KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (70) BERITA MEDIA (47) CATATAN HARIAN (47) GoBlog (12) PUISI (11) CERPEN (8)

29 March 2017

3/29/2017 11:15:00 PM

HFN 2017: Melihat Nusa Tenggara Timur di Gampong Nusa


Merayakan Keberagaman Indonesia dilakukan dengan banyak cara.  Hari Film Nasional 2017 yang jatuh pada tanggal 30 Maret diperingati secara meriah dan sederhana oleh masyarakat Gampong Nusa, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Sabtu malam, 25 Maret 2016. Sebuah layar tancap yang didirikan seukuran seperempat lapangan futsal, tepatnya di halaman Meunasah desa setempat.

Acara itu terlaksana atas dukungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerjasama dengan Aceh Docomentary serta beberapa lembaga terkait lain. Malam itu, penonton umumnya dari warga gampong Nusa dari usia anak-anak, remaja, pemuda dan kaum ibu-ibu dan tetua gampong saling berbaur khusyuk menonton film berlatar belakang adat dan kondisi sosial masyarakat yang jaduh dari gampong mereka, Nusa Tenggara Timur.

Penonton juga datang dari warga Banda Aceh. Saya melihat beberapa teman teman komunitas muda kreatif duduk berbauar dengan warna ikut meramaikan ‘bioskop keliling’ itu. Jarak tempuh ke kampung Nusa dari Banda Aceh sekitar 20 menit perjalanan berkenderaan.

Gampong Nusa di Aceh Besar tidak asing bagi banyak pegiat pariwisata di Aceh, sejak beberapa tahun akhir ini menjadi kawasan wisata berbasis swakelola warga setempat. Bersama pemuda gampong, mereka mendirikan Lembaga Pariwisata Nusa (LPN) sebagai tempat untuk mengelola dan membantu para tamu wisata yang ingin berkunjung dan menikmati suasana kehidupan ala masyarakat desa. Bagi yang belum bertamu ke gampong Nusa, tidak ada salahnya mencoba Asyiknya Pesona Wisata Desa ala Gampong Nusa dan temukan keramahtamahan sambutan masyarakatnya.

Sejak lama, LPN ini telah menjadi wadah baru masyarakat dalam menjadikan desa mereka hingga dikenal ke banyak masyarakat luar. Selain LPN, warga Nusa sudah menyediakan Bank Sampah yang dikelola oleh Nusa Creatif Community, di mana setiap minggu para anak anak desa bisa menabung sampah dan mengolahnya menjadi barang yang berharga bernilai ekonomis.

Masyarakat gampong Nusa, sebuah desa di kecamatan Lhoknga Aceh Besar dengan nuasana alam dan pemandangan pegunungan hijau sejauh mata memandang. Sungai kecil mengalir air nan jernih, jika sore hari, anak-anak kerap bermandi di sungai ini. Area persawahan luas sebagai tanda jika warga di sini umumnya sebagai petani.

Kondisi itu tentu saja berbeda jauh dengan situasi peradaban masyarakat dusun Kerok, Kabupaten Timur Tengah Utara, NTT sebagaimana yang ditampilkan dalam film Aisyah; Biarkan Kami Bersaudara, disutradarai oleh Herwin Novianto produksi tahun 2016 itu berdurasi dua jam.

Film dengan pemeran utama Laudya Chintya Bella ini berlatar belakang sebuah desa di pedalaman NTT. Ribuan kilometer jaraknya dengan gampong Nusa di Aceh Besar. Secara kebetulan nama kedua tempat sama, NUSA; yang satu nama gampong dan yang satu lagi nama provinsi.

suasana pemutaran film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara di halaman meunasah gampong Nusa, Lhoknga, Aceh Besar, Sabtu malam, 25 Maret 2017 | foto Aceh Documentary

Direktur Aceh Documentary, Jamaluddin Phonna dalam sepatah duakata saat menyampaikan sambutan di hadapan ratusan masyarakat gampong Nusa mengatakan, Aceh terpilih menjadi salah satu lokasi untuk memutarkan film-film terbaik guna menyemarakkan Hari Film Nasional 2017 yang puncaknya akan diperingati pada tanggal 30 Maret.

“Sebuah keberuntungan Aceh bisa dapat kesempatan sebagai salah satu lokasi yang dijadikan tempat perayaan HFN 2017. Melalui program pemutaran Film-film terbaik, ini menjadi kesempatan bagi kami di Aceh untuk bisa juga menyaksikan film film yang selama ini hanya bisa diakses di Jakarta,” sebut Jamal, filmmaker yang pernah jadi finalis Eagle Award MetroTV tahun 2011.

Menurutnya, sebuah film akan lebih baik itu bisa sampai ke penontonnya tanpa dibatasi geografis daerahnya. Inilah sesuai dengan tema HFN 2017: Merayakan Keberagaman Indonesia, lanjutnya lagi.

