KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (68) CATATAN HARIAN (47) BERITA MEDIA (45) GoBlog (11) PUISI (11) CERPEN (8)

02 December 2013

Malam Minggu Calon Penyair

sumber: [Harian Serambi Indonesia Minggu 1 Desember 2013]

Foto: Mardhatillah
MALAM Minggu (9/11) lalu, selepas Isya, sekitar 70-an anak-anak muda di Banda Aceh menjalankan satu kegiatan yang agaknya lumayan asing bagi dunia malam minggu mereka selama ini. Mereka mendirikan sebuah panggung kecil setinggi 30 sentimeter, menempatkan dua kursi putar tak bersandar, ditambah pengeras suara seadanya.

Acara itu berlangsung di sebuah café di kawasan Lampriet, sepelemparan batu dari Kantor Gubernur Aceh, tempat di mana biasanya Komunitas Stand Up Comedy Banda Aceh kerap mengasah bakat melawak mereka. Acara yang digagas oleh sejumlah komunitas kreatif tersebut (Akar Imaji, Forum Sastra Kedai Kopi, Klub Diskusi Kutubuku) mengusung tema: FREEDOM! Malam Puisi Aceh.
Acara malam itu menarik, ketika ada upaya menyeret puisi keluar dari sangkar besi kaum sastrawan. Malam itu yang membaca puisi dapat dikatakan bukan dari kalangan penyair, setidaknya mereka yang selama ini bertahun-tahun berasyik-masyuk dengan puisi dan dunianya yang misterius. 

Tampak dari mereka yang membaca puisi malam itu berusaha melawan perasaan gentar yang terbangun--dan punya daya rusak seperti takhayul--selama ini bahwa, “Ruang baca puisi hanya untuk mereka yang disebut penyair atau paling banter para pembaca puisi yang telah malang melintang di panggung-panggung pembacaan puisi.” Pada Malam Puisi Aceh, umumnya yang membaca puisi adalah wajah-wajah baru, kecuali Akmal van Roem, juara tiga Lomba Baca Puisi Youtube yang ditaja Helvi Tiana Rossa.

Saya sendiri membaca dua puisi karya WS. Rendra, Surat Cinta dan Pesan Pencopet Kepada Pacarnya, diiringi gesekan biola nan syahdu oleh Fuadi Keulayu, seorang tukang hikayat modern Aceh. Pembacaan puisi malam itu berlangsung seperti tadarus, sambung menyambung. Dan para pembaca umumnya memilih puisi-puisi bertema cinta, diselingi puisi kritik sosial karya KH. Mustafa Bisri, seperti  Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana?

Walau agak malu-malu, ada juga yang membaca puisi karya sendiri. Mereka tampil dengan ekpresi dan gaya mereka masing-masing. Terlihat tanpa beban. Dan mereka tidak perlu repot harus mematuhi arahan instruktur atau pelatih sebagaimana yang umumnya terjadi dalam lomba-lomba baca puisi. Seorang remaja nekat membacakan sepotong puisi cinta dan ditujukan kepada seorang gadis pelayan di cafe tersebut.

Mifta Sugesty, seorang mahasiswa psikologi Universitas Syiah Kuala, membaca puisi hasil ciptaannya sendiri: Untuk Apa Kita Kumpul di Sini? Mifta mempertanyakan kepada pengunjung kenapa berada di sini malam itu. Perhatikan penggalan bait puisinya: Untuk apa kita berkumpul di sini?/ untuk membunuh waktu?/ atau menghidupkan jeda?/ untuk apa kita berkumpul disini?/ Sekadar berebut kursi atau sekadar mencuri dengar puisi?/  untuk apa kita berkumpul di sini?/ karena waktu sudah lewat/ lampu masjid sudah dimatikan/ dan kita mendapati diri terseda pengap kota?/ atau kita berkumpul di sini untuk mencari Tuhan?

Jika selama ini puisi adalah milik kaum yang menyatakan dirinya penyair, maka Malam Puisi Aceh dapatlah dikatakan sebagai upaya mengenalkan dunia sastra di Banda Aceh kepada khayalak yang lebih luas, langsung di mana publik menghabiskan waktu senggang mereka.

Kesan bahwa puisi itu agung dan hanya dapat dinikmati oleh sebagian orang  yang sangat paham dengan sastra coba dipertanyakan ulang dalam Malam Puisi Aceh. Memang masih ada keterbatasan sebagaimana kecanggungan yang terlihat jelas. Tapi para pegiat komunitas ini telah membawa pembacaan puisi ke tempat nongkrong yang penuh remaja berdarah panas dan anak gaul kota. Setidaknya puisi-puisi dapat menyejukkan hati mereka, jika bukan membuat mereka tambah membara. Ini setidaknya membuktikan bahwa acara pembacaan puisi bukanlah badut dalam kehidupan masyarakat.

Pembacaan puisi sudah selayaknya keluar dari aturan dan arahan tertentu, kecuali aturan itu merupaka standar perlombaan. Setiap orang bebas tampil di panggung, membawa sebuah puisi, membaca sesuka hatinya sesuai irama yang disukainya. Seperti seseorang bernyanyi di kamar mandi. Suatu saat, misalnya, kita tidak perlu kaget apabila menemukan seorang di kedai kopi, tiba-tiba naik ke atas bangku dan membaca beberapa puisi. Tentu bila seseorang itu punya mental sekeras baja. 

Kita berharap, pembacaan puisi memang harusnya akrab dengan dunia kaum muda. Puisi cenderung dapat mengungkapkan perasaan mereka tentang apa saja, tentang cinta, tentang alam, lingkungan,  kebaikan atau kejahatan pemerintah. Dan apa yang perlu ditekankan, acara Malam Puisi Aceh itu telah menolong para penyair dengan membuat puisi bukan lagi sebagai makhluk asing. Selamat bergabung dalam dunia sastra para calon penyair muda.  (*)

* Muhadzdzier M. Salda, tinggal di Lamgapang. Jamaah Forum Sastra Kedai Kopi

2 comments: