KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (70) BERITA MEDIA (47) CATATAN HARIAN (47) GoBlog (12) PUISI (11) CERPEN (8)

12 November 2016

11/12/2016 05:52:00 AM

IMABSII Menyelenggarakan Rakernas ke-5

Rakernas IMABSII V_Udayana Bali | Teuku Muntadzar

Denpasar—Sebagai salah satu upaya menduniakan bahasa dan sastra Indonesia dan menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap budaya Indonesia, Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia (IMABSII) menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-5 tahun 2016 di Universitas Udayana, Denpasar, Bali, 14-18 November 2016.

Rakernas yang dibuka oleh Kepala Balai Bahasa Bali, Drs. I Wayan Tama, M.Hum dihadiri oleh 147 peserta dari berbagai wilayah dari Sumatera, Jawa, Bali dan NTT itu terdiri dari 44 kampus se Indonesia.

Azrul Rizki, delegasi dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menyebutkan kekagumannya tentang pelaksanaan Rakernas ini di Bali. “Dari segala segi ruangan acara auditorium terpampang kesan kebudayaan yang melekat pada mahasiswa, masyarakat, dan pendatang,” ujar Ketua Forum Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (MBPSI) FKIP Unsyiah ini.

“Dari Aceh ada 3 kampus yang mengikuti acara Rakernas ini. Unsyiah mengirimkan 2 orang delegasi, Universitas Serambi Mekkah 2 orang dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Bina Bangsa Getsempena mengirimkan 4 orang delegasi,” sebut Azrul yang dihubungi dari Banda Aceh melalui telepon.

Azrul menambahkan, tujuan kegiatan Rakernas IMABSII ke-V ini sebagai ajang untuk menyusun program kerja Ikatan Mahasiswa Bahasa Indonesia, disamping itu untuk menduniakan Bahasa dan Sastra Indonesia sebag iupaya memperkokoh kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia di era globalisasi.

“Saya sebagai Ketua Forum MPBSI di Unsyiah akan mewakili saudara-saudara di Aceh untuk inventarisasi penggunaan bahasa Aceh dan hal-hal lain yang berkenaan dengan bahasa,” sebut Azrul.

Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, STKIP Bina Bangsa Getsempena, Rika Kustina, S.Pd. M. Pd mengaku pertama sekali terlibat dalam kegiatan nasional dan berencana akan terus aktif dalam mengembangkan kegiatan bahasa dan sastra di kampusnya, di Aceh dan tingkat nasional.

Sementara itu, Teuku Muntazar, salah satu peserta dari Unsyiah mengatakan malam penutupan Rakernas IMABSII ke-V nantinya akan ada penampilan sastra dari seluruh peserta.

“Dari Aceh kami akan membawakan puisi, hikayat dan teater tentang adat dan budaya di hadapan peserta seluruh Indonesia,” ujar pengajar bahasa dan sastra di salah satu SMA di Banda Aceh ini.

Rangkaian acara Rakernas di kampus Udayana tersebut dimulai dengan pengukuhan pengurus IMABSII periode 2016-2018 yang dilantik oleh Dr. Yeyen Maryani, M.Hum selaku pembina dan dilanjutkan dengan Seminar Nasional menghadirkan pemateri Sastrawan pemenang Sastra Khatulistiwa yaitu Oka Rusmini dan Darma Putra.

IMABSII periode 2016-2018 dipimpin oleh Dira Wulandari dari Universitas Sumatera Utara berencana membuat advokasi bahasa-bahasa daerah di Indonesia agar tetap terdaftar dan terjaga, kegiatan Hari Besar Kebahasaan, penerbitan buku antologi puisi dan cerpen.

Selanjutnya pada hari kedua, dilanjutkan dengan rapat kerja, penetapan komisi-komisi dan pembahasan program kerja IMABSII ke depan. Sebelum malam penutupan, seluruh peserta di bawa jalan jalan ke tempat tempat rekreasi di Bali, termasuk ke Monumen Bom Bali dan tempat wisata lainnya, demikian informasi dari Azrul Rizki. (Mhz/KontributorAceh) |

sumber: www.http://badanbahasa.kemdikbud.go.id

13 October 2016

10/13/2016 05:58:00 AM

Tiga Siswa SMK Penerbangan Aceh Ikuti Lomba Bahasa Tingkat Nasional

Muhammad Iqbal, Guru SMK Penerbangan Aceh saat mendampingi siswanya di Pangkal Pinang [koleksi foto Muhammad Iqbal]

Banda Aceh - Tiga siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Penerbangan Provinsi Aceh mengikuti Lomba Bahasa Indonesia dan Bahasa Asing bagi siswa SMK tingkat nasional di Pangkal Pinang, 10—15 Oktober 2016. Lomba Bahasa SMK 2016 itu dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah dan Kejuruan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kegiatan ini dibuka oleh Direktur Pembinaan SMK, Drs. H. M. Mustaghfirin Amin, M.B.A. yang dalam sambutannya mengatakan bahwa lomba bahasa ini untuk mempersiapkan siswa SMK dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Kegiatan yang dilaksanakan di SMK Negeri 2 Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung itu merupakan kegiatan tahunan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Muhammad Iqbal, Guru SMK Penerbangan Provinsi Aceh yang mendampingi siswa mengaku bangga sekolahnya mewakili Aceh dalam lomba tingkat nasional di Kepulauan Bangka Belitung.

Iqbal menyebutkan bahwa pada tahun 2016, Dinas Pendidikan Aceh telah mengirimkan sepuluh siswa pada empat kategori lomba bahasa, selain bahasa Mandarin dan bahasa Korea. "Taruna SMKN Penerbangan Aceh menjadi perwakilan Aceh dalam debat bahasa Indonesia. Taruna itu, yaitu Maftuh Ihsan Caifat, Jihanda Donavita, dan Muhammad Ikhsan. Ketiganya taruna kelas XII atau 3 (tiga)," ujar Lulusan Magister Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Syiah Kuala ini.

