KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (70) BERITA MEDIA (47) CATATAN HARIAN (47) GoBlog (12) PUISI (11) CERPEN (8)

07 May 2016

5/07/2016 10:42:00 AM

Dosa Kota, Dosa Kita.


Idrus Bin Harun, saat proses instalasi fadbook di Bivak. Poster FKK saya ambil dari page fesbuk Festival Kota Kita
Jika masih berpikir hanya seorang Teknik Sipil dan Arsitek yang berhak bicara dan rancang tentang sebuah jembatan, kalian salah besar. Seorang yang suka memancing ikan berhak didengar suaranya tentang jembatan, seorang pemuda yang menikmati senja bersama kekasihnya di atas jembatan berhak ikut bicara, bahkan seorang yang patah hati sekalipun berhak di dengar suaranya tentang jembatan yang asyik untuk ia bunuh diri (mungkin).


Dua Minggu sebelum acara Festival Kota Kita (FKK), saya mengetahui soal ini dari Idrus Bin Harun. Ia diminta oleh seorang penggagas acara itu, Tito namannya, -lulusan Magister Tata Wilayah Kota dari Australia- untuk membikin sebuah instalasi seni rupa. Instalasi itu untuk dipajang di Ruang Taman Hijau (RTH) Lambung, Meuraxa. Sebagai pendukung kegiatan FFK yang dilaksanakan sejak Sabtu-Minggu, 7-8 Mei 2016.


Idrus membikin instalasi yang diberi nama fadbook ini di markas Bivak Emperom, tempat kami biasa berkumpul dan berbicara tentang hal-hal hidup untuk menghilangkan suntuk. Saya tidak menemukan alasan yang pasti atas Idrus membikin instalasi berbentuk Huruf F,  dengan identik font tulisan fesbuk ini karya Idrus Bin Harun yang didesain dan dikerjakan Idrus seminggu lebih di markas Bivak Emperom. Sendirian. Saat saya tanya kenapa dia membikin huruf F, Idrus tak menjawab pasti. Ada ilustrasi di badan huruf F itu. Duga saya kemudian, huruf F sebagai icon dari kata Festival; Kota Kita (FKK). Tapi Idrus tak mengiyakan. Seni rupa bisa ditafsir dari berbagai sudut.

Saya tetiba teringat judul album lagu; Dosa, Kota, Kenangan. Milik sebuah Band Indi asal Kota Surabaya, SILAMPUKAU. Lagu itu dengan lirik sang musisi menjelaskan soal kotanya. Di Aceh, ada Fuady Keulayu yang menyanyi lagu Jak Lom U Banda.

Semalam, saya kebetulan membaca status facebook salah seorang yang jadi inisiator penggagas acara yang melibatkan 60 lebih komunitas muda kreatif di Banda Aceh ini. Ini menulis;

"Kalau nanti di masa depan anak aku tanya: Hal apa yang paling berkesan buat Bapak di penghujung muda? Jawabannya adalah menjadi bagian dari acara kolaborasi warga Festival Kota Kita ini"

Itu status fesbuk saya baca diakun Asrul Sidiq, satu muda dari sekian muda lain penggagas FKK ini. Asrul lulusan Magister di Asian Institute of Technology, studi Lingkungan dan Sumber Daya. Kini ia mengajar di Universitas Syiah Kuala.

Ia salah satu penerima manfaat beasiswa dana pemerintah Aceh di bawah kelola LPSDM. Saya baru temukan ini satu dari ratusan mahasiswa/alumni LPSDM yang bertanggung jawab atas nasib kemajuan daerahnya, pasca dibiayai sekolah oleh pemerintah daerah, pulang dan berbagi/bergerak bersama warga kampung di sini. Yang lain, mungkin saya tidak tau dan tidak menemukan data alumni atas kerja kerja sukses mereka untuk Aceh dari ratusan milyaran anggaran yang telah dibiayai kepada mereka oleh pemda Aceh via APBA.

Kota ini bukan milik sekelompok elit yang haus kekuasaan untuk melanjutkan kuasanya. Tren kota dibangun oleh anak anak komunitas jadi menarik, seperti di Bandung. Pemerintah hanya memfasilitasi kerja kerja kreatif warga komunitas untuk berkarya. Tinggal hanya, bagaimana energi komunitas ini diarahkan pada hal hal yang kreatif untuk membangun kota. ada ratusan komunitas kreatif di sini, umumnya mereka masih muda dan bergairah berkarya.

