meminta maaf atas kelancangan, walaupun awalnya saya kira itu pertanyaan yang biasa saja. Mungkin suaminya tipe pria cemburu yang tidak ingin istrinya diganggu oleh pria lain.

Ada lagi yang hanya bertanya soal kuliah, via telpon juga. Saya mendengar suaminya marah marah memprotes sang istri sedang menelpon siapa. Saya trauma waktu itu. Padahal isi pembahasan kami soal kuliah dan saling bertanya kabar masing masing. Wah ada masih sang pria yang pencemburu begitu.

Nah kemarin yang beberapa waktu lalu itu, teman wanita saya mengajak berkomunikasi via bbm. saya menanggapi biasa saja, dulu memang pernah dekat dengan saya. Sang teman ini memprotes kenapa saya sudah berubah dalam hal bercanda. Saya awalnya tidak berterus terang kepadanya soal prinsip saya yang mencoba menjaga diri dalam hal komunikasi dengan teman wanita yang sudah berstatus sebagai istri.

Saya akhirnya terpaksa menjelaskan kepadanya, dengan sopan dan santun soal hal berteman. Bahkan saya juga tidak ingin memulai komunikasi duluan. Dalam media sosial juga demikian prinsip yang saya coba terapkan. Lagi lagi ini soal menjaga supaya tidak ada keganjilan dari sang suaminya. Betapa sang suami tentu akan cemburu, kalau istrinya kerap bercanda dan ngobrol keterlaluan dengan laki laki lain. Saya membayangkan bagaimana perasaannya akan tersakiti.

Ada juga seorang wanita yang telah lama pisah dengan suaminya, kami dulunya berteman sewaktu kuliah S1. Teman saya itu cerai hidup secara baik baik dengan suaminya. Tetapi saya tentu tidak mau akan dicap sebagai lajang pencuri hati para janda. Pernah dikirim pulsa, diajak makan malam. Saya menolak dengan baik-baik. Lagi saya tidak ingin tertuduh macam-macam. Hal begini memang sangat menguji. Entah karena saya yang terlalu raham dan sangat mudah berkomunikasi, jadinya dianggap yang wajar aja ketika diajak mengobrol. Ah, kalau ditulis disini ada yang lebih parah lagi. Tetapi saya mungkin belum khilaf saja. Mudah-mudahan ke depannya juga bisa terus menjaga soal ini.


Ruang perselingkuhan bisa terjadi karena adanya perhatian lebih dari orang yang dicintainya. Ada pria/wanita lain dari pasanganya yang memberi perhatian lebih. Ini sungguh berbahaya.  Saya pernah mendapat curahan hati seorang wanita karena kurang mendapat perhatian lebih dari suaminya. Dia padahal hanya menginginkan sang suami bisa mengucapkan 'terimakasih' selepas makan malam, makanan yang dia masak dengan lelah. Saya berpikir, hal seperti itu sangat sepele sekali. Hanya ingin diucapkan 'terimakasih' atas sesuatu perbuatan yang telah dilakukan oleh sang istrinya. Entah juga besok ya, kalau saya sudah berstatus 'suami' bisa melakukan hal remeh teman begini. Hahaha.

Saya jadi teringat dialog Dedi Mizwar di film Nagabonar, kepada anak lelakinya; "wanita itu ingin diperhatikan walau sebenang." Iya, wanita butuh perhatian lebih dari orang yang dicintainya. Dia butuh perhatian atas segala kerja keras di rumah tangganya, melayani suaminya. Maka para pria penting sekali untuk mengetahui dan paham soal ini [lah, macam saya sudah ada istri aja bro].  Makanya kenapa bahu pria dibikin lebih kuat, agar beban sang wanita bisa ditampung dibahu pria.

Untuk teman wanita yang pernah berteman dengan saya dan sudah menikah, saya sering mengabaikan curahan hati mereka. Menjaga komunikasi tidak berlebihan. Menaggapi hal hal yang penting saja. Biarlah itu kemudian dianggap sebagai diri saya yang sombong. Sebab akan tidak sopan jika pria lajang mengobrol terlalu jauh dan dalam, dengan wanita yang sudah berstatus sebagai istri. Ingat, perhatian lebih pada wanita bisa timbulkan rasa cinta. Tulisan ini sengaja saya posting, agar kita bisa saling paham dan mengerti karakter masing masing, saling menjaga perasaan orang yang kalian cintai. []

07 March 2015

3/07/2015 09:26:00 AM

Jatuh Cinta Adalah Kesulitan Kawan


cinta seperti juga memahami bentuk grativikasi.  ia kerap terjatuh pada model atau bentuk yang berbeda-beda. kita kemudian yang berprasangka, menduga-duga yang entah. banyak hal, banyak soal tentang sangka-sangka itu. pernah disesalkan dari perginya seseorang yang engkau kagumi dan banggakan? sebab kenangan menjadi berharga atas hadirnya.

hadirlah sebentar saja, untuk sekedar melihat gimana rupa wajah rindu. betapa jahannamnya. lalu siapa yang sanggup membunuh kenangan? pada buku, pada wajahnya, pada rindu. ketika ada hati dan rasa yang tak bahagia, mungkin satu dari banyak sebab karena engkau belum mengikhlaskan.

jika setiap hal yang kau damba berjalan sesuai rencana, kau tak akan pernah paham bahwa sesekali kecewa itu menguatkan. saat harapan tak sampai memang  terasa  sangat menyebalkan, disitu barangkali cara terbaik melawan kesepian adalah dengan tidak lagi jatuh cinta pada tempat yang salah. jatuh cinta adalah kesulitan kawan, demikian surah Pram. ‪

02 March 2015

3/02/2015 06:18:00 AM

Dari Kipandjikusmin Hingga Charlie Hebdo

gambar diambil disini : www.npr.org
Sebagian dari pembaca karya sastra serius pasti tidak asing dan tidak lazim dengan kontroversi cerita pendek Langit Makin Mendung karya Kipandjikusmin yang dimuat di Majalah Sastra Edisi Agustus 1968 itu. Cerpen itu jadi kontroversi dalam masyarakat pada era 60-an hingga menyebabkan Redaktur Majalah Sastra H.B Jassin berurusan dengan hukum, dia divonis satu tahun penjara karena dianggap bertanggung jawab atas pemuatan cerpen dengan nama anonim itu. Debat kontroversi kemudian kian panjang, hingga melahirkan karya-karya ilmiah yang menganalis kontroversi cerpen Kipanjdikusmin.

Dimuatnya cerpen yang mengisahkan tentang turunnya Nabi Muhammad ke bumi bersama Jibril yang menyamar sebagai elang. Dialog-dialog satir kemudian hadir dan membuat kita sebagai pembaca mengernyitkan dahi. Kontroversi cerpen itu masih dibahas sampai sekarang dalam ranah sastra di Indonesia. Orang orang saling berargumen tentang makna kebebasan berkarya dan bebas berimajinasi.

Orang-orang saling bikin lelucon satir dengan berkarya. Mengolok-olok isu agama jadi sebuah hal yang mengundang kontroversi. Lelucon satir yang menggugah senyum bagi siapa yang membaca atau melihatnya, isu tentang agama jadi produk paling sensitif akan aksi dari publik luas. Selebihnya akan menghina dan mendamprat karya itu sebagai bagian dari kontra atas kebebasan berbicara yang tidak beretika, menurut arti dan makna berekpresi secara beradab.

Pada dunia sastra internasional yang cukup mendunia, sastrawan Salman Rusdie juga tak kalah kontroveri atas karya novel Ayat Ayat Setan, terbit tahun 1988. Novel itu dilarang beredar karena dianggap menghujat Nabi Muhammad. Bahkan pemimpin Iran kala itu mengumumkan perintah pembunuhan atas Salman Rusdie.

Hari ini, orang-orang berkarya satir kembali terjadi setelah penyerangan oleh dua pria misterius ke kantor majalah Charlie Hebdo. Majalah mingguan di Prancis itu terbit pertama sejak 1969 dengan nama asal Hara-Kiri. Hara-Kiri sempat bubur, beberapa staf redaksinya itulah yang kemudian mendirikan Majalah Charlie Hebdo. Majalah itu sejak terbit memang sudah mendulang kontroversi dengan lelucon satirnya yang menyeleneh. Charlie Hebdo pernah mengolok-olok ummat muslim dengan mengganti nama jadi La Charia Hebdo [Hebdo Syariah], pada jajaran redaksi edisi itu muncul nama Nabi Muhammad sebagai Pimpinan Redaksi.

Sebagai muslim, tentu kita berang dan mengutuk karya media yang mengatasnamakan kebebasan berekpresi. Atas terbitnya edisi itu, kantor Charlie Hebdo mendapat serangan bom molotov dari orang tak dikenal [OTK] Majalah Charie Hebdo berhaluan politik kiri ini paling sering mengeluarkan gambar kartun yang menyindir para pemuka agama, hal paling sering mereka sindir adalah tentang islam. Paus Benediktus juga pernah disindir soal kebijakannya.

Sejumlah kritikan satir lelucon tak lucu itu akhirnya mendapat ganjalan yang tidak kita inginkan tentunya. Rabu 7 Januari 2014 menurut kabar berita dari media, kantor redaksi Charlie Hebdo di Paris diserang oleh dua pria bersenjata Ak-47 yang langsung masuk ke kantor redaksi. 12 orang tewas dalam serangan itu. Pimpinan Redaksinya, Stephane Charbonnier ikut tewas dari serangan kedua pasca serangan bom molotov 2011 lalu. Charbonnier telah lima tahun menjadi Pimred, sejak 2009.

Situs berita BBC Indonesia menyebutkan bahwa Chalie Hebdo merupakan produk tradisi lama dalam jurnalisme Prancis. Tradisi humor provokatif dan cenderung cabul. Selain olok-olok tentang Muhammad, Charlie Hebdo juga membikin kartun/ilustrasi biarawati sedang bermasturbasi dan Paus yang memakai kondom.

Menurut Rusdi Mathari, wartawan senior yang saya kutip dari rusdimathari.wordpres.com, serangan 7 Januari lalu diduga ada hubungannya dengan gambar kartun Abu Bakr Al-Baghdadi yang disebarkan melalui akun twitter resmi Majalah Charlie Hebdo, @Charlie_Hebdo_. Sebagai mana kita ketahui, Abu Bakr adalah pemimpin negara islam Irak dan Syuriah [ISIS].

Orang-orang bagian redaksi Charlie Hebdo beranggapan, kebebasan berkarya dan berekpresi bisa melewati batas-batas norma apa saja. Mengolok-olok pemuka agama sebagai alat kritik mereka dalam balutan jurnalistik.

Saya sepakat soal kebebasan berekpresi dan berkarya, tetapi tanpa mengabaikan norma-norma agama dan batas rasa sosial bermasyarakat. Tokoh dunia kemudian mengecam brutal itu. Ini hal paling menjengkelkan sebenarnya atas reaksi berlebihan dari para tokoh dunia. Di Prancis ada sekitar 5-10 persen penduduk muslim yang kini hidupnya sedang dalam ancaman orang orang yang menganggap akan ada serangan balasan terhadap ummat islam.