Kegiatan ini mengusung tema "Komunikatif, Kolaboratif dan Kompeten". Adapun lomba yang dilaksanakan yakni lomba bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, dan Mandarin yang diikuti perwakilan siswa dari siswa SMK se-Indonesia.

Ajang lomba ini sebagai wahana untuk mengukur kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa asing, sekaligus membentuk insan cerdas, kolaboratif dan komunikatif sebagai kader penerus dan pemimpin bangsa di masa depan. (mms/Kontributor Aceh)

sumber: www.http://badanbahasa.kemdikbud.go.id

06 September 2016

9/06/2016 12:46:00 AM

Kemenpar Ajak Pegiat Media Sosial Promosikan Wisata di Aceh

Kadisbudpar Aceh, Reza Fahlevi saat mengajak pegiat media sosial di Aceh untuk terus mendukung pariwisata Aceh

BANDA ACEH - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melalui Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara melakukan bimbingan teknis Optimalisasi Peningkatan Wisata Halal Melalui Media Sosial, acara itu berlangsung di Hotel Oasis Atjeh, Selasa, 06 September 2016.

Acara itu diikuti oleh penggiat komunitas berbagai media sosial tersebut bertujuan untuk mengajak kaum muda kreatif untuk terus mempromosikan wisata melalui media sosial.

Kepala Bidang Targer Pasar, Kemenpar, Katijah dalam sambutan mewakili panitia menyebutkan bahwa bimtek optimalisasi ini juga telah dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat beberap waktu yang lalu. 

“Salah satu strategi untuk tingkatkan pemahaman wisata halal dengan pelibatan anak muda kreatif melalui media sosial,” ujarnya.

Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh, Reza Fahlevi menyebutkan tentang pentingnya peran media sosial untuk mengkampanyekan wisata halal di Aceh. 

"Sama sama kita ketahui, peran digital sangat penting dalam mempromosikan wisata halal ini" ujar Kadisbupdar Aceh ini. Reza Fahlevi menyebutkan promosi wisata di Aceh selama ini didukung oleh berbagai komunitas media sosial di Aceh.

"Berbagai potensi di Aceh ini karena didukung oleh rekan-rekan komunitas dan foto yang diupload oleh komunitas. Selama ini komunitas sangat aktif mendukung. Kami sampaikan, kita juga sudah menyusun branding the light of Aceh. Jadi ini mudah mudahan potensi yang dimiliki oleh komunitas, agar dapat memudahkan kawan kawan dalam promosi yang tepat, "tambahnya Reza lagi.

Sementara itu, Asisten Deputi Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kemenpar,  Watie Moerany S, M. Hum saat membuka acara Bimtek Optimalisasi menyampaikan  berbagai strategi yang sudah dibuat oleh Kementerian Pariwisata, membuat tim percepatan halal.

"Kemenpar juga saat ini sedang membuat Kompetisi Wisata Halal 2016. Aceh terdapat 4 tempat diikutkan dalam kompetisi yang akan berakhir vote pada tanggal 15 september 2016," Sebutnya.

Watie Moerany menyebutkan kekagumannya terhadap potenis budaya Aceh, ia menyampaikan perlu adanya peningkatan sumberdaya manusia untuk mendukung terhadap wisata ke depannya. 

"Setelah ini nantinya akan dikukuhkan Generasi Pesona Indonesia (Genpi) wilayah Aceh. Generasi muda diharapkan jadi garda terdepan mempromosikan wisata halal untuk masyarakat luas," ujar Watie Moerany yang disambut tepuk tangan para peserta.

Kegiatan optimalisasi peningkatan wisata dihadiri oleh 60 peserta dari berbagai komunitas pegiat media sosial. Hadir sebagai narasumber  antara lain, Taufan Rahmadi, ia merupakan creative strategic expert yang mana pada tahun 2015 berhasil mengantarkan Lombok memenangkan World Best Halal Tourism. Siti Chotijah (Team Leader Communication Strategy and Media Relations Volunteer  Wonderful Lombok Sumbawa), lalu ada  Don Kardono (Staf Ahli  Menpar Bidang Publikasi).

Sedangkan narasumber dari Aceh, hadir Aulia Fitri (Co-Founder Aceh Blogger  Community, Anggota Tim  Wisata Halal Disbudpar Aceh). Selanjutnya dari blogger Aceh, Makmur Dimila  (Co-Founder Safariku.com, Redaktur Tabloid Pikiran Merdeka).

Pada akhir sesi bimtek tersebut, para peserta diajak untuk ikut mendukung destinasi wisata halal Aceh yang sedang kompetisi di situs http://halaltourism.id/ atau di bit.ly/voteaceh. yok []

[]

05 September 2016

9/05/2016 07:02:00 AM

Asyiknya Pesona Wisata Desa ala Gampong Nusa

salah satu sudut gampong Nusa dengan areal sawah dan pemandangan yang indah

Jika Anda masyarakat urban mulai jenuh dengan aktivitas kota, tak ada salahnya sekali waktu berkunjung wisata ke desa ini. Selama ini wisata masih identik dengan pantai dan tempat bersejarah, wisata desa bisa jadi referensi baru bagi anda yang ingin menikmati suasana dengan beragam aktivitas masyarakat di Gampong Nusa ini.

Untuk berkunjung ke Gampong Nusa, saya menempuh jalan bermotor dengan waktu 20 menit dari pusat kota Banda Aceh ke arah Lhoknga. Tepatnya pada kilometer 9 setelah Lapas Lhoknga atau setelah SPBU Braden. Sebuah Simpang tiga yang merujuk ke kiri, anda akan menemukan pintu gerbang Gampong Nusa yang dipugar sedemikian rupa.

pintu gerbang gampong Nusa di pinggir jalan Banda Aceh  arah Meulaboh

Memasuki jalan Wisata Gampong Nusa, anda akan disambut pemandangan kiri-kanan jalan dengan area pegunungan dan sawah membentang luas. Sedikit mendaki bukit kita akan bertemu dengan rumah rumah penduduk yang agak padat. Pemandangan suasana gampong, dengan anak anak bermain sepeda di jalan desa.

