KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (70) BERITA MEDIA (47) CATATAN HARIAN (47) GoBlog (12) PUISI (11) CERPEN (8)

22 June 2014

6/22/2014 01:51:00 AM

Ini Dia Video Fadhli di AKSI Indosiar

facebook: Peduli AKSI Fadhli
Muhammad Zulfadli (25), salah satu konsestan dalam ajang mencari bakat da'i-da'i muda di stasiun televisi Indosiar  Akademi Sahur Indonesia (AKSI) Indosiar tampil memukau pada malam Jumat, 20 Juni 2014 yang disiarkan live oleh tv tersebut.

Fadhli  merupakan mahasiswa Universitas Al-Muslim Bireuen mengikuti ajang AKSI itu membawa nama harum  Aceh. Fadhli juga alumni Pesantren Modern Misbahul Ulum, Lhokseumawe.

Pemuda murah senyum ini yang juga adik kandung Joel Pasee tampil memakai peci khas Aceh dengan hiasan sauvenir  rencong Aceh. Dia mengawali salam pembuka dalam bahasa Aceh: "Jaroe Dua Blah Ateuh Jeumala, dari jauh kaki melangkah Serambi Mekkah tempat bermula" ucap Fadhli, disambut tepuk tangan meriah dari penonton di studio. Pada kontes AKSI Indosiar itu, Fadhli membawa tema dakwah tentang "Zikir Hati Jadi Tentram"

Fadhli tampil tepat waktu lima menit sesuai waktu yang diberikan. Dia bahkan mendapat pujian yang luar biasa dari Mamah Dedeh, salah seorang dewan juri. Penasaran seperti apa  penampilan pemuda Blang Pulo, Lhokseumawe ini? Silakan klik video nya disini : AKSI Fadhli

20 June 2014

6/20/2014 09:32:00 AM

Dua Tahun Pemerintahan ZIKIR: Tantangan Dan Harapan

Logo Lomba 2 Tahun Pemerintahan ZIKIR | 




Dua Tahun Pemerintahan Zikir seakan tanpa terasa.  Pasangan  Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh setelah dilantik oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri)pada Senin  25 Juni 2012, di Gedung DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) Aceh.

Pasangan Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf (akrab dikenal  Pasangan Zikir) menjadi pemimpin di provinsi paling barat Pulau Sumatera atas hayat hidup 5 juta jiwa masyarakat  Aceh. Tanggal 25 Juni 2012 merupakan hari bersejarah bagi rakyat Aceh dalam menatap masa depan yang lebih maju dan bermartabat. Dua Tahun Pemerintahan Zaini-Muzakkir sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh hasil pilihan rakyat Aceh pada pemilihan kepala daerah, 9 April 2012 telah banyak melakukan program-program yang sedang akan terus dijalankan oleh Pemerintahan Zikir. 

18 June 2014

6/18/2014 02:15:00 AM

Jokowi: Aceh Itu Kampung Saya

Jelang 9 Juli 2014 situasi politik di seantero nusantara kian panas. Terutama dari kedua kubu timses masing masing calon presiden. Dua orang tokoh bangsa yang telah diusung oleh koalisi partai masing masing saling menjagokan kandidatnya. Mereka saling klaim kalau calon presiden dari kalangan mereka itu yang berhak dan pantas untuk menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke-7.

Bagi kita rakyat Indonesia yang telah atau belum menentukan siapa yang akan dipilih pada 9 Juli nantinya, sudah bisa dari sekarang untuk mengukur siapa yang layak dan pantas mewakili jadi Presiden Indonesia pasca habis masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang telah memerintah selama 10 tahun lebih. Melihat track record pemimpin tentu saja sangat penting dalam menentukan presiden kita nantinya. Kita sebagai Aceh, tentu juga sangat penting menelisik tolak ukur kedua calon tersebut.



Zaini Abdullah (Gubernur Aceh) bersama Joko Widodo | Net

Mau tidak mau, suka tidak suka. Baik pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-Jusuf Kalla adalah dua pasang calon yang akan kita tentukan pilihan nantinya. Tidak ada calon presiden lain yang diusung oleh partai politik atau gabungan koalisi partai politik. Jika sebelumnya ada banyak nama yang muncul ke publik sebagai calon presiden, ternyata tidak usung atau tidak mendapat suara koalisi yang pas untuk diusung. Tolak tarik kepentinngan dan ya begitulah kondisi politik dari semua negara demokrasi.