Kita tentu berharap, kejadian itu tidak menutup mata para pemimpin seluruh dunia untuk terlalu berlebihan mengutuk kejadian itu. Ingat, ummat islam juga tak kalah sedikit meninggal di Palestina karena serangan dari pihak yang tidak ingin islam itu tumbuh dan berkembang.

Media-media seluruh dunia khususnya di Indonesia dapat mengambil hikmah atas kejadian itu. Termasuk dalam produk karya sastra atau seni yang lainnya. Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung juga bisa dijadikan ukuran, kalau ingin berkarya dalam kebebasan tentu saja tidak ada masalah selama itu tidak melanggar norma agama dan menyinggung agama-agama ummat manusia.

Apapun ideologi politik/agama mereka para pengarang karya sastra dan jurnalistik mesti memahami kondisi ini dengan benar. Sebagaimana pesan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdhatul Ulama, H Marsudi Syuhud kepada harian Republika, jangan sampai kebebasan jadi keblabasan dan memicu sikap intoleransi. Semestinya kedamaian seluruh ummat untuk bisa hidup berdampingan saling menghormati sesama, demi mewujudkan perdamaian dunia.

[nb: tulisan ini ditulis pada 15 Januari 2015 telah dikirim ke salah satu media nasional dan tidak dimuat]

13 January 2015

1/13/2015 06:49:00 AM

Polisi Hoegeng Dan Polisi Meupep-pep

via albastari.blogspot.com

Lelucon Gus Dur paling saya  ingat tentang ada 3 polisi baik dan jujur di Indonesia: Polisi Hoegeng, Polisi Tidur, Patung Polisi. Andai Gus Dur masih hidup dan sempat ke Aceh, tentu Gus Dur juga sepakat ada satu lagi polisi baik dan jujur di Indonesia, tepatnya di Banda Aceh, Polisi Meupep-Pep. Saya kerap malu jika tak memamakai helm dan  berpapasan dengan mobil dauble-cabin Pak Adnan, sang polisi lalulintas yang dikenal polisi meupep-pep ini.

Sastrawan Hamsad Rangkuti pernah menulis cerpen lelucon soal polisi yang sampai sekarang terus saya ingat dan cukup berkesan dengan pengarang yang pernah menulis cerpen fenomenal: "Maukah kau menghapus bekas bibirnya dibibirku dengan bibirmu?" Hamsad menulis cerpen Si Lugu dan Si Malin Kundang yang dimuat di Harian KOMPAS, Si Lugu dan Si Maling Kundang  membuat saya terus mengingat cerita lelucon satir itu.

Cerpen itu dikisahkan oleh Hamsad tentang seorang tua berasal dari kampung yang mendatangi rumah anaknya yang berada pada sebuah komplek elit di ibukota. Sebagaimana tradisi orang kampung yang ke kota membawa makanan dari desa apa saja, tokoh orang tua itu ikut membawa ayam kampung untuk anak dan cucunya. Komplek itu dijaga oleh sekuriti. Sekuriti melarang orang tua yang berpenampilan kampung itu masuk ke dalam komplek mewah tersebut. Adegan larangan itu menarik perhatian seorang polisi lalulintas yang melintas di kawasan itu.

Polantas  menembak ayam si Pak Tua karena dianggap sebagai pembawa virus penyakit. Pak Tua marah bukan kepalang. Kedua aparat keamanan itu tetap melarang Pak Tua untuk masuk komplek, ia masih ngotot kalau anak lelakinya adalah pemilik salah satu rumah mewah dan tinggal di komplek itu. Pak Tua dalam hatinya mengutuk polantas ini menjadi batu karena telah menembak mati ayamnya. Dia teringat akan Malin Kundang yang dikutuk jadi batu.

Saat Pak Tua masih memprotes atas larang itu, tiba-tiba sebuah mobil mewah datang di pintu gerbang dan ingin masuk dalam komplek. Ternyata itu mobil mewah anak lelaki Pak Tua bersama istrinya. Sang anak memanggil Ayahnya itu dengan gembira, anaknya lalu turun, membuka pintu depan mobil lalu menyuruh sang ayah masuk. Ayahnya duduk paling depan, istrinya ke bekalang. Adegan itu membuat sekuriti dan polantas terheran-heran.

Lalu pada suatu sore hujan deras, sang anak mengajak Ayahnya jalan-jalan kota. Hujan kian lebat sore itu. Pada sebuah lampu merah ada patung polisi dengan gaya seperti orang mengatur lalulintas. Istrinya menyuruh menerobos lampu merah itu, tapi suaminya ngotot tidak mau melanggar. Ayahnya duduk dalam mobil terheran melihat ke patung polisi itu sambil berucap dalam hatinya: Ya Allah, Polisi Itu Menjadi Batu. Pak tua menganggap doanya terkabulkan, dia beranggapan polantas yang menembak ayamnya kemarin telah benar benar terkutuk jadi batu. Padahal itu memang patung polisi.

Maka setiap ada kasus-kasus tentang polisi di Indonesia, lelucon Gus Dur soal polisi jujur itu akan tetap pada 3 orang yang saya sebutkan di atas tadi. Ketika hari ini berita tentang Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri yang akan diangkat oleh Presiden Jokowi, kita kerap jadi mengingat kembali tentang para polisi.

Dan berita tidak kalah hebohnya lagi tentang penetapan Calon Kapolri itu ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karena dugaan kasus korupsi. KPK tentu tidak bisa sembarang menetapkan pejabat sebagai tersangka. Butuh alat bukti sebagai data dan fakta atas itu.

