KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (70) BERITA MEDIA (47) CATATAN HARIAN (47) GoBlog (12) PUISI (11) CERPEN (8)

30 April 2014

4/30/2014 08:24:00 AM

Warung Kopi atau Warung WiFi?


Anda seorang penikmat kopi? Rasanya belum lengkap jika Anda belum menyeruput nikmatnya racikan kopi saring Aceh. Bicara soal Aceh, tentu saja tidak luput membicarakan citarasa kopi yang di seduh dalam gelas khas berbentuk kerucut di Aceh. Cara yang paling umum kita temukan di warung-warung kopi Aceh adalah dengan cara kopinya yang disaring.

24 April 2014

4/24/2014 02:35:00 AM

NEWS | NU Aceh Luncurkan Media Warga Nahdiyin

Banda Aceh, NU Online -  Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama Aceh (PWNU Aceh) telah memiliki situs resmi yang dapat dijadikan sebagai media untuk menyebarkan dan mendapatkan informasi, bagi warga NU Aceh diharapkan aktif untuk mengakses situs ini. Demikian disampaikan Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh Tgk. H. Faisal Ali sebuah kesempatan di kantor PWNU Aceh pertengahan April 2014 lalu.

14 April 2014

4/14/2014 02:24:00 AM

ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku

Review ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku oleh Muhadzdzier M. Salda
ASUS X201E, tampilan tipis, ringan, modis dan nyaman
Saya akan menceritakan pengalaman saya menggunakan ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku. Saya akan berbagi keunggulan bagi yang ingin memiliki laptop keren dan modis, harga yang murah tapi bukan murahan.

5 April 2013, setahun yang lalu saya akhirnya bisa memiliki notebook terbaik pribadi pertama kalinya seumur hidup. Seminggu sebelumnya saya mencari tau segala informasi tentang jenis laptop yang bisa saya gunakan untuk keperluan kuliah saya di pascasarjana Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh dan kebutuhan saya sebagai penulis.

07 April 2014

4/07/2014 09:29:00 AM

Anak Komunitas, Kalian Mau Apah!?

Sebagai yang muda, saya tentu menyambut positif hadirnya komunitas-komunitas anak muda dari berbagai latar belakang hobby dan kreativitas di Aceh. Mereka bergerak pada sebuah kesadaran untuk membangun negeri tempat mereka berada demi tanggung jawab sebagai anak bangsa. 
Penting juga sudah banyak para pemuda tanggung yang peduli kekurangan dilingkungannya akan gejala alam supaya bisa seimbang dan saling tolong menolong sesama. Mereka bergerak jadi relawan untuk menyadarkan orang lain, ya semisal mereka tidak ikut mengutuk pada nasib bangsa yang sudah buruh begini rupa.

04 April 2014

4/04/2014 03:28:00 AM

Gampong Saya, Jauh Sekali!

Opini Harian Aceh, Akhir Tahun 2008 |
Boleh disebut saya termasuk seorang yang beruntung terlahir sebagai anak dari gampong. Gampong sejuk dengan tatanan sosial masyarakatnya yang sangat santun dan bermoral dalam berinteraksi sesama. Rasa kepekaan terhadap segala permasalahan sosial seperti pada umumnya gampong-gampong di Aceh lainnya. Menulis gampong, pikiran saya tidak terlepas dari kenangan masa kecil saat bersama teman-teman sebaya.
4/04/2014 03:19:00 AM

Aceh; Kali ini Soal Ngangkang


KETIKA isi pidato Suadi Yahya, Walikota Lhokseumawe pada malam pergantian tahun 2012 ke 2013 di Lapangan Hiraq Lhokseumawe heboh dimedia sehari seterusnya, saya membaca berita itu di media online  disebuah warung kopi. Rasa kopi dalam gelas saya tiba-tiba jadi pahit rasanya.