Berbaca Joko Widodo-Jusuf Kalla, sedikit banyak saya akan menjelaskan alasan saya kenapa memilih Jokowi-JK. Alasan ini tentunya akan berbeda dengan alasan banyak orang yang tidak suka dengan kedua sosok capres ini. Setiap kita tentu punya alasan masing masing yang baik dalam menilai dan memilih calon presiden. Karena ini cuma ada 2 calon, saya harus memilih pada Jokowi-JK. Saya cuma tidak ingin Indonesia dipimpin oleh kalangan militer kali ini. Itu saja.

Sebenarnya menurut saya calon presiden itu yang pantas adalah Anies Baswedan. Tetapi dia tidak dimenangkan dalam konvensi Partai Demokrat. Tidak juga ada partai lain yang mengusung dia sebagai calon presiden. Memang Jokowi tidak amanah sebagai Gubernur DKI, harusnya dia dipersiapkan jadi Presiden dari dulu oleh PDIP dengan tidak maju sebagai Gubernur DKI 2012 lalu. Yah inilah politik, semua punya hal untuk membenar-benarkan atas keputusan partainya. Tetapi PDIP kemudian jadi beralasan kalau Jokowi harus mengemban amanah yang lebih besar dari ruang lingkup kekuasaannya, memimpin Indonesia.

Berbicara Jokowi tentu saja saya ingin sedikit berbicara tentang dia dan Aceh. Tentang Jusuf Kalla (JK) sudah banyak diketahui oleh orang Aceh semenjak dia jadi Wakil Presiden RI 2004-2009. Walaupun perolehan suara untuk JK pada Pilpres 2009 cukup sedikit di Aceh kala itu. Kalla yang orang Bugis, via orang kepercayaannya dokter Farid Hussain mampu membikin Aceh damai dengan RI pada 15 Agustus 2005 yang diprakarsai oleh Mantan Presiden Finlandia, Marti Athisari. Tentu ada banyak bantuan dan sumbangsih bantuan dari berbagai pihak lainnya dalam Damai Aceh itu.

Nama Jokowi kian ramai dibicarakan di Aceh. Apalagi semenjak muncul baliho kampanye dibeberapa tempat ramai di Aceh. Baliho itu jadi perdebatan banyak kalangan disini, karena disitu ditulis: Jokowi: "Aceh Itu Kampung Saya" sedangkan JK: "Tokoh Perdamaian Aceh"



baliho di simpang mesjid lamprit banda aceh

Banyak orang kemudian memprotes kenapa kok tiba-tiba Jokowi mengklaim Aceh sebagai kampungnya. Apalagi ini jelang pemilu presiden. Taktik kampanye simpatik tim sukses kah yang ingin mendulang suara di Provinsi paling barat Sumatera ini.

Sebulan sebelum pemilu legislatif 9 April 2014 lalu. Tepatnya pada Maret 2014, Jokowi sempat ke Aceh. Tepatnya di Langsa. Saat itu Jokowi hadir ke Langsa dalam rangka konsolidasi PDI-Perjuangan jelang pemilu legislatif

Ya, Aceh pernah jadi tempat Jokowi merasakan bagaimana hidup dan mengenal sedikitnya budaya masyarakat. Sebagaimana dirilis oleh Harian Serambi Indonesia edisi 9 Maret 2014. Jokowi menyebut dirinya ke Aceh ibarat pulang kampung.

"Karena pada tahun 1986-1988 silam, saya pernah bekerja di Aceh, tepatnya di Lhokseumawe dan di Takengon, Aceh Tengah," kata Jokowi dalam konfrensi pers kepada wartawan di Langsa.

Jokowi lahir dan sekolah hingga tamat SMA di Solo. Dia kuliah di Fakultas Kehutanan, Universitas Gajah Mada. Jokowi anak sulung, lelaki satu satunya dalam keluarga dari empat bersaudara. Tiga adiknya adalah perempuan. Setelah tamat kuliah dari UGM, dia menikah Iriana. Jokowi ke Aceh, tepatnya di Aceh Tengah. Dia bekerja sebagai konsultan di PT. Kertas Kraft Aceh (PT.KKA) yang berpabrik di Krueng Geukuh, Lhokseumawe.