Minggu, 28 Agustus 2016 kali kedua saya mengunjungi Gampong Nusa. Sebulan sebelumnya saya sempat berkunjung ke Gampong Nusa atas ajakan dari Rubama, salah seorang warga setempat yang cukup aktif berperan dalam mengembangkan Wisata Berbasis Masyarakat di Gampong Nusa. Rubama, pemudi yang aktif di LSM Solidaritas Perempuan.
dua wisatawan asing berkunjung ke gampong Nusa, mereka ikut menyaksikan Saweu Nusa, Minggu 28 Agustus 2016
Tahun 2013, Ru –sapaan akrabnya- mendapat penghargaan dari Tabloid NOVA; Perempuan Inspiratif Nova 2013. Penghargaan itu diberikan kepada tokoh perempuan inspirasi di seluruh Indonesia. Saya mengenal Ru sejak tahun 2007, ia kebetulan juga aktif di Fatayat NU, Ormas Badan Otonom untuk pemudi Nahdlatul Ulama.

Minggu, 28 Agustus itu Komunitas Al Hayah bekerjasama dengan Mahasiswa Universitas Syiah Kuala yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Pengabdian Masyarakat (PPM) 10 mengadakan acara Saweu Nusa; Jak Beu Toe, Kalon Beudeh. Datanglah mendekat, Lihat dengan jelas.

Hari itu Nusa juga kedatangan Gilang Ramadan, drummer nasional ternama di Indonesia yang lakukan syuting bermain drum. Gilang berkolaborasi dengan sanggar rapai Al Hayah. Bagi anda yang tertarik ingin belajar rapai, bisa berkunjung ke gampong Nusa setiap malam pada sesi latihan selepas insya, kecuali malam Jumat.

Saweu Nusa berlangsung sejak pagi hingga jelang sore hari dengan serangkaian acara Promosi Potensi Desa, Wet-Wet Gampong Nusa, Tampilan Seni Tradisi dan Permainan Tradisional. Gampong Nusa hadir berbagai ragam komunitas warga untuk mendukung upaya desa wisata, salah satunya Komunitas Al Hayah sanggar seni budaya terdiri dari para pemuda pemudi yang aktif melestarikan seni tradisi Aceh.
Sanggar Rapai Gampong Nusa berkolaborasi dengan drummer nasional, Gilang Ramadan. Sanggar ini sudah pernah tampil di Jepang pada tahun 2015 | foto; M. Iqbal / +I Love Aceh 

Komunitas itu didirikan atas inisiatif para pemuda yang ingin melestarikan seni budaya Aceh. Tidak cuma Al Hayah,  di Nusa anda akan menemukan Nusa Creatif Community (NCC), komunitas ini bergerak dalam bidang pengelolaan sampah menjadi barang bernilai ekonomis.

Saya kemudian bertemu dengan Muhammad Khaidir, kepada saya ia mengaku baru dua hari menerima SK sebagai Pj Geuchik Gampong Nusa.

“Umur saya sebenarnya masih sangat muda, Bang. Tapi saya dipercaya oleh masyarakat untuk jadi Pj Geuchik sementara waktu” ujar lulusan Sarjana Teknik Sipil Unsyiah ini kepada saya.

Kesan sebagai Geuchik tampak sebagai pemimpin dari penampilan Khaidir. Ia hadir di tengah tengah warga masyarakat dan mahasiswa bersama para pemuda dalam mempersiapkan acara. Penampilannya sederhana, hari itu Khaidir memakai baju batik, berlengan panjang, ia memakai peci hitam khas Aceh.

Menurut Khaidir, potensi wisata desa ala gampong Nusa yang sudah mulai tumbuh saat ini berkat kerja keras seluruh masyarakat gampong. Kegiatan Wisata Desa dikelola oleh Lembaga Pariwisata Nusa (LPN), para pengurus di dalamnya terdiri dari seluruh masyarakat, dari kaum ibu-ibu, pemuda, remaja gampong.
Penanmpilan tarian dari Komunitas Al Hayah, sanggar ini melestarikan tarian tarian Aceh.

Di LPN inilah, setiap ada rombongan tamu yang berkunjung ke gampong Nusa akan diterima dengan baik. Khaidir menyebutkan, beberapa waktu lalu sekitar 30 siswa dari Provinsi Gorontalo juga pernah home stay (menginap) di rumah-rumah penduduk gampong Nusa selama 2 hari.

“Nah di LPN inilah, ketika ada tamu yang ingin menginap. LPN akan menentukan di rumah siapa saja para tamu akan menginap. Pelayanan layaknya kita menerima tamu. Segala sajian makan khas Aceh akan disediakan oleh tuan rumah” Ujar Khaidir. Hal ini juga pernah disampaikan oleh Rubama kepada saya. Rubama bahkan mengatakan, tamu wisata dari Malaysia sudah pernah beberapa kali menginap di gampong Nusa. Mereka ingin menikmati suasana bulan puasa di gampong Nusa.
kekompakan pemuda gampng Nusa bergotong royong seusai acara Saweu Nusa

Gampong Nusa menjadi sebuah icon baru desa wisata yang kreatif. Jarak jalan menuju ke desa dari Jalan Banda Aceh – Meulaboh menempuh jalan berbukit disambut dengan pemandangan pegunungan yang hijau. Rumah rumah penduduk gampong dipinggir sawah yang membuat suasana benar benar terasa di gampong.