Sore kami berkunjung ke RTH Lambung, Fuadi Keulayu akan berhikayat esoknya di pembukaan FKK ini

Kota ini mesti beradab, jadi kota kenangan bagi yang singgah sementara. atau jadi kenangan puluhan tahun akan datang saat Asrul akan menjawab pertanyaan anaknya suatu hari kelak. Asrul itu sampai saat ini setau saya masih lajang mulia dan poduktif, ukhty-ukhty tebarkan kode keras merebut perhatian bagi abang dosen ini. piss, bro Asrul!

Tadi sore saya sempat berkunjung ke RTH Lambung, Meuraxa. Saya bertemu dengan banyak teman-teman muda kreatif mewakili dari berbagai komunitas. Selamat berfestival warga kota kita. Saya tau ada banyak kerja-kerja atas inisiatif sewaktu persiapan acara ini. Tentu kekuarang di sana sini hal biasa dan lazim tiap sebuah acara.
RTH Lambung, Lokasi FKK
Banda Aceh kota seribu dosa dan seribu lilin kata orang-orang. Jangan ngebut di jalan, sebab banyak lubang di saat para kuasa atas nama pemerintah sibuk mengurus lubang yang berjalan jalan. Kota ini yang katanya kota pusaka, kota madani perlu memenuhi hak-hak dasar bagi warga yang tinggal dan bayar pajak untuk negara ini. Kota ini bisa bebas dari soal dasar krisis listrik dan air bersih. Agara definisi sebagai kota madani yang diusung oleh elit bisa benar benar dirasakan oleh seluruh warga yang singgah dan pernah tinggal di sini.


Banda Aceh mesti jadi kota kenangan bagi yang singgah sementara. Kota yang nyaman untuk orang orang yang hidup di kota ini. Mesti jadi kota yang beradab walau masih banyak dengan prilaku dosa para orang orang yang tidak perduli atas nasib kota ini.Semoga, jadi kota yang damai; kota milik semua, menjaga toleransi seperti warna warni pada gambar instalasi fadbook karya Idrus Bin Harun. Sebagaimana Idrus menulis disalah satu sudut instalasi itu.  

"Banda Maya; Banda Maya adalah kota rekaan. Di sana, singgah bermacam budaya. Kita merayakannya dengan gempita. Hadir di sana tanpa bekal toleransi yang cukup. Bisa bisa terusir. Banda Maya selalu sejuk dan terang. Kebutuhan dasar warga terpenuhi selalu. karena kita cakap mengelola. Banda Maya dirindukan, didoakan dan tak jarang dikeluhkan. Dan FATBOOK ini mewadahnya. Mari Bahagia. Komunitas Kanot BU

[]

Malam Minggu, 7 Mei 2016. Warkop yang riuh, dan hal-hal lain


05 May 2016

5/05/2016 10:03:00 PM

Sekian Lama Jomblo, Pemuda Aceh Ini Nikahi Gadis Suriah

@page facebook: KBRI Damaskus

Damaskus - Di tengah amuk perang dan riuh roket para serdadu antar kedua kubu yang sekian tahun bertikai di Suriah, konflik antar saudara rakyat Suriah, seorang Pemuda Aceh bernama Munawar Juanan Raden menikahi gadis Suriah bernama Dauha Muawiyah Kharraji.

Resepsi pernikahan dua insan manusia berbeda budaya dan bangsa itu berlangsung di Aula Kedutaan Besar RI Damaskus, Selasa, 3 Mei 2016 waktu setempat. Linto Munawar menikahi Duaha dengan mahar 500 hafalan hadist.

Uniknya, Linto dan Darabaro itu menggunakan baju motif adat Aceh. Dalam foto di akun KBRI Damaskus juga terlihat, corak baju kedua mempelai sangat khas Aceh. Hingga penggunan payung kuning sekalipun, sebagaimana tradisi resepsi pernikahan di Aceh.

Acara yang cukup meriah tersebut dihadiri oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Damaskus, Dubes RI Damaskus Djoko Harjanto, kerabat dekat kedua mempelai. Linto Munawar adalah seorang staf Kedubes RI di Damaskus. Damaskus adalah ibukota dari Negera Suriah yang sedang dilanda amuk perang antar saudara. Terjadi pergelokan rakyat atas rezim presiden Bashar al- Assad.  Kota Damaskus termasuk salah satu kota yang sedikit aman dari, kota ini masih dikuasai oleh Pemerintah Suriah.

Siapakah Sosok Munawar, Pemuda Aceh Tersebut? 