Informasi yang saya dapatkan, Jokowi bekerja di Aceh Tengah sebagai konsultan kehutanan pabrik KKA selama 2 tahun. Informasi yang lain disebutkan Jokowi pernah bekerja dan tinggal di Aceh selama 4 tahun. Karena sebagai konsultan PT. KKA, tentu saja Jokowi tidak hanya tinggal dan hidup di Aceh Tengah, dia kerap melakukan perjalanan dinas ke Lhokseumawe, tempat kantor besar PT. KKA. Saat istrinya hamil yang pertama, dia memilih mundur dari perusahaba dan kembali ke kampung asalnya, Solo. Disana dia bekerja sebagai karyawan di perusahaaan meubel milik pamannya.

Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah salah seorang Tuha Peut (Dewan Pembina) Partai Aceh juga mendukung Jokowi_Jusuf Kalla. Zaini beralasan gaya Jokowi yang sederhana dan pernah bekerja di Aceh tentu lebih mengerti Aceh. Sedangkan Jusuf Kalla menurut Zaini sosok perdamaian Aceh.


capture dari facebook revolusi mental

Ramadhana Lubis, Sekretaris DPW Partai NasDem Aceh yang juga caleg terpilih dari Dapil Bener Meriah- Aceh Tengah menyebutkan Jokowi punya ikatan emosional yang kuat dengan Aceh.

“Jokowi misalnya, pernah menetap di Aceh, otomatis dia mengetahui seluk beluk dan kebudayaan Aceh. Sedangkan JK, merupakan fasilitator yang sangat berpengaruh dalam mewujudkan perdamaian di tanah yang berjulukan serambi Mekkah ini,” Sebut Ramadhana sebagaiman dirilis situs theglobejournal.com

Ketua PDI-Perjuangan Aceh, Karimun Usman pernah menelusuri kebenaran Jokowi pernah tinggal di Takengon. Karimun menjumpai Iman Mesjid Istiqamah. Tgk Iman itu membenarkan kalau Jokowi pernah tinggal di daerah antara tahun 1986-1988. Jokowi dikenal sebagai sosok yang santun, sederhana dan sangat peduli dengan masyarakat sekitar.

Tentang Jokowi dan Aceh, saya kemudian jadi teringat dengan berita hebohnya Barrack Obama ketika dia jadi calon presiden dan terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat. Obama pernah sekolah dan menghabiskan masa kecilnya di Menteng, Jakarta. Novermber 2010 Obama ke Jakarta. Pada pidato di Balirung Universitas Indonesia, orang-orang di Indonesia bertambah heboh akan ucapan Obama dalam bahasa Indonesia: "Pulang Kampung Nih"

Cerita Jokowi dan Aceh hampir mirip dengan Obama. Iya, Jokowi pernah tinggal dan hidup dengan masyarakat Aceh. Maka wajar saja ketika statemen itu keluar dari Jokowi: Aceh Itu Kampung Saya.

Seandainya Jokowi terpilih jadi Presiden ke-7 nantinya, bukan tidak mungkin ketika dia ke Aceh sebagia kunjungan kerja akan mengucap dan berpidato dengan sedikit menyelipkan bahasa Gayo atau Bahasa Aceh.[]

12 June 2014

6/12/2014 10:20:00 PM

Ini Dia Profil Moderator Debat Capres Kedua


KitabMaop, Berita - Debat Capres Minggu ke-II yang akan disiarkan oleh MetroTV akan dimoderatori oleh seorang Guru Besar Universitas Brawijaya, Malang. Acara debat itu akan dilangsungkan pada Minggu (16/6) malam di Hotel Grand Melia, Kuningan Jakarta Selatan.

Dalam debat edisi kedua ini akan mengulas tentang visi-misi capres-cawpres dibidang ekonomidan kesejahteraan sosial.

Pria bernama lengkap Prof Dr Ahmad Erani Yustika, MSc, PhD kelahiran Ponorogo 1973 ini seorang dosen Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Unibraw merupakan sosok yang telah dipilih oleh KPU serta kesepakatan timsukses capres-cawapres ini akan memandu acara debat dengan sejumlah pertanyaan yang telah dipersiapkan oleh KPU.

"Kemampuan dia (Ahmad Erani Yustika) di bidang ekonomi bagus, performance juga bagus dan mampu membawakan acara debat semacam ini," tandas Arief Budiman, Anggota KPU sebagaimana dikutip dari beritahukum.com

Melalui akun twitternya @AhmadErani mengucapkan terimakasih atas semua dukungan dan mandat yang telah diberikan kepadanya

"Tks kpd sahabat semua atas perhatiannya, smg saya bisa menjalankan mandat ini dg sebaik-baiknya. Maaf blm bisa membalas satu per satu." Twet Prof Ahmad Erani, Senin (9/6)

Dari situsnya ahmaderani.com disebutkan, Profesor berkacamata ini menyelesaikan studi srata satu di jurusan ilmu ekonomi, universitas brawijawa pada tahun 1996. Tahun 2001 menyelesaikan S2 dan tahun 2005 menyelesaikan doktoral, keduanya di University of Gottingen, Jerman. Ia memperoleh beasiswa dari GTZ dan DAAD.

