KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (70) BERITA MEDIA (47) CATATAN HARIAN (47) GoBlog (12) PUISI (11) CERPEN (8)

07 April 2015

4/07/2015 08:49:00 AM

Kisah Nekat Penumpang Gelap di Roda Pesawat

capture situs berita viva.co.id, kisah penantang maut
Seorang pemuda misterius yang masuk ke ruang  roda pesawat Garuda Indonesia (GA117) dari Bandar Udara Sultan Syarif Kasim diketahui bernama Mario Steve Ambarita. Pria 21 tahun itu nekat menerobos masuk dalam kawasan terlarang, saat pesawat berhenti sebentar sebelum ambil ancang-ancang lepas landas. Ia ditemukan petugas Bandara Soekarno-Hatta dengan kondisi tubuh lemas dan hoyong saat berjalan dari pesawat, Selasa 7 April 2015 sore.

Mario berhasil jadi penumpang gelap di pesawat tujuan Pekan Baru-Jakarta bersembunyi dalam ruang roda pesawat. Beruntung dia selamat walaupun kondisi telinga berdarah, aksi nekat itu membuat tubuhnya. Tubuhnya terhoyong saat turun dari pesawat, petugas bandar udara langsung menangkapnya.

Dari situs kompascom diberitakan, Mario mengaku nekat melakukan aksi beresiko itu ke ruang roda pesawat karena ingin melihat Jakarta, tempat dia dilahirkan. Mario mengaku mempelajari aksi itu dari internet. Sewaktu pesawat akan lepas landasan, pesawat berhenti sejenak. Saat itu Mario langsung naik ke roda pesawat dan langsung masuk dalam ruang tempat roda pesawat. Ketika pesawat itu telah lepas landar, maka rodanya langsung masuk otomatis ke ruang roda. Bisa kita bayangkan, gimana sempatnya ruang itu, ia pasti terjepit. Pesawat Garuda itu terbang dari Pekan Baru - Jakarta selama satu jam lebih, pada ketinggian 36.000 kaki. Wow, sangat tinggi sekali.

Waktu pesawat mendarat dan sudah berhenti, seorang petugas melihat ada penumpang yang terhuyung-huyung lagi berjalan. Ia kemudian ditangkap, telinganya mengeluarkan darah. Ia dirawat di klinik kesehatan bandara. Saya bayangkan aksi itu seperti di film-film.

Cerita penumpang gelap menyusup ke ruang roda pesawat bukan pertama kali ini terjadi. Ada yang selamat ada yang terjatuh dengan kondisi bagian tubuh terpotong-potong. Setahun lalu, tepatnya pada April 2014 seorang remaja berumur 16 tahun warga Amirika Serikat keturunan Somalia nekat menyusup ke bandara San Jose, California akibat ingin menemui ibunya.

Ilustrasi penumpang gelap | grafis dailymail sebagaimana dimuat di poskotanews.com
Ia ingin sangat kangen pada ibunya di Hawaii. Remaja keturunan Somalia itu bersembunyi di roda pesawa yang terbang selama 5 jam dari California ke Hawai pada ketinggian 11.500 meter. Ia jadi penumpang gelap Pesawat Hawaian Airline akhirnya tertangkap petugas bandara dan berhasil dipertemukan dengan ibunya, setelah sebelumnya ia dirawat di rumah sakit karena kekurangan oxsigen dan kedinginan.

Kasus penumpang gelap yang menyusup ke ruang roda pesaat bukan kali ini pertama terjadi di Indonesia. Situs viva.co.id menyebutkan pada tahun 1981 seorang gelandangan yang mengaku dikejar anjing . Ia jadi penumpang gelap dan selamat dari perjalanan terbang Semarang-Jakarta. Sehari setelahnya ia dibawa terbang lagi ke Semarang, setelah diperiksa oleh tim medis, pria bernama Tarsono itu menderita gangguan jiwa. Setelah itu juga ada cerita yang lain soal kasus penumpang gelap di ruang roda pesawat. 

Menurut Data Administras Penerbangan Federal Amirika Serikat, sejak tahun 1947 sampai 2012 tercata ada 96 kasus penumpang pesawat tanpa tiket. Sebanyak 73 orang meninggal dunia dengan berbagai kondisi yang mengenaskan, ada yang terjatuh dari langit. Hanya 23 kasus yang selamat. Demikian sebagaimana saya kutip informasi dari situs viva.co.id. baca kisah selengkapnya di Kisah Penantang Maut.

Kasus ini sekian kali terulang. Pengamanan bandar udara oleh pihak Angkasa Pura harus diperketat. Bayangkan jika ada aksi teror yang dilakukan dengan menyusup masuk ke batasan area terlarang bagi manusia, dan itu dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, keselamatan penumpang harus jadi hal yang utama. Kasus Mario yang naik ke roda pesawat seharusnya dijadikan sebagai kajian untuk pengamanan bandar udara, disinilah peran dinas terkait.  [diolah dari berbagai sumber]


4/07/2015 06:35:00 AM

Gelar Konferensi Pers, Ini Agenda Konferwil XIII PWNU Aceh

Suasana Konferensi Pers bersama rekan rekan wartawan pra-Konferwil XIII NU Aceh, RUmoh Aceh Kupi Luwah, Jeulingke (Minggu, 5/04/2015)
Banda Aceh, NU Online Dalam rangka persiapan Konferensi Wilayah (konferwil) XIII yang akan berlangsung pada 17-19 April 2015 mendatang, PWNU Provinsi Aceh menggelar konferensi pers dengan sejumlah wartawan di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Ahad (5/4).

Tgk H Faisal Ali selaku Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh dalam konferensi pers itu mengatakan serangkaian kegiatan Konferwil NU akan dilaksanakan pada 17-19 April 2015 di Asrama Embarkasi Haji Aceh di Banda Aceh.

"Dalam Konferwil ini akan hadir utusan PCNU yang berjumlah 23 kabupaten/kota di Aceh. Insya Allah juga akan dihadiri oleh Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, MA," ujar pria yang juga Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh ini.