Jamal berharap menonton film ini tidak hanya bisa jadi hiburan semata, tapi juga bisa kita mengambil manfaat dari keberagaman penduduk Indonesia dari berbagai latar suku, ras dan agama untuk saling menghargai.

“Sebagaimana tema HFN tahun ini, Merayakan Keberagaman Indonesia. Semoga nilai keberagaman itu bisa kita petik dari film yang kita tonton,” ujarnya

HFN kali ini, ada 2 lokasi pemutaran film di Aceh; Mini Teater Aceh Documentary, Banda Aceh dengan memutarkan film film pendek terbaik dan di “bioskop keliling” Gampong Nusa, Aceh Besar untuk pemutaran film panjang, Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara”

Tahun 2016 lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan pelaksana kegiatan dari Komunitas Tikar Pandan juga melakukan pemutaran film Sepatu Dahlan di halaman meunasan gampong Nusa, Lhoknga.

Muhammad Khaidir, Pj. Geuchik Gampong Nusa mengatakan pihaknya menyambut baik pemutaran film di desanya. Ia mengajak warga untuk bisa mengambil pelajaran dari film tersebut, tentang bagaimana memaknai keberagaman Indonesia, pesan pesan dalam film itu bisa diterapkan dalam kehidupan sehari hari nantinya.

Film Aisyah; Biarkan Kami Bersaudara berkisah tentang Aisyah (Laudya Cynthia Bella) yang baru saja lulus menjadi sarjana. Ia hidup dalam keluarga islam yang taat, di Jawa Barat. Suatu hari, Aisyah mendapat kabar dari yayasan tempat ia mendaftar jadi pengajar di daerah terpencil. Penempatannya di SD dusun Derok, Kabupaten Timur Tengah Utara, daerah tertinggal dan terpencil di pedalaman Nusa Tenggara Timur.

Dusun Derok tempat yang asing bagi Aisyah, ibunya menentang agar ia tak berangkat, apalagi NTT dikenal sebagai kawasan yang masih jauh tertinggal dari segi pembangunan; tidak ada jaringan seluler, tidak ada listrik, jika kemarau akan kesulitan air bersih. Kedatangan Aisyah ke dusun tersebut sempat terjadi kesalahpahaman dengan masyarakat setempat yang mengira Aisyah dianggap suster Maria, karena informasi yang awalnya diterima masyarakat, guru yang akan mengajar di desa mereka bernama suster Maria.

Kehadiran Aisyah sebagai pendatang baru bagi warga dan murid SD tersebut dibenci oleh salah satu murid, Lordis Defam yang memprovokasi teman sekelas yang ikutan tidak menerima kehadiran Ibu Aisyah yang seorang Muslim, sedangkan penduduk di dusun Derok beragama Katolik. Murid SD itu mengira Aisyah datang membawa misi tertentu. Aisyah beruntung kenal dengan Pedro (Arie Kriting), pemuda setempat yang berprofesi sebagai supir angkutan desa-kecamatan.

Laudya Cynthia Bella sukses memerankan sosok guru Aisyah, dipenghujung alur film ia bisa membawa suasana damai dan dicintai oleh murid-muridnya, hanya saja Lordis masih bersikap benci kepada Aisyah karena Lordis dipengaruhi oleh pamannya yang pernah menetap di Ambon saat daerah itu berkonflik dulu.

Toleransi keberagaman dua kultur yang berbeda digambarkan demikian kuat dalam cerita film ini. Sewaktu Aisyah ingin pulang kampung ke Jawa Barat jelang lebaran tiba, sebagaimana kebiasaan ummat muslim yang ingin merayakan hari lebaran di kampung halaman, saat itu warga tau kalau Aisyah tidak cukup uang tabungan untuk membeli tiket pesawat. Berbondong bondong warga ibu-ibu Dusun Derok mengumpulkan uang untuk membantu Aisyah agar bisa merayakan susana lebaran bersama keluarganya di kampung.

Bagi saya film itu cukup menarik ketika diputarkan di tempat mayoritas masyarakat beragama muslim, biar jadi pemahaman bersama bagaimana saling menghargai perbedaan soal keyakinan sesama penduduk Indonesia, sebagaiman tema yang diusung dalam Hari Film Nasional 2017 ini; Merayakan Keberagaman Indonesia; #SalingKenalMakinSayang []

26 March 2017

3/26/2017 11:43:00 PM

Dari Diskusi Pembunuh Ketujuh

edisi cetak Harian Serambi Indonesia, Minggu, 19 Maret 2017 | @kitabmaop
Ada banyak aspek yang bisa dikritisi dari sebuah buku. Namun, dalam budaya global seperti sekarang, sebuah buku tidak hanya lagi bisa dilihat sebagai basis dari budaya tulis, melainkan juga dari sudur pandang penggambarannya. Apa yang disebut sebagai imagologi.