Dia pernah menjabat sebagai Ketua Prodi Magister Ilmu Ekonomi, Unibraw (2007-2009) Sejak kuliah hingga sekarang, telah menulis 500 lebih artikel yang dimuat diberbagai media koran cetak. Mulai Juni 2010 ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Ekonomi Kelembagaan di Fakultas Ekonomi Universitas Brawijawa, Malang.

Ada yang pernah jadi mahasiswa Profesor ini dan penasaran seperti apa penampilannya sebagai moderator? Sebab sebelumnya moderator debat capres-cawapres menuai kritikan dari publik twitter karena memandu acara yang kurang profesional. Kita lihat saja nanti seperti apa penampilan Ahmad Erani []

09 June 2014

6/09/2014 10:05:00 AM

Ini Dialog Imajiner Capres


"Jikalau tidak dengan mereka (wanita), kemenangan tak mungkin kita capai" Gus Lenin (1870-1924)

Karena lagi copres, quote ini dianggap rasis kepada salah satu copres. Salah doi sik ngak CLBK lagi sama Mbak itu. Tapi anehnya waktu pileg lalu, ada caleg 'metultahya' yang menang tanpa ada... Ah, Sudahlah. Artinya quote Gus Lenin diatas tidak selamanya berlaku benar. Tergantung ya.

08 June 2014

6/08/2014 07:00:00 AM

Aceh, Masih Gelap

Akhir akhir ini Banda Aceh panas bukan kepalang. Jika kita melintas di jalan-jalan protokol Banda Aceh akan sangat terasa sekali panasnya. Hawa panas dari asap kendaraan bermotor yang saban hari bertambah di Banda Aceh, sedangkan pohon pohon di pinggir jalan tak membuat para pengguna jalan adem ayem ketika melintas di jalan raya. Hujan juga tidak turun dalam beberapa hari ini. Kemarin pernah sekali mendung, tapi tak hujan. Jika keseringan hujan, maka kita juga mengeluh karena tak bisa melakukan aktifitas seperti biasa. Jika panas, juga menjadi alasan kita mengeluh pada alam yang semakin tak berteman. Lalu, bagaimana Tuhan harus memberikan kepada manusia yang semakin hari semakin serakah saja di dunia ini?

05 June 2014

6/05/2014 10:33:00 PM

SAMIR



SAMIR
melangkah pasti ke arah rumahnya. Tak menghiraukan gerak  orang orang lalu lalang. Kelihatan ia galau. Aku melihatnya untuk yang terakhir kali selepas kami pamit pulang setelah mengikuti mata kuliah bahasa Inggris. Bagi Samir, bahasa Inggris itu tidaklah penting dipelajari. Tapi matakuliah yang memaksakannya harus mengikuti sampai tuntas dan lulus.  “Itu bahasa orang kafir” begitu titah neneknya yang selalu menjadi alasannya.

Selang seminggu, aku tak melihat Samir di kampus. Beberapa kali aku ke kostnya di kawasan yang tak seberapa jauh dengan kampus. Kabar buruk kudengar, Samir menghilang selepas kami pulang kuliah. Sore waktu  itu hujan  deras.

Aku sudah menghubungi orang orang terdekatnya. Menelpon keluarganya di kampung juga tidak mendapatkan kabar baik. Semua orang gundah dan rasa penasaran mencari keberadaaan Samir. Kalaupun dia diculik, belum juga aku mendengar kabar berita dari koran-koran kampung kami. Beberapa temannya di kampung bahkan membuat berita kehilangan lengkap dengan poto dan identitas dirinya. Selebaran orang yang hilang ditempel di setiap sudut kota dan kampus. Berharap ada orang yang melihat Samir atau bahkan kalau pun dia telah menjadi jasad, akan membuat hati dan pikiran kami sedikit lega. Beberapa teman dekatnya mengatakan kalau Samir menghilang karena dibawa makhluk halus semacam maop atau geuntet.

