KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (70) BERITA MEDIA (47) CATATAN HARIAN (47) GoBlog (12) PUISI (11) CERPEN (8)

15 October 2015

10/15/2015 12:54:00 AM

Mengenang Dr Ir Agussalim, Mantan Purek III Unsyiah



Tahun 2003, saya semester 3, pernah beberapa kali ke ruangnya kala istirahat siang, atau bakda ashar. saya diajak oleh Junelwan (MIPA 98). Saya bergabung di Bursa Mahasiswa Unsyiah, sekretnya di gedung kecil (depan pustaka induk). Pak Agus paling sering bertanya kami: "sudah makan nak?"

pernah ada waktu diskusi dengan kami di ruang PR3, datang mahasiswa dari fakultas lain, sang mahasiswa memakai sandal. Pak Agus bertanya: "kenapa ngak pakai sepatu? kan lebih gagah kalau mahasiswa pakai sepatu" beliau sambil tersenyum. Mahasiswa itu senior di atas leting saya menjawab: "ngak ada uang beli sepatu pak"

selesai urusan, waktu dia permisi. pak agus keluarkan dompet. ia kasih uang ke mahasiswa itu. "Ini sedekah saya, mahasiswa harus pakai sepatu, ngak perlu beli sepatu mahal" abang leting tersebut awalnya menolak, akhirnya mengambil dengan malu2.

Waktu saya SiKAT 2002, Pak Agus menjabat PD1 Teknik, saat itu PD3 Pak Nurdin Ali (TM). Nah, tahun 2003-2008 (Smtr) ganjil inilah Pak Agus mulai jadi PR3, waktu itu Rektor Prof. Abdi Wahab. Pak Darni Daud menjabat  sebagai PR 1. *mohon diralat jika ini salah data.

Tahun 2006/2007 saya jualan rokok di kios becak depan BNI MIPA. Satpam melarang kami jualan di pinggir jalan. Kawan saya anak FE leting 2000. Berkali2 ditegur dan dilarang jualan. Kami akhirnya ke PR3, Pak Agus. Kami sampaikan bahwa "kami adalah mahasiswa unsyiah. Kampus boleh melarang kami jualan di depan BNI. Dengan syarat, SPP kami dibayar oleh rektorat Unsyiah, sampai kami sarjana"

Pak Agus tersenyum. Ia tak menanggapi serius "ancaman" itu. Saya ingat, dia lebih banyak bertanya asal kampung, keadaan kuliah dan pekerjaan orang tua.

Pak Agus minta fotocopi KTM kami, lusa kami disuruh menghadap lagi ke ruangnya. Waktu tiba kami menghadap,  Pak Agus kasih kami surat keramat izin jualan, sebab alasan kami adalah mahasiswa. Dan beliau sangat mendukung kami jualan. surat itulah yang jadi pegangan kami saat datang satpam. Kami jualan di situ sampai akhir 2008.

Saya tidak begitu jauh kenal Pak Agusalim, sebab beliau dosen di Teknik Sipil. Pernah dapat kabar dari radio bergigi, dulu saat beliau jadi mahasiswa, Pak Agus berjualan kerupuk di kantin-kantin kampus, dan ditaruh di warkop. Beliau berasal dari Meulaboh ya, kalau ngak salah? Tetapi, saya tidak tau, apakah latar belakang seorang pemimpin latarbelakang hidupnya dari kaum kelas miskin akan beda cara memimpinnya dengan kaum elit yang sejak kuliah berasal dari keluarga orang kaya? Wallahualam.

Segala amal ibadah Almarhum DR. Ir. Agussalim, M.Sc diterima oleh Allah SWT. Amin ya Rabbi. Al-Fatihah. Saleum, Muhadzdzier / masuk dengan terhormat di Teknik Mesin sejak Juli 2002 s/d Mei 2010.

02 September 2015

9/02/2015 09:25:00 AM

33 Tahun Sudah, dan Hari Setelahnya

at studio Seungkak Malam Seulanyan, Bivak Emperom Markas Kanotbu | Ist
Sejak kecil saya tidak pernah merayakan ulang tahun. Perayaan ulang tahun itu tidak akrab dan dekat dengan suasana hidup saya pada masa itu. Sebagai anak anak  hidup di kampung, ulang tahun tak jadi tradisi kesempatan untuk meniup lilin dan memakan kue tart yang dirancang  khusus ulang tahun, dengan bentuk angka di atasnya. Itu cerita kami kecil dulu. Tetapi sekarang, beberapa keluarga berpendidikan telah melakukan hal itu bagi anak anak mereka. Saya tidak tau, dasar apa yang memperbaharui pola hidup bagi keluarga anak anak ini. Mungkin biar dicap sebagai manusia yang modern ikuti perkembangan zaman.