Dalam kajian sastra citra umumnya dipakai sebagai sarana untuk melihat bagaimana teks mempengaruhi cara pandang pembaca sekaligus membuat pembaca menjadi sadar pada saat yang sama. Tapi berbeda dengan citra, imagologi adalah gambaran yang hadir di luar kontrol pembaca, hasil dari konstruksi budaya, sosial dan politik, yang memasuki alam bawah sadar kita sehari hari, seperti iklan di televisi atau baliho para politisi yang tersenyum di mana seolah olah mereka tersenyum karena mereka ramah kepada kita. Tapi ternyata penampakan gigi putih hasil sotosop itu untuk dana aspiras yang akan meerka tuai setiap tahunnya.

Pendapat di atas saya simpulkan dari pembicaraan Jabbar Sabir, dosen Fakultas Syariah UIN Ar-Raniry, pada diskusi bedah buku sastrawan Herman RN, 23 Februari 2017 di Banda Aceh. Tahun lalu Herman RN menerbitkan buku kumpulan cerpen pertamanya; Pembunuh Ketujuh. Karena sejumlah cerita dalam Pembunuh Ketujuh beberapa diantaranya menyinggung soal syariat Islam, bagaimanapun yang disajikan akan datang berbagai macam reaksi dari pembaca. Dan itu bukan kesalahan penulis. Tapi itu datang dari pembaca sendiri.

Jabbar mencontohkan, akibat akan ada semacam permainan perasaan bagi pembaca, ketika membaca kisah seorang gadis yang hendak dicambuk, di mana tokoh utama dalam cerita ini pikirannya berkecamuk. "Di sini saya menangkap,"tambah Jabbar, "yang jadi pelajaran bagi kita, bahwa mengungkapkan hal hal seperti ini tidak mudah. Penulis harus memadukan keahliannya penulisannya."

Diskusi yang diselenggarakan Bandar Publishing yang menerbitkan buku ini dan Bandar Institute, juga menghadirkan sastrawan Azhari Aiyub sebagai pembicara. Azhari membedah buku ini dengan memulainya darisebuah asumsi. Mengapa manusia menulis cerita? Tentu, menurutnya, kalau pendengar setuju bahwa umur cerita sudah setua ummat manusia. Selama ribuan tahun ada ketidakpuasan manusia terhadap kenyataan sehari hari. Untuk itu manusia membutuhkan bentuk lain untuk bisa bertahan dari kenyataan tersebut. Azhari memberikan contoh, upaya itu misalnya terlihat dari usaha menyatukan antara manusia dengan dunia jin.

Dalam salah salah satu kisah paling tua di dunia, Cerita 1001 Malam, terlihat hampir tidak ada lagi batas antara dunia jin dan dunia manusia. Sementar sehari hari kedua dunia ini hampir tidak bisa disatukan. Jin disebut sebagai musuh abadi manusia dan permusuhan itu akan berlangsung sampai hari kiamat. Tapi dalam kisah yang dikarang pada masa Khalifah Harun al Rasyid tersebut, jin bisa jadi kawan manusia sekaligus musuh.

Tapi persamaannya adalah dalam kisah itu, jin selalu punya peran penting dalam mendorong wacana tentang kemanusiaan. Tapi menurut Azhari, sastra seharusnya tidak lagi beradap tataran wacana, melainkan berada pada lapisan berikutnya. Jika sastra berhasil melepaskan diri dari jebakan ini, ambisi untuk menjelaskna segala hal dan menjaga segala hal, maka pengarang akan menjadi sedikit lebih santai, tidak lagi harus terbebani dengan penilaian benar atau salah.

Selain itu, dalam beda buku dihadiri oleh sekitar 40 orang tersebut, Azhari setuju dengan Jabbar, bahwa tokoh tokoh kumcer Pembunuh Ketujuh terkesan berusaha mempermainkan wacana. Problemnya, hampir rata rata tokoh dalam kumcer ini adalah orang asing yang memasuki suatu persoalan orang lain karena mereka ingin dan nekat.

Tapi problem ini berhasil diatasi pengarang dengan licin, karena pepiawaiannya menggerakkan cerita dan mengatur plot. Dia berhasil mengkoordinasikan unsur unsur yang membentuk sebuah cerita [Serambi Indonesia, Minggu, 19 Maret 2017]

*Muhadzdzier M. Salda, bergiat di Komunitas Kanot Bu dan Pengurus Dewan Kesenian Banda Aceh.

15 March 2017

3/15/2017 03:41:00 AM

Notulensi FGD Pembentukan Generasi Pesona Indonesia di Jawa Tengah



Mewakili Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Wilayah Aceh, saya menghadiri acara FGD Optimalisasi Target Pasar Wisata dan Pembentukan GenPI Jawa Tengah. Acara tersebut berlangsung di Aston Semarang Hotel and Convention Center, 13 Maret 2017. Berikut sejenis notulensi sekilas tentang kegiatan tersebut. 