Lembaga Pariwisata Nusa cukup kreatif mengemas paket wisata ala desa. Saat turun ke sawah misalnya, bagi wisatawan yang ingin merasakan bertanam padim bisa merasakan suasana menjadi petani. Wisatawan akan ke  milik warga, Gampong Nusa. Menikmati suasana areal sawah yang luas, dengan pemandangan pegunungan yang hijau merupakan kenikmatan tersendiri saat berkunjung ke Gampong Nusa.

Pj Geuchik Nusa, Khaidir kepada saya menyebutkan. Wisatawan yang berkunjung ke Nusa tidak hanya sekedar melihat suasana gampong, mereka berharap dengan adanya tamu bisa menjadi nilai tambah silaturahim, saling bersaudara. Ia mengaku sampai sekarang kerap berkomunikasi dengan tamu tamu yang sudah datang ke Nusa.

Senja perlahan turun, suasana sejuk kian terasa. Saya kemudian memilih mandi di sungai kecil di belakang Meunasah Gampong Nusa, beberapa anak-anak melonjat ke sungai dari atas pohon besar yang tumbuh di pinggir sungai. Suasana ini ingatkan saya puluhan tahun silam semasa kecil bermandi di sungai Peusangan, Bireuen.

Tertarik berkunjung ke Gampong Nusa? Tak ada salahnya anda mengajak serta keluarga, bisa menginap di rumah rumah warga.

24 August 2016

8/24/2016 08:40:00 PM

Pekan Bahasa se-Sumatera 2016, Provinsi Aceh Jadi Tuan Rumah


Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud foto bersama dengan para Kepala Badan/Kantor Bahasa se-Sumatera, Senin 22 Agustus 2016 di Banda Aceh | kitabmaop



BANDA ACEH - Balai Bahasa Provinsi Aceh menjadi tuan rumah Pekan Bahasa se-Sumatera 2016 yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Acara yang diikuti oleh sembilang provinsi se-Sumatera tersebut akan berlangsung sejak 21-25 Agustus 2016 di Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Drs. Muhammad Muis, M. Hum yang bertindak sebagai Ketua Panitia Pekan Bahasa 2016 saat memberikan sambutan mengharapkan Pekan Bahasa Wilayah Sumatera 2016 itu dapat membangun sikap positif masyarakat terhadap bahasa dan sastra Indonesia sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional dan bahasa resmi negara Indonesia. Acara itu mengambil tema "Merajut Nasionalisme Melalui Bahasa dari Ujung Barat Sumatera" yang diadakan di Banda Aceh sejak 21 sampai 25 Agustus 2016, dengan total jumlah peserta 240 orang berasal dari sembilan provinsi se-Sumatera.

Ia menyampaikan terimakasih atas kerjasama dari seluruh panitia yang selama ini mempersiapkan acara. “InsyaAllah menjelang akhir penutupan, kami akan ajak mengajak para peserta untuk melakukan wisata budaya, untuk melihat beberapa kebesaran Aceh masa lalu, yang akan jadi pengalaman baru bagi pesertai yang dari luar Aceh” ujar Muhammad Muis yang diiringi tepuk tangan dari seluruh hadirin.

Pada Pekan Bahasa se-Sumatera 2015 ini dilaksanakan beberapa kegiatan, diantaranya; Lomba mengajar bagi Guru tingkat SD, Lomba Pewara Protokoler Kedinasan bagi Instansi pemerintah, Lomba pidato Bahasa Indonesia bagi siswa SLTA, Lomba Debat Bahasa Indonesia tingkat mahasiswa, Lomba Cerdas Cermat Bahasa dan Sastra Indonesia bagi siswa tingkat SLTA. Selanjutnya ada temu Duta Bahasa dalam forum diskusi terpumpun dan Temu Wartawan yang membahas tentang peran bahasa dalam meningkatkan nasionalisme pers.

Salah seorang peserta Lomba Debat Bahasa Tingkat Mahasiswa dari Provinsi Kepulauan Riau, Reki Jayandi dalam wawancaranya, menyampaikan pentingnya penggunaan bahasa Indonesia di kalangan mahasiswa.
“Selama ini para mahasiswa berbahasa Indonesia masih banyak penggunaan bahasa asing yang bercampur campur. Seperti misalnya ‘saya akan mensupport kamu’ seharusnya kan ‘saya akan mendukung kamu’, ujar mahasiswa Politeknik Batam ini.

Pekan Bahasa se-Sumatera 2016 yang dihadiri oleh sembilan Kepala Badan/Kantor Bahasa se-Sumatera dibuka oleh Kepala Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa, Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum ditandai dengan pemukulan rapa’i, turut didampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh. Turut menampilkan Tarian Ranub Lampuan sebagai tarian untuk menyambut tamu, sebuah tarian tradisi masyarakat Aceh dalam menyambut tamu. [Muhadzdzier/kontributor Aceh]

sumber: badan.bahasa.kemdikbud.go.id

26 May 2016

5/26/2016 09:34:00 AM

Lima Jam Bersama Nezar Patria



Saat saya datang,  ia menyambut saya dengan ramah, mempersilakan duduk. Ia ikut memanggil pelayan di warkop untuk memesan kopi buat saya. Saya benar benar merasa sangat dihargai sekali, sore itu seiring senja perlahan turun. Suara pengajian dari corong microfon masjid, waktu magrib semakin akrab.

Sejam kemudian, datang temannya yang lain. Karena meja tempat kami mengobrol sudah penuh, ia ikut bantu geser meja lain untuk digabungkan dengan meja kami duduk semula. Tidak ada kesan canggung sedikitpun. Bagi saya, ini pelajaran hidup yang begitu penting tentang karakter teladan seorang tokoh dalam menghargai orang lain.

Lelaki itu dikenal bernama Nezar Patria, kelahiran Sigli. Setamat SMA di Bandaceh, ia jadi mahasiswa di Filsafat UGM, Jogya. Pasca reformasi, menyelesaikan Magister di London, Inggris. Sebelum era tahun 1998,  Nezar ikut mendirikan Partai Rakyat Demokratik pada tahun 1996. Terlibat sebagai pemimpin gerakan mahasiswa dalam menentang rezim orba penguasa kala itu, Suharto.