Konferwil NU Aceh kali ini mengambil tema ‘Memperteguh Komitmen Nahdlatul Ulama untuk Aceh yang Islami, Bersatu, dan Bermartabat’. “Sejumlah kandidat sudah muncul selama ini, kami mengharapkan konferwil NU dapat menjadi contoh pesta demokrasi bagi warga nahdliyin di Aceh,” harap Tgk Faisal Ali

Sementara itu, Drs H Ibnu Sa'dan, MPd selaku ketua panitia Konferwil NU Aceh menyebutkan sejumlah persiapan telah dilakukan selama ini oleh panitia dalam rangka mensukseskan konferwil itu.

"Dalam rangka acara Konferwil, PWNU Aceh akan melaksanakan serangkaian kegiatan seperti ziarah ke makam tokoh-tokoh NU di Aceh, donor darah, seminar nasional, santunan kepada yatim-piatu keluarga warga Nahdliyin" Sebut Ibnu Sa'dan yang didampingi Ketua Steering Committe (SC) Tgk H Abdullah Basyah dan Wakil Ketua PWNU Aceh, Dr Bustami Usman, MSi.

Sejumlah kandidat Ketua PWNU Aceh telah muncul, diantaranya, Tgk H Faisal Ali, Dr H Bustami Usman, MPd, H Ramli MS, MSi, Dr H Syamsul Rijal, MAg, Drs H Ibnu Sa'dan, MPd. Sedangkan calon untuk Rais Syuri'ah Tgk H Nuruzzahri Yahya, Drs Tgk H Ghazali Mohd Syam, Dr H A Gani Isa, dan Drs H Abdullah Basyah. (Muhadzier/Fathoni)

sumber: NU Online, 7 April 2015

06 April 2015

4/06/2015 08:07:00 AM

Adik Saya, Menristek Dikti dan Sepatunya

Catatan harian ini berlebihan dan mungkin kalian akan jijik membacanya. Tetapi bagi saya penting mengingat momen ini. Entah kenapa saya tiba tiba iseng menggabung dua foto ini. Paling terharu lihat foto sebelah kiri, adik saya bersama Menteri Pendidikan Nasioanal 2009-2014, Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA dalam acara Maulid Unsyiah, Sabtu 4 April 2015. Adik saya Muarrief Rahmat penerima beasiswa Bidik Misi saat pertama dicetus tahun 2010 pada masa Menteri Moh Nuh. Kata Arief, ia mengucapkan banyak terimakasih atas kebijakan beasiswa Bidik Misi, hingga banyak anak-anak cerdas keluarga kurang mampu bisa mendapatkan beasiswa ini. Arif juga kasih tau ke Moh Nuh sudah selesai kuliah di FKIP Bimbingan Konseling Unsyiah 2010 wisuda Febuari 2015.

Foto sebelah kanan, saya bersama Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Prof. Drs. H. Muhammad Nasir, M.Si, Ph.D periode 2014-sekarang. M. Nasir adalah orang  NU, dekat dengan Gus Dur dan kerabat dengan Muhaimin Iskandar. Pada 2014 sebelum jadi Menteri dia baru saja menjabat Rektor Universitas Diponogoro (Undip).  M. Nasir berasal dari Ngawi, Jawa Timur.
Membaca doa diakhir acara silaturahmi 

Dulu Dirjen Dikti masa SBY-Budiono masih di bawah Mendiknas, era Jokowi-JK, Dikti digabung ke Menristek. Mendiknas tidak lagi mengurusi Perguruan Tinggi (Dikti), tetapi jadi Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah yang saat ini dijabat oleh Anies Baswedan.

Tadi pagi dalam acara silaturahmi dengan Pengurus Nahdlatul Ulama Provinsi Aceh di Sekretariat PWNU Aceh-Lampeuneurut, Minggu pagi 5 April 2015. Silaturrahmi tadi pagi dengan seratusan warga nahdliyin Aceh berlangsung akrab dan sederhana. Menteri duduk lesehan di tikar pandan, makan nasi bungkus (bu prang), tak ada pengawalan ketat dari protokoler sehingga saya berkesempatan sedikit waktu mengobrol soal dikti dan semangatnya pada kaum muda NU.
Silaturrahmi Menristek M. Nasir dengan Warga Nahdlatul Ulama Prov Aceh
di Sekretariat NU Aceh -Lampeuneut, Minggu (5/4/2015)

Beliau cerita banyak hal soal program kerjanya selama ini dan misi akan datang dalam bidang riset teknologi dan pendidikan tinggi. Sepatunya yang dia pakai jadi perhatian bagi saya, saya foto, saya google sepatu yang dipakai Menristek, harganya di Zalora 1,6juta. Diskon jadi dapat 500ribu, foto sepatu itu saya pastikan sama dengan yang terlihat digambar saya gabung berikut ini:
foto sebelah kiri harga sepatu di zalora, sebelah kanan sepatu Menristek, dari hasil penelusuran
begitulah harga sepatu Menristek M. Nasir
Menristek Dikti ke NU Aceh disela-sela agenda kunjungan kerjanya ke Aceh sejak Sabtu-Minggu. Sabtu di Universitas Teuku Umar, Meulaboh dalam Dies Natalies UTU pertama sejak di Negeri. Minggu mengisi kuliah umum di UIN Ar Raniry, dan mengunjungi Universitas Abulyatama.