Beberapa hari ini ketika kontroversi atas usulan Budi Gunawan[BG] sebagai calon tunggal Kapolri yang diangkat oleh Jokowi dan hari KPK menetapkan Budi Gunawan itu sebagai tersangka.  Jokowi kembali mendapat sorotan publik atas usung calon tunggal itu. Saya juga jadi berpikir, adakah calon kapolri lain yang memag bersih rekam jejaknya selama menjabat jabatan penting dalam tubuh Polri?

Sudah jadi rahasia umum, kalau elit-elit polisi yang kaya berlimpah harga karena didapatkan dengan posisi jabatan yang menurut kita bentuk tidak wajar. Kita tentu tidak ingin, ada kemudian pengarang atau warga negara Indonesia yang  mengutuk  kapolri menjadi batu karena bersikap tidak jujur dan semena-mena atas jabatannya, sebagaimana sinopsis cerpen tokoh Paktua dalam karya Hamsad Rangkuti yang saya sebutkan tadi. []


05 January 2015

1/05/2015 03:25:00 AM

Cara Kami Rayakan Tahun Baru di Aceh


@ilustrasi  


Aceh, kampung paling ujung dari Pulau Sumatera bagian barat Indonesia. Menyebut kata “Aceh” bagi kalian akan mengingat banyak hal terkait dengannya. Gempabumi dan gelombang tsunami adalah khas paling nyata dari Aceh yang pernah kalian ketahui pasca kejadian amuk air laut, 26 Desember 2004 sepuluh tahun yang lalu.

Baru baru ini Aceh dikenal istilah 3G bagi orang luar: Ganja, Gempa, Giok. Iya batu giok merupakan harta benda paling laris manis dan dicari di seluruh Indonesia. Tetapi kepopuleran giok tidak dapat mengalahkan popularitas Raffi-Gita kawinan. Sedangkan ganja, tentu kalian dari non-Aceh paling suka bertanya atau meminta rempah-rempah itu dari sini, yang terkenal akan lazit dan nikmat melayang luarbiasa. Taukah bahwa ganja itu sebagai obat penenang kala putus cinta paling mujarab dan mudah didapatkan di sini.

Saya pernah sekali waktu SMA ke kebun ganja yang luasnya 5 kali lapangan sepakbola. Menikmati pemandangan yang tidak dapat dilupakan seumur hidup. Menghisab ganja di Aceh seperti kalian meminum wine atau minum air keras oplosan. Barang haram itu begitu mudah didapatkan di sini. Ngak percaya? Datanglah sekali kemari, saya akan ajak serta ke kebunnya.

Aceh juga tak kalah terkenal dengan kopi, warung-warung kopi disni lebih banyak dibandingkan jumlah mall di kota-kota Jakarta. Kami setiap hari duduk di warung kopi, bahkan sehari bisa mencapai 4 tempat pindah-pindah warung kopi. Klaim watak pemalas dari kalian tentu saja ada, sebagaimana itu pernah dikritik oleh Susi Pudjiastuti Menteri Pengembom kapal ikan pada sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, 19 Desember lalu. Susi sang Menteri sebutkan bahwa: “kalau kita minum kopi sehari 3 jam, mungkin bisa dikurangi 1 jam saja. Yang 2 jam dipakai untuk bekerja”

Susi tidak pernah survey jika waktu yang lama minum kopi sebagai mana tradisi orang Aceh digunakan untuk hal-hal yang positif. Hal-hal semisal kerja-kerja politik, kerja design dan berbicara program apa saja paling banyak di warkop. Dan, pengunjung warkop yang duduk lama-lama itu biasanya berstatus jomblo, sebab kalau yang pacaran pasti bakal memilih kafe-kafe yang gelap-gemerlap. Di Aceh juga ada kok, cafe remang-remang.

Malam kemarin adalah tahun baru. Tidak ada perayaan tahun baru di kota syariat ini, sebagaimana lazim kalian yang lakukan setiap pergantian tahun baru. Melewati malam tahun baru bersama pacar kaian atau pacar orang lain. Kota Banda Aceh dilarang perayaan tahun baru, sesuai dengan instruksi pemeritah kota beserta krunya untuk menjaga supaya tidak terjadi hal-hal yang melanggar syariat. Maka jangan heran, kalau oplah penjualan kondom di Aceh pada malam tahun baru tidak meninggkat sebagaimana di tempat kalian di luar Aceh.

Ohya, kampung kami juga dilarang zikir, tausyiah atau perayaan dalam mengenang tahun baru. Hal hal pengumpulan massa dilarang dan tidak boleh dilakukan. Jelang jam 00.00 kemarin juga terjadi siaga para anggota polisi syariat di sudut-sudut kota untuk mencegah jika sewaktu waktu ada warga yang membakar mercon atau membakar kembang api. Sebab menurut kaum cerdik pandai pemimpin kota kami, anggap perayaan sambut tahun baru itu bukan budaya sebagai islam.

Maka kami yang muda-mudi ini juga ramai tidak sepakat dengan larang itu. Larangan soal perayaan tahun baru itu dianggap sebagai cela dan perbuatan paling jahat. Tentu saja kekhawatiran pemkot itu bikin kami cuma bisa merepet di media sosial, jika kurang ajar melawan: maka siap-siap saja dituduh anti syariat.

Huft. Larang itu bikin kami sebentar melupakan tentang hal hal jalan yang berlubang di sudut-simpang kota. Kami jadi lupa tentang air PDAM yang macet, tentang listrik sering mati. Tentang lahan parkir yang jarang ditertibkan oleh pemerintah kota. Kami jadi melupakan tentang lampu jalan yang tidak berfungsi, tentang jalan yang kerap tergenang air kala hujan dan segala banyak jenis pelayanan untuk publik lainnya.