26 March 2014

3/26/2014 02:50:00 AM

DIJUAL BUKU: ACEH DI MATA DUNIA

Dalam Pengantar Bukunya “ACEH DI MATA DUNIA” DR. Hasan Tiro Menulis "Bagaimana Aceh melihat diri sendiri sebagai Aceh? Inilah sebuah pertanyaan besar untuk bangsa Aceh sekarang yang harus kita pahami. Jawaban pertanyaan ini sangat menentukan nasib Aceh, nasib generasi selanjutnya dan nasib Aceh di mata dunia. Jika kita melihat diri kita sebagai sebuah bangsa yang hina, lemah, tidak mulia, ditipu, diperintahkan oleh orang lain, menyembah bangsa lain dan menerima perintah orang lain yang datang ke Aceh, maka kita akan hancur. Nama Aceh akan hilang, menjadi jajahan orang lain dan budak bangsa lain"

Baca juga tentang review buku ini di blog Reza Mustafa

25 March 2014

3/25/2014 07:56:00 AM

Jokowi Pemimpin Pengkhianat!?


Saya warga negara Indonesia, lahir dan besar di ujung pulau Sumatera, tepatnya di Aceh sejak 32 tahun yang lalu. Saya tidak setuju dengan bakal calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang dengan resmi telah memberikan mandat kepada Jokowi (Saat ini Gubernur Jakarta) untuk dicalonkan sebagai Presiden dari PDIP. Kenapa?

Anda boleh setuju atau menolak dengan sikap saya ini, sebagai warna negara Indonesia, tentu sah-sah saja memberikan sikap terhadap calon presiden yang akan datang. Ini kan negara demokrasi.

PDIP yang mencalonkan Joko Widodo tidak jauh jauh hari mempersiapkan calon presiden dari partai mereka. Jokowi yang sejak tahun 2012 lalu menang sebagai Gubernu DKI Jakarta pernah membuat janji untuk tidak meninggalkan masa jabatanya sebagai selama menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Lalu apa yang terjadi sekarang ini? bagi saya, Jokowi adalah seorang pemimpin dan kader partai yang pengkhianat, yang meninggalkan amanah rakyat di DKI Jakarta. Dalam politik tentu apapun ada alasan Jokowi di usung untuk selamatkan kondisi Indonesia dan kepentingan perolehan suara PDIP jelang pemilu legislatif 9 April nanti.

Alasan saya menolak Jokowi sebagai Capres sederhana saja: kalau dia sudah berniat maju sebagai presiden, harusnya dulu tidak usah maju sebagai calon Gubernur Jakarta. Andai saja dia telah memimpin Jakarta 3 tahun, tentu tidak terlalu menjadi persoalan ketika dia meninggalkan jabatannya selama ini. artinya dia sudah meletakkan pondasi visi dan misinya sebagai Gubernur bagi Jakarta. Sebagaimana dulu ketika di jadi Walikota Solo. Jokowi telah memimpin lebih dari 50 persen sisa masa periode.

Saya melihat PDIP dalam hal ini tidak serius dalam menyiapkan calon presiden yang akan mereka usung nantinya. Maka inilah yang saya sebut Jokowi sebagai pemimpin pengkhianatan yang tidak amanah. dia telah mengkhianati warga DKI yang menaruh harapan besar untuk membangun Jakarta.

Jika terpilih sebagai presiden nantinya, Jokowi tak lebih sebagai presiden boneka ketua umum PDIP. Dia tak lebih akan jadi robot yang siap menjalankan bisikan dari Megawati sebagai ketua Umum PDIP. Jokowi pernah berjanji jika terpilih Jokowi janji tuntaskan masa jabatan di DKI Jakarta. Lalu apa yang terjadi dengan sikapnya sekarang ini. dia telah menelan ludah sendiri.

Yang kedua adalah, sebagai Aceh tentu saya tidak bisa melupakan -dan ingatan banyak orang Aceh pada tanggal 19 Mei 2003. Tanggal itu Provinsi Aceh ditetapkan sebagai Darurat Militer (DM). Waktu itu Megawati Sukarnoputri sebagai Presiden RI, Menkopolhukan Susilo Bambang Yudhoyono. Tepatnya pada malam tanggal itu, semua pasukan aparat keamanan dan kendali Gubernur Aceh -waktu itu Gubernur Abdullah Puteh- di bawah kendali Penguasa Darurat Militer Daerah, Mayjend Endang Suwarya sebagai Panglima Daerah Militer (Pangdam) Iskandar Muda. Aceh dipimpin oleh militer, segala keputusan berada di tangan PDMD, Gubernur di bawah kendali sang Jendral tersebut.