Ada yang sama dari dua foto ini? Banyak. saya suka melihat pada kesamaan gerak tangan saya dan adik saya, Arif. Ibu  kita ngak tau kalau kita sudah bertemu dan ngobrol sama Menteri. Hhaha

25 March 2015

3/25/2015 09:39:00 AM

Seandainya Aceh Konflik dan Perang Media Sosial

Apa jadinya kalau sekarang ini Aceh kembali berkonflik seperti tahun 1998 hingga 2005 lagi? Bagi yang pernah hidup kala itu di perkampungan pedalaman Aceh tentu akan paham. Merasakan bagaimana susahnya bekerja dan hidup dengan daerah konflik. Sekolah dibakar, anak anak jadi sulit mengakses pendidikan. Para petani sudah bekera di sawah. Razia dan para tentara turun kampung, jaga malam diberlakukan. Sweping paling sering terjadi di jalan raya. KTP jadi barang wajib harus dibawa kemana saja pergi. Tanpa KTP siap siap saja diangkut ke pos terdekat. Pos aparat keamanan ada di mana mana. Berondongan senjata sering terjadi dan banyaknya jatuh korban dari pihak sipil tak bersenjata dan pihak yang bertikai. Malam hari adalah waktu paling mencekam. Listrik tidak beda jauh dengan sekarang, juga paling sering dipadamkan.  di depan pos pos aparat keamanan harus dilewati drum zag-zig.

Aceh benar benar jadi tempat yang asing dan sulit terakses ke luar bagi orang yang ingin mengetahuinya keadaan. Malam hari harus tidur dilantai, demi menghindari peluru nyasar andai ada kontak tembak senjata. Warung kopi jarang buka malam hari. Ekonomi tak bergairah. Truk reo dengan dinding anti peluru paling sering berkonvoi, wajah seram aparat keamanan paling garang dan sering menaruh curiga pada orang orang yang diduga sebagai kaum pemberontak. Kala itu, sulit nya serdadu membedakan mana GAM dan mana warga sipil tak terlibat. GAM adalah orang Aceh, tetapi tidak semua orang Aceh adalah GAM.

Pernyataan lazim dari serdadu dalam menggambarkan Aceh: orang Aceh kalau siang lempar senyum, kalau malam lempar granat. Kalimat itu dimaksudkan kalau siang hari ada GAM yang melewati pos dan mengangkat tangan sebagai bentuk ramah kepada serdadu yang berada di pos aparat. Malam hari mereka melempar granat.

Tahun 2000an, teknologi belum berkembang semudah sekarang ini.  Telepon genggam belum banyak yang gunakan. Informasi hanya tersebar via mulut ke mulut atau akses dari handy talky milik pasukan Gerakan Aceh Merdeka. Kadang juga informasi yang tersebar dari informan GAM menyamar sebagai tukang ojek [RBT] atau dengan profesi yang lain. Baik pihak GAM dan TNI/Polri juga punya gaya masing masing dalam menyebarkan informan ke kampung-kampung, beberapa ditangkap oleh pihak lawan. Beberapa selamat memberi informasi bantuan.

Bandingkan dengan kejadian hari ini. Sewaktu konflik dulu, jika ada  letusan senjata, atau terjadi pembunuhan, perampokan, dan isu lainnya yang  ratusan kilometer jauh dengan tempat tinggal kita, baru dapat diketahui melalui koran cetak yang terbit besok. Itupun setelah melalui sensor. Judul berita koran yang tak kalah mencekam bagi kita yang membacanya. Saling bantah antara pihak TNI/Polri dengan GAM. Ada koran yang dituduh pro GAM, ada yang dituduh pro aparat pemerintah. Tetapi membaca koran tidak juga begitu mudah. Akses koran harus menunggu waktu siangnya baru ada di warung kopi. Beberapa pedalaman tentu lebih sulit lagi mengakses berita kejadian sehari sebelumnya. Kondisi benar benar sangat minim informasi atas kejadian di Aceh.

Mengandalkan  berita radio atau televisi bisa jadi alasan yang lain. Hanya saja, akses informasi tidak begitu cepat diketahui seperti sekarang ini. Kejadian pagi, baru dapat kita nonton TV sore/malam/esok harinya. Waktu sekarang ini, informasi begitu cepat sampai tiap ada kejadian di Aceh. Terlepas info itu benar atau salah, isu begitu mudah tersebar ke publik. Kecanggihan teknologi telepon pintar yang murah dan mudah dibeli oleh siapa saja, menjadikan satu alasan tersendiri cepatnya informasi.

Foto foto kejadian misalnya akan cepat sampai ke media sosial facebook, twitter, path dan sebagainya. Orang tinggal bagikan semudah jempolnya menekan tomblo share. Jadilah informasi itu tersebar dengan cepat. Kadang kala, foto-foto yang tidak sepantasnya dilihat publik luas tersebar begitu cepat. Anehnya foto begitu dishare oleh orang yang berpendidikan tinggi. Saya tidak tau, apa alasan bagi mereka dan betapa mirisnya jika saja yang dalam foto tersebut adalah keluarnya. Bagi saya ini sangat menyedihkan sekali.

Canggihnya teknologi informasi membuat tidak canggih pikiran orang dalam memberikan informasi di media sosial. Satu sisi memang bagus juga jika sekarang ini informasi begitu mudah dan cepat kita dapatkan. Satu sisi lain, kadang kala informasi hoax yang belum jelas infonya tersebar begitu mudah dan cepat. Maka penting mengetahui etika dalam menyebarkan informasi.

Saya jadi berpikir, kalau misalnya (semoga saja tidak) sekarang ini Aceh berkonflik lagi, maka akan banyak orang yang mengakses dan membagikan info via status facebook dan twitter. Informasi tentang razia dan pemberondongan akan cepat tersebar juga. Foto-foto kejadian bisa mudah diupload oleh siapa saja.  Dari banyak penjuru kampung sekalipun. Grup-grup facebook akan diramaikan dengan informasi kejadian-kejadian kontak senjata. Info-info grebek markas GAM akan tersebar luas ke masyarakat, begitu juga info lokasi sweping tentara. Tangkap menangkap akan mudah diketahui, penculikan cepat terupdate ke media sosial.

Jika demikian, apakah media sosial seperti fesbuk, twitter, path dan media media online lainnya akan dibatasi di Aceh? Jika tidak, maka informasi akan sangat mudah diketahui oleh lawan yang lagi bertikai. Saya berharap itu tidak terjadi, mengingat akses informasi kondisi daerah konflik sangat penting diketahui, apalagi bagi orang yang ada keluarganya di Aceh. Tinggal bagaimana kita bisa memilah dan memilih mana informasi yang akurat dan tepat. Jangan sampai juga, mudahnya informasi yang tersebar akan jadi provokasi massa yang sangat menakutkan. Media sosial bisa jadi ancaman yang menakutkan atas pergerakan massa, dia punya peran penting dalam mengumpulkan massa.