Ahai, mana lebih hebat kampung kalian dengan tempat kami. Kami disini tidak ada bioskop, beberapa dari kami pernah melakukan serangkaian lobi-lobi gaib supaya bisa ada sebuah bioskop di kota syariat ini. Tapi lagi lagi itu dituduh bakal terjadi sebagai tempat mesum bagi kaum yang sedang pacaran.

Maka saya sejak lama memilih jomblo bukan karena tidak mendapatkan pacar atau tidak ada wanita yang sanggup saya goda bin gombal agar jatuh hati pada saya. Bukan itu. Tapi saya memilih jomblo karena ingin mengurangi tugas-tugas polisi syariat agar mengurangi tugas mereka dalam melakukan razia. Itu saja sih! [warkop BJ, 1 januari 2015]

04 January 2015

1/04/2015 08:01:00 AM

LONG STREET OF MEMORY With Romlah

Foto @FahroelBekmob 
Sejak siang Romlah mogok, bocor ban. hingga harus dorong ke bengkel dari rumah. jaraknya 1KM lebih. Ban itu di tempel, lalu jalan hingga ke Lampriet. Sampai disana ternyata sudah bocor lagi, terpaksa ban dalam harus diganti. Setelah selesai, saya ke Alue Naga. Hampai di sana bertemu teman-teman yang sedang memancing. Jelang magrip, saya memilih memancing sambil narsis ambil foto.
Beberapa teman ingin foto sama Romlah dengan latar senja yang perlahan malu-malu menghilang. Cerita senja, saya selalu ingat cerpen Seno Gumira Ajidarma ; Sepotong Senja Untuk Pacarku. Cerita seorang kekasih yang mencuri senja untuk diberikan kepada kekasihnya. Sangat romantis sekali. Sila google cerita itu.

Karena ramai yang naik ke atas Romlah untuk ambil foto, ternyata dudukan kain gas motor bergeser, akhirnya macet kabel gas. Romlah mogok, tidak bisa hidup. Saya perbaiki perlahan dengan kemampuan. Azan magrib berkumandang. Romlah tetap mogok, tidak bisa hidup sama sekali. Saya beruntung dan berterimakasih banyak sama Fahroel Azmi yang membantu dorong Romlah hingga ke Darussalam untuk dibawa ke bengkel. Ada malu juga sih, masak saya yang kuliah di Teknik Mesin, ngak bisa perbaiki motor. Kebiasaan kalau mogok memang perbaiki sendiri. Semampu, kalau sudah ngak bisa/hal teknis, baru dibawa ke bengkel.

Romlah saya masih menggunakan energi dari baterai, jadi kalau tidak ada percikan api di busi, maka Romlah tidak akan hidup. Stok kunci + busi sirap di garasi kecil selalu tersedia. Maklumlah, motor tua ini memang penuh sering ngambek, saya belajar banyak tentang sabar bersama Romlah. Motor ini bukan untuk kalangan anak mami. Saya bersama Romlah telah menjani hidup bersama 10 tahun sudah. Bica cek disini [Sepuluh Tahun Bersama Romlah]
Romlah Ganti Ban Dalam | pribadi

Dari Alue Naga akhirnya sampai di sebuah bengkel yang buka pada malam hari. sampai di bengkel, si tukang belum sempat pegang Romlah. Saya memilih utak-atik sendiri tali gas itu. Dan akhirnya bisa diperbaiki kembali oleh saya sendiri. Huft. Inilah hidup, hal-hal yang kita percayakan bisa dikerjakan oleh orang lain. kadang bisa mengerjakan sendiri, waktu mogok di Alue Naga. Saya sempat panik, karena jelang magrib. Terimakasih Paling top buat Fahrol, atas kesempatannya membantu dorong Romlah. Suatu kala, kita akan mengenan ini sebagai LONG STREET Of Memory [Sepanjang Jalan Kenangan] with Romlah. Romlah, mudah-mudahan ada seorang gadis yang mau kita bonceng, hidup bersama-sama ke depan bersama kita. Dalam suka dan duka, dalam mengarungi sisa umur di dunia ini sebelum nyawa kembali kepada Yang Maha Kuasa. Insya Allah.[]