Nezar pernah jadi korban penculikan aktivis yang menuntut reformasi tahun 1998. Saya membaca tulisan "Kesaksian Nezar Patria" disebuah situs media internet, tentang kronologis penculikannya masa sebelum reformasi 98.


Bakda tsunami dan amuk peluru reda sementara dengan pusat (Jakarta) saya mengenal namanya dari koran. Membaca tulisan jurnalistik dan essainya di media cetak dan digital.

Di sebuah warkop, malam itu saya benar benar beruntung. Bisa duduk ngobrol dengan waktu yang lama, 4 jam lebih bersama Nezar Patria. Melalui seorang Sastrawan Aceh, Azhari Aiyub saya akhirnya berkesempatan ngopi bersama Nezar Patria, bahkan pada dua buah sore sekaligus. Nezar kebetulan berada di Banda Aceh, menghadiri undangan sebagai pemateri jurnalistik di sebuah kantor penghambat populasi penduduk itu.

Dulu, mengenal namanya lewat tulisan paling membekas dalam ingatan saya; Sejarah Mati di Kampung Kami. Tulisan itu saya baca dua bertahun kemudian di Majalah TEMPO edisi terbit Januari 2005. Dua minggu pasca gempabumi dan tsunami Aceh 2004. Pembuka tulisan itu begitu dramatis. Ia memang lihai dalam tulisan-tulisan naratif. kalimat pendek, padat dan tegas.

Mardiyah Chamim, temannya  sesama jurnalis di Majalah Tempo kemudian menerbitkan sebuah buku “Sejarah Tumbuh Di Kampung Kami” catatan tentang Aceh pasca tsunami, diterbitkan oleh Yayasan Air Putih, tahun 2005. Saya mendapatkan buku itu sewaktu mengikuti workshop menulis Seuramoe Teumuleh, akhir 2006.

Dulu saya mengira Nezar Patria  sosok yang pendiam tak banyak bicara. Nyatanya, dugaan buruk saya itu salah besar. Di media internet, foto-foto wajahnya tak tampak seorang humoris, jarang saya lihat dengan foto kala ia tersenyum. Tapi tidak juga terkesan wajahnya sangar. Tulisannya tak tampak sebagai tulisan lelucon dan mengandung humoris, tak juga satir.  Ia menulis banyak essai, laporan jurnalistik panjang, puisi-puisi kerap hadir di ruang budaya koran nasional, Harian Kompas dan Koran Tempo pernah saya baca beberapa kali. Kini ia sebagai anggota Dewan Pers, malang melintang sebagai wartawan di banyak media massa. Nezar banyak mengurusi media digital sebagai jajaran redaksional.

Dengan saya beda umur 12 tahun, tapi difoto wajahnya masih sangat muda. Mungkin inilah efek hidup orang bahagia dan banyak humornya. Raut wajah tak berkesan mengkerut. Ia begitu menghargai lawan bicaranya. di Aceh, saya tau banyak aktivis dan kaum gerakan yang belajar kepadanya sejak masa sebelum hingga reformasi, bahkan sampai sekarang.

Sekitar dua tahun yang lalu, dari seorang teman yang kuliah di Jogja, saya tau Nezar Patria ternyata tak hanya jago dalam meramu kata-kata, tapi juga lihai dalam meramu bumbu-bumbu masak di dapur, ternyata ia seorang yang jago memasak.

Ini kali ke empat saya bertemu dan bisa berdiskusi banyak hal, sekali lagi; Saya sungguh beruntung. Tak ada diskusi di meja kami yang benar benar serius, kebanyakan lelucon dan cerita cerita lawak kerap muncul dari obrolannya. Nezar Patria sangat humoris saya kira, leluconnya kerap kali jadi bahan tertawaan kami. Bahasa Aceh-nya masi logat khas sebagai orang Aceh, tak berkesan kalau ia telah lama  bermukim di Pulau Jawa.

Tahun 2014 lalu masa penyusunan kabinet menteri Jokowi-JK, namanya digadangkan-gadangkan sosok kuat yang akan dipilih Jokowi jadi Menkominfo. Ia pernah menjadi Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pusat. Pemimpin redaksi di banyak media bernama di Indonesia, kali ini periode kedua ia dipercayakan sebagai anggota Dewan Pers. Pasca reformasi 98 Nezar lebih memilih jadi Wartawan di Majalah TEMPO sekian lama. Nezar kerap hadir dibanyak kampus sebagai pembicara pada kuliah tamu, umumnya tentang tema jurnalisme.

Terimakasih Bang Nezar atas waktu dan kesempatan ngopi dan berdiskusi, membahas hal-hal lucu, tentang sastra dan jurnalisme. Saya benar-benar beruntung malam itu []

20 May 2016

5/20/2016 12:15:00 AM

Mau Berkunjung Ke Rumah Calon Mertua, 5 Hal Ini Patut Kamu Ketahui

via i.ytimg.com

Berkunjung pertama sekali ke rumah calon mertua adalah hal yang paling menegangkan nan berkesan bagi Anda yang ingin berumah tangga bersama sang kekasih. Tak perlu ketakutan saat diundang ke rumah calon darabaroe.

Beberapa hari sebelumnya, teman saya baru saja hadir atas diundang ke rumah calon mertuanya. Saya ingin berbagi pengalaman itu kepada Anda sekalian, bisa dipercaya bisa tidak. Si Teman mengajak saya bertemu pada sebuah warung kopi, saya menawarkan warkop yang tersedia akses waifi. Sebab mau mengirim surat melalui internet yang ukuran agak besar. Siapa teman itu, ini jadi rahasia. Hehe.