Sekarang, tiap ada kejadian di Aceh begitu mudah tersebarkan informasi. Internet jadi alat penting dalam mengetahui/menyebarkan info tersebut. Orang di seluruh dunia jadi lebih cepat tau tiap ada kejadian di Aceh. Media online tumbuh dengan sangat banyak sekali. Tsunami informasi sangat cepat sampai ke seluruh penjuru dunia. Mengaksesnya pun cukup mudah, kita hanya memiliki telepon pintar, lalu semua informasi dapat diketahui. Perang informasi melalui media sosial tak kalah panas dna mencekam dari dunia nyata. Saya sulit membayangkan bagaimana seandainya itu terjadi. Jika Aceh terjadi konflik lagi, apa kira kira status facebook kalian? []




23 March 2015

3/23/2015 10:31:00 AM

Istri Orang dan Komunikasi Tak Berlebihan

Saya sering kali tak berani mengobrol terlalu jauh pada teman wanita yang sudah berumah tangga. Tepatnya wanita yang jadi teman, kemudian dia menikah. Saya kerap menghindari berbicara terlalu canda sok dekat dan akrab. Maka tak perlu heran jika ada teman teman yang sudah jadi istri orang, saya memilih tak mengobrol lebih inten sewaktu dia masih gadis.

Ini mungkin bagian dari curhat ke blog, sebagai bagian dari kita untuk tau sikap dan karakter masing masing dalam berteman. Beberapa hari lalu ada teman saya, cewek. Sudah menikah. Ia menghubungi saya via pesan blackberry. saya menanggapi biasa saja, tak seperti ketika dia masih sebagai gadis, misalnya dalam hal bercanda dan melawak. Saya tidak ingin, tiba tiba saja isi pembicaraan itu diketahui oleh suaminya. Tipe suami bisa macam macam, takutnya nanti saya dikira mengganggu istri orang. Apalagi suaminya tidak kenal baik dengan saya.

Dalam berteman dengan wanita yang sudah bersuami, saya kerap menghindari hal hal terlalu jauh dalam berdiskusi. Saya mencoba menjaga hubungan itu tidak jadi persoalan kemudian harinya. Memang tidak bermaksud ganjil, tetapi lebih baik saya menghindari hal hal saling curiga. Pernah suatu ketika karena satu hal, seorang teman saya ingin telpon. Terlebih dahulu dia sms saya meminta atas kesedian waktu. Saya mengiyakan dengan terlebih dulu dia memberitahu kepada suaminya. Begitu saran saya.

Wanita yang sudah ambil posisi sebagai istri, mestinya menghindari berhubungan yang lebih jauh dengan laki laki. Saya tidak ingin nantinya dicap kurang ajar karena keterlaluan berhubungan/ komunikasi dengan istri orang, baik itu dalam hal isi bbm dan bicara.  Bisa salah paham ketika suaminya mengetahui. Jika sang suami mengenal dan saling kenal, hal ini tentu akan berbeda.

Saya pernah mendapat semacam teror dari suami si wanita yang teman saya. Padahal waktu itu saya hanya bertanya kabarnya dan kabar janinnya. Sang suami protes apa urusan saya untuk tanya hal begitu. Saya meminta maaf atas kelancangan, walaupun awalnya saya kira itu pertanyaan yang biasa saja. Mungkin suaminya tipe pria cemburu yang tidak ingin istrinya diganggu oleh pria lain.

Ada lagi yang hanya bertanya soal kuliah, via telpon juga. Saya mendengar suaminya marah marah memprotes sang istri sedang menelpon siapa. Saya trauma waktu itu. Padahal isi pembahasan kami soal kuliah dan saling bertanya kabar masing masing. Wah ada masih sang pria yang pencemburu begitu.

Nah kemarin yang beberapa waktu lalu itu, teman wanita saya mengajak berkomunikasi via bbm. saya menanggapi biasa saja, dulu memang pernah dekat dengan saya. Sang teman ini memprotes kenapa saya sudah berubah dalam hal bercanda. Saya awalnya tidak berterus terang kepadanya soal prinsip saya yang mencoba menjaga diri dalam hal komunikasi dengan teman wanita yang sudah berstatus sebagai istri.

Saya akhirnya terpaksa menjelaskan kepadanya, dengan sopan dan santun soal hal berteman. Bahkan saya juga tidak ingin memulai komunikasi duluan. Dalam media sosial juga demikian prinsip yang saya coba terapkan. Lagi lagi ini soal menjaga supaya tidak ada keganjilan dari sang suaminya. Betapa sang suami tentu akan cemburu, kalau istrinya kerap bercanda dan ngobrol keterlaluan dengan laki laki lain. Saya membayangkan bagaimana perasaannya akan tersakiti.

Ada juga seorang wanita yang telah lama pisah dengan suaminya, kami dulunya berteman sewaktu kuliah S1. Teman saya itu cerai hidup secara baik baik dengan suaminya. Tetapi saya tentu tidak mau akan dicap sebagai lajang pencuri hati para janda. Pernah dikirim pulsa, diajak makan malam. Saya menolak dengan baik-baik. Lagi saya tidak ingin tertuduh macam-macam. Hal begini memang sangat menguji. Entah karena saya yang terlalu raham dan sangat mudah berkomunikasi, jadinya dianggap yang wajar aja ketika diajak mengobrol. Ah, kalau ditulis disini ada yang lebih parah lagi. Tetapi saya mungkin belum khilaf saja. Mudah-mudahan ke depannya juga bisa terus menjaga soal ini.