Sosok Pemuda Aceh yang lagi heboh di media sosial karena menikah dengan gadis Suriah ternyata benar benar orang Aceh. Munawar Juanan Raden, pemuda Aceh yang bekerja sebagai salah seorang staf di Kedutaan Besar RI untuk Suriah.

Foto-foto pernikahan mereka menjadi perbincangan hangat di media sosial dan banyak mendapat pujian dari para nitizen. Foto kedua mempelai, sang Linto memakai baju khas adat Aceh, begitu juga dengan gadis Suriah yang memakai baju bermotif Aceh.

Siapa sosok pemuda tersebut? Munawar ternyata berasal dari Sabang, Pulau yang penuh dengan pesona keindahan alam wisatanya. Saya beruntung mendapat informasi dari seorang jurnalis di Banda Aceh, Nur Safri. Menurut cerita Nur Safri, Munawar adalah anak seorang Guru di SMPN Sabang.  Ibunya  yang bernama Tjut Wardah, Guru Agama Islam di SMPN 1 Sabang.

Sosok ibu yang memakai baju coklat berjilbab krem, adalah Ibunda dari Munawar yang mendampinginya. Saya yakin, akan bahagia sekali sang Ibu tercinta saat bisa menjadi sakit atas pernikahan putranya tersebut.


| dok. KBRI Damaskus

Menariknya dari nasihat sang Dubes RI untuk Suriah itu disebutkan nasihat pernikahan yang cukup penting bagi keberlangsungan kedua mempelai ini. Tertarik menikah dengan Gadis Suriah? siapkan 500 hafalan hadist atau hafalan 30 juzz :) []

27 April 2016

4/27/2016 07:59:00 AM

Gemasatrin Gelar Ajang Kreativitas Sastra

Lobby Gedung FKIP Unsyiah yang digunakan sebagai salah satu lokasi acara AKAS Gemasastrin FKIP Unsyiah 2016 | @kitabmaop


BANDA ACEH – Dalam rangka mendukung pembinaan mental dan karakter generasi muda, Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia (Gemasastrin) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsyiah menyelenggarakan Ajang Kreativitas Aneuk Sastra (AKAS). Acara itu berlangsung sejak Senin-Kamis, 25-28 April 2016 di Gedung FKIP Universitas Syiah Kuala.

Ketua Panitia Pelaksana, Ramonalisa menjelaskan rangkaian AKAS dilaksanakan sebagai bentuk kegiatan pada peringatan bulan sastra yang jatuh pada 28 April, hal itu bertepatan dengan tanggal meninggalnya tokoh sastrawan Indonesia, Khairil Anwar.

“Ini tahun pertama diadakan oleh Gemasastrin. Dengan adanya AKAS ini kami berharap dapat meningkatkan kreatifivas mahasiswa dalam berkarya,” ujar mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Unsyiah ini.

Mona menambahkan, ada beberapa kegiatan besar sebagai bagian dari AKAS, diantaranya; Expo, bazar buku, pameran karya keluarga besar Gemasastrin, lomba baca cerpen dan puisi, lomba bercerita tingkat SD, dialog sastra bersama Riki Syah R, Rahmatsyah dan Nanda Muliana yang baru saja menerbitkan novel. Lalu ada pemutaran film biografi Sastrawan Indonesia, WS Rendra, H.B Jassin, Pramoedya Ananta Toer.

Pembina Gemasastrin, Herman RN rangkaian acara dilakukan dengan penuh persiapan oleh panitia. Ia menyebutkan acara seperti tidak hanya dilakukan sekali saja. “Saya sangat mengapreasisasi dengan kegiatan ini, langkah awal sesuatu yang luarbiasa. Harapan kita, bukan hanya di Bulan Sastra saja, acara-acara kegiatan kreativitas lain akan dilakukan juga oleh Gemasastrin dan himpunan mahasiswa lainnya. Kerja-kerja bisa terbangun secara solid oleh pengurus,” ujar Herman RN yang juga dosen tetap di kampus tersebut.

Ia mengajak bagi peminat dan mencintai dunia sastra, ajang ini merupakan kesempatan bagus untuk berkunjung ke acara tersebut di Gedung FKIP Universitas Syiah Kuala, yang akan ditutup pada hari Kamis, 28 April 2016.