Semarang - Banyaknya pengguna media sosial dikalangan anak muda Indonesia disambut positif oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI. Melalui Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, menggandeng komunitas anak muda yang aktif di media sosial untuk mempromosikan wisata di daerahnya.

Kali ini, melalui Asisten Deputi Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kemenpar RI kembali membentuk Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Ke-6 di Wilayah Jawa Tengah.

05 March 2017

3/05/2017 05:17:00 AM

Komunitas @iloveaceh dan GenPI Aceh Gelar Kopdar Bersama Puluhan Netizen

@genpiaceh

BANDA  ACEH - Dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-7, Komunitas @iloveaceh berkolaborasi dengan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Aceh menyelenggarakan kopdar bersama puluhan netizen Aceh dari lintas komunitas yang berlangsung di Keude Kupi Aceh Lambhuk, Sabtu, 4 Maret 2017 sore.

Pengelola Komunitas @iloveaceh, Aulia Fitri menyebutkan, kopdar sambil berdiskusi santai itu untuk menjalin silaturahmi dan saling berbagi informasi positif terkait Aceh di media sosial.

"Kopdar #MedsosPositif kita gelar sebagai salah satu agenda dari HUT #7thiloveaceh dan ini menjadi awal baik sebagai bentuk silaturrahmi komunitas dan juga sesama followers," sebut Aulia yang juga Wakil Koordinator GenPI Aceh ini.

Ia menambahkan acara Kopdar #MedsosPositif ikut membahas isu terkait pengelolaan konten positif dan menangkal berita bohong (hoax) di 3 akun media sosial; Instagram, Twitter dan Facebook.

Sementara itu, Ketua Divisi Sumber Daya Manusia (SDM) GenPI Aceh, Reyhan Gufriyansyah, mengatakan kopdar sesama warga pengguna media sosial ini merupakan kegiatan bulanan GenPI Aceh untuk mempererat silaturahmi antar pengguna media sosial di Aceh.

"Kegiatan ini akan rutin kita laksanakan agar menjadi pemahaman bersama untuk menyebarkan informasi positif tentang Aceh, terutama bidang pariwisata Aceh yang merupakan fokus utama dari GenPI Aceh," ujar Reyhan yang juga penyiar di salah satu radio di Banda Aceh.

Acara Kopdar #MedsosPositif dalam rangka HUT #7thiloveaceh turut dihadiri lintas komunitas serta Kepala Biro Humas Setda Aceh, Frans Delian yang  berbagi informasi seputar kehumasan Pemerintah Aceh yang dilakukan pihaknya selama ini.

Frans menyebutkan, sosialisasi beretika internet akan diusulkan agar masuk sebagai kurikulum di sekolah formal dan pesantren atau dayah di Aceh.

Generasi Pesona Indonesia (GenPI) adalah komunitas relawan pariwisata yang dibentuk oleh Kementerian Pariwisata RI untuk mempromosikan kegiatan pariwisata dari berbagai wilayah di Indonesia. GenPI berfokus pada promosi wisata melalui teknologi digital dengan mengoptimalkan penggunaan blog dan media sosial. Komunitas ini lebih dikenal sebagai laskar digital pariwisata Indonesia

[Divisi Humas GenPI Chapter Aceh / @genpiaceh]

14 February 2017

2/14/2017 06:54:00 AM

Hoax Berjamaah




Muhadzdzier M. Salda* 
[sumber: acehkita.com, selasa 7 februari 2017]
 
Adakah yang bisa mengalahkan kecepatan cahaya di dunia ini? Ada. Kecepatan jempol manusia pengguna telepon pintar yang sebarkan berita bohong alias hoax di media sosial.

Di kalangan masyarakat Aceh, pembawa kabar hoax bisa disebut sebagai lalat mirah rhueng. Manusia yang mempunyai sifat suka menyebarkan kabar buruk kepada orang lain, hingga terjadi saling adu domba sesama ummat.

Setiap ada peristiwa atau berita terbaru yang sedang banyak dibahas pengguna media sosial di Indonesia, tak boleh serta-merta dipercaya begitu saja. Kita mesti cek dan ricek untuk memastikan kebenaran, tak sembarang membagikan tautan berita tersebut, diselingi kata ‘mohon sebarkan’ dan atau kata ‘dari grup sebelah’.

Saya percaya bahwa padatnya pengguna media sosial seiring dengan banyaknya produsen peristiwa kabar bohong untuk saling menghasut dan ujaran kebencian antar-sesama. Pengguna media sosial yang tinggi membuat para berkepentingan untuk terus memproduksi berita bohong, saling fitnah dan penuh caci maki.

Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) merilis hasil survei yang dilakukan pada 2016 menyebutkan 132 juta lebih yang mengakses internet di Indonesia. Artinya, lebih dari setengah penduduk Indonesia; 256 jiwa.

APJII menyebutkan, pengguna internet paling banyak diakses melalui telepon pintar layar lunak. Ini tentu sesuai dengan fakta, di mana orang menggunakan telepon pintar yang selalu terhubung ke internet.