28 December 2014

12/28/2014 07:01:00 PM

Patah Hati? Lakukan Hal Berikut Ini

Pernahkah Anda merasakan patah hati? Musmarwan Abdullah, seorang filsuf Aceh berasal dari Sigli mengatakan kepada facebook pada suat ketika bahwa; “Kamu belum cukup dewasa bila belum pernah merasakan langit runtuh akibat pata hati.” Bagi kalian yang pernah merasakan patah hati teriris jantung tentu akan sepakat dengan statemen itu.
Entah bagaimana cerita awalnya bermula hingga dua kata; patah dan hati dijadikan sebagai sebuah ukuran bagi lawan jenis untuk cinta mereka yang kandas, atas putus di tengah jalan. Patah hati bisa membikin kalian lebih galau dan pikiran yang sangat kacau. Situs wikipedia mengatakan kalau patah hati digunakan untuk jelaskan sakit emosional, penderitaan mendalam yang dirasakan oleh seseorang tatkala dia kehilangan orang yang dicintainya. Bisa karena menikah dengan orang lain, bercerai, atau penolakan atas cinta yang bertepuk selelah kaki.
Era sosial media sekarang ini bikin orang-orang yang sedang dirundung duka cinta jadi tuna asmara, kerap menjadikan media sosial sebagai tempat melepas isi hati mereka yang sedang gundah gulana. Lalu dibuatlah pengumuman dengan status super galau. Waktu pasien patah hati bisa berbeda-beda dialami oleh tiap-tiap orang. Rasa sakit hati yang akhirnya muncul tiba-tiba, berlawanan dengan kondisi emosional sebelumnya tentang kekaguman orang yang dicintai.
Jika kalian  kesepian karena putus atau ditolak cinta. Saran saya kalian pergilah ke tempat orang ramai-ramai seperti di pasar, atau pergi ke pos tentara terdekat. Coba ambil sebiji batu, lalu lemparkan ke pos tentara itu. Mungkin bisa bikin patah hati kamu terobati. Setelah itu siap-siap ambil langkah seribu.
Efek patah hati tentu beragam bagi tiap-tiap orang. Tergantung bagaimana suasana itu disikapi dengan bijak. Sebagaimana kerap orang melanda ketika patah hati seakan langit runtuh. Ada baiknya jika sudah patah hati untuk mencari hal-hal yang positif yang bisa kamu jadikan sebagai tempat untuk mengalihkan suasana hati yang sedang dirundung duka mendalam. Bersyukur dan ikhlas atas suasana dan berdamai dengan hati, adalah hal yang penting dalam mengembalikan emosi diri untuk tetap lebih baik. Bayangkan kalau kalian sampai masih bisa patah hati, bayangkan jika saat patah hati kalian biasa saja tanpa merasa gundah gulana. Itu artinya kalian tidak benar benar memiliki hati dan perasaaan.
Rasa sakit hati merupakan sebuah sinyal untuk kita ketahui kalau hati sedang sakit, ada yang terluka dan mesti diobati. Mencari teman dekat untuk mencurahkan hati dan meminta nasihat dari orang lain tentu hal yang penting dilakukan. Berbagi cerita dengan orang lain, untuk mengurangi beban tidak dinikmati sendiri.
Rasa sakit hati tidak mesti dijadikan sebagai alasan untuk membalas dendam. Bisa jadi Tuhan akan menggantikan dengan yang lebih baik lagi. Jangan sampai berpikir kepada hal hal untuk mempercepat kematian, biarlah kasus-kasus bunuh diri karena patah hati dialami orang lain. Kalaupun terpaksa mau bunuh diri, umumkanlah ke publik. Bikin pementasan bunuh diri, biar keren aja gitu untuk heboh-heboh melebihi hebohnya batu giok sekarang ini.
John Lennon, seorang penyanyi kelahiran Inggris mengatakan; “Cinta adalah sesuatu yang abstrak. Saya tak pernah menyangka jika saya akan pernah mengalaminya.” Jadi tak perlu kamu gelisah harus bunuh diri atau lari dari rumah segala sebab patah hati atau cinta yang tak kesampaian. Tips terbaik untuk bisa pulih dari patah hati adalah, masuklah dalam kamar mandi, lalu benamkan kepalamu dalam waktu yang lama disana. Kalau itu ngak sanggup kalian lakukan, bawa saja hatimu ke bengkel atau jual aja ke tokobagus, siapa tau ada yang berminat hati kalian untuk mereka bikin bakso.

24 December 2014

12/24/2014 11:22:00 PM

Saya Bertemu Najwa Shihab, Jurnalis Terduga Artis






Saya belum melihat ada reaksi publik cukup luarbiasa begini bagi seorang jurnalis di Indonesia. Najwa Shihab seorang jurnalis senior di MetroTV. Dia  dielu-elukan seperti artis, tepatnya dia jurnalis yang sudah jadi artis.

Saya mendapat nomor Tiket 636. Dapat jatah duduk di dalam, ditengah ruang AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala. Tetapi karena terlambat datang, kursi jatah duduk seperti tertera di tiket saya telah penuh. Akhirnya dengan bekal terobos sana sini, dapat tempat duduk 'vvip', duduk di depan deretan kursi pejabat/tamu undangan. Saya duduk lesehan di lantai. Di belakang saya lesehan ada Bunda Illiza, Walikota Banda Aceh. Saya tidak peduli, yang penting saya bisa menonton acara MataNajwa dengan dekat.

Melihat dari dekat sosok pembaca acara itu, Najwa Shihab. Saya telah lama kenal Najwa Shihab, dari berbagai penelusuran di internet. Tapi sayang, dia belum mengenal saya. Cerita soal berburu tiket MataNajwa, sudah saya tuliskan Aku Berburu E-Tiket MataNajwa

Dari ribuan penonton acara MataNajwa state Unsyiah kemarin, saya termasuk satu dari ribuan yang mengelu-elukan dia. Dia memang judes dari penilaian kebanyak publik, saya jadi banyak telusuri tentang profilnya, youtube menyediakan itu. Beberapa bulan lalu dia hadir di acara talkshow Hitam Putih - Trans7. Jarang sekali Kak Nana -panggilan akrabnya- mau hadir ke acara-acara talkshow TV. Tetapi Hitam Putih itu dia menceritakan banyak hal perjalanan hidupnya, tentang harus tidur selama 3 bulan di rumah sakit untuk selamatkan bayi kandungan nya ke dua. Respect.

Bayi itu lahir, tapi bisa bertahan cuma 4 jam, lalu meninggal. Air matanya mengalir terharu waktu menceritakan itu. Dia benar benar paham arti kehilangan. Dia menikah waktu umur 21 tahun, masih kuliah. Dia memiliki seorang putra, usianya sekarang SMP.