Ruang perselingkuhan bisa terjadi karena adanya perhatian lebih dari orang yang dicintainya. Ada pria/wanita lain dari pasanganya yang memberi perhatian lebih. Ini sungguh berbahaya.  Saya pernah mendapat curahan hati seorang wanita karena kurang mendapat perhatian lebih dari suaminya. Dia padahal hanya menginginkan sang suami bisa mengucapkan 'terimakasih' selepas makan malam, makanan yang dia masak dengan lelah. Saya berpikir, hal seperti itu sangat sepele sekali. Hanya ingin diucapkan 'terimakasih' atas sesuatu perbuatan yang telah dilakukan oleh sang istrinya. Entah juga besok ya, kalau saya sudah berstatus 'suami' bisa melakukan hal remeh teman begini. Hahaha.

Saya jadi teringat dialog Dedi Mizwar di film Nagabonar, kepada anak lelakinya; "wanita itu ingin diperhatikan walau sebenang." Iya, wanita butuh perhatian lebih dari orang yang dicintainya. Dia butuh perhatian atas segala kerja keras di rumah tangganya, melayani suaminya. Maka para pria penting sekali untuk mengetahui dan paham soal ini [lah, macam saya sudah ada istri aja bro].  Makanya kenapa bahu pria dibikin lebih kuat, agar beban sang wanita bisa ditampung dibahu pria.

Untuk teman wanita yang pernah berteman dengan saya dan sudah menikah, saya sering mengabaikan curahan hati mereka. Menjaga komunikasi tidak berlebihan. Menaggapi hal hal yang penting saja. Biarlah itu kemudian dianggap sebagai diri saya yang sombong. Sebab akan tidak sopan jika pria lajang mengobrol terlalu jauh dan dalam, dengan wanita yang sudah berstatus sebagai istri. Ingat, perhatian lebih pada wanita bisa timbulkan rasa cinta. Tulisan ini sengaja saya posting, agar kita bisa saling paham dan mengerti karakter masing masing, saling menjaga perasaan orang yang kalian cintai. []

07 March 2015

3/07/2015 09:26:00 AM

Jatuh Cinta Adalah Kesulitan Kawan


cinta seperti juga memahami bentuk grativikasi.  ia kerap terjatuh pada model atau bentuk yang berbeda-beda. kita kemudian yang berprasangka, menduga-duga yang entah. banyak hal, banyak soal tentang sangka-sangka itu. pernah disesalkan dari perginya seseorang yang engkau kagumi dan banggakan? sebab kenangan menjadi berharga atas hadirnya.

hadirlah sebentar saja, untuk sekedar melihat gimana rupa wajah rindu. betapa jahannamnya. lalu siapa yang sanggup membunuh kenangan? pada buku, pada wajahnya, pada rindu. ketika ada hati dan rasa yang tak bahagia, mungkin satu dari banyak sebab karena engkau belum mengikhlaskan.

jika setiap hal yang kau damba berjalan sesuai rencana, kau tak akan pernah paham bahwa sesekali kecewa itu menguatkan. saat harapan tak sampai memang  terasa  sangat menyebalkan, disitu barangkali cara terbaik melawan kesepian adalah dengan tidak lagi jatuh cinta pada tempat yang salah. jatuh cinta adalah kesulitan kawan, demikian surah Pram. ‪

02 March 2015

3/02/2015 06:18:00 AM

Dari Kipandjikusmin Hingga Charlie Hebdo

gambar diambil disini : www.npr.org
Sebagian dari pembaca karya sastra serius pasti tidak asing dan tidak lazim dengan kontroversi cerita pendek Langit Makin Mendung karya Kipandjikusmin yang dimuat di Majalah Sastra Edisi Agustus 1968 itu. Cerpen itu jadi kontroversi dalam masyarakat pada era 60-an hingga menyebabkan Redaktur Majalah Sastra H.B Jassin berurusan dengan hukum, dia divonis satu tahun penjara karena dianggap bertanggung jawab atas pemuatan cerpen dengan nama anonim itu. Debat kontroversi kemudian kian panjang, hingga melahirkan karya-karya ilmiah yang menganalis kontroversi cerpen Kipanjdikusmin.

Dimuatnya cerpen yang mengisahkan tentang turunnya Nabi Muhammad ke bumi bersama Jibril yang menyamar sebagai elang. Dialog-dialog satir kemudian hadir dan membuat kita sebagai pembaca mengernyitkan dahi. Kontroversi cerpen itu masih dibahas sampai sekarang dalam ranah sastra di Indonesia. Orang orang saling berargumen tentang makna kebebasan berkarya dan bebas berimajinasi.

Orang-orang saling bikin lelucon satir dengan berkarya. Mengolok-olok isu agama jadi sebuah hal yang mengundang kontroversi. Lelucon satir yang menggugah senyum bagi siapa yang membaca atau melihatnya, isu tentang agama jadi produk paling sensitif akan aksi dari publik luas. Selebihnya akan menghina dan mendamprat karya itu sebagai bagian dari kontra atas kebebasan berbicara yang tidak beretika, menurut arti dan makna berekpresi secara beradab.

Pada dunia sastra internasional yang cukup mendunia, sastrawan Salman Rusdie juga tak kalah kontroveri atas karya novel Ayat Ayat Setan, terbit tahun 1988. Novel itu dilarang beredar karena dianggap menghujat Nabi Muhammad. Bahkan pemimpin Iran kala itu mengumumkan perintah pembunuhan atas Salman Rusdie.

Hari ini, orang-orang berkarya satir kembali terjadi setelah penyerangan oleh dua pria misterius ke kantor majalah Charlie Hebdo. Majalah mingguan di Prancis itu terbit pertama sejak 1969 dengan nama asal Hara-Kiri. Hara-Kiri sempat bubur, beberapa staf redaksinya itulah yang kemudian mendirikan Majalah Charlie Hebdo. Majalah itu sejak terbit memang sudah mendulang kontroversi dengan lelucon satirnya yang menyeleneh. Charlie Hebdo pernah mengolok-olok ummat muslim dengan mengganti nama jadi La Charia Hebdo [Hebdo Syariah], pada jajaran redaksi edisi itu muncul nama Nabi Muhammad sebagai Pimpinan Redaksi.