Herman menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung, kegiatan itu terlaksana berkat dukungan Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Dekan FKIP, Dinas Pendidikan Aceh, Sekolah Menulis Do Karim dan semua pihak yang telah membantu acara itu. AKAS itu dibuka dengan resmi oleh Dekan FKIP Unsyiah, Dr. Djufri, M. Si [MS] sumber: teropongaceh.com

10 April 2016

4/10/2016 09:57:00 AM

MaTA dan ICW Deklarasi Keluarga Anti Korupsi

koleksi foto +MaTA Aceh 

BANDA ACEH – Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) bekerja sama dengan Indonesia Corruption Watch (ICW) menggelar diskusi keluarga anti korupsi sekaligus roadshow film anak antikorupsi. Kegiatan itu berlangsung di Aula Utama Balai Kota, Sabtu, 9 April 2016.

Roadshow album anak anti korupsi itu diselenggarakan di sejumlah kota, Banda Aceh merupakan kota perdana. Album lagu anak hebat digagas oleh ICW, berisi lagu-lagu edukasi tentang mencegah praktik korupsi sejak dini, menumbuhkan karakter anak jujur dan sikap bertanggung jawab.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota (Sekda) Banda Aceh, Ir. Bahagia dalam sambutan saat membuka acara memberikan apresiasi kepada MaTA dan ICW dengan terselenggaranya kegiatan tersebut.

Koordinator MaTA, Alfian menyebutkan acara yang difokuskan kepada keluarga sebagai salah satu upaya pencegahan korupsi yang sedang digalakkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini. Selain launching album, acara yang diikuti oleh 50an anak setingkat TK dan kaum ibu-ibu itu dibarengi dengan lomba mewarnai bagi anak-anak. Selanjutnya diskusi bertema Parenting Antikorupsi yang diisi oleh pamateri perwakilan dari KPK, Perwakilan Kemendikbud RI, Pembuat lirik Lagu Anak Hebat, Akademisi UIN Ar-Raniry dan Pakar Pendidikan anak. Acara ditutup dengan Deklarasi Keluarga Antikorupsi.[teropongaceh/10 april 2016]

08 April 2016

4/08/2016 05:50:00 AM

Budaya Mengemis


Ada hal yang sangat mengganggu setiap kali saya duduk di warung kopi, yakni kedatangan pengemis. Profesi ini benar benar sangat menggangu privasi saya. Saya yang sedang asyik mengobrol atau berdiskusi dengan teman harus berhenti sejenak saat didatangi oleh orang dengan profesi tersebut. Pernahkah menghitung berapa jumlah pengemis yang menghampiri meja warung kopi dalam satu jam? Katakanlah ada pengmis. Bayangkan, betapa mereka sangat menggangu waktu santi kita di warung kopi.

02 April 2016

4/02/2016 09:31:00 AM

Kata dan Istilah Kamus Gaul Yang Perlu Diketahui

aribowo.net

Komunikasi era media sosial sekarang ini, di mana kian ramai pengguna telepon pintar meningkat membuat para pemakai android lazim gunakan bahasa singkat dan atau bahasa gaul. Banyak dari kita, tidak sampai tau dengan detail istilah yang dimaksud atas bahasa gaul tersebut. Kata dan singkatan bahasa gaul itu tidak masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tetapi kata atau istilah itu kerap berwara wiri saat orang berkomunikasi di media sosial.

Saya kerap menemukan istilah semisal 'baper, japri, pm, fyi,IMHO, CMIIW, BTW, cekidot, dll' saat orang berinteraksi di media sosial. Beberapa diantaranya saya tau istilah dan singkatan tersebut.

Kemarin saya kebetulan berkali kali lihat istilah 'japri' di facebook; "Japri aja ya?" Karena tidak berani tanya ke orang  apa itu JAPRI, saya akhirnya langsung ke laman pencari gugel. Berikut ini beberapa kata dan istilah itu saya tulis sebagai bagian mengingat, dan untuk pelengkap bagi yang butuh.

Yang menarik adalah istilah JAPRI, saya baru temukan istilah ini beberapa saat sekarang. Japri, istilah yang kerap di pakai oleh akun penjual barang online di media sosial. JAPRI itu jalur pribadi. Istilah itu dimaksudkan bagi orang yang akan melakukan komunikasi privasi agar tidak diketahui oleh orang lain. Beberapa nitizen gunakan istilah PM. Bukan polisi militer, tapi private messanger; pesan yang bersifat pribadi antara dua orang.

CMIIW adalah correct me if i wrong; koreksi kalau saya salah. IMHO adalah Im My Humble Opinion; menurut pendapat saya. Pernah dengan kata FYI? Ini mungkin cukup sering ya bagi kamu yang menerima informasi sesuatu yang cukup penting. FYI adalah for your information. Lalu ada singkatan OOT yang diartikan sebagai out of topic.