31 August 2015

8/31/2015 10:55:00 AM

Bukan Mahasiswa Biasa

hanya wisudawan dari Fakultas Teknik Unsyiah, setelah seremonial wisuda universitas naik truck keliling Banda Aceh. /fb: Kaft Teknik

"masuk sama sama keluarnya juga sama-sama. kuliah itu ngak perlu pinter, tapi pinter pinter klean" ini kalimat berulang ulang dari abang angkatan, yang kami dengar waktu SiKAT.

Aku masih ingat pada Minggu pertama masuk kuliah pasca SiKAT, pengantar awal kuliah dari seorang dosen senior: " kalian masuk Teknik Mesin seperti serdadu yang turunkan di rimba belantara. dengan bekal seadanya, kalian disuruh bergerak menuju markas di kota. tak semua bisa selamat, ada yang mati kelaparan, diterkam hewan liar, sesat jalan pulang, waktu yang kalian tempuh beda-beda jalan sampai"

Jangan cengeng. aku lulus tes SPMB pada Pilihan Pertama di Teknik Mesin tahun 2002, setelah tamat STM 2001. Alhamdulillah bisa selesai Mei 2010, 8 tahun termasuk cuti akademik di dalamnya. Masuk Teknik itu susah, keluar (secara terhormat) lebih susah lagi. Aku wisuda saat umur sudah 28 tahun. Perusahaan-perusahaan besar rata rata batasi umur untuk pelamar kerja 25-28. Jangan tanya bagaimana kami jalani jelang masa kritis saat itu. Beberapa kutulis di buku catatan harian Maop. Tak pantas dipublis untuk umum. Cukup sebagai kenangan untuk masa tua jika berumur.

Tahun 2002 saya ingat sekitar 1000 lebih pelamar di jurusan T.Mesin. Dari 130-an yang lulus seleksi (SPMB dan USMU) leting jurusan kami, hanya 40-45 orang yang wisuda di Unsyiah. Selebihnya banyak yang keluar, pindah jurusan, pindah kampus, meninggal, kerja dan lain lain.

Ijazah hanya sebagai legalitas untuk mencari posisi yang sedikit terhormat, sebagai syarat adminitrasi aparatur kantoran. Tak ada jaminan dengan sarjana akan sukses, hanya jalan saja beda dengan yang lain. IPK tinggi klean kadang kala hanya mengantarkan klean sampai di meja wawancara.

Hormati dan sikap beretika pada dosen dan civitas akademik kampus. jadi seperti orang terdidik. jangan anggap remeh adik angkatan dan atau kawan IPK kecil, selepas tamat esok, dia bisa jadi bos tempat kalian kerja. jangan saling menghina kawan yang berasal dari desa, carilah kawan yang benar benar bisa saling bantu. jangan ambil untung saja. ada kawan kawan kalian dengan didikan masa konflik di kampung-kampung penuh suara dentuman bau mesiu. SiKAT jadi bikin kalian sama; aneuk Teknik.

Jadilah mahasiswa, bukan tukang kuliah. sangat ku sarankan nonton film India, 3iDIOT ada banyak hal motivasi di sana tentang jadi mahasiswa.

"Ini adalah Universitas, bukan panci bertekanan. Singa sirkus juga belajar untuk bisa duduk di kursi, hanya karena takut dicambuk. Tapi kita tetap boleh menyebut singa itu terlatih, bukan terdidik" demikian kata  Rancho Ranchordaz, pemeran utama filem 3iDiot yang paling terkenal itu.

bivak, 1 september 2015

16 August 2015

8/16/2015 07:20:00 AM

Surat Keramat Dari Humas Unsyiah




Bulan Februari lalu saya diminta oleh seorang redaksi pihak Humas Unsyiah untuk berkontribusi menulis esaai tema budaya, untuk Majalah Warta Unsyiah. Esai saya "Budaya Mengemis" itu akhirnya dimuat pada Edisi 185/Maret 2015. Sebagai alumni Unsyiah, saya tentu saja senang. Edisi Majalah itu terbit pada April 2015.