Pada tahun 1999, rakyat di Aceh juga tidak boleh lupa dengan janji dari Megawati ketika dia berpidato di mesjid raya banda Aceh:

"Untuk saudara-saudaraku rakyat Aceh yang sangat saya cintai, jika "Cut Nyak" kelak memimpin negeri ini, tidak akan saya biarkan setetes darah-pun tumpah di Aceh, yang amat besar jasanya untuk republik ini." baca di jumpueng blogspot.com

Bagaimana damai Aceh jika saja PDIP yang jadi penguasa di Indonesia? Saya tidak berani memprediksi macam-macam. Kita lihat saja nantinya. Toh juga Jokowi tidak bisa dipegang ucapannya yang tidak amanah pada warga DKI Jakarta yang telah percaya memilih dia sebagai pemimpin mereka.

Kalau ditanya siapa Presiden yang paling tepat memimpin Indonesia. Saya harus menjawab bahwa sosok Anies Baswedan layak dan pantas jadi Presiden RI ke -7. Anies dengan ide dan gagasan dalam yang cukup memukau yang saya nonton/baca diberbagai media, cukup punya alasan yang kuat jika saya menginginkan Anies Baswedan jadi Presiden. Anies saat ini sedang mengikuti konvensi Partai Demokrat, apakah akan memenangkan konvensi dan apakah sang Rektor Termuda Universitas Paramadina tersebut akan diusung oleh Partai Demokrat? Ini jadi kekhawatiran saya.

Lalu ada banyak capres lain yang muncul dan digadang-gadangkan dimedia. Tetapi dari semua itu, cuma Jokowi dan Prabowo merupakan dua kandidat yang lebih kuat. Jika Anies Baswedan tidak menang konvensi dan tidak ada partai yang mengusung beliau. Maka saya lebih memilih mendukung Jokowi dibandingkan Prabowo yang berasal dari militer!. Dan berharap, Jokowi akan dipasangkan dengan Abraham Samad, atau Mahfud MD atau seperti yang beredar isu dengan Yusuf Kalla, Ryamizad Ryacudu (mantan KASAD era Megawati) atau dengan Hatta Radjasa? tapi Hatta Radjasa bisa jadi akan berkoalisi dengan Demokrat. Secara SBY dan Hatta besanan. Bisa jadi akan ada koalisi cinta. Kita tau, Yusuf Kalla punya peran penting terhadap perdamaian Aceh. Kita lihat nanti, gimana hasil pemilu legislatif 9 April 2014.

Sosok Jokowi memang paling disukai oleh rakyat Indonesia saat ini. dia membangun komunikasi ala wong deso, ceplas ceplos dan tidak bergaya elit sebagaimana umumnya pejabat di Indonesia ini. dia juga dibesarkan oleh media massa dengan hal hal yang unik, sikapnya yang santun dan gaya bicara yang mencoba seolah olah dia adalah seaorang yang benar benar merakyat[Sambil Buang Suntuk disebuah warkop, 24 Maret 2014]

18 March 2014

3/18/2014 07:22:00 AM

Membaca Sikap Risma

@net

Jelang pemilu legislatif (pileg) 2014, berbagai terpaan isu dan wacana mencuat dari partai politik, menarik simpati dari rakyat sebagai pemilik mandat kekuasaan tertinggi di Republik Indonesia. Serangan untuk parpol tidak saja terjadi dari luar partai, tetapi juga dari internal partai sendiri. Berebut simpati dari atas dan kalangan bawah.  Sikap partai politik yang saling serang dan salahkan partai lawannya tentu lazim terjadi. Belum selesai kasus tentang ketidakbetulnya pelantikan Wakil Walikota Surabaya dan Wacana mundur Walikota Surabaya mencuat isu sadap Gubernur DKI Joko Widodo dan sadap di rumah Megawati Sukarnoputri, Ketua Umum PDI-Perjuangan. Isu itu digemborkan ke media oleh Tjahyo Kumulo, Sekjend PDIP.


Apakah isu sadap-sadap itu erat kaitannya dari sikap elit PDIP untuk mengalihkan isu Risma mundur dan dizalimi oleh petinggi PDIP di Surabaya? Jika saja Risma mundur, maka besar kemungkinan akan berbahaya bagi perolehan suara PDIP pada pemilu legislatif 9 April 2014 nantinya. Publik hari ini sudah berpihak kepada Risma. Risma sedang melawan “Banteng Surabaya.”

Liputan Majalah Tempo Edisi 17-23 Februari 2014 tentang wacana mundurnya Walkot Surabaya Tri Rismaharini yang blak-blakan menyebutkan ketidak beresan dalam pemilihan hingga dilantiknya Wakil Walikota Wishnu Sakti. Berbagai media mengulas berbagai sisi soal kenapa Risma mewacanakan mundur dari jabatannya sebagai Walikota Surabaya. Dari soal Risma yang tidak menyetujui pembangunan jalan tol di kota Surabaya, hingga tekanan politik dari berbagai pihak yang memaksakan kepentingan politknya. 

Risma lahir dari kalangan birokrasi. Jabatan terakhirnya sebelum terpilih sebagai Walikota adalah Kadis Kebersihan dan Pertanaman Kota Surabaya. Risma dicalonkan sebagai Calon Walikota berpasangan dengan Bambang DH, Walikota Surabaya periode sebelumnya. Mereka diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Pasangan ini terpilih sebagai Wali-Wakil Walikota Surabaya dengan perolehan suara mencapai 38 persen lebih. Mereka dilantik akhir tahun 2010.

Kabar mengejutkan pada pertengahan 2013, Wakil Walikotanya Bambang DH mundur karena mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Jawa Timur pada akhir 2013 lalu.

Risma bukanlah seorang politisi, alumni Jurusan Arsitektur Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) itu menjadi Pegawai Negeri Sipil di Surabaya. Dari situlah karirnya untuk dibangun hingga sekarang ini menjadi Walikota. Karya-karya nyata berpihak pada kota dan warga cukup signifikan dilakukan ketika ia menjabat sebagai Kadis Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya.

Kesuksesan Risma yang merakyat menarik disimak dan menjadi inspirasi untuk pemimpin kota lainnya. Pekan lalu itu ia terpilih sebagai Walikota terbaik dunia dari lembaga international, The City Mayors Foundation sebagai Mayor Of The Month February 2014. 

Awal Februari lalu. Mata Najwa, Sebuah acara talkshow isu-isu politik dan pemerintahan di Metro TV yang dibawakan oleh Najwa Shihab mengundang Risma sebagai narasumber. Risma bicara blak-blakan dan sesekali dia menangis. Tampak berat sekali tekanan politik yang ia terima dari mafia-mafia politik di Surabaya dan Jakarta. 

Risma mencatat sejarah penting di Kota Pahlawan itu, ia terpilih sebagai Walikota wanita pertama sepanjang sejarah Kota Surabaya. Prestasinya yang paling bergengsi menjadikan Surabaya memperoleh penghargaan tingkat Asia-Pasifik dalam Future Goverment Award 2013 dengan menyisihkan 800 kota diseluruh Asia-Pasifik. Ini menjadi prestasi yang cukup menggembirakan bagi warga Surabaya khususnya dan Indonesia secara umum. 

Risma yang blak-blakan membongkar hal ganjil tentang kondisi kepemimpinannya di Mata Najwa, menarik simpati publik via media sosial kian ramai kepada Risma. Risma pernah mau disogok 8 Miliyar oleh orang yang suruhan pihak tertentu untuk melunakkan hatinya menyetujui proyek tol di tengah kota. Dia menolak dan mengusir orang ke luar ruangannya. 