Sebagai muslim, tentu kita berang dan mengutuk karya media yang mengatasnamakan kebebasan berekpresi. Atas terbitnya edisi itu, kantor Charlie Hebdo mendapat serangan bom molotov dari orang tak dikenal [OTK] Majalah Charie Hebdo berhaluan politik kiri ini paling sering mengeluarkan gambar kartun yang menyindir para pemuka agama, hal paling sering mereka sindir adalah tentang islam. Paus Benediktus juga pernah disindir soal kebijakannya.

Sejumlah kritikan satir lelucon tak lucu itu akhirnya mendapat ganjalan yang tidak kita inginkan tentunya. Rabu 7 Januari 2014 menurut kabar berita dari media, kantor redaksi Charlie Hebdo di Paris diserang oleh dua pria bersenjata Ak-47 yang langsung masuk ke kantor redaksi. 12 orang tewas dalam serangan itu. Pimpinan Redaksinya, Stephane Charbonnier ikut tewas dari serangan kedua pasca serangan bom molotov 2011 lalu. Charbonnier telah lima tahun menjadi Pimred, sejak 2009.

Situs berita BBC Indonesia menyebutkan bahwa Chalie Hebdo merupakan produk tradisi lama dalam jurnalisme Prancis. Tradisi humor provokatif dan cenderung cabul. Selain olok-olok tentang Muhammad, Charlie Hebdo juga membikin kartun/ilustrasi biarawati sedang bermasturbasi dan Paus yang memakai kondom.

Menurut Rusdi Mathari, wartawan senior yang saya kutip dari rusdimathari.wordpres.com, serangan 7 Januari lalu diduga ada hubungannya dengan gambar kartun Abu Bakr Al-Baghdadi yang disebarkan melalui akun twitter resmi Majalah Charlie Hebdo, @Charlie_Hebdo_. Sebagai mana kita ketahui, Abu Bakr adalah pemimpin negara islam Irak dan Syuriah [ISIS].

Orang-orang bagian redaksi Charlie Hebdo beranggapan, kebebasan berkarya dan berekpresi bisa melewati batas-batas norma apa saja. Mengolok-olok pemuka agama sebagai alat kritik mereka dalam balutan jurnalistik.

Saya sepakat soal kebebasan berekpresi dan berkarya, tetapi tanpa mengabaikan norma-norma agama dan batas rasa sosial bermasyarakat. Tokoh dunia kemudian mengecam brutal itu. Ini hal paling menjengkelkan sebenarnya atas reaksi berlebihan dari para tokoh dunia. Di Prancis ada sekitar 5-10 persen penduduk muslim yang kini hidupnya sedang dalam ancaman orang orang yang menganggap akan ada serangan balasan terhadap ummat islam.

Kita tentu berharap, kejadian itu tidak menutup mata para pemimpin seluruh dunia untuk terlalu berlebihan mengutuk kejadian itu. Ingat, ummat islam juga tak kalah sedikit meninggal di Palestina karena serangan dari pihak yang tidak ingin islam itu tumbuh dan berkembang.

Media-media seluruh dunia khususnya di Indonesia dapat mengambil hikmah atas kejadian itu. Termasuk dalam produk karya sastra atau seni yang lainnya. Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung juga bisa dijadikan ukuran, kalau ingin berkarya dalam kebebasan tentu saja tidak ada masalah selama itu tidak melanggar norma agama dan menyinggung agama-agama ummat manusia.

Apapun ideologi politik/agama mereka para pengarang karya sastra dan jurnalistik mesti memahami kondisi ini dengan benar. Sebagaimana pesan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdhatul Ulama, H Marsudi Syuhud kepada harian Republika, jangan sampai kebebasan jadi keblabasan dan memicu sikap intoleransi. Semestinya kedamaian seluruh ummat untuk bisa hidup berdampingan saling menghormati sesama, demi mewujudkan perdamaian dunia.

[nb: tulisan ini ditulis pada 15 Januari 2015 telah dikirim ke salah satu media nasional dan tidak dimuat]

13 January 2015

1/13/2015 06:49:00 AM

Polisi Hoegeng Dan Polisi Meupep-pep

via albastari.blogspot.com

Lelucon Gus Dur paling saya  ingat tentang ada 3 polisi baik dan jujur di Indonesia: Polisi Hoegeng, Polisi Tidur, Patung Polisi. Andai Gus Dur masih hidup dan sempat ke Aceh, tentu Gus Dur juga sepakat ada satu lagi polisi baik dan jujur di Indonesia, tepatnya di Banda Aceh, Polisi Meupep-Pep. Saya kerap malu jika tak memamakai helm dan  berpapasan dengan mobil dauble-cabin Pak Adnan, sang polisi lalulintas yang dikenal polisi meupep-pep ini.

Sastrawan Hamsad Rangkuti pernah menulis cerpen lelucon soal polisi yang sampai sekarang terus saya ingat dan cukup berkesan dengan pengarang yang pernah menulis cerpen fenomenal: "Maukah kau menghapus bekas bibirnya dibibirku dengan bibirmu?" Hamsad menulis cerpen Si Lugu dan Si Malin Kundang yang dimuat di Harian KOMPAS, Si Lugu dan Si Maling Kundang  membuat saya terus mengingat cerita lelucon satir itu.

Cerpen itu dikisahkan oleh Hamsad tentang seorang tua berasal dari kampung yang mendatangi rumah anaknya yang berada pada sebuah komplek elit di ibukota. Sebagaimana tradisi orang kampung yang ke kota membawa makanan dari desa apa saja, tokoh orang tua itu ikut membawa ayam kampung untuk anak dan cucunya. Komplek itu dijaga oleh sekuriti. Sekuriti melarang orang tua yang berpenampilan kampung itu masuk ke dalam komplek mewah tersebut. Adegan larangan itu menarik perhatian seorang polisi lalulintas yang melintas di kawasan itu.