Berikut ini beberapa yang saya ingat sewaktu berdiskusi dengannya, bukan pengalaman pribadi dan belum pernah juga ke rumah calon mertua. Haha. Tetapi saya hanya menuliskan beberapa hal yang menurut saya pantas dan layak diperhatikan untuk kaum pria lajang yang akan berkunjung ke rumah calon mertua, 5 hal yang patut kamu ketahui, diantaranya:

1. Berpakaian Sopan dan Rapi
Jika hari biasanya kamu suka memakai baju yang menurut orang lain dianggap kurang sopan, bergaya preman dan sejenisnya. Sebaiknya pikirkan tentang celana dan pakaian sopan dan rapi. Potong rambut yang rapi. Pakai baju kemeja, jangan pakai kaos oblong. Celana jeans boleh saja dipakai, asal bukan celana jeans yang sobek.

Pakai sepatu yang sederhana saja, jangan terlalu mencolok. Usahakan tidak banyak memakai aksesoris gelang dan cincin yang berlebihan. Jam tangan bisa digunakan, tapi saat berbicara nantiya, jangan sering kali melihat ke jam tangan. Nanti kamu dikira tidak betah bertamu. Jangan gunakan minyak wangi yang terlalu mencolok.

2. Datanglah Tepat Waktu
Datang tepat waktu yang telah disepakati adalah pilihan yang tepat. Jangan sampai momen pertama kali ini kamu datang terlambat dan calon mertua harus menunggu berjam-jam. Bawa kenderaan yang biasa kamu gunakan, jangan sampai harus rental mobil segala demi terkesan tampak seorang pemuda kaya dan mewah. Kamu harus ketahui, sang calon istri tentunya sudah menceritakan sekilas tentang pribadi dan kehidupanmu sama orang tuanya.

3. Bawa Bingkisan Tangan?

Ini mungkin perlu kamu pertimbangkan baik-baik apa oleh-oleh yang akan kamu bawa. Lebih baik bertanya pada sang kekasihmu tentang makanan yang disukai oleh calon mertua. Kue atau buah-buahan bisa jadi pilihan, tidak perlu yang bermewah-mewah sekali.

Saat memasuki halaman rumahnya, jika membawa motor jangan pakai knalpot yang bising. Jalan dengan gagah. Tak perlu melihat ke semua arah dan halaman rumah. Ketuk pintu rumahnya sambil ucapkan salam. Saat pertama bertemu, waktu bersalaman, membungkuk sebagai tanda kamu orang yang menghormati orang tua. Sampaikan salam dari pihak keluargamu, katakan tadi sempat meminta izin sebelum kamu ke rumah sang calon mertua.

Jangan masuk dulu sebelum dipersilakan. Duduk dengan tegap, jangan selonjoran dan menaikkan kaki. Jika perokok, jangan merokok saat bertamu. Jangan pegang telepon seluler. Mata jangan melengak lengok ke seluruh ruangan. Saat dibawa minuman, tunggu sampai dipersilakan meminumnya. Jika diajak makan siang/malam, usahakan menolak dengan halus jangan membuatnya tersinggung. Jikapun terpaksa, jangan menyudahi makan sebelum sang calon mertua menyelesaikan makanannya.

4. Berbicara Jujur dan Mendengarkan Pembicaraan.
Saat diajak berbicara. Ikuti saja arah pembicaraan dan lebih banyak mendengarkan dengan seksama. Berprilaku sopan sebagai seorang tamu. Perasaan malu tentu dibolehkan, asal jangan malu-maluin. Katakan dengan jujur tentang kehidupanmu dan keadaan keluargamu. Lebih banyak mendengarkan. Jangan sampai berdebat pada satu topik sampai ngotot kamu harus menang.
Jika ada pembicaraan mengenai waktu tunangan dan nikah, jawablah kamu akan membicarakan dengan pihak keluargamu lebih dulu. Perbanyak senyum dan duduk tegap, sebagai bagian kamu bisa menyakinkan sang camer sebagai pria yang bertanggung jawab atas masa depan anaknya kelak. Jangan sampai selonjoran dan tidur dikursi ruangan tamu.

5. Jangan Bertamu Terlalu Lama, Pamit Pulang
Waktu dua jam adalah sudah sangat maksimal bertamu. Sebelum pulang, ada baiknya kamu juga perlu tahu bagaimana kondisi dapur dan isi kamar mandi sang rumah calon mertua. Ini penting menurut saya. Bagaimana caranya?

Minta permisi sementara waktu untuk ke kamar mandi. Karakter seseorang bisa dinilai dari isi keadaan kamar mandinya, biasanya berdekatan dengan dapur, kamu bisa melihat suasana dapur sang calon mertua, ini akan lebih baik lagi.

Saat permisi pulang, minta maaf jika ada pembicaraan yang kurang berkenan dihatinya. Sampaikan salam dari kedua orang tuamu dan ucapkan terimakasih atas perjamuan. Katakan juga bahwa kamu senang diundang dan jadi tamu spesial pada hari itu.

Demikian beberapa tips dan saran bagi kamu yang segera dan akan bertamu ke rumah calon mertua untuk pertama kalinya. Sekali lagi, ini hanya tips dan saran, bisa ada banyak saran lainnya yang mesti kamu ketahui dari teman yang sudah berpengalaman. Soalnya saya hanya menuliskan hal-hal mendasar saja yang saya dapat inspirasi dari berbagai sumber lisan dan tulisan. Belum pengalaman sih. Selamat berjuang, kawan [ sumber: acehfame.com / 17 Mei 2016]

11 May 2016

5/11/2016 01:27:00 AM

Pertama Kali BeKraf Gelar Workshop Menulis dan Fashion Aceh

Kadisbudpar Aceh Saat menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara workshop menulis

Banda Aceh – Badan Ekonomi Kreatif (BeKraf) bekerjasama dengan Badan Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Aceh-Sumatera Utara menyelenggarakan workshop penulisan pemberdayaan komunitas ekonomi kreatif dan workshop fashion, di Hotel Mekkah, Senin-Selasa, 9-10 Mei 2016.