Wishnu Wawalkot Surabaya yang dilantik Mendagri sebagai pengganti Bambang DH diduga cacat hukum oleh Risma. Ada pemalsuan tandatangan panitia pemilihan pada saat pengusulan berkas ke Mendagri. Penetapan Wishnu yang juga Ketua PDIP Surabaya bermuatan politis. Risma tidak diajak berembuk dalam pemilihan itu. Ia merasa tak dihargai. 

Wishnu bukan orang baru di PDIP, darah “bantengnya” telah ada sejak kecil. Wishnu anak dari Almarhum Sutjipto (Mantan SekJend PDIP) tentu saja punya kekuatan yang cukup kuat sebagai anak ideologis mantan petinggi PDIP. Senioritas dan jasa almarhum Bapaknya untuk partai yang masih cukup kuat berpengaruh. Sedangkan Risma baru anak ‘banteng’ kemarin sore. Bukan sepenuhnya sebagai kader PDIP. Ia menjalankan mandat rakyat yang telah memilihnya 3 tahun lalu. Tentu saja banyak pihak pihak yang tidak senang dengan gaya kepemimpinanya yang tidak pandang bulu, setiap kebijakan yang tak berpihak kepada rakyat, ia tak sungkan untuk melawan ‘arus’ kepentingan partai pengusungnya. 

Jika Risma jadi mundur sebagai Walikota Surabaya, ini akan sangat berefek terhadap perolehan suara PDIP pada pemilu legislatif nantinya. Risma telah mendapat simpati publik yang luar biasa akibat pemberitaan media. Si twitter bahkan terdapat hastag #SaveRisma sebagai dukungan publik kepadanya. Beruntung Ketua PDIP Megawati sudah turun tangan mengatasi persoalan kisruh internal partainya. Jika tidak, maka siap-siap PDIP kehilangan banyak suara di pileg nantinya. []

25 February 2014

2/25/2014 05:27:00 AM

Jomblo Aceh, Bersatulah!

ESSAY | Muhadzdzier M. Salda, Juru Bicara Kaukus Jomblo Pembela Syariat, Ketua Dewan Syuro Persatuan Lajang Minoritas (PELAMIN)



Sejak JKA (Jaminan Kesehatan Aceh) dicetuskan pada masa Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan disetujui oleh DPRA (Dewan Perwakilan Rakyat Aceh) pada Juni 2010, inilah program andalan paling bergengsi dari Pemerintah Aceh kala itu. JKA mendapat posisi paling utama diantara program-program masa Irwandi-Nazar yang menjabat masa periode 2007-2012.




Sekitar 5 juta jiwa lebih penduduk Aceh dapat merasakan efek yang cukup luar biasa dari JKA ini. Dana yang dianggarkan untuk program ini juga tidak tanggung tanggung yang mencapai ratusan miliaran rupiah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) setiap tahunnnya. Lalu, bisakah jika Pemerintah Aceh sekarang dibawah Gubernur dr. Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf mencetuskan program Jaminan Mahar Aceh (JMA) bagi pemuda lajang Aceh yang ingin menikah?

Saya memang tidak menemukan jumlah angka yang pasti berapa ratusan ribu para pemuda lajang Aceh yang tidak bisa menikah karena persoalan biaya untuk mahar yang tinggi. Mahar (jeulame) dalam adat turun temurun masyarakat Aceh dikenal lumayan berat bagi jomblo-jomblo alias lajang di Aceh yang ingin menikah. Sebagaimana yang telah kita tahu bersama bahwa untuk dapat menikah di Aceh, seorang lelaki lajang harus membawa mahar berupa emas walau sebenarnya dalam islam tidak disebutkan jenis mahar adalah emas. Yang ditentukan adalah sebuah barang berharga dan barangkali alasan itulah maka emas disepakati sebagai mahar yang “wajib” untuk dipenuhi sebagai syarat untuk bisa menikah. Rata rata bagi pemuda lajang yang ingin menikah di Aceh harus terlebih dahulu menyiapkan emas dengan jumlah yang fantastis untuk “membeli” seorang gadis.