Polantas  menembak ayam si Pak Tua karena dianggap sebagai pembawa virus penyakit. Pak Tua marah bukan kepalang. Kedua aparat keamanan itu tetap melarang Pak Tua untuk masuk komplek, ia masih ngotot kalau anak lelakinya adalah pemilik salah satu rumah mewah dan tinggal di komplek itu. Pak Tua dalam hatinya mengutuk polantas ini menjadi batu karena telah menembak mati ayamnya. Dia teringat akan Malin Kundang yang dikutuk jadi batu.

Saat Pak Tua masih memprotes atas larang itu, tiba-tiba sebuah mobil mewah datang di pintu gerbang dan ingin masuk dalam komplek. Ternyata itu mobil mewah anak lelaki Pak Tua bersama istrinya. Sang anak memanggil Ayahnya itu dengan gembira, anaknya lalu turun, membuka pintu depan mobil lalu menyuruh sang ayah masuk. Ayahnya duduk paling depan, istrinya ke bekalang. Adegan itu membuat sekuriti dan polantas terheran-heran.

Lalu pada suatu sore hujan deras, sang anak mengajak Ayahnya jalan-jalan kota. Hujan kian lebat sore itu. Pada sebuah lampu merah ada patung polisi dengan gaya seperti orang mengatur lalulintas. Istrinya menyuruh menerobos lampu merah itu, tapi suaminya ngotot tidak mau melanggar. Ayahnya duduk dalam mobil terheran melihat ke patung polisi itu sambil berucap dalam hatinya: Ya Allah, Polisi Itu Menjadi Batu. Pak tua menganggap doanya terkabulkan, dia beranggapan polantas yang menembak ayamnya kemarin telah benar benar terkutuk jadi batu. Padahal itu memang patung polisi.

Maka setiap ada kasus-kasus tentang polisi di Indonesia, lelucon Gus Dur soal polisi jujur itu akan tetap pada 3 orang yang saya sebutkan di atas tadi. Ketika hari ini berita tentang Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri yang akan diangkat oleh Presiden Jokowi, kita kerap jadi mengingat kembali tentang para polisi.

Dan berita tidak kalah hebohnya lagi tentang penetapan Calon Kapolri itu ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karena dugaan kasus korupsi. KPK tentu tidak bisa sembarang menetapkan pejabat sebagai tersangka. Butuh alat bukti sebagai data dan fakta atas itu.

Beberapa hari ini ketika kontroversi atas usulan Budi Gunawan[BG] sebagai calon tunggal Kapolri yang diangkat oleh Jokowi dan hari KPK menetapkan Budi Gunawan itu sebagai tersangka.  Jokowi kembali mendapat sorotan publik atas usung calon tunggal itu. Saya juga jadi berpikir, adakah calon kapolri lain yang memag bersih rekam jejaknya selama menjabat jabatan penting dalam tubuh Polri?

Sudah jadi rahasia umum, kalau elit-elit polisi yang kaya berlimpah harga karena didapatkan dengan posisi jabatan yang menurut kita bentuk tidak wajar. Kita tentu tidak ingin, ada kemudian pengarang atau warga negara Indonesia yang  mengutuk  kapolri menjadi batu karena bersikap tidak jujur dan semena-mena atas jabatannya, sebagaimana sinopsis cerpen tokoh Paktua dalam karya Hamsad Rangkuti yang saya sebutkan tadi. []


05 January 2015

1/05/2015 03:25:00 AM

Cara Kami Rayakan Tahun Baru di Aceh


@ilustrasi  


Aceh, kampung paling ujung dari Pulau Sumatera bagian barat Indonesia. Menyebut kata “Aceh” bagi kalian akan mengingat banyak hal terkait dengannya. Gempabumi dan gelombang tsunami adalah khas paling nyata dari Aceh yang pernah kalian ketahui pasca kejadian amuk air laut, 26 Desember 2004 sepuluh tahun yang lalu.

Baru baru ini Aceh dikenal istilah 3G bagi orang luar: Ganja, Gempa, Giok. Iya batu giok merupakan harta benda paling laris manis dan dicari di seluruh Indonesia. Tetapi kepopuleran giok tidak dapat mengalahkan popularitas Raffi-Gita kawinan. Sedangkan ganja, tentu kalian dari non-Aceh paling suka bertanya atau meminta rempah-rempah itu dari sini, yang terkenal akan lazit dan nikmat melayang luarbiasa. Taukah bahwa ganja itu sebagai obat penenang kala putus cinta paling mujarab dan mudah didapatkan di sini.

Saya pernah sekali waktu SMA ke kebun ganja yang luasnya 5 kali lapangan sepakbola. Menikmati pemandangan yang tidak dapat dilupakan seumur hidup. Menghisab ganja di Aceh seperti kalian meminum wine atau minum air keras oplosan. Barang haram itu begitu mudah didapatkan di sini. Ngak percaya? Datanglah sekali kemari, saya akan ajak serta ke kebunnya.

Aceh juga tak kalah terkenal dengan kopi, warung-warung kopi disni lebih banyak dibandingkan jumlah mall di kota-kota Jakarta. Kami setiap hari duduk di warung kopi, bahkan sehari bisa mencapai 4 tempat pindah-pindah warung kopi. Klaim watak pemalas dari kalian tentu saja ada, sebagaimana itu pernah dikritik oleh Susi Pudjiastuti Menteri Pengembom kapal ikan pada sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, 19 Desember lalu. Susi sang Menteri sebutkan bahwa: “kalau kita minum kopi sehari 3 jam, mungkin bisa dikurangi 1 jam saja. Yang 2 jam dipakai untuk bekerja”

Susi tidak pernah survey jika waktu yang lama minum kopi sebagai mana tradisi orang Aceh digunakan untuk hal-hal yang positif. Hal-hal semisal kerja-kerja politik, kerja design dan berbicara program apa saja paling banyak di warkop. Dan, pengunjung warkop yang duduk lama-lama itu biasanya berstatus jomblo, sebab kalau yang pacaran pasti bakal memilih kafe-kafe yang gelap-gemerlap. Di Aceh juga ada kok, cafe remang-remang.