Workshop yang diikuti oleh lebih 150 orang tersebut diselenggarakan oleh Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan BeKraf.

Kepala BPNB Aceh-Sumut, Irini Dewi Wanti menyambut positif kegiatan tersebut. Workshop itu dibagi dalam dua kategori; menulis dan fashion. Melibatkan para komunitas, pegiat fashion dan lembaga menulis dari Banda Aceh dan Aceh Besar.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh (Disbudpar), Reza Fahlevi saat membuka acara itu menyampaikan apresiasi kepada BeKraf karena merupakan ini yang pertama sekali BeKraf menyelenggarakan acara di Aceh.

“Penting bagi kami di Aceh. Sebagai mana kita ketahui, Bekraf adalah pendukung parawisata, dalam meningkatkan insan yang kreatif maka perlu didukung dengan kegiatan-kegiatan seperti ini,” ujar Reza.

Selain diisi oleh narasumber dari Kepala BPNB Aceh-Sumbur, Workshop penulisan diisi dengan narasumber dari nasional, FX Rudi Gunawan, Aulia Halimatussah, sedangkan narasumber workshop fashion Siti Kusuma Nugraheni, Mukhirah dan Khanaan Shamlan. [ teropongaceh.com]

07 May 2016

5/07/2016 10:42:00 AM

Dosa Kota, Dosa Kita.


Idrus Bin Harun, saat proses instalasi fadbook di Bivak. Poster FKK saya ambil dari page fesbuk Festival Kota Kita
Jika masih berpikir hanya seorang Teknik Sipil dan Arsitek yang berhak bicara dan rancang tentang sebuah jembatan, kalian salah besar. Seorang yang suka memancing ikan berhak didengar suaranya tentang jembatan, seorang pemuda yang menikmati senja bersama kekasihnya di atas jembatan berhak ikut bicara, bahkan seorang yang patah hati sekalipun berhak di dengar suaranya tentang jembatan yang asyik untuk ia bunuh diri (mungkin).


Dua Minggu sebelum acara Festival Kota Kita (FKK), saya mengetahui soal ini dari Idrus Bin Harun. Ia diminta oleh seorang penggagas acara itu, Tito namannya, -lulusan Magister Tata Wilayah Kota dari Australia- untuk membikin sebuah instalasi seni rupa. Instalasi itu untuk dipajang di Ruang Taman Hijau (RTH) Lambung, Meuraxa. Sebagai pendukung kegiatan FFK yang dilaksanakan sejak Sabtu-Minggu, 7-8 Mei 2016.


Idrus membikin instalasi yang diberi nama fadbook ini di markas Bivak Emperom, tempat kami biasa berkumpul dan berbicara tentang hal-hal hidup untuk menghilangkan suntuk. Saya tidak menemukan alasan yang pasti atas Idrus membikin instalasi berbentuk Huruf F,  dengan identik font tulisan fesbuk ini karya Idrus Bin Harun yang didesain dan dikerjakan Idrus seminggu lebih di markas Bivak Emperom. Sendirian. Saat saya tanya kenapa dia membikin huruf F, Idrus tak menjawab pasti. Ada ilustrasi di badan huruf F itu. Duga saya kemudian, huruf F sebagai icon dari kata Festival; Kota Kita (FKK). Tapi Idrus tak mengiyakan. Seni rupa bisa ditafsir dari berbagai sudut.

Saya tetiba teringat judul album lagu; Dosa, Kota, Kenangan. Milik sebuah Band Indi asal Kota Surabaya, SILAMPUKAU. Lagu itu dengan lirik sang musisi menjelaskan soal kotanya. Di Aceh, ada Fuady Keulayu yang menyanyi lagu Jak Lom U Banda.

Semalam, saya kebetulan membaca status facebook salah seorang yang jadi inisiator penggagas acara yang melibatkan 60 lebih komunitas muda kreatif di Banda Aceh ini. Ini menulis;

"Kalau nanti di masa depan anak aku tanya: Hal apa yang paling berkesan buat Bapak di penghujung muda? Jawabannya adalah menjadi bagian dari acara kolaborasi warga Festival Kota Kita ini"

Itu status fesbuk saya baca diakun Asrul Sidiq, satu muda dari sekian muda lain penggagas FKK ini. Asrul lulusan Magister di Asian Institute of Technology, studi Lingkungan dan Sumber Daya. Kini ia mengajar di Universitas Syiah Kuala.

Ia salah satu penerima manfaat beasiswa dana pemerintah Aceh di bawah kelola LPSDM. Saya baru temukan ini satu dari ratusan mahasiswa/alumni LPSDM yang bertanggung jawab atas nasib kemajuan daerahnya, pasca dibiayai sekolah oleh pemerintah daerah, pulang dan berbagi/bergerak bersama warga kampung di sini. Yang lain, mungkin saya tidak tau dan tidak menemukan data alumni atas kerja kerja sukses mereka untuk Aceh dari ratusan milyaran anggaran yang telah dibiayai kepada mereka oleh pemda Aceh via APBA.

Kota ini bukan milik sekelompok elit yang haus kekuasaan untuk melanjutkan kuasanya. Tren kota dibangun oleh anak anak komunitas jadi menarik, seperti di Bandung. Pemerintah hanya memfasilitasi kerja kerja kreatif warga komunitas untuk berkarya. Tinggal hanya, bagaimana energi komunitas ini diarahkan pada hal hal yang kreatif untuk membangun kota. ada ratusan komunitas kreatif di sini, umumnya mereka masih muda dan bergairah berkarya.