Lebih senang lagi, hari ini saya mendapat surat Ucapan Terima Kasih atas dimuatnya tulisan itu + honor sebagai apresiasi jasa menulis essai itu. Selama  ini saya tidak pernah mendapat surat resmi ucapan terima kasih atas tulisan saya ketika dimuat dibeberapa media cetak dan online. Saya memahami bagaimana ribetnya hal yang mungkin saja sepele ini.

Kalau honor, pun harus ambil sendiri ke kantor media tersebut, itupun kadang dengan harus ulang-alik esoknya karena anggaran media tersebut tak ada lagi atau dengan segudang alasan lain. Tak pernah pula dihubungi secara khusus untuk pengambilan honor.

2011 saya pernah alami kejadian buruk dalam menulis. saya pernah meminta tulisan saya yang dimuat pada sebuah situs LSM untuk dicabut, karena sang pengurus LSM itu mencla-mencle soal honor, dan saya merasa ditipu dengan alasan honor tak ada lagi sejak tahun itu. Padahal beberapa teman yang pernah dimuat tulisan tahun itu mendapatkan honor.

Lebih marahnya lagi, sang direktur itu seorang pengajar disebuah kampus, saya langsung marah dengan mengingat kalau saja Mak saya tau, anaknya ditipu oleh seorang dosen, itu sungguh hina sekali martabat saya. Tulisan itu akhirnya dicabut, saya marah dan tersinggung, apalagi sang pengurus situs itupun tak meminta maaf secara baik-baik. Itu kejadian 4 tahun lalu.

Setahun kemudian juga alami hal yang sama dengan sebuah tabloid lokal, saya diminta menulis essai, saya tau disana ada honor lumayan dari referensi teman yang pernah dibayar honor tulisannya, tapi saat ditagih, lagi lagi alasan dengan berbagai hal teknis. Saya memilih tak lagi menagih. Saya akui kalau kualitas tullisan saya belum begitu baik, bahkan masih buruk saat saya baca berulang ulang. Saya sudah ikhlas dengan kejadian itu. Sebagai pengalaman lika liku dalam dunia menulis. Halah!

Hari ini saat surat Ucapan Terimakasih dan apresiasi telah berkontribusi menulis di Warta Unsyiah, saya benar benar tersanjung dan merasa dihargai sekali bagi penulis/kontributor majalah ini. Dari sekitar 30 judul lebih pernah dimuat di media massa sejak 2007, baru ini mendapat surat Terima Kasih. Surat ini akan saya arsipkan koleksi pribadi, mau dibingkai, saya benar benar terkesan atas surat yang langsung ditandatangani oleh Kepala Humas Unsyiah, Dr. rer. nat. Ilham Maulana, S.Si. Saya mengenal orangnya, masih kategori kaum muda, sekali pernah bertemu salaman pada sebuah seminar di FKIP kalau tak salah. Trims atas surat berharga ini, Pak!

Apresiasi balik dan terimakasih saya juga atas surat Ucapan Terima Kasih ini kepada redaksi Warta Unsyiah, Tim/staf Humas Unsyiah. Saya merasa dihargai sekali atas jasa tulisan itu. Saya tau setiap edisi ada banyak penulis/kontributor dengan berbagai rubrik di dalamnya. Dan semua mendapat surat ini seperti saya + lampiran Majalah Warta Unsyiah. Tentu ini bukan kerja sepele. 

Kerja kerja surat kabar dalam menghargai penulis masih sangat kurang sekali terjadi di Aceh khususnya dan Indonesia umumnya. Apalagi sampai mengirim surat begini. Atau saya yang alpa atas informasi ini? Atau juga saya saja yang berkesan sangat dihargai karena sebelumnya pernah 'ditipu' oleh dua kasus pada tahun 2011 itu?  Terimakasih Kembali Humas Unsyiah. Tabek!


07 August 2015

8/07/2015 05:51:00 AM

17 Tahun Lalu, DOM Aceh!

Saat PiasanSeni 2014 di Taman Sari, sebagai Koordinator Stand, saya ikut mendampingi kelompok  siswa salah satu SMA dari Lhokseumawe. Mereka datang khusus untuk melihat acara Piasan Seni, diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh. Mereka didampingi oleh 2 orang guru. Umumnya siswa itu kelahiran tahun 2000-an. Mereka membawa buku, mencatat apa saja hal yang menarik dari hasil amatan saat mereka tanya di setiap stand. itu tugas yang diberikan oleh sekolah. Ohya, mereka datang ke Banda Aceh dengan biaya dari sekolah, info ini saya tau dari guru yang mendampinginya.