Rata-rata yang terjadi di Aceh, untuk melamar seorang gadis, seorang lelaki harus menyiapkan mahar mencapai angka 10 sampai 20 mayam plus isi kamar dan asoe talam segala perangkat pakaian untuk si calon mempelai wanita. Bahkan ini juga sangat tergantung kepada profesi si perempuan itu sendiri, misalnya dia sudah jadi pengawai pemerintah, dokter, guru dan segala profesi yang terpandang lainya. Besarnya sangat tergantung kepada profesi dimaksud untuk menunjang gaya hidup. Inilah adat dan budaya salah kaprah berada diatas aturan yang telah ditetapkan agama.

Hari ini, harga rata rata emas yang terus melonjak naik. Harga emas di pasar saat ini mencapai 1,8 juta per mayam lebih, maka paling tidak seorang lelaki harus menyediakan uang lebih kurang 40 juta lebih sebagai kebutuhan untuk segala kegiatan pernikahan dan pesta tetek-bengek ini itu. Wow! Bayangkan bila dipakai untuk membeli kopi? Bisa untuk minum satu kotamadya Banda Aceh.

Nah, satu sisi penentuan mahar yang sudah menjadi semacam adat dalam proses meminang gadis di Aceh. Pemuda lajang dari luar Aceh yang ingin meminang gadis Aceh harus mikir duakali. Seorang teman dari Pulau Jawa pernah celoteh kepada saya; “ditempat kami, uang satu juta bisa menikah!”

Tidak ada yang salah memang dalam hal menjaga adat dan budaya ini. Bukankah adat budaya juga tercipta dalam masyarakat secara turun temurun dan itu bisa saja diubah secara perlahan-lahan. Jeulame melamar gadis Aceh memang cukup memberatkan bagi lajang yang tidak ada pekerjaan, sedangkan keinginan untuk menikah cukup tinggi di Aceh. Saya pernah menemukan seorang teman yang telah melakukan hubungan intim dengan pacarnya karena memang kebelet pada persoalan ‘arus bawah’ yang belum sanggup dia ‘halalkan’ di depan penghulu.

Adat mahar tinggi, dari satu segi menandakan bahwa gadis gadis di Aceh itu sebagai sebuah hal yang benar benar dihargai. Tapi segi yang lain juga mesti dilihat jika ini sangat memberatkan bagi pihak laki laki, apalagi dengan harga emas yang semakin hari semakin naik. Sebuah guyonan lawak yang beredar dari warung kopi sesama anak muda lajang menyebutkan bahwa jodoh pemuda lajang di Aceh itu ditangan WH. Jika tertangkap WH biasanya pihak lelaki tidak perlu membayar mahal setinggi yang telah disebutkan di atas tadi. Cukup sebagai syarat rukun nikah saja. Paling-paling dua mayam. Menikahnya di kantor WH karena tertangkap mesum.

Lalu adakah yang salah dalam hal ini, dimana adat yang berlangsung begitu lama di Aceh? Majelas Adat Aceh (MAA) sebagai lembaga yang menjaga dan mengatur adat di Aceh perlu duduk berembuk membahas persoalan ini. Mesti ada Musyawarah Tokoh Adat seluruh daerah di Aceh untuk menemukan titik terang soal mahar di Aceh. Atau sudi kiranya DPRA perlu bikin semacam Qanun Mahar yang mengatur tentang adat mahar ini. Adat kita jaga, lelaki lajang juga perlu dipandang juga. DPRA dan Pemerintah Aceh semestinya perlu membuat kebijakan khusus tentang mahar di Aceh, boleh juga semisal mengeluarkan Qanun tentang mahar di Aceh, jangan hanya ribut soal Qanun pilkada saja yang tentu mementingkan kepentingan perut para penguasa, bagi kami yang masih lajang di Aceh, persoalan di bawah perut juga mesti dipikirkan oleh pemerintah.