Lalu istilah yang kerap kali juga terlintas adalah kepo, stalking, baper. Ini yang paling sering saya temukan saat melihat orang berbalas komen di media sosial, lagi lagi saya tak beranikan diri untuk bertanya. Takut dikira ketinggalan zaman dan tidak updet. Hahaha.

Kepo yang berarti ingin tau sekali urusan orang lain. Stalking adalah melihat lihat yang terdahulu. Biasanya ini dimaksudkan pada orang melihat lihat isi media sosial akun mantan pacarnya.

Lalu apa itu BAPER? Saya baru tau istilah anak gaul ini, baper berarti Bawa Perasaan; dimaksudkan saat kamu terlalu bawa perasaan pada seseorang atau satu hal tertentu. Padahal yang bersangkutan tidak ada maksud sama sekali sama kamu.

Lalu ada GWS? Istilah dari singkatan get wiil son yang berarti semoga cepat sembuh. Ini mungkin juga sudah sangat sering digunakan, tetapi saya jarang sekali gunakan istilah ini. sering digunakan saat ada teman kerabat yang lagi sakit.

Ada lagi istilah LOL, singkatan dari Laugh Out Loud yang diartikan sebagai tertawa terbahak bahak atas sesuatu yang benar benar sangat lucu, bisa disamakan juga dengan ngakak guling guling.

Ada lagi istilah gaes, berasal dari kata guy yang berarti teman dekat-setia. Di akun akun twitter yang bukan nama manusia paling biasa ada istilah mimin atau min. itu dimaksudkan sebagai admin atau pengelola dari akun tersebut.

Watados adalah wajah tanpa dosa. Hoax adalah bohong, sedangkan woles adalah santai. bingit adalah banget, keles adalah kali. Iya, keles. Ada juga istilah semangat diganti dengan ceumungudth.

Dari semua itu, bahasa gaul yang tidak masuk dalam KBBI. Para penjaga bahasa indonesia akan sulit mendeteksi soal bahasa gaul itu karena ya tentu saja tidak diajarkan di sekolah sekolah resmi, itu hanya bahasa lisan dan ucapan untuk memudahkan orang dalam berkomunikasi.

Di play store sendiri, sudah ada aplikasi tentang kamus gaul ini disediakan. Anda tinggal unduh untuk mengetahui lebih banyak tentang hal ini. Hanya untuk sekedar tau saja mungkin.

Tetapi menurut saya, selama kata itu digunakan sesama teman sebaya tentu tak jadi soal, masalahnya adalah saat bahasa itu kamu gunakan dalam berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, guru/dosen dan sebagainya. Tentu saja akan tidak menarik dan dianggap kurang sopan.

Ada tambahan bahasa dan kata anak gaul di media sosial? Mungkin kalian bisa komen di bawah tulisan ini. Cedikot. []

30 March 2016

3/30/2016 08:28:00 AM

Alih Fungsi Rawa Perparah Kerusakan Lingkungan di Aceh



BANDA ACEH – Pengalihan fungsi rawa menjadi perkebunan sawit memperparah kerusakan lingkungan di Aceh. Hal tersebut disampaikan Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, Muhammad Nur.

“Kerusakan lingkungan dan tata ruang Aceh yang terjadi selama ini diperparah dengan adanya alih fungsi rawa ke perkebunan sawit,” jelas Muhammad Nur dalam diskusi publik deforestasi dan pembangunan ramah lingkungan, Senin sore, 28 Maret 2016 di Warkop 3 in 1, Banda Aceh.

Diskusi yang digelar Aceh Devolopment Watch (ADW) bekerja sama dengan Lembaga Kajian IDeAS dan Ikatan Pecinta Alam Aceh (Ikapala) ini menghadirkan empat pemateri, selain Muhammad Nur ada praktisi lingkungan Aceh, M. Yakob Ishadamy, Ketua Ikapala Taufik Hidayah, dan anggota DPD RI asal Aceh Rafly.

Senada dengan Muhammad Nur, M Yakob memaparkan, kerusakan lingkungan Aceh semakin meningkat akibat adanya peningkatan kebakaran hutan setiap tahun. “Peran serta masyarakat dalam menjaga hutan besar sekali,” ujarnya.

Sementara Taufik Hidayah menjelaskan tentang masalah pendampingan isu lingkungan yang masih kurang mendapat perhatian dari pemerintah dan kesadaran berbagai pihak terkait.