Selain siswa itu, Saya tak bertemu ada siswa dari sekolah di Banda Aceh yang datang secara khusus ke sini atas nama sekolah dengan didampingi gurunya. Padahal di sana banyak hal baru yang bisa dipelajari oleh siswa tentang seni, sejarah dan lainnya.

Sebelumnya saya pernah menyarankan ke dinas terkait, untuk mengirimkan surat ke sekolah sekolah di Banda Aceh agar membawa siswanya ke acara piasan seni.  saat jam pelajaran berlangsung, didampingi oleh guru. Kami dari panitia siap mendampingi dan memperkenalkan setiap stand di sana. Ada hal menarik yang sampai sekarang masih membekas kenangan itu bagi saya dan teman teman Komunitas Kanot Bu (KKB), saat siswa dari SMA Lhokseumawe tersebut melihat ada pajangan kaos produksi Geulanceng Trademerk dengan gambar depan sablon KTP Merah Putih.

Saya bersama teman teman penjaga stand KKB menjelaskan tentang baju itu. Beberapa siswa mencatat di bukunya. Saat kami cerita kalau dulu di Aceh ada DOM, seorang dari mereka bertanya: "Apa itu DOM, Bang?" kami semua di stand tercengang, saling menatap tak langsung menjawab. Saya menghela nafas, lalu menjelaskan. Saat itu Reza Mustafa dan Idrus Bin Harun dan teman teman lain dari KKB ikut menjelaskan.

Selesai kejadian itu kami saling berdiskusi soal kejadian ini. Bagi kami ini penting, Reza dan Idrus bahkan menulis essai soal ini dan dimuat di rubrik budaya Minggu, Serambi Indonesia seminggu setelah itu, Juli 2014.

Setelah kejadian itu, kami sempat bikin lelucon. Semacam survey kecil kecilan tentang kondisi siswa kita dalam mengetahui sejarah Aceh. Sejarah tentu saja penting bagi masa depan pembangunan, Aceh. Jangan sampai 100 tahun akan datang, kejadian air laut mengamuk dipenghujung 2004 akan ditertawakan oleh generasi kita kalau tsunami di Aceh hanyalah sebuah cerita dongeng.

Ada banyak fakta sejarah lain di Aceh, semua mesti dicatat dan dijadikan bahan pelajaran bagi anak cicit kita ke depan sebagai penjaga amanat tanah ini, sebagaimana para pendahulu kita menjaganya dari taktik penjajah yang ingin menguasai tanah nenek moyang kita.

Hari ini 17 tahun sudah DOM (Daerah Operasi Militer) dicabut setelah operasi itu berlangsung 10 tahun. Ada banyak korban dari tragedi ini darii berbagai tempat di Aceh. Jumlah korban sekian ribu jiwa dan harta. Mari kita kirimkan Al-Fatihah untuk seluruh korban DOM di Aceh.

Saat kecil saya merasakan dan melihat efek dari DOM itu, saat itu kami kecil tak tau apa apa.

7 Agustus 1998, DOM dicabut di Aceh oleh Pangab (sekarang Panglima TNI) Jend TNI Wiranto, Presidennya RI masa itu sudah dijabat oleh Habibie, pasca Suharto mundur dari Presiden atas desakan banyak pihak. Saya kelas 1 SMA, baru masuk kurikulum dengan wajah culun. Tahun tahun setelah itu kami lebih senang tak masuk sekolah dan memboikot segala hal yang berbau pemerintah. Kami tak masuk sekolah, turun ke jalan mengecat jalan aspal dengan tulisan besar besar: Referedum.

Hari ini 7 Agustus 2015. Hari Sabtu besok 8 Agustus 2015. Saya kira, ada sesuatu yang penting juga terjadi pada 8 Agustus 1998 lalu di Aceh sehari pasca DOM dicabut, dalam doa dan air mata bagi kita yang masih cinta akan Aceh.

Untuk seluruh syuhada Aceh, sebagai Aceh saya ikut bertanggung jawab untuk menjaga tanah ini tetap damai, sehat dan sejahtera selalu. Walaupun "Aceh" tak pernah peduli akan saya. Hormat dan angkat topi  untuk para pejuang yang telah menjadikan Aceh hari terus lebih baik lagi dan lagi. Ingat, pasca kita meninggalkan Aceh, ada generasi penting yang akan mewarisi tanah ini. Ajarkan kepada mereka untuk saling gotong royong, anak anak kita yang kaya raya untuk menghargai dan membantu pada temannya yang miskin. Ajarkan mereka untuk perdamaian Aceh ini terus berlanjut. Saya cinta dan mencintai kalian semuanya, Aceh!