Sore itu ketika hujan deras, ternyata Samir tak berbelok ke lorong rumahnya. Ia berjalan menuju arah sungai Krueng Lamnyong. Desas sesus ini terdengar dari orang orang yang pernah melihatnya. Apa ia bunuh diri ke sungai? Tapi tak ada yang menemukan jasadnya  mengapung.  Atau bisa saja mayatnya dimakan buaya.

Menjelang dua minggu kemudian, kabar baik akhirnya kami dengar juga. Dengan wajah lusuh kami mendapatinya sedang duduk di sebuah batu di kawasan Pantai Ujong Batee. Sendiri berbalut baju kumal. Seperti penampakan orang gila kesannya. Seorang penduduk sedang mendapati Samir tiap malam juga mandi di laut ketika malam beranjak pagi. Ketika orang orang desa setempat bertanya Samir tak memberi jawaban yang pasti. Kadangkala ia menyebut sedang melakukan ritual empat puluh empat hari berturut-turut.

Kadang ia beralasan untuk membersihkan dirinya dari berlumur dosa. Entah dosa seperti apa yang ia lakukan.  Sekali waktu ia juga menyebut, sedang ingin bertemu dengan putri bulan pujaan hatinya. Entah, kabar mana yang benarnya. Yang pasti, kala malam hari Samir mandi dengan badan telanjang bulat. Biar segala roh roh halus sedekat mungkin dapat merasuki tubuhnya. Itu beberapa alasan yang orang orang kampung mendengar cerita dari Samir. Sebagian lagi bahkan pernah menyebutnya sudah gila.

Ketika siang, Samir hanya mengemis sama penduduk setempat mencari makan. Kadang sama penjaja makanan di pinggir pantai ia membantu mengantarkan air bersih. Sedang ia mendapati jatah makan siang dan sebatang rokok pemanis.

Jenggot di dagunya semakin tak beraturan dan semakin nampak kotor.  Ia seperti orang yang kehilangan akal. Sebelumnya Samir adalah mahasiswa yang biasa umumnya, tak ada hal-hal aneh yang ia lakukan dikampus. Ia juga aktif berdiskusi dan mengikuti pengajian di kampus.  Aku mendekatinya sore itu bersama Rosna. Pacarnya. Kami mencoba mengajaknya berbicara. Tapi Samir seakan pura-pura tak mengenali kami, Rosna mencoba menawarkan sebatang rokok kepadanya. Rokok selera Samir dengan balutan ujungnya yang sedikit membesar. Entah apa isi didalamnya.

"Bukankah kau yang dulu melarang aku merokok ini!?"  Rosna diam. Ditatapnya wajah samir dengan gelisah. Aku memandang kejadian itu dengan rasa penasaran. Tiga puluh menit mereka bersama, akhirnya mengantarkanku dan Rosna harus pulang segera. Samir tak mau di ganggu lama-lama. Begitu alasan yang kudengar dari Rosna. Sampai di tengah jalan, aku membuka pembicaraan kami yang lama terdiam.

"Kenapa Samir minggat dari rumah kost?" Lama Rosna terdiam. Aku mengulang pertanyaan yang sama. Hingga kendaraan roda dua yang kami naiki berhenti sejenak di pinggir jalan.

"Samir telah menghamili si Ramulah. Janda beranak satu yang menjadi tetangga rumah kontrakannya. Ia diminta menikahinya"

Mulut Rosna merapat. Matanya merah menatap wajahku yang geram.   Lalu tertuntuk lesu. Kami berjalan lalu terdiam. Entah apa yang dipikirkan Samir. Senja perlahan turun. Kami berjalan lambat menuju ke Darussalam.[Harian Serambi Indonesia, Minggu 19 Desember 2010]
6/05/2014 10:53:00 AM

Surat Cinta Untuk Walikota

sumber: atjehpost.com | 7 Mei 2011

Salam manis air tebu, salam rindu air mata. Salam bahagia dan sejahtera untuk kita semua. Kehadapan yang terhormat Bapak Walikota Banda Aceh Insyiur Mawardi Nurdin, M.Eng, Sc di kawasan kota tua yang kumuh dan padat. Tak luput hormat saya yang tiada dua kepada Bunda Hajjah Illiza Sa'aduddin Djamal Sarjana Ekonomi di kota Bandar Wisata yang katanya islami. Pejabat yang satu-satunya Wakil Walikota/Bupati di Aceh yang perempuan. Kebanggaan Bunda menjadi perwakilan perempuan di jagat pemegang kekuasaan merupakan juga kebanggaan saya sebagai lelaki yang membela dan mencintai  ibu saya yang perempuan tentunya.