Saya mengasumsikan telepon genggam saya dengan berbagai akun media sosial yang saya gunakan, betapa banyak informasi bohong tersebar dan ditemukan dengan mudah di telepon pintar saya.

Bayangkan, jika telepon itu diperas maka yang keluar adalah linggis, senjata, bom, lendir, dan segala cacian atas nama hewan tertentu. Segala makian kepada orang tertentu dan kabar burung dan buruk lainnya.

Padatnya pengguna internet dengan mudah mengakses melalui telepon pintar tak beriringan dengan pengguna yang pintar dalam memilih dan memilah satu kabar berita tertentu. Jika dulu berlaku peribahasa: mulutmu harimaumu, maka sekarang berubah menjadi: jempolmu harimaumu.

Jempol latah demikian mudah membagikan kabar fitnah dan suatu kebohongan lewat akun media sosial yang ia miliki. Pengguna telepon pintar tak selamanya menjadi pintar. Dulu kita harus mencari informasi dengan susah payah. Tetapi, sekarangi tsunami informasi membuat kita harus pintar memilih dan memilah mana yang pantas dan layak dipercaya sebagai sebuah fakta atas suatu kejadian perkara.

Banyaknya situs media siber yang mencari keuntungan dengan target rating tinggi dari pengguna media sosial untuk disebarkan, orang-orang tidak tahu bagaimana kerja-kerja mendapatkan puluhan ribu dolar setiap bulan atas iklan yang diklik oleh pembaca, yang dibayar oleh google adsense.

Jikapun pemerintah telah sepakat menutup situs-situs (terduga) berita bohong, hal itu tidak bisa dicegah dengan mudah. Sebab lebih mudah lagi membuat situs berita sekarang ini. Hanya bermodalkan segelas kopi dan akses internet yang cepat di warung berwifi, kabar bohong langsung mudah disebarkan.

Kita mesti menganalisa berbagai isi konten berita media jurnalistik; baik media siber/maya/online atau cetak untuk mengetahui setiap pemberitaan dengan tema yang sedang viral. Harus banyak membaca berbagai informasi media, sebab tiap media tentu punya sudut pandang pemberitaan sesuai kepentingan masing masing dari pemilik modal atau kepentingan bisnis sang tuannya.

Menjelang pemilihan kepala daerah, media siber berkepentingan dengan setiap judul berita yang akan mereka sebarkan. Tergantung pada kemana arah tujuan ‘sang pemilik’ media untuk menyukseskan sang kandidat yang mereka dukung dan usung diam-diam.

Opini mengarah pada kepentingan politik tertentu tak bisa diabaikan. Saling serang dan rebut lahan pemilih untuk sebuah citra baik sang kandidat yang mereka dukung. Tentu saja ada yang sampai menghantam lawan dalam pertarungan politik jadi isu cukup menarik.

Arus informasi tiap detik peristiwa yang terjadi ke hadapan pengguna layar lunak cukup mudah, semisal anda sedang buang hajat sekalipun. Saat di kakus, anda bisa membaca berita jurnalistik atau terduga berita jurnalistik baik tulisan dan video dengan mudah, bisa mengakses internet demikian cepat tanpa ada hambatan kecuali quota internet anda yang terbatas.

Berita yang anda baca kadang harus dialirkan begitu saja, seiring dengan aliran air bercampur kotoran yang anda buang dengan penuh lega dari balik lubang yang berdekat dengan poros nikmat itu. Kini bagi yang merasa pintar dan merasa bodoh, bagi anda pengguna telpon cerdas dalam memilih dan memilah berita itu selayak dan sepantas mana kabar itu berefek jika dibagikan kepada publik luas.

Sebab, zaman media sosial ini, ‘masuk surga’ saja cukup mudah; tinggal klik ‘like’ dan katakan ‘amin’ saja. Kalimat ini paling sering terjebak para pengguna dengan sebarkan ke beranda mereka.

Kalian yang membaca tulisan ini sampai selesai akan kecewa, sebagai informasi saya menulis ini saat sedang buang hajat di kakus di sebuah warkop yang tak boleh disebut namanya di kawasan Banda Aceh.

Tetapi yang harus diingat, saat omongan tidak bisa dipegang, percayalah bahwa status media sosial bisa di-capture dan disebarkan. Sudah sekian banyak kasus-kasus yang terjerat UU ITE di Indonesia.

Berhati-hatilah dalam gunakan jempol, jika tidak penting, berhentilah menjadi kaum penyebar berita hoax, berhentilah jadi kaum hoax berjamaah.[]

*Penulis adalah pergiat di Komunitas Kanotbu dan bekerja sebagai penjual buku keliling di Banda Aceh.

01 February 2017

2/01/2017 11:29:00 PM

Ho-Jak, RBT Online Karya Pengusaha Muda dari Aceh


Seorang pengusaha muda Salak Pliek-U dari Bireuen membuat aplikasi jasa transportasi online lokal yang bisa digunakan oleh wisatawan dan masyarakat umum. Ho-Jak sekaligus untuk mendukung digital tourism di Aceh.