Jika saja program Jaminan Kesehatan Aceh sukses bisa dilakukan di Aceh. Bagaimana jika seandainya juga pemerintah Aceh melakukan program Jaminan Mahar Aceh (JMA) di pemerintahan Zaini-Muzakkir. Saya mengusulkan tidak serta merta pihak pemerintah menanggung semua mahar kepada pemuda Aceh yang ingin menikah, karena memang jenis dan takaran mahar di Aceh berbeda beda juga dalam lamarannya. Sangat tergantung kepada profesi si gadis yang dilamar di tiap daerah juga berbeda. Biasanya jika si gadis adalah anak orang kaya dan terpandang, maka mahar akan begitu tinggi patokannya, satu lagi jika si gadis seorang wanita karir dengan profesi yang menyakinkan apalagi sudah menjadi PNS. Maka pihak lelaki siap-siap saja menghabiskan uang puluhan juta hanya untuk sebuah niat yang mulia, padahal mereka sudah saling cinta-mencintai. Kan menikah untuk menyempurnakan setengah agama. Untuk menjaga pandang agar tidak jadi fitnah, daripada mereka pacaran dan berbuat macam-macam hingga terjerumus ke dosa.

Peran Orang Tua
Para orang tua juga mesti tau bahwa menikah itu adalah ibadah, dan jangan karena menentukan mahar yang tinggi, bisa-bisa anak perempuannya jadi  tua tidak kawin kawin. Ini bahaya dan mesti dipikirkan oleh semua orang tua yang sudah punya anak gadisnya yang siap menikah.

Jaminan Mahar Aceh tidaklah sepenuhnya menjadi tanggungan pemerintah Aceh, program ini bisa disama ratakan dalam pengeluaran bantuan kepada lelaki lajang yang ingin menikah. Kalau misalnya pada JKA ditanggung semua biaya sebesar keperluan untuk pasien, beda dengan JMA ini. Semisal semua yang ingin menikah ditanggung sama rata dengan bantuan seharga 5 mayam emas, selebihnya itu menjadi tanggung jawab si lelaki yang ingin menikah itu sendiri. Ini cukup membantu bagi kaum pemuda lajang di Aceh yang ingin menikah. Tapi ini khusus buat pemuda lajang yang belum pernah menikah sebelumnya. Pemerintah Aceh bisa mengucurkan bantuan ini ketika sebulan setelah si lelaki ini menikah; tentu saja membawa buku nikah sebagai barang bukti untuk proses pencairan dana, saya kira dalam hal ini Biro Kesejahteraan Rakyat dibebankan tanggung jawab, atau Dinas Pemuda dan Olahraga. Kenapa tidak?

Jangan dianggap remeh terhadap persoalan ini, bahwa diantara begitu banyak kasus kasus mesum yang tertangkap di Aceh karena mereka tidak sanggup menikah. Melamar dengan “bismillah” tak dianggap, melamar dengan ijazah sarjana juga tak diterima karena memang dimana-mana sarjana berserakan di warkop-warkop di Aceh. Ingat, mahar yang tinggi tidak menjamin pasangan yang menikah itu akan bahagia dan sejahtera.

Kiranya harapan saya mewakili puluhan ribu kaum lajang di Aceh yang tidak/belum mampu menikah, karena persoalan harga emas semakin naik tinggi dan mempertahankan adat jeulamee di Aceh juga dirasakan perlu adanya. Bayangkan jika jomblo-jomblo di Aceh ini bersama dan buat aksi ke DPRA menuntut supaya kebijakan terhadap persoala hajat ‘arus bawah’ jomblo juga mestinya di perhatikan. Bila tidak, sungguh para lajang Aceh dengan jumlah populasi yang semakin banyak, akan melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan nantinya. Orang tua yang ada anak gadisnya juga mesti tidak terlalu berlebihan dalam menentukan mahar anak gadisnya, salah-salah tidak ada yang melamar dan jomblo seumur hidupnya.

Tentu, ini juga persoalan anak bangsa yang mesti kita hindari sekarang ini. Seruan saya kepada seluruh kaum lajang Aceh, mari bersatulah untuk menuntut hal ini kepada pemerintah. Jangan tinggal diam kawan, marilah kita buat luluh hati para calon mertuamu agar tidak mematok mahar buat anak gadisnya tinggi-tinggi. Atau putusin saja gadis yang kamu cintai dan kita cari gadis di luar Aceh!? [tulisan ini sudah pernah dimuat di situs atjehpost.com pada Maret 2013]