Pak Wali, tanpa bermaksud menjatuhkan reputasi Bapak sebagai pemimpin di kota Banda Aceh ini, saya menulis surat ini ke hadapan Bapak sekedar meluapkan isi curahan hati saya yang mendalam. Melebihi dalamnya lubang drainase di sepanjang jalan jalan di kota kita yang ramai pendatang.

Seiring waktu saya yang semakin suntuk dan ribut oleh bisingnya suara gemuruh kendaraan lalu lalang di jalan jalan kota, saya sampaikan surat ini ke hadapan Bapak dan Bunda–saya lebih sukai menyebutnya Bunda dari Ibu-berdua di ruang dingin tak berangin dan kursi empuk yang lembut. Hasrat dan maksud saya sebagai warga yang hidup dan menikmati kota Banda Aceh yang makin kotor dan suram dengan tata rumah toko yang tak layak bangun tapi dipaksakan berdiri megah, sedangkan lahan parkir sempit yang membuat jalan kian macet kadang kala waktu sibuk orang pakai. Izinkan saya menulis surat ini: sepucuk surat cinta untuk Pak Walikota. Surat ini juga saya tembuskan kepada Bunda Illiza dan harap kiranya di sela waktu Bunda yang sibuk dapat membaca surat ini. Ini surat cinta, Bunda!

Layaknya sebuah surat cinta seorang  pemuda lajang kepada kekasih hatinya dalam menyatakan hasrat cintanya yang memanas dari ubun ubun ulu hatinya yang sedang berbunga bunga. Lebih kurang beginilah surat ini saya tuliskan walau nyamuk dan kantuk harus saya lawan demi sebuah surat atas nama cinta.

Pak Wali, akhir akhir ini kota kita sudah sampai pada usia yang berpaut delapan ratus lima tahun semenjak kota ini yang dulunya megah dithe le kaphe penjajah Belanda karena betapa garang dan beraninya hingga seorang Jenderal J.H.R.Kohler  tewas ditembak oleh pasukan Aceh.

Banda Aceh kota yang paling tua di Indonesia. Ada jutaan orang pernah hidup walau kadang sakit perut tak layak bertahan lalu memaksakan diri mengemis di lampu merah atau dari warkop ke warkop yang makin ramai pasca ombak menggulung orang orang kota dan beratus beratus ribu jiwa menghilang dan harta pusaka. Bala bantuan pun datang selepas ombak ganas itu dari orang orang yang wajah dan bentuk tubuhnya begitu asing bagi kita.

Pak Wali juga tahu, Banda Aceh adalah kotanya para radja dahulu kala. Hingga orang sepakat menyebut dengan Kutaradja pada masa zaman kerajaan. Banda Aneh, Eh Banda Aceh maksud saya kota yang ramai nan megah dengan Mesjid Raya Baiturahman. Hingga kemegahannya pada tahun ini Pak Wali dan beberapa perangkat orang orang cerdik pandai mengusung judul; Visit Year Banda Aceh 2011, Banda Aceh kota Bandar Wisata Islami Indonesia. Sepatutnya ini memang layak tapi kurang bergairah seperti gairah senyum Bunda Illiza dalam setiap pidatonya yang selalu tersenyum seakan akan dia tak pernah resah dengan masyarakat kota kita yang tidak sedikitpun menunjukkan prilaku akhlak islami. Orang orang yang lebih suka berteriak riang dijalan raya, para pemuda pemudi yang berjalan jalan berdua-duaan sambil berpeluk-pelukan seolah olah seakan akan kota Banda Aceh ini milik mereka berdua saja. Sedang ramai orang lain yang bayar pajak dan punya hak jalan yang sama di kota ini. Itulah kalau orang jatuh cinta, Pak!

Pak Wali, selepas jabat pelantikan jabatan sebagai Walikota Banda Aceh yang dipilih langsung oleh rakyat kota yang sudah hampir lima tahun lamanya, saya melihat tidak ada perubahan yang berarti sama sekali disegala lini. Gedung gedung mewah dan megah yang dibangun oleh donatur dari luar kampung kita sebagai hadiah atas laknat amuk air bah sekedar pelengkap bahagia buat warga kota yang tertimpa musibah. Lihat museum tsunami yang telah jadi bangkai tak terpakai buat mengenang para korban dan dahsyatnya gelombang laut 2004 lalu. Walau sampai hari ini ada masih ramai yang belum mencicipi nikmat musibah itu. 