Momen Najwa menangis bukan kali itu saja, sewaktu masa tanggap darurat tsunami Aceh. Waktu itu live report siaran berita. Najwa sebagai reporter melaporkan, bagaimana kondisi Aceh. "emosinya' sebagai manusia terbawa waktu melaporkan bagaimana kesediaan orang orang yang sedang kehilangan keluarganya. Najwa juga menangis karena ada pengungsi yang mencari keluarganya ke tim liputan MetroTV, karena salah satu anggota keluarga ibu itu terekam kamera Metro, bahwa anaknya selamat.

Menurut info, karena kondisi Najwa sebagai jurnalis yang sudah larut dalam kondisi sebagai 'korban', dia ditarik ke Jakarta. Entah benar cerita itu. Jiwa manusia mana tidak tersentuh hatinya melihat kondisi Aceh pada dua minggu pertama tsunami?

Saya berebut salaman dari ratusan pengunjung yang ingin bertemu dan foto dengannya. Dia kayak artis, walaupun dalam sebuah kesempatan video yang saya nonton, ternyata Najwa bahkan tidak kenal seorang artis tenar Syahrini.

Ada hal yang tidak bisa saya lupakan pada hari ini. Saat reaksi Kak Nana berteriak waktu saya salaman, saya menyebut "Kak Naaana..Ini saya azirmaop yang sering mensyen kakak" lalu dia juga ikut berteriak: "Haiiiiiiiiiiiiii" entah pula dia kenal atau tidak. Tapi saya lebih beruntung, seorang teman saya Jadidul Aidi mengabadikan momen itu. Trims Adit!

Acara MataNajwa berlangsung di stage Unsyiah pada siang bakda Jumat, 19 Desember 2014. Dalam tema: Dari Aceh- Pesan Untuk Negeri. Hadir narasumber keren dan inspirasi, Susi Pudjiastuti yang saat ini sebagai MEnteri Perikanan dan Kelautan, Dahlan Iskan Mantan Men-BUMN, Faisal Basri (Ketua Tim Reformasi Tatakelola Migas) dan Teuku Adifitrian akrab dienal Tompi, seorang putra kelahiran Lhokseumawe, kini seorang dokter spesialis bedah plastik dan penyanyi kelas atas di Indonesia. Dia juga lulusan SMA Modal Bangsa-Aceh Besar.

Saya begitu kagum pada semangat dan inspirasi dari Tompi saat dia diterima UMPTN dan lulus tes di kedokteran Universitas Indonesia. Keluarganya melarang sekolah kedokteran, hingga kemudian ibu Tompi sedih. Tompi menagis tersedak-sedak waktu menceritakan ini. Saya juga ikut menangis terharu melihat adegan itu. Sampe ibunya kemudian bilang ke Tompi: apapun kejadianya, ku berangkat kuliah! Ini tidak beda jauh dengan kondisi saya sewaktu lulus S2 di Pascasarjana Unsyiah.

Soal Susi yang juga ada kejadian Susi yang mengendong ibunya sewaktu mengajak ibunya terbang dengan pesawat Susi Air. Najwa juga menunjukkan sebuah foto dengna komen dari Susi begini: "Bagi saya ibu adalah segala-galanya, Jalan rezek dibuka dengan bakti kita pada orangtua" dan Susi mengiyakan statemen itu. Hormatlah pada ibu-ibu yang luarbiasa untuk anak-anaknya. Apa yang disampaikan Susi soal ibunya juga mesti jadi catatan penting bagi saya untuk lebih berbakti kepada orang tua.

Soal Susi yang mengkritik anak muda Aceh harusnya duduk diwarung kopi tidak terlalu lama. cuku satu jam saja, selebihnya bisa digunakan untuk bekerja, mungkin Susi tidak tau, bahwa kondisi orang di warung kopi di Aceh itu karena berbagai hal dan kepentingan bisnis dan sebagainya. Banyak teman teman saya yang bekerja di warung kopi, bahkan ada para design yang duduk dari pagi di warung kopi hingga malam hari dan menghasilan uang sebulan mencapa 10juta lebih.

Terimakasih pantia dari Unsyiah dan MetroTV atas kerja kerja luarbiasa atas acara itu. Butuh tenaga dan energi yang tidak sedikit untuk penghelatan itu. Luarbiasa! Bagi yang ingin nonton MataNajwa secara lengkap, kalian bisa langsung cari di situs youtube. Sayang sekali saya tidak dapat kesempatan diberikan untuk bertanya, sebab sangat ramai sekali yang tunjuk tangan[]
12/24/2014 08:45:00 PM

Sepuluh Tahun Bersama SiRomlah, Selamat Ultah!

Rintik hujan masih turun perlahan sejak magrip tadi. Beberapa saat memang berhenti, lalu turun lagi hingga larut malam. Sebab ada kegiatan organisasi, saya terlambat pulang ke rumah, malam itu. Saya tidak ingat pasti tanggalnya lagi, perkiraan sekitar minggu pertama bulan November. Hujan deras membuat genangan air di beberapa ruas jalan. Begitu juga jalan untuk masuk ke komplex BRI. tempat di mana saya tinggal di Lamgapang.

Malam itu waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 menit lebih, jalan kian sepi. Saya pulang dengan Si Romlah, sepeda motor merk Honda Cup 70, tahun perakitan 1967. Saya tidak begitu pasti ingat asal muasal nama Romlah itu dari mana, tetapi awalnya saya ingin nama itu Ramulah. Nama yang dekat dan akrab di telinga sebagai Aceh. Lalu entah bagaimana, sebutan nama Ramulah denga tiga suku kata, jadi ribet. Jadilah Romlah [dua suku kata]. Kata teman teman, Romlah identik dengan nama orang di Pulau Jawa. Beberapa banyak dari teman teman saya sudah tau kalau motor butut saya itu bernama SiRomlah. Limabelas tahun lebih tua dari umur saya.