Sore kami berkunjung ke RTH Lambung, Fuadi Keulayu akan berhikayat esoknya di pembukaan FKK ini

Kota ini mesti beradab, jadi kota kenangan bagi yang singgah sementara. atau jadi kenangan puluhan tahun akan datang saat Asrul akan menjawab pertanyaan anaknya suatu hari kelak. Asrul itu sampai saat ini setau saya masih lajang mulia dan poduktif, ukhty-ukhty tebarkan kode keras merebut perhatian bagi abang dosen ini. piss, bro Asrul!

Tadi sore saya sempat berkunjung ke RTH Lambung, Meuraxa. Saya bertemu dengan banyak teman-teman muda kreatif mewakili dari berbagai komunitas. Selamat berfestival warga kota kita. Saya tau ada banyak kerja-kerja atas inisiatif sewaktu persiapan acara ini. Tentu kekuarang di sana sini hal biasa dan lazim tiap sebuah acara.
RTH Lambung, Lokasi FKK
Banda Aceh kota seribu dosa dan seribu lilin kata orang-orang. Jangan ngebut di jalan, sebab banyak lubang di saat para kuasa atas nama pemerintah sibuk mengurus lubang yang berjalan jalan. Kota ini yang katanya kota pusaka, kota madani perlu memenuhi hak-hak dasar bagi warga yang tinggal dan bayar pajak untuk negara ini. Kota ini bisa bebas dari soal dasar krisis listrik dan air bersih. Agara definisi sebagai kota madani yang diusung oleh elit bisa benar benar dirasakan oleh seluruh warga yang singgah dan pernah tinggal di sini.


Banda Aceh mesti jadi kota kenangan bagi yang singgah sementara. Kota yang nyaman untuk orang orang yang hidup di kota ini. Mesti jadi kota yang beradab walau masih banyak dengan prilaku dosa para orang orang yang tidak perduli atas nasib kota ini.Semoga, jadi kota yang damai; kota milik semua, menjaga toleransi seperti warna warni pada gambar instalasi fadbook karya Idrus Bin Harun. Sebagaimana Idrus menulis disalah satu sudut instalasi itu.  

"Banda Maya; Banda Maya adalah kota rekaan. Di sana, singgah bermacam budaya. Kita merayakannya dengan gempita. Hadir di sana tanpa bekal toleransi yang cukup. Bisa bisa terusir. Banda Maya selalu sejuk dan terang. Kebutuhan dasar warga terpenuhi selalu. karena kita cakap mengelola. Banda Maya dirindukan, didoakan dan tak jarang dikeluhkan. Dan FATBOOK ini mewadahnya. Mari Bahagia. Komunitas Kanot BU

[]

Malam Minggu, 7 Mei 2016. Warkop yang riuh, dan hal-hal lain


05 May 2016

5/05/2016 10:03:00 PM

Sekian Lama Jomblo, Pemuda Aceh Ini Nikahi Gadis Suriah

@page facebook: KBRI Damaskus

Damaskus - Di tengah amuk perang dan riuh roket para serdadu antar kedua kubu yang sekian tahun bertikai di Suriah, konflik antar saudara rakyat Suriah, seorang Pemuda Aceh bernama Munawar Juanan Raden menikahi gadis Suriah bernama Dauha Muawiyah Kharraji.

Resepsi pernikahan dua insan manusia berbeda budaya dan bangsa itu berlangsung di Aula Kedutaan Besar RI Damaskus, Selasa, 3 Mei 2016 waktu setempat. Linto Munawar menikahi Duaha dengan mahar 500 hafalan hadist.

Uniknya, Linto dan Darabaro itu menggunakan baju motif adat Aceh. Dalam foto di akun KBRI Damaskus juga terlihat, corak baju kedua mempelai sangat khas Aceh. Hingga penggunan payung kuning sekalipun, sebagaimana tradisi resepsi pernikahan di Aceh.

Acara yang cukup meriah tersebut dihadiri oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Damaskus, Dubes RI Damaskus Djoko Harjanto, kerabat dekat kedua mempelai. Linto Munawar adalah seorang staf Kedubes RI di Damaskus. Damaskus adalah ibukota dari Negera Suriah yang sedang dilanda amuk perang antar saudara. Terjadi pergelokan rakyat atas rezim presiden Bashar al- Assad.  Kota Damaskus termasuk salah satu kota yang sedikit aman dari, kota ini masih dikuasai oleh Pemerintah Suriah.

Siapakah Sosok Munawar, Pemuda Aceh Tersebut? 

Sosok Pemuda Aceh yang lagi heboh di media sosial karena menikah dengan gadis Suriah ternyata benar benar orang Aceh. Munawar Juanan Raden, pemuda Aceh yang bekerja sebagai salah seorang staf di Kedutaan Besar RI untuk Suriah.

Foto-foto pernikahan mereka menjadi perbincangan hangat di media sosial dan banyak mendapat pujian dari para nitizen. Foto kedua mempelai, sang Linto memakai baju khas adat Aceh, begitu juga dengan gadis Suriah yang memakai baju bermotif Aceh.

Siapa sosok pemuda tersebut? Munawar ternyata berasal dari Sabang, Pulau yang penuh dengan pesona keindahan alam wisatanya. Saya beruntung mendapat informasi dari seorang jurnalis di Banda Aceh, Nur Safri. Menurut cerita Nur Safri, Munawar adalah anak seorang Guru di SMPN Sabang.  Ibunya  yang bernama Tjut Wardah, Guru Agama Islam di SMPN 1 Sabang.

Sosok ibu yang memakai baju coklat berjilbab krem, adalah Ibunda dari Munawar yang mendampinginya. Saya yakin, akan bahagia sekali sang Ibu tercinta saat bisa menjadi sakit atas pernikahan putranya tersebut.


| dok. KBRI Damaskus

Menariknya dari nasihat sang Dubes RI untuk Suriah itu disebutkan nasihat pernikahan yang cukup penting bagi keberlangsungan kedua mempelai ini. Tertarik menikah dengan Gadis Suriah? siapkan 500 hafalan hadist atau hafalan 30 juzz :) []