03 August 2015

8/03/2015 10:03:00 AM

Ini Cara Membunuh Rindu



digelapnya jalan pulang, seseorang sedang bersedih berteduh dibalik rintik rintihan hujan. berkali ku paksa engkau keluar dari kepalaku. engkau memang pergi sebentar, lalu kembali. bagimana aku ikuti titahmu, sedang aku masih ragu. .

setiap datang sebuah kepergian, kita selalu jadi paham akan makna kehilangan. ia tak kuasa melawan. dari jauh bentang dan jarak, seseorang mendoakanmu agar selalu dekat dgn mereka yg kau cinta. dan sampailah pada masa engkau memilih: terluka, sekali lalu selesai atau tersiksa, berkali dan tak berhenti.


aku rela di penjara, bahwa membunuh kerinduan padamu adalah sebuah pelanggaran kemanusiaan. kemarin teringat: engkau jadi seseorang yang sangat kukenal tapi tak bisa kumengerti bagaimana mungin ada hati yang luka.

akhirnya kita ulang; cinta itu dua sisi yg beda, jika tak siap dgn luka, engkau mestinya tak jatuh cinta. sekali masa kita pernah paham, memilih diri sebagai korban atas kebahagian dari mereka. satu hati melukaimu, satu hati melukaiku.

kopi ini jadi tambah pahit, ia terbuat dari tetesan kenangan.

14 July 2015

7/14/2015 04:21:00 AM

Lebaran dan Teror Kapan Kawin



Saya teringat sebuah film genre komedi romantis yang rilis Februari lalu di bioskop. Iya, film “Kapan Kawin” bercerita tentang seorang wanita karir 30 tahun yang sukses sebagai manajer sebuah hotel bintang lima. Wanita itu sudah berumur kepala tiga. Dia belum nikah, menjadi momok bagi kedua orang tuanya. Gadis bernama Dinda (diperankan oleh Adinia Wirasti) jadi galau gundah merana dengan desakan pertanyaan kedua orang tuanya; kapan kawin?

Berkat bantuan seorang teman, Dinda akhirnya menyusun sebuah rencana menyewa seorang aktor teater bernama Satrio (diperankan oleh Reza Rahadian) untuk mengelabui kedua orang tuanya.  Satrio disuruh berpura pura menjadi pacar Dinda yang akan dikenalkan kepada orang tuanya, saat acara perayaan ulang tahun pernikahan Ayah-Ibunya tersebut.

Rencana itu tak berjalan mulus. Akting Satrio yang bagus membuat kagum kedua orang tua Dinda, Satrio dipandang sebagai sosok pria yang pantas dampingi anak gadisnya. Lalu desakan orang tua Dinda kepada Satrio untuk segera menikahi anak gadisnya. Tentu saja Satrio, dalam hal ini digambarkan sebagai karakter idealis berperan menolak tawaran itu.  Kekacauan berakhir karena Satrio bukan pacar Dinda, ia dibayar berpura pura jadi pacarnya. Disini petualangan mengeles seribu lapis langit bikin cerita menarik.

Film Kapan Kawin ingatkan saya pada momen lebaran dan ajang sejenis saat berkumpul bersama keluarga. Lebaran adalah momen bagi ummat muslim untuk saling bersilaturrahmi sesama saudara dan keluarga. Tak peduli iya kaya-miskin atau tua muda, perawan-perjaka, tak ada batasan umur juga. Lebaran sebagai ajang untuk saling berjabat tangan-tatap muka saling meminta maaf atas sikap silap salah dan dosa. Dosa disengaja atau tidak sesama ummat manusia. Tak terkecuali dosa kepada mantan pacar yang pernah menyakiti hati dan perasaannya. Selayaknya momen lebaran dijadikan ajang untuk saling bermaaf-maafan; minal aidil wal faizin.

Dalam setahun, ada dua kali hari raya dikalangan ummat islam; Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Nah, dalam edisi lebaran itulah, seluruh keluarga besar berkumpul saling silaturahmi. Yang jauh mendekat dan merapat ke rumah saudaranya. Para lajang biasanya masih tetap di rumah sendiri atau mengunjungi rumah mantan yang pernah menyakiti hatinya. Minta maaf secara baik baik, mana tau dapat kode lagi untuk diajak balikan. Itulah salah satu berkah hari raya.