“Membangun simbiosis seluruh elemen masyarakat. Bagaimana sesungguhnya aktivis lingkungan dalam menjalankan dan mengawal kebijakan isu lingkungan” ujar Taufik Hidayat.

Pada kesempatan yang sama, Senator Aceh, Rafly mengatakan bahwa alam merupakan harmoni yang paling mahal, modal bagi anak cucu kelak. Diskusi publik yang dipandu oleh Risman A Rahman tersebut turut dihadiri oleh berbagai kalangan pegiat lingkungan, mahasiswa, unsur jurnalis dan tokoh masyarakat. [teropongaceh.com - 29 Maret 2016]

27 March 2016

3/27/2016 06:14:00 AM

Blogger Aceh Kopdar di Seminar Roadblog


@kitabmaop
BANDA ACEH – Ratusan blogger berkumpul dalam seminar dan workshop Excite Indonesia Roadblog 10 Cities. Ajang kopdar blogger Aceh itu berlangsung pada Sabtu, 26 Maret 2016 di Hotel Grand Lambhuk, Banda Aceh selama sehari penuh.
Workhsop dan seminar roadblog itu diadakan oleh salah satu perusahaan advertising PT Excite Indonesia didukung oleh Traveloka, Lembaga Sensor Film Indonesia dan Pegadaian berlangsung seharian penuh.
Selain hadir narasumber nasional, dua pemateri dari blogger lokal memaparkan tentang Hypnotize Content (konten yang menghipnotis pembaca) yang diisi oleh Yudi Randa dan Muhammad Rizal dari Aceh Blogger Community yang bicara tentang teknik search engine optimization (SEO) blog agar banjir trafik.
Yudi Randa menyebutkan, seorang blogger harus jujur dan menulis dengan melihat sudut pandang yang unik dari tulisan orang lain.

“Pilihlah judul yang bikin orang penasaran membaca. Konten jangan abaikan kata kunci. Selain itu harus jujur dalam menulis, angkat sisi lain yang benar-benar unik dan beda,” ujar pemilik blog hikayatbanda.com yang juga ayah dua anak ini.
Sementara itu, blogger kawakan nasional yang membawa materi menjadi blogger terkenal di era global mengajak peserta workshop untuk menulis sebelum ajal menjemput karena tulisan yang bagus akan selalu dikenang. Sesi akhir dari workshop kopdar blogger Aceh itu diisi dengan materi belajar SEO oleh Muhammad Rizal.
Seminar dan workhsop dengan tagar #RoadBlog10Cities itu sempat menjadi trending topik Indonesia di sosial media twitter. Acara itu diadakan di sepuluh kota di Indonesia, salah satunya di Kota Banda Aceh. [MS] | teropongaceh.com / 27 Maret 2016

22 March 2016

3/22/2016 05:51:00 AM

Komunitas Filmaker Se-Sumatera Berkumpul di Banda Aceh

sesi diskusi temu komunitas filmaker di Gedung Sultan Selim, Banda Aceh | kitabmaop
Banda Aceh – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Pengembangan Perfilman bekerjasama dengan Badan Perfilman Indonesia (BPI) memfasilitasi pertemuan antar komunitas film se-Sumatera. Acara yang diikuti oleh 5 utusan provinsi di Sumatera itu berlangsung di Gedung Sultan Selim, Banda Aceh, (21/03/2016)

Temu Komunitas itu merupakan satu dari empat rangkaian kegiatan jelang Hari Film Nasional (HFN) ke-66 yang jatuh pada tanggal 30 Maret. Peserta diskusi yang banyak didominasi oleh perwakilan komunitas filmaker di Aceh itu berlangsung akrab dengan diskusi beragam tentang perkembangan film baik itu fiksi ataupun film dokumenter. Perwakilan komunitas film di Aceh diundang oleh panitia.

Jamaluddin Phonna, mewakili Aceh Film Dokumenter menyebutkan kondisi film-film ditingkat nasional sejak dulu hingga sekarang ini banyak didominasi oleh karya-karya dari pulau Jawa. Ia mengatakan, butuh kerja keras para film baik di Aceh dan provinsi lain untuk bersaing dengan sutradara luar Sumatera.

“Gelisah dengan peluang kami yang di Aceh. Saya melihat seperti pembuat film profesional membangun kerajaan sendiri di sana,” Ujar Jamal yang pernah menjadi finalis film Eagle Award Metro Tv untuk film Garamku Tak Asin Lagi.