Kembali ke soal banjir tadi. Genangan air di jalan masuk ke kompleks rumah tergenang, awalnya saya kira tidak tinggi genangan air hujan. Saya berhentikan motor dengan posisi mesin hidup. Lalu saya terobos ke genangan air itu, baru jalan 10 meter. Romlah langsung mogok ditengah genangan air, tingginya selutut orang dewasa. Hujan kian deras. Jika busi basah, Romlah susah dihidupkan, dia ngambek. Saya akhirnya dengan segala kesal, mendorong Romlah dalam genangan air yang jaraknya 100 meter lebih, hujan kian deras dan malam kian larut, jam 3 malam.

Itu satu diantara banyak cerita mogok Romlah lainnya, saya beruntung bisa belajar banyak tentang arti kesabaran naik motor butut. Bagaimana harus lebih menghargai dirinya sebagai makhluk mati tapi hidup. Entah ada hubungannya atau tidak, Romlah seperti sesuatu yang punya jiwa. Dia seakan punya rasa terhadap sesuatu yang tidak disukai. Misalnya beberapa kali Romlah pernah mogok, atau bocor ban hanya karena sebelumnya ada wanita yang menyentuhnya. Mencoba menggodanya atau bahkan mencoba mengendarainya. Saya bahkan pernah berpikir, kalau untuk memilih istri, harus dibonceng dulu oleh Romlah. Kalau esoknya dia tidak mogok, berarti Romlah menyukai gadis itu. Eaak!

Cerita soal Romlah mogok karena 'didekati' sama wanita mungkin saja kebetulan memang dia lagi mogok. Tetapi beberapa dari teman saya pernah mengalaminya, adalah mencoba ambil foto bersama Romlah. Esoknya paginya langsung susah dihidupkan. Atau kadang bocor ban, mungkin itulah bentuk rasa dari Romlah ketika dia tidak suka pada sesuatu hal yang saya dekati.

Pernah sekali waktu pulang kuliah dulu, Romlah tiba tiba mati di tengah jembatan Lamnyong. Honda Cup 70 saya masih menggunakan sumber api menggunakan platina, masih gunakan baterai. Jadi kalau tidak ada percikan api dibusi, jangan harap dia akan hidup. Nah, cerita mogok di Jembatan Lamnyong itu, sya sudah ganti busi berkali kali, stok busi dalam 'garasi kecil' dan segala jenis kunci bongkar busi selalu harus ada. Saya ganti busi berkali kali, percikan api sangat kecil. Saya rapatkan ujung busi, Romlah tidak juga mau hidup. Saya akhirnya hilang kesabaran, lalu saya berdiri pada trotoar jembatan Lamnyong, saya katakan ke Romlah dalam bahasa Aceh: "Romlah, njang krueng that luah, lee that buya. Njoe menjo hana  a tem udep keuh, ku tik lam krueng njan jeut?"  

Saya kemudian tersenyum seperti orang gila, bagaimana bisa hubungan soal kita yang hidup dengan makhluk mati berbicara dan akan didengar. Hahaha. Saya istirahat sebentar, setelah ganti busi dan engkol kosong beberapa kali, dan Romlah akhirnya hidup dengan suara garang. Apakah dia mengerti perasaan saya? Wallahualam.

Hari ini Romlah telah bersama saya selama 10 tahun. Banyak cerita-cerita lucu dan konyol berjuang bersamanya dalam hidup. Teman-teman yang melihat saya di jalan, melihat Romlah saya parkir di suatu tempat, mereka sudah tau kalau keberadaan saya tidak jauh darinya.

Sore tangal 25 Desember 2004. Sehari sebelum gempabumi dan amuk air laut menghantam daratan Aceh. Saya memiliki Romlah, waktu itu saya beli dengan harga 2,3juta. Harga emas tahun 2004 itu sekitar 400 ribu/mayam. Jadi Romlah saya beli dengan mahar 5,5 mayam emas. Pagi hari Minggu kala Gempa itu, abang ipar saya yang bekerja di bengkel motor membawa Romlah ke bengkel untuk service dari beberapa lini. Saya tinggal di Darussalam waktu itu. Waktu orang orang kian ramai berlari, Romlah terpaksa ditinggalkan di depan bengkel karena tidak mau hidup waktu di engkol. Barulah pada malam harinya, dia dijemput untuk dibawa ke tempat kami menginap, di kawasan Lam Ateuk.

Hari ini, 10 tahun saya telah belajar tentang arti sabar bersama Romlah. Catatan ini mungkin berlebihan bagi kalian, tapi tidak bagi saya. Dulu Almarhum Ayah saya juga menggunakan Honda Cup 70, Ayah dulu belinya baru dari dealer, Ayah saya seorang guru SD. Sejak beliau meninggal pada tanggal 5 Maret 1999. Motor itu dijual karena sering mogok dan harus dibawa ke bengkel terus terusan. Saya padahal yang paling tidak setuju di jual. Maka ketika tahun 2004 itu, tabungan saya sejak SMP yang telah dikumpulkan saya gunakan untuk beli motor, walaupun butut dan dianggap motor buruk, itu dari hasil keringat sendiri. Halah!

Sepuluh tahun berlalu, terimakasih Romlah atas kesetiaannya. Soal orang yang akan kita bonceng nantinya, bersabarlah. Tuhan punya kuasa atas segalanya, aku akan selalu setia. Walaupun ada banyak orang orang yang mencoba merebutmu dari tanganku, menggodaku supaya engkau ku jual. Tenang, engkau tidak akan jatuh kepada tangan-tangan jahil.