Saya tidak tau pasti apa kerja bawahan Pak Wali selain mereka aktif mengejar pedagang jalanan kaki lima atau menangkap anak anak muda remaja yang berpakaian seronoh yang dicap telah meresahkan masyarakat kota. Sebenarnya resah saya lebih dalam lagi dari itu, semenjak air laut 2004 lalu, galian parit dan tumpukan material di pinggir jalan jelas sangat mengganggu ketentraman warga yang melintas. Ini tak pernah selesai, proyek gali ini ditutup, lalu bulan depan digali lagi ditempat yang sama dengan isi yang ditanam tentu sangat berbeda.

 Kenapa tidak sekali waktu dikerjakan? Ahai, soal gali gali memang proyek basah dan lumayan dapat berkah bagi yang menang proyek ini. Sekarang coba Bapak lihat, ditengah asyiknya Bapak kampanyekan Visit Year Banda Aceh 2011 dengan slogan; Peumulia Jamee Adat Geutanyoe, kok saya jadi melihatnya terbalik dari itu. Galian drainase yang memang sangat mengganggu perkampungan penduduk kota dan pengguna jalan menandakan Bapak tidak siap dalam mencanangkan tahun kunjungan wisata ini, hingga slogan itu lebih tepatnya; Jak  Ta Peumalee Jamee, Adat Geutanyoe!

Apa begini marwah kota wisata, Pak!? Kalau ia, Bapak (sepertinya) belum tau cara  menata kota, sedangkan setau saya konsentrasi Bapak sebagai orang punya pengalaman dalam pembangunan semasa Bapak bekerja di bidang Pekerjaan Umum (PU). Atau jangan jangan Pak Wali lebih dominan menyebut kepanjangan PU itu sebagai “Pajoh Ureng?” Semoga saja saya salah.  Ah, Bapak jangan asyik bercanda dong sama Bunda Illiza. Sekali waktu mari Bapak telusuri dan lihat warkop atau restaurant yang membanting harga makanan sesuka hari mereka dan ini tak pernah di atur dengan qanun kota. Belum lagi harga penginapan yang makin tinggi, bagaimana orang orang akan betah mengunjungi kota tua para radja ini?

Pak Wali yang tampan dan rajin ibadah nan taat lalulintas. Sekian dulu surat cinta saya ini ke hadapan Bapak, saya tak berharap banyak jika kiranya Pak Wali tak sempat membalas surat yang resah gelisah ini. Tapi harapan saya kiranya ketika waktu luang yang tersisa Pak Wali meluangkan waktu membaca surat ini. Sudi kiranya Pak Wali tak menaruh dendam atawa marah pada saya, anggap saja ini adalah sebuah ingatan dan betapa cintanya saya kepada Pak Wali sebagai juru kritik yang sial. Saya memang mengenal Pak Wali, walau saya harus menelan pahit karena Pak Wali tak mengenal saya. Ini memang sialnya saya! Tapi percayalah kita pernah bertemu dalam sebuah acara dan saya menjabat tangan Pak Wali dengan erat karena begitu cintanya saya dengan segudang harapan kala tahun pertama Pak wali menjabat sebagai Walikota.

Walau harap harap cemas (H2C) saya menulis surat ini disebuah warung kopi yang sedia wifi gratis hingga ada yang berkehendak kota kita ini jadi kota wifi gratis. Ini memang begitu ramai di kota kita, Pak Wali. Orang orang yang duduk di warkop seperti menjadi menu wajib disetiap warung kopi, tidak juga PNS yang memang lebih santai menghabiskan waktunya di warung kopi dari pada kerja mengabdi. Tapi seiring internet gratis yang tersedia tak mengurangi harga mahalnya menu kue dan minuman di warung itu. Saya tak tau kenapa Pak Wali tak menugaskan orang orang yang disebut pejabat untuk mendamaikan harga minuman dan makanan di kota kita. Ini juga jadi alasan orang malas berkunjung ke kota kita, kan Pak!?

Pak Wali, Saya sedikit takut nantinya akan ditangkap karena surat saya yang buruk ini, seperti SATPOL PP-tentaranya Pak Wali-menangkap para gelandangan dan pengemis yang berkeliaran di lampu merah kota kita. Kalau saya harus mendekam di sel penjara karena menulis surat begini rupa, ini tidak menjadi sebuah masalah. Karena hidup di penjara adalah tempat yang aman dan damai bagi orang orang yang ribut dan sakit perut macam saya, saya tak pernah berharap Pak Wali menyusul jika memang nanti dituduh dalam sebuah kasus.