Malam kemarin adalah tahun baru. Tidak ada perayaan tahun baru di kota syariat ini, sebagaimana lazim kalian yang lakukan setiap pergantian tahun baru. Melewati malam tahun baru bersama pacar kaian atau pacar orang lain. Kota Banda Aceh dilarang perayaan tahun baru, sesuai dengan instruksi pemeritah kota beserta krunya untuk menjaga supaya tidak terjadi hal-hal yang melanggar syariat. Maka jangan heran, kalau oplah penjualan kondom di Aceh pada malam tahun baru tidak meninggkat sebagaimana di tempat kalian di luar Aceh.

Ohya, kampung kami juga dilarang zikir, tausyiah atau perayaan dalam mengenang tahun baru. Hal hal pengumpulan massa dilarang dan tidak boleh dilakukan. Jelang jam 00.00 kemarin juga terjadi siaga para anggota polisi syariat di sudut-sudut kota untuk mencegah jika sewaktu waktu ada warga yang membakar mercon atau membakar kembang api. Sebab menurut kaum cerdik pandai pemimpin kota kami, anggap perayaan sambut tahun baru itu bukan budaya sebagai islam.

Maka kami yang muda-mudi ini juga ramai tidak sepakat dengan larang itu. Larangan soal perayaan tahun baru itu dianggap sebagai cela dan perbuatan paling jahat. Tentu saja kekhawatiran pemkot itu bikin kami cuma bisa merepet di media sosial, jika kurang ajar melawan: maka siap-siap saja dituduh anti syariat.

Huft. Larang itu bikin kami sebentar melupakan tentang hal hal jalan yang berlubang di sudut-simpang kota. Kami jadi lupa tentang air PDAM yang macet, tentang listrik sering mati. Tentang lahan parkir yang jarang ditertibkan oleh pemerintah kota. Kami jadi melupakan tentang lampu jalan yang tidak berfungsi, tentang jalan yang kerap tergenang air kala hujan dan segala banyak jenis pelayanan untuk publik lainnya.

Ahai, mana lebih hebat kampung kalian dengan tempat kami. Kami disini tidak ada bioskop, beberapa dari kami pernah melakukan serangkaian lobi-lobi gaib supaya bisa ada sebuah bioskop di kota syariat ini. Tapi lagi lagi itu dituduh bakal terjadi sebagai tempat mesum bagi kaum yang sedang pacaran.

Maka saya sejak lama memilih jomblo bukan karena tidak mendapatkan pacar atau tidak ada wanita yang sanggup saya goda bin gombal agar jatuh hati pada saya. Bukan itu. Tapi saya memilih jomblo karena ingin mengurangi tugas-tugas polisi syariat agar mengurangi tugas mereka dalam melakukan razia. Itu saja sih! [warkop BJ, 1 januari 2015]

04 January 2015

1/04/2015 08:01:00 AM

LONG STREET OF MEMORY With Romlah

Foto @FahroelBekmob 
Sejak siang Romlah mogok, bocor ban. hingga harus dorong ke bengkel dari rumah. jaraknya 1KM lebih. Ban itu di tempel, lalu jalan hingga ke Lampriet. Sampai disana ternyata sudah bocor lagi, terpaksa ban dalam harus diganti. Setelah selesai, saya ke Alue Naga. Hampai di sana bertemu teman-teman yang sedang memancing. Jelang magrip, saya memilih memancing sambil narsis ambil foto.
Beberapa teman ingin foto sama Romlah dengan latar senja yang perlahan malu-malu menghilang. Cerita senja, saya selalu ingat cerpen Seno Gumira Ajidarma ; Sepotong Senja Untuk Pacarku. Cerita seorang kekasih yang mencuri senja untuk diberikan kepada kekasihnya. Sangat romantis sekali. Sila google cerita itu.

Karena ramai yang naik ke atas Romlah untuk ambil foto, ternyata dudukan kain gas motor bergeser, akhirnya macet kabel gas. Romlah mogok, tidak bisa hidup. Saya perbaiki perlahan dengan kemampuan. Azan magrib berkumandang. Romlah tetap mogok, tidak bisa hidup sama sekali. Saya beruntung dan berterimakasih banyak sama Fahroel Azmi yang membantu dorong Romlah hingga ke Darussalam untuk dibawa ke bengkel. Ada malu juga sih, masak saya yang kuliah di Teknik Mesin, ngak bisa perbaiki motor. Kebiasaan kalau mogok memang perbaiki sendiri. Semampu, kalau sudah ngak bisa/hal teknis, baru dibawa ke bengkel.

Romlah saya masih menggunakan energi dari baterai, jadi kalau tidak ada percikan api di busi, maka Romlah tidak akan hidup. Stok kunci + busi sirap di garasi kecil selalu tersedia. Maklumlah, motor tua ini memang penuh sering ngambek, saya belajar banyak tentang sabar bersama Romlah. Motor ini bukan untuk kalangan anak mami. Saya bersama Romlah telah menjani hidup bersama 10 tahun sudah. Bica cek disini [Sepuluh Tahun Bersama Romlah]
Romlah Ganti Ban Dalam | pribadi

Dari Alue Naga akhirnya sampai di sebuah bengkel yang buka pada malam hari. sampai di bengkel, si tukang belum sempat pegang Romlah. Saya memilih utak-atik sendiri tali gas itu. Dan akhirnya bisa diperbaiki kembali oleh saya sendiri. Huft. Inilah hidup, hal-hal yang kita percayakan bisa dikerjakan oleh orang lain. kadang bisa mengerjakan sendiri, waktu mogok di Alue Naga. Saya sempat panik, karena jelang magrib. Terimakasih Paling top buat Fahrol, atas kesempatannya membantu dorong Romlah. Suatu kala, kita akan mengenan ini sebagai LONG STREET Of Memory [Sepanjang Jalan Kenangan] with Romlah. Romlah, mudah-mudahan ada seorang gadis yang mau kita bonceng, hidup bersama-sama ke depan bersama kita. Dalam suka dan duka, dalam mengarungi sisa umur di dunia ini sebelum nyawa kembali kepada Yang Maha Kuasa. Insya Allah.[]