Ajang berkumpul keluarga atau yang ke rumah saudara, bagi jomblo yang di rahmati Allah nan soleh/solehah. Jomblo yang mendekati waktu kadaluarsa  tak laku nan lanjut usia. Tentu saja akan tak senang dengan suasana ketika semua keluarga telah berkumpul. Atau saat lebaran biasanya ada ajang reuni halal bi halal teman sekolah. Ajang inilah, jomblo soleh-solehah sudah kadaluarsa lebih memilih tak hadir pada acara reuni teman sekolah. Ia akan minder dan malas hadir untuk menghindar dari pertanyaan klise teman teman sebangku SMA dulunya yang sudah menggendong anak dua atau tiga orang. Tentu saja hal yang menakutkan bagi dia ketika muncul pertanyaan horor dari si teman yang sudah berkeluarga.

Kapan kawin? Suasana langsung hening. Mulut langsung terkunci rapat rapat dengan mata terbuka lebar melongo kepada yang bertanya. Memasang wajah seakan tak tak jelas pada pertanyaan si teman yang sudah beranak pinak itu, seraya balik bertanya; maaf tadi tanya apa? Saat itu kuping langsung pura pura tuli tak mendengar jelas pertanyaan si teman.

Langsung pura pura gila atau meloncat ke kolam renang dan menyelam lebih dalam. Bagi jomblo, pertanyaan kapan kawin adalah hal yang sangat menakutkan dan langsung pura pura lupa diri saat ditanya oleh teman. Saya biasanya lebih memilih menjawab asal asalan, atau menjawab dengan kalimat pesimis akan kawin pada bulan depan.  Selesai? tentu tidak. Mereka masih saja kepo bertanya akan kawin dengansiapa. Sama kambing, emang masalah!
Ketika muncul lagi pertanyaan hari dan tanggal apa, saya langsung menjawab; kalau ngak Sabtu ya hari Minggu. Selesai? Tidak. Saat itu, jadilah pura pura gila tak mengenal diri sendiri dan mengalihkan ke isu lain semisal; “eh anak kamu ganteng ya, ngak mirip kamu. Agak mirip wajah mantan pacar istrinya dulu, jangan-jangan itu saham dia.”

Itu tips dan trik bagi kaum jomblo untuk melakukan serangan balik. Lihat bagaimana wajah temanmu itu, dia akan masam muka dan cemburut minta ditempel ke dinding. Kalau kalian tak percaya, boleh aplikasikan saran saya ini.

Selanjutnya tips serangan balik bagi kawan yang sudah menikah, saat dia bertanya pada kamu kapan kawin? Jika dia sudah menikah dan belum punya anak, maka inilah serangan balik itu. “eh kok belum punya anak? Mandul ya? Atau jangan jangan istrimu masih perawan. Kamu impoten?”

Lalu perhatikan apa yang terjadi, si kawan tersinggung mungkin seperti kalian tersinggung saat lagi duduk ngopi sendirian di warkop, datang mantan pacar bersama pria idaman barunya, sang mantan mendekat ke arahnya dan menyapa. Ini sungguh hal tak asyik dan sangat meresahkan hati dan perasaan.

Lagi lagi kita sebagai jomblo meraih kemenangan di bulan syawal ini. luarbiasa bukan? Kalau perlu pakai serangan yang lebih rasis dan ekstrem. “kalau belum mampu hamili dia, biar istrimu tidur sama aku semalam. Kita lihat apa yang terjadi sebulan ke depan”
Maka kamu akan menang lagi, mblo.

Jadi momentum lebaran tak perlu resah wahai para jomblo yang soleh-solehah dirahmati Allah. Tak perlu takut dengan pernyataan “kapan kawin” sebab cara terbaik menjawab pertanyaan itu adalah dengan siap sedia mencari celah untuk menyerang bagi yang bertanya. Lalu bagaimana kalau pertanyaan itu terjadi saat kumpul antar sesama keluarga besar. Mungkin kamu bisa gunakan cara seperti Dinda lakukan di film Kawan Kawin, dengan menyewa aktor pemain film atau pemain teater. Saran saja sih []

07 July 2015

7/07/2015 04:40:00 AM

Martunis dan Perjuangan Ke Portugal

Martunis Bersama Cristian Ronaldo | facebook Martunis Ronaldo
Saya tak melihat ada peran Pemerintah Aceh via Dispora atas martunis di Sporting Lisbon Portugal. Atau peran KONI Aceh atau peran PSSI Aceh dalam hal ini. Jika ada berarti saya yang tak dapat berita itu.


Lebih lebih lagi tak ada peran Kemenpora atau PSSI ditingkat pusat. Dan anehnya via akun twittwer PSSI mengklaim kalau Martunis adalah binaan PSSI. Ini sungguh lucu dan aneh sekali. Semacam sudah jadi kebiasaan pemerintah, orang orang yang sebelumnya dianggap kurang berbakat, begitu sudah jadi sukses maka ramai orang tang akui sebagai bagian dari perjuangannya.


Martunis punya kesempatan belajar sepakbola jadi lebih baik ke sana berkat beking dan rekom Cristian Ronaldo, pemain Real Madrid Club. CR7 dulunya juga alumnus Sporting Lisbon. Sewaktu di Aceh, Martunis berlatih di sekolah binaan dan pakai sistem latihan dari Real Madrid di Banda Aceh bagi anak anak.


Di balik keberangkatan Martunis ke Portugal, saya melihat ada Mounawardi Ismail (Wartawan Harian Waspada) yang membantu urus keberangkatan Martunis. Bang Muna juga dulunya yang dampingi Martunis sewaktu di HitamPutih, acara talkshow di Trans7 TV. Bang Muna mengantar Martunis sampai di Jakarta. Lalu dubes Portugal untuk RI yang bawa Martunis ke sana. Saya tak melihat ada pejabat/politisi di Aceh yang mengantar dia ke Bandara SIM. Ini padahal kesempatan bagus bagi market pilitical. Ah, sudahlah.


Di sini tampak peran kuat seorang CR7, pemain timnas Portugal. CR7 seorang yang istiqamah, dia komit pada apa yang pernah diucap dulu. Martunis beruntung sekali bisa diundang bergabung latihan di akademi Sporting Lisbon Club, Portugal. Tempat Cristiano Ronaldo dulunya bergabung hingga membesarkan namanya.


CR7, bintang sepakbola dunia, pemain El Real yang fenomenal dan berjiwa sosial tinggi. Beda jauh sama bintang 'ecek-ecek' club lawan el clasico sana yang kurang peka pada manusia dan kemanusian. Makanya rata rata fans doi adalah orang yang tidak berjiwa sosial. Beda sama kami loyalis Real Madrid dan fans ortodox CR7. #HalaMartunis!

28 May 2015

5/28/2015 03:22:00 AM

Seuneubok Seni; Malam Amal Rohingya


foto; reza mustafa

RILIS - Berbagai komunitas yang tergabung dalam Seunebok Seni, akan menggelar Malam Amal Rohingya Selasa, 26 Mei 2015. Bertempat di Haba Café Lampriet, Banda Aceh. Koordinator acara, Muhadzir M Salda, tersebut dalam pernyataannya mengatakan, acara yang digagas bersama ini tidak hanya sekadar acara penggalangan dana. Namun lebih dari itu, acara ini untuk membangun semangat soliditas dan solidaritas antar komunitas agar senantiasa peduli pada siapa saja yang membutuhkan.

“Seuneubok Seni sebagai penyelenggara acara ini adalah forum yang bersifat temporer. Tidak mengikat komunitas secara ketat untuk suatu iniasiasi even amal apa pun” ujarnya Muhadzir yang akrab disapa Maop.

Malam Amal Rohingya berupa penggalangan dana nanti malam akan dikemas dalam bentuk penampilan musik Amroe & Pane Band dan Seungkak Malam Seulanyan yang dimotori Fuady Keulayu.

“Selain itu, musikalisasi puisi dari Komunitas Jeuneurob dan deklamasi puisi Lasykar Syu’ara 227 dari FLP Banda Aceh juga akan ditampilkan dalam acara ini. Dan yang lebih penting akan ada orasi terkini tentang pengungsi Rohingya terkini yang akan disampaikan oleh Nurdin Hasan, salah satu jurnalis senior Aceh yang pernah meliput langsung para pengungsi Rohingya” tambah sang koordinator.

Sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan kepada pengungsi muslim Rohingya yang diselamatkan nelayan Aceh selama dua pekan terakhir, karyawan Rumah Sakit AR Bunda Lubuklinggau, Sumatera Selatan menyumbang sejumlah uang pada acara Malam Amal Rohingya yang diselenggarakan oleh pegiat seni lintas komunitas, Seuneubok Seni, Selama malam, (26/5/2015). Sumbangan diberikan oleh Rahmat (64) warga Lamdingin. Banda Aceh.