Jamal melanjutkan, seharusnya semua pembuat film khususnya dari komunitas bisa lebih bersatu untuk sama-sama memajukan film Indonesia.

Sementara itu, Aktris senior Ria Irawan dalam diskusi setelah pemutaran film Bulan di Atas Kuburan menyebutkan salah satu bentuk apresiasi film dengan membayar tiket waktu menonton di bioskop.

“Empat hal yang paling penting, edukasi pencinta film, komunitas film, sineas, apresiastif,” ujarnya seraya mengajak filmaker Aceh untuk terus berkarya dengan ide-ide baru yang cukup banyak di Aceh.

Roadshow Hari Film Nasional itu diadakan 5 kota seluruh Indonesia, untuk Banda Aceh pemutaran film Bulan di Atas Kuburan, Blue Eyes Boy (Iran) dan Polem Ibrahim (Aceh) sangat sepi penonton. Padahal ruang serbaguna di Sultan Selim itu mempunyai kapasitas mencapai duaratusan orang lebih. 

Roadshow HFN untuk Kota Banda Aceh itu ditutup dengan pemutaran film Layar Tancap di Gampong Nusa, Lhoknga, Selasa malam, 22 Maret 2016 dengan pemutaran film Sepatu Dahlan. Roadshow Hari Film Nasional ke 66 ini juga didukung oleh Komunitas Al-Hayah, Aceh Documentary Competition, Aceh Film Festival, Dewan Kesenian Banda Aceh dan Komunitas Kanot Bu[]

02 March 2016

3/02/2016 08:50:00 AM

Mawardi Ismail dan Teman Sekolahnya



​​Setiap menyebut pakar hukum Unsyiah, ingatan kita akan bersepakat pada sosok nama “Mawardi Ismail.” Saya tidak mengenal dengan baik sosok Mawardi Ismail, pakar hukum paling terkenal di Aceh. Mantan Dekan Fakuktas Hukum Unsyiah dan anggota DPRD Tk I Daerah Istimewa Aceh, era tahun 90han sampai 1999. Mawardi kalau tak salah saya jadi anggota dewan melalui Partai Golongan Karya saat itu. Saya tau tentang kesuksesannya dan keluarga besar mereka dari Alm. Ayah dan Ibu saya.

Cuma sekali bertemu Pak Mawardi secara tak kebetulan pada suatu acara. Waktu itu saya ikut salam mengikuti salaman dari peserta acara yang lain, saya ingin balik kembali untuk mengobrol dengan beliau, memperkenalkan diri. Niat itu urung, saya memilih langsung meninggalkan tempat acara.

Kampung saya dengan kampung Pak Mawardi bersebelahan. Jarak rumah saya sekitar 1 kilometer dengan rumah orang tua Pak Mawardi di Desa Tingkeum Baro, Ulee Tutu, Kutablang Bireuen.

Sewaktu saya kecil –entah adik atau abang- Pak Mawardi paling terkenal bagi kami kalangan anak anak yang ingin sunnat rasul. Pak Armiya namanya, seorang mantri (setingkat perawat?) yang bekerja di PT Arun Lhokseumawe. Tiap bulan puasa tiba, Pak Mia melakukan sunnat massal gratis bagi anak anak keluarga kurang mampu dari desa Tingkeum Baro dan sekitarnya. Di rumah orang tuanya tersebut. Saat mengadakan sunnat rasul gratis, ia pulang ke Tingkeum Baroe. Sehari hari ia berumah di Lhokseumawe karena bekerja di Arun.

Bagi yang mau sunnatan, anak anak miskin desa mendaftar melalui geuchik gampong masing masing. Langsung Pak Mia yang menangani, ia tenaga medis di PT Arun. Setiap ada sunnat anak anak dikasih sumbangan, baju koko dan satu kain sarung.

Kami 5 anak laki laki di rumah tidak satupun yang sunnat rasul dengan Pak Armia. Waled saya (panggilan untuk Ayah) beranggapan kalau keluarga kami kategori sebagai keluarga yang mampu. Waled saya seorang PNS guru SD. Kami semua sunnat rasul di mantri di kota kecamatan, Pak Ramuli Teuntra. Seorang tenaga medis yang bekerja di RS Kesrem Lhokseumawe.