“Kita melihat bahwa di Aceh kebutuhan terhadap akses tranportasi masih sangat susah, jadi kita buat sebuah aplikasi di mana nanti masyarakat dengan mudah mencari tranportasi yang diinginkan,” CEO Ho-Jak, Khairul Mubaraq di Banda Aceh, Kamis, 2 Februari 2017. 

25 January 2017

1/25/2017 07:40:00 AM

Kini Urus SKCK Baru dan Perpanjang Lebih Mudah

Surat Keterangan Berkelakuan Baik (SKCK) sangat dibutuhkan terutama saat melengkapi berkas lamaran kerja atau kebutuhan lainnya bagi anda. Pelamar kerja biasanya mengurus SKCK karena kebutuhan mendadak dan terburu-buru. Hal ini cukup merepotkan dan merugikan anda, apalagi kebutuhan waktu anda melamar pekerjaan yang singkat. Saya tulis ini berdasarkan pengalaman pribadi.


SKCK diterbitkan oleh Polri melalui Kapolres kabupaten domisi pemohon, untuk masa berlaku 6 bulan sejak tanggal diterbitkan. SKCK dapat diperpanjang, dan prosesnya lebih mudah daripada mengurus baru.

Reformasi birokrasi dalam pengurusan surat di kepolisian sudah cukup mudah. Bahkan sudah bisa dilakukan melalui SKCK Online, tetapi hanya berlaku bagi beberapa daerah kota besar saja.  Sebulan lalu saya mengurus SKCK di Polresta Banda Aceh.  Saya mengurus perpanjang SKCK di  Polresta Banda Aceh sudah cukup cepat, hanya menunggu sekitar 15 menit, SKCK saya sudah selesai.

Polresta Banda Aceh pada Desember 2016 lalu pernah meraih penghargaan Layanan Pembuatan SIM dan SKCK Terbaik di Indonesia dari Deputi Pelayanan Publik Kementerian PAN dan RB. Untuk yang memperpanjang SKCK, agar tidak repot kemudian hari, sebaiknya ingat kapan masa kadaluarsa.Mengingat, kisah saya yang sudah setahun habis masa berlaku, harus mengurus surat rekom geuchik dan kapolsek sejak dari awal. Tentu ini cukup merugikan karena lalai :)

Berikut ini tatacara mengurus SKCK baru :
  • Surat Pengantar/Rekom Geuchik 
Untuk mendapatkan surat dari desa, kamu harus melampirkan Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk. Sebagai bukti bahwa kamu memang warga desa tersebut. Surat dibuat oleh Sekretaris Desa (Sekdes), baru kemudian ditandatangan oleh Geuchik setempat.
  • Surat Pengantar/Rekom dari Polsek
Setelah mendapatkan surat pengantar dari Geuchik/Kepala Desa, selanjutnya mengurus surat rekomendasi dari Kapolsek. Disini kalian harus mempersiapkan berkas syarat, diantaranya:

- Surat pengantar dari Geuchik
- Fotocopy KTP 1 Lembar
- Fotocopy Akta Kelahiran 1 Lembar
- Fotocopy Kartu Keluarga (KK) 1 lembar
- Fotocopy Ijazah terakhir 1 lembar
- Pasphoto ukuran 4X6  sebanyak 3 lembar latar belakang warna merah

gambar direkam tahun 2016 di Polsek Krueng Barona Jaya, Aceh Besar
  • Saat di Polres, Mempersiapkan berkas syarat: 
- Surat Rekomendasi dari Geuchik
- Surat Rekomendasi Polsek
- Fotocopy Akte Kelahiran/Kenal Lahir 1 lembar
- Fotocopy Kartu Keluarga (KK) 1 Lembar
- Fotocopy Ijazah Terakhir 1 Lembar
- Pasphoto ukuran 4X6  sebanyak 5 lembar latar belakang warna merah

Selanjutnya menuju ke loket petugas, nanti akan diberikan formulir SKCK yang harus anda isi, selanjutnya pengambilan sidik jari yang dilakukan oleh petugas. Tinggal menunggu dan dipanggil. Biaya pembuatan SKCK baru/perpanjang Rp. 10.000. 


direkam diruang loket pembuatan SKCK Polresta Banda Aceh, 2016
  • Syarat pengurusan SKCK Yang Masih Berlaku : 
- Asli/Fotocopy SKCK Lama.
- Pas Photo 4x6 latar belakang merah/biru 3 lembar
- Fotocopy KTP 1 lembar
  • Syarat Perpanjang SKCK Yang Tidak Berlaku/Sudah Habis Masa Berlaku
-Asli /Fotocopy SKCK Lama
-Rekomendasi Geuhcik/Lurah Setempat
-Rekomendasi Polsek Setempat
-Fotocopy KTP 1 Lembar
-Pas photo warna merah/biru 3 lembar

direkam diruang loket pembuatan SKCK Polresta Banda Aceh, 2016
Biaya pembuatan perpanjang juga sama dengan SKCK baru. Untuk memudahkan, sebaiknya anda mengurus SKCK perpanjang sebelum masa kadaluarsa habis, penting ketika diperlukan, tidak perlu mengurus surat rekomendasi dari sejak awal di tingkat desa