Penyerahan uang dengan total Rp5 juta diterima langsung oleh Koordinator Panitia Malam Amal Rohingya, Muhadzdzier M. Salda di sela-sela pagelaran acara. Dalam sambutannya, Rahmat menyampaikan uang sumbangan tersebut diamanahkan oleh kerabatnya di Lubuklinggau Sumatera Selatan, untuk diberikan kepada para pengungsi Rohingya.

“Dulu ketika masih muda, saya sempat merantau ke Lubuklinggau sana. Hingga sampai saya pulang lagi ke Aceh, saya tetap berhubungan dengan para kerabat di sana. Jadi ketika kabar para pengungsi muslim Rohingya santer diberitakan media massa, kerabat di sana yang kebetulan bekerja di RS AR Bunda menghubungi saya, bahwa para karyawan tempatnya bekerja telah mengumpulkan uang sejumlah Rp5 juta untuk disumbangkan kepada para pengungsi Rohingya,” ungkap Rahmat. Malam Amal Rohingya yang diselenggarakan Seuneubok Seni berhasil mengumpulkan sejumlah uang dengan total Rp5.830.000.

Pada even kali ini, Seuneubok Seni menghimpun lintas komunitas di Banda Aceh, di antaranya: Komunitas Kanot Bu, Komunitas Jeuneurob, Komunitas Tikar Pandan, FLP Banda Aceh, geulanceng, Nyanban Kaos, KaosMaop, Bujroe, QIU Manajemen, Aceh Clothing.com, insta_aceh, Desain Grafis Aceh, 94.5 Three FM, AtjehLINK.COM, sumberpost.com, Acehnews.net, acehkita.com, Bandar buku, Haba Cafe, dan PAGE GRAFIKA. sumber: acehkita.com, pikiranmerdeka.co, portalsatu.com, sumberpost.com

04 May 2015

5/04/2015 01:13:00 AM

Mbongnya Orang Aceh



Mbong dalam bahasa Aceh bisa dikaitkan dengan arti sombong dalam bahasa Indonesia. Sifat ini mungkin sebagai watak dan karakter dari orang yang hidup di Aceh. Kesimpulan ini hanya bersifat dari pribadi saya tanpa hasil penelitian ilmiah, hanya (mungkin) perasaan dan pengalaman pribadi apa yang pernah saya rasa saja. 


Di Aceh, sifat sombong kerap jadi sifat paling tinggi dalam kehidupannya. Istilahnya itu dikenal dengan 'mbong'. Ya gengsinya orang Aceh itu besar, dalam hal fesyen, pergaulan, pamer harta dan kesuksesan misalnya. Hingga kemudian hadir plesetan: "untung saya ada mbong, kalau ngak, sudah dari kemarin digigit anjing. Cuma ini anjing ngak berani, karena mbong saya besar" sebegitunya lelucon pernah berbagi kabar dari mulut ke mulut. Saya mendengarkan itu dari seorang teman yang sering kali mengulang-ulang kalimat itu. 


Ada lagi lelucon satir yang pernah saya dengar dalam menggambarkan sifat 'mbong' itu tadi. Cerita bermula pada seandainya ada tumpukan mbong dan uang, sebagai Aceh kerap mengambil 'mbong' dibandingkan dengan uang. Karena kalau uang, bisa dicari dilain kesempatan. Begitu asumsi yang terjadi.


Dalam sebuah sumber tak berkutip dan kerap diulang ulang, sifat sombong ini digambarkan sebagai: "Orang sombong tidak boleh berak sembarang tempat. Karena akan berbahaya kalau kotorannya itu dimakan oleh ayam, maka ayam itu pun akan jadi sombong bersama teman-temannya"


Termasuk dalam hal rezeki, kerja, menikah dan prestasi lainnya tidak mesti sok dan mbong. Punya ilmu, adab dan aqidah kan? Jika engkau percaya rezeki, takdir, jodoh, maut itu bukti hadirnya Tuhan dalam diri dan jiwamu, maka itu akan menghilangkan sifat sombong tadi.


Orang memandang ketika engkau yang terlihat telah sukses, karena ketika berjuang, terjatuh, gagal, mereka tidak pernah tau dan merasakan. Bahkan ketika engkau terjatuh kerap dapat dicaci maki. Ketika sudah sukses, baru kemudian dapat pujian yang begitu luarbiasa. Semoga kita sadar diri dan paham untuk dijauhkan dari sifat sombong ini.[]