Waled saya seangkatan dengan Pak Mawardi. Sewaktu sekolah di SRI (Sekolah Rendah Islam, setingkat SD/MIN) Waled saya sekelas dengan Mawardi Ismail, abang dari Pak Mia. Sampai tingkat PGA (Pendidikan Guru Agama, setingkat SMA?) Waled masih sekelas dengan Pak Mawardi, hingga sewaktu ikut penataran/pelatihan ke Banda Aceh mereka sering bersama dan tinggal serumah. Hal ini sering diceritakan Ibu. Bahkan jika di rumah ada koran dengan foto wajah Pak Mawardi, Mak saya kerap membaca dengan bangga berucap: “Nyan Pak Mawardi sigoe sikula ngon Waled.” Waled yang dimaksud Almarhum Ayah saya.

Saya tidak tau, apakah Pak Mawardi masih mengenal teman sekelasnya, M. Saleh Daud. Kerap dipanggil M.Salda sewaktu terpaksa ‘bekerja’ di kantor Camat Gandapura (Geurugok) karena Waled menolak menjadi Kepala SD. Waled saya menolak jadi kepala sekolah karena selain menjadi guru, ia juga bekerja serabutan di kampung, mengupah dan bekerja di sawah sendiri. Kalau jadi kepala sekolah, maka setiap hari harus masuk sekolah. Sedangkan jika jadi guru biasa, hanya ke sekolah pada saat jam ngajar saja. Kantor Kandep Bireuen (sebuatn untuk kantor UPTD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kala itu) memberi sanksi kepada Waled harus masuk kantor Camat 2 hari seminggu, selasa dan sabtu. Waled saya juga bergabung di Golkar, di kampung ia menjabat sebagai Ketua Golongan Karya. Tingkat kecamatan ia juga diperbantukan pada bagian sekretaris karena untuk memudahkan kerja kerja partai, di samping Waled saya punya mesin ketik milik sendiri di rumah.

Menurut cerita Mak saya, sebelum waled meninggal tahun 1999, umur saya 17 tahun kala itu. Waled pernah ke Banda Aceh menghadiri pesta Pakwa Muhyen, saudara sebelah Waled yang bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi D.I Aceh kala itu. Almarhum Pakwa Muhyen masih saudara dekat dengan kami dan satu kampung di desa Pulo Reudeup. Kalau tidak salah saya, istri Pak Muhyen ini adik kakak dengan Istri Pak Mawardi. Waled saya pernah sekali menjumpai Pak Mawardi kala itu beliua sebagai anggota DPRD Tk I D.I. Aceh, jumpa teman lama. Setelah itu, Waled tidak pernah berjumpa lagi. Sewaktu tahun 97 kala kakak saya ke Banda Aceh, ia kerap mewanti wanti untuk bersilaturahim ke rumah Pak Mawardi juga ke Rumah Pak Muhyen, demi menyambung tali saudara.

Kemarin Pak Mawardi meluncurkan buku Mawardi Ismail; Intelektual Organik. Saya tak sempat menghadiri. Buku itu berisi tentang testimoni para sahabat Pak Mawardi yang pernah berinteraksi dengan beliau. Selasa 1 Maret 2016 itu juga sebagai hari akhir beliau pensiun sebagai dosen di Unsyiah. Hari pensiun yang berkesan dengan meluncurkan buku testimoni. Satu hal yang tak banyak orang melakukan. Landing yang baik dari masa tugas sebagai dosen. Tentu selepas ini Pak Mawardi masih banyak sekali dibutuhkan oleh Aceh dan banyak orang yang meminta pendapatnya. Soal status sebagai dosen, hanya perkara adminitrasi pensiun saja.

Semalam saya membayangkan jika seandainya Waled saya masih hidup, maka mungkin saya akan ada tulisan Waled saya dalam buku testimoni para sahabat tersebut.

Selamat atas luncur bukunya Pak Mawardi, sosok yang seumateh (penurut orang tua) dan pintarnya Bapak saya kerap ketahui dari Ibu dan Waled saya. Saya tau ada 12 orang saudara Bapak jadi orang sukses dan berguna semua. Tokoh penuh inspirasi, Aceh masih sangat membutuhkan petuah petuah hukum dan kebijakan dari Pak Mawardi. Saya berharap, Pak Mawardi hanya pensiun adminitrasi saja sebagai dosen ilmu hukum.

Mohon maaf jika dalam tulisan ini ada yang kurang dan salah data, ini hanya review ingatan saya saja. Kiranya Pak Husaini Ismail selaku adik beliau bisa meluruskannya. Terimakasi Pak, mudah mudahan suatu hari nanti kita bisa bertemu Pak, jika selama ini hanya berinteraksi di fesbuk saja.