KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (68) CATATAN HARIAN (47) BERITA MEDIA (45) GoBlog (11) PUISI (11) CERPEN (8)

12 May 2014

Cerita Sebelum Mou Helsinki

bandarbukuaceh.blogspot.com
Judul Buku      : Jejak Damai Aceh
Penulis             : Boy Abadz
Penerbit           : Bandar Publising, Aceh
Cetakan           : I, Agustus 2009
Tebal               : 150 Halanman
Ukuran Kertas : 11 cm x 17.5 cm


RESENSI NOVEL | Mengamati sebuah perdamaian Aceh seperti seekor anak burung yang baru saja belajar terbang setelah ia dilepas dari sarang oleh sang induknya. Ketika awalnya si anak burung memulai terbang turun bebas ke alam, ada sebuah keraguan di sana. Ia ragu sambil mengepak-ngepakkan sayapnya yang baru saja tumbuh. Melihat kedunia kehidupan sambil memperhatikan sang induk yang samar-samar mengajaknya terbang. Hal yang pertama kali si anak coba lakukan adalah melompat kesatu dahan ranting pohon ke ranting lainnya, begitu seterusnya hingga ia benar-benar memiliki cengkraman yang kokoh untuk memcengkram setiap ranting yang ia tempati.


Ketika ia telah yakin dengan apa yang ia lakukan, maka barulah ia memulai terbang mengikuti sang induk. Walau sekali ada angin yang menghantamnya hingga terjatuh ke menghampiri tanah, si anak burung bangkit dan mencobanya kembali berulang-ulang hingga masa usia ia menjadi tumbuh dewasa. Namun apakah ia benar-benar bisa bertahan hidup dari segala ancaman makhluk lain atau tertembak mati oleh pemburu burung hingga ia menjadi induk dewasa? begitulah damai Aceh hari ini.

Kita tidak boleh lupa tentang perjalanan panjang proses perdamaian Aceh sebelum Mou-Helshinki yang sudah melewati usia 4 tahun lebih. Bahwa sebelum proses Nota Kesepemahaman Helshinki ada banyak cara yang telah dilakukan oleh berbagai pihak sebelumnya untuk menyumpal mulut senjata yang meletus di Aceh dengan kata damai.

Sebagai orang yang pernah berkecimpung dalam proses damai Aceh sebelummnya yang digagas oleh Henry Dunant Centre (HDC) pada tahun 2002, pengarang Novel Jejak DamaiAceh(kisah pergulatan batin aneuk Aceh) Boy Abdaz merekam sepak terjangnya sebagai staf HDC pada masa damai yang berujung Darurat Militer di Aceh setelah gagalnya pertemuan CoHa (Cessation of Hostilities Agreement) di Tokyo.

Kisah berawal ketika Hidayat sang tokoh utama dalam novel ini ditangkap oleh pemerintah hingga diperiksa oleh penyidik. Hidayat yang ragu akan pengakuannya sebagai warga Indonesia dan juga sebagai warga Aceh. Penyidik yang melakukan penyelidikan pada sang tokoh utama itu yang dibuat kelimpungan karena berbagai alasan yang dikemukan Hidayat dalam kancah logika berpikir sebagai orang Aceh. ia bukanlah sebagai orang GAM(Gerakan Aceh Merdeka) tapi semua persoalan konflik dan penindasan yang membuatnya rela menjadi relawan untuk membantu memonitoring proses damai yang sedang berlangsung. Pergolakan batin seorang Aceh bagi hidayat yang miris melihat orang Aceh di dera konflik.

Penyidik yang terus melontarkan pertanyaan seputar kegiatannya sebagai staf pada monitoring damai Aceh saat itu. Ia selalu ditanya tentang kedekatannya bersama orang-orang negosiator dari GAM. Sebagai orang Aceh tentu saja Hidayat punya hubungan emosional yang kuat dengan orang GAM itu. Tapi ia tidak mau mengaku terlibat sebagai GAM karena memang ia bukan GAM. Ini yang tidak di terima oleh penyidik dari Jakarta. kegalauannya sebagai aanak Aceh yang membuatnya harus memberikan alasan yang dapat masuk akal. Hidup dalam tembok penjara sebagai tahanan bersama teman-teman dengan nasib yang sama. Hidayat akhirnya bebas menhirup udara segar dari penjara atas bantuan seorang teman yang berhasil menyakinkan penyidik bahwa ia tidak pernah terlibat sebagai GAM.

Melihat dari inisiatif proses pengarang novel ini saya angkat kedua jempol untuk sang penulis yang masih sangat muda. Anda boleh setuju atau tidak jika di Aceh hari ini sangat kurang sekali penulis yang menulis Novel. Padahal semua cerita seakan tak pernah berakhir setiap hari di Aceh, apalagi Aceh setelah didera amuk air laut dan konflik hingga 30 tahun lebih. Sejarah memang perlu ditulis dari berbagai jenis kelamin tulisan. Entah ia fiksi atau non-fiksi. Jangan nanti sejarah Aceh itu hanya menjadi dongeng semacam cerita rakyat pengantar tidur anak-anak.

Kita tidak boleh lupa akan proses damai Aceh sebelum Mou Helshinki. Ketika gagal pertemuan Tokyo Mei 2003 saat itu, dan itu perlu kita catat dalam sejarah Aceh juga. Bukankah proses damai Mou Helshinki juga mengacu pada referensi proses damai-damai sebelumnya? Ini yang mesti dipahami. Jejak rekam Aceh ketika JSC masih kurang sekali referensi sejarahnya. Sebagai penulis novel pemula, Boy Abdaz telah melakukan sebuah hal kearah itu.

Namun jika dilihat dari segi sastra masih kurang dirasakan dalam novel ini. Saya agak ragu juga menyebut ini novel. Buku ukuran saku ini lebih layak disebut sebagai novelet. Tapi sambil menikmati cerita kita disugukan dengan puisi, setidaknya ada lima puisi yang termaktub dalam novel ini. Dari segi konflik yang terjadi dalam cerita juga masih terasa sangat kurang sekali. Padahal, jika mengacu pada syarat sebuah cerita, konflik adalah suatu hal yang musti dimasukkan dalam cerita semacam novel supaya membuat pembaca ingin mengacu menyelesaikan sampai tamat.

Akhir kata, selamat untuk pengarang buku ini karena telah menambah khasanah referensi sejarah damai di Aceh, kalaupun dalam sebuah cerita realis fiksi. Boy Abdaz telah melakukan sebuah hal merekam sejarah proses damai Aceh sebelumnya. Mudah-mudahan ini juga sebagai tonggak awal pengarang muda berbakat ini untuk menulis cerita-cerita selanjutnya dari berbagai sudut pandang yang berbeda tentunya. [halaman Budaya, Harian Aceh 2011]

No comments:

Post a Comment