Demikian, ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dan sumber sebagaimana yang telah ditulis di atas. Semoga bermanfaat, dan jangan lupa untuk kabarkan ke orang lain, jika ini penting []

12 January 2017

1/12/2017 08:03:00 AM

Kembalikan Suaraku



Pada sekian purnama engkau telah pergi
Suratku tak pernah engkau balas
Aku tak juga menunggu kabar petang itu
Engkau pergi tak pernah kembali
Selepas pergi, seiring senja petang yang hilang

Rupamu mungkin tak seanggun bulu angsa, kini.
Yang mengibaskan sayapnya di kolam rumah tetangga
Kau tak juga melirik kala kupanggil pulang
Pergilah, aku tak menyesal.

03 January 2017

1/03/2017 05:43:00 AM

Kutablang; Kota Ada Blang


Menulis tentang Kutablang -satu dari 17 kecamatan di Kabupaten Bireuen- tak bisa lepas dari dua jenis kuliner yang cukup tenar di kota ketiga paling ramai di Bireuen, setelah Matang Glumpang II jika berjalan ke arah Medan. Adalah Bakso Gatok Kutablang dan Rujak Manis Kutablang, dua jenis makanan ini cukup populer dan sulit ditemukan di kota lain.

Saya bisa disebut –terpaksa- menulis tentang kehebohan warga di Kutablang yang menanam padi di pinggir jalan raya Banda Aceh – Medan. Sebagai yang lahir dan besar di kecamatan pecahan dari Gandapura ini, jarak gampong saya dengan kedai Kutablang hanya 1 kilometer saja. Tentu ini jadi alasan yang dekat dan akrab untuk melanjutkan tulisan ini.

Selebihnya hanya bagian penting saya yang sejak umur 2 tahun sudah diajak serta ke sawah, hingga masa dewasa tiba, saya bisa tau dan paham tatacara menaman padi sejak seumula hingga keumeukoh. Turun ke sawah bukan barang asing bagi kehidupan saya.

Tentu, tak ada yang bisa dibanggakan dengan profesi sebagai petani tradisional ini, sebab itu bukan pekerjaan penting meluluhkan hati para gadis manis manja anggun dengan jilbab aduhai dan mendapat restu dari calon calon ayah-ibu mertua yang bersedia menikahi anaknya dengan pemuda yang hidup sebagai petani.

Beberapa hari belakangan ini, Kutablang jadi heboh di media sosial karena sebaran foto warganet tentang pemandangan "padi dadakan" menghijau di pinggir jalan nasional. Aksi yang tak lazim. Biasanya warga yang marah dengan kerusakan jalan, menanam pohon pisang di tengah badan jalan, dengan tulisan kritik di karton sebagai bentuk protes atas kelalaian pemerintah dalam memperbaiki jalan raya.

Ini kritik secara simbolik kepada aparatur pemerintah, agar pajak yang selalu dibayar oleh warga bisa digunakan untuk kepentingan ummat banyak, dalam pembangunan fasilitas publik yang memadai dan layak.

Pemandangan warga menaman padi di pinggir jalan atau pisang di tengah badan jalan, bukan hal baru bentuk protes masyarakat. Warga sudah lelah dengan kondisi itu, akhirnya ya mereka protes agar para pengguna jalan yang kebetulan melintas jadi objek perhatian mata yang tak menyenangkan. Selebihnya agar para pihak yang  punya kepentingan untuk memperbaiki bisa tau diri atas nasib jalan publik.

Sawah di pinggir jalan tak bisa melulu dianggap sebagai hal yang negatif. Tanaman "padi dadakan" tentu saja bisa dilihat dari sisi postifinya juga. Dari penanaman padi di pinggir jalan itu, akibat lahan sawah yang kerap dialihfungsikan ke lahan bangunan, akhirnya warga tidak ada lagi sawah, lalu menanam padi di pinggir jalan nasional.

Ini juga bisa kita sebut, warga Aceh tidak ada yang malas; di pinggir jalan saja mereka mau menanam padi. Tapi tentu saja bukan itu pesan atas aksi yang tentu saja ada penyebabnya. Warga yang memuncak amarah melakukan kritik simbolik kepada para dinas terkait dalam memelihara alat publik sejenis jalan nasional.

Warga tak mau tau, kalau jalan itu di bawah tanggung jawab pemerintah provinsi atau kabupaten atau pemerintah pusat. Yang mereka rasakan dan ingin sampaikan bahwa, jalan itu mesti diperbaiki dan tidak lagi berlumpur. Hingga bisa digunakan kembali seperti fungsi jalan yang sebenarnya. Apalagi mengingat, jumlah warga yang melintas jalan itu cukup ramai.