Pak wali, Sudahlah! Sudahi saja jabatan kali ini dengan happy ending. Jangan lanjutkan lagi. Karena begitu banyak dan ramai orang orang yang menuduh Pak Wali sebagai walikota gagal dalam menjalankan amanah sebagai walikota Banda Aceh. Orang orang yang suntuk dan berperangai buruk sering merepet karena air pet yang macet, listrik yang hidup hidup mati, galian got tak pernah selesai dan sampah yang masih banyak berkeliaran disetiap sudut kota. Pak Wali, Sudahi saja kepura puraan ini sambil duduk santai bersila di teras rumah minimalis yang telah Pak Wali bangun dikawasan Prada. Ada banyak orang lain yang lebih mampu memimpin dengan gaya yang lebih merakyat. Saya tak berani sebut siapa mereka, takut saya dicap kampanye yang semakin dekat. Jabat erat salam dari saya, Pak! Penduduk Prada di kecamatan Syiah Kuala(*)
6/05/2014 12:23:00 AM

3 Comic Meme Lucu Berbahasa Aceh

Hadirnya media sosial sekarang ini membuat orang kreatif begitu mudahnya bikin comic meme lucu dan menggemaskan. Berikut ini beberapa comic meme lucu berbahasa Aceh yang saya dapatkan dari facebook, twitter dan milis. Mohon izin penggunaan gambar ini, karena saya tidak tau darimana awalnya berasal, tidak disebutkan sumber yang awal mula menciptakan comic meme tersebut.

  • 1. Sosok Sudirman alias Haji Uma, tokoh dalam film komedi berepisod Eumpang Breuh yang berperan antagonis itu disandingkan dengan Jowo Widodo Gubernur DKI Jakarta. Dalam gambar dengan latar belakang gedung DPR/MPR itu yang telah diedit, Haji Uma mengarahkan parang ke Jokowi dengan berkata "Pegauh Yang Beutoi Yoh Golom Kutak" (kasih tau yang benar, sebelum saya parang) Tentu saja itu cuma dialog imajiner lucu dari Haji Uma, yang dibuat kreatif oleh orang yang tidak diketahui. Hampir semua orang dari anak-anak sangat mengenal karakter Haji Uma yang beberapa waktu lalu telah terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Aceh. Apa jadinya ya jika kedua tokoh ini bertemu di dunia nyata nantinya? Hhehe

  • 2. Ini yang lucunya, comic meme tentang ulang tahu, di gambar terlihat 2 orang anak kecil. Yang satu berambut botak dan satu lagi berambut ikal. Anak yang botak kagum melihat temannya yang berambut ikal sedang melihat lilin sambil berkata: "Woww... so ulang tahun ngen?" (siapa yang ulang tahun kawan?). Dengan wajah sedih, si anak yang berambul ikal menjawab: "Mate Lampu Hai Pungo" (mati lampu hai gila). Ini sebuah comic meme lucu tentang kritik kepada PLN yang sering mematikan listrik di Aceh. Sebuah comic lucu dengan bahasa yang satir tentang mati listrik. Comic meme itu ada disebutkan dibawahnya dibikin oleh siapa, tapi dengan bahasa yang tidak lagi begitu jelas. 

  • 3.Comic meme berikut ini juga tak kalah lucunya menurut saya. Dua ekor monyet yang sedang berada di sebuah salon sedang akan melakukan pangkas rambut temannya. Trend gaya rambut anak remaja sekarang istilahnya "cincang" mengikuti gaya rambut artis dan gaya rambut pemain bola. Gaya rambut ini sebelumnya juga beredar trend gaya rambut "cubbeng" (celana kuncup rambut sebeng). Monyet yang jadi tukang pangkas bertanya kepada temannya: "Kiban takoh Bang"? (gimana gaya kita pangkas, bang?). Dengan santai, si monyet yang akan dipangkas rambutnya menjawab: "cincang beh" (cincang ya). Huahahaha.



Kumpulan gambar comic meme lucu dalam bahasa Aceh ini saya dapatkan dari internet dan dari smartphone BB. Mohon izin kepada pekarya comic meme lucu ini, karena ada yang tidak ada disebutkan atas karya siapa. Jika ada yang lain, bisa teman teman berbagi kepada saya di akun twitter @azirmaop :)