Kutablang kini setidaknya bisa dikenal oleh masyarakat lain yang tak bermukin di sana, selain kuliner khasnya tentu saja kota yang ada blang di pinggir jalannya. Dalam hal ini, Kecamatan Kutablang dengan luas lahan sawah beratus hektare harus terus mendapat perhatian pemerintah untuk terus membantu warga yang umumnya bekerja sebagai petani.

Di belakang Kedai Kutablang, ada lahan rawa raksasa Paya Nie yang tak difungsikan dengan baik untuk mengairi sawah warga sekitar. Padahal jika pemerintah serius membangun lahan pertanian ini salah satu alasan penting membangun waduk ini bisa menjadi tempat penyimpanan air yang bisa mengairi ratusan hektar sawah di kecamatan ini.

Di Krueng Peusangan, tepatnya di Desa Blang Mee dulunya pernah dibangun bendungan raksasa untuk mengairi air ke sawah petani di Kutablang. Tapi entah bagaimana ceritanya, bendungan itu kini cuma jadi tempat rekreasi warga sekitar, fungsi bendungan itu dikabarkan sudah rusak sekian lama.

Kembali lagi ke soal sawah dadakan di pinggir jalan Kutablang. Pemandangan sawah tak lazim itu mengundang perhatian Wakil Ketua DPRA, Sulaiman Abda yang kebetulan melintas dan sedang berada di Bireuen? Tentu saja harapan kita, sebagai pengguna jalan, respon cepat dari salah satu pimpinan DPR Aceh ini bisa ditindaklanjuti segera oleh dinas terkait baik ditingkat provinsi atau kabupaten.

Kalaupun tidak, maka kita tunggu saja, padi yang baru ditanam tersebut bisa tumbuh subur dengan pupuk subsidi hingga masa panen tiba nantinya, tunggu saja akan diundang oleh warga para jajaran pemerintah untuk hadir dan memanen padi tersebut secara bersama-sama. Inilah Kutablang, kota yang benar-benar ada blangnya. [sumber: ACEHTREND.COM]




07 December 2016

12/07/2016 02:19:00 AM

Fenomena Media Sosial, Jempol Kita Yang Latah dan Nakal

http://blog.webacosys.com

Berapa jumlah akun media sosial yang anda miliki sekarang ini? Katakan yang umum orang gunakan di antaranya; Facebook, Twitter, BBM, Whatapps, Instagram, Path, Line, belum lagi dengan jumlah Grup BBM, Facebook, Whatsapps dan sejenis akun jejaring media sosial yang lainnya.

Seorang teman pernah berujar, setiap bangun tidur pagi ia lebih dulu membuka laman Facebooknya dibandingkan mencuci muka ke kamar mandi. Saya terkadang demikian juga, bahkan kecanduan jemari pada layar lunak android bagi saya sudah –jika disebut- keterlaluan; saya harus bawa telepon pintar kalau sedang buang jahat. Saat buang air besar, ada ide liar agak mudah mengalir begitu saja seiring kotoran yang keluar dari tubuh.

Saya tak sadar jongkok berlama-lama di kamar mandi sambil membaca buku elektronik, saya mencatatnya di layar telepon pintar jika kemudian timbul ide yang liar itu. Ini inspirasi lain kalau kita kekurangan waktu dan tenaga dalam mendapatkan ide, biasanya saya memilih berjalan kaki.


Pernahkah kita mengukur berapa jam waktu dihabiskan di media sosial selama seharian? Saya bisa pastikan diri antara 5-8 jam waktu jempol saya menari nari di layar perangkat lunak Android, bahkan bisa saja lebih. Kadang kala terpikir, betapa celakanya waktu jika dihabiskan selama sehari malam capai 15 jam di layar android.

Tetapi itulah manusia era kecanggihan teknologi sekarang ini. Seakan, lengket telepon pintar dengan tangan tak bisa dijauhkan walau hanya sebentar saja. Betapa mengerikan kecanduan ini.

Pernah saya melihat di warung kopi, suami istri duduk di warkop yang asyik sendiri dengan gejetnya. Anaknya duduk galau sendirian tak dipedulikan. Atau sebaliknya, sang anak-anak yang sibuk bermain dengan telepon. Pemandangan yang cukup menyedihkan, saat begitu saya berpikir: kasihan anak itu jatuh dalam pelukan suami-istri yang salah.

Banjirnya situs media daring dan situs anonim membuat pengguna harus pandai memilih berita yang fakta bukan sebuah kebohongan. Bayangkan, betapa waktu Anda yang tersita harus memilih dan memilah berita yang benar atau bohong ketika beredar di media sosial tersebut. Ada ratusan ribu yang muncul di halaman beranda akun media sosial Anda setiap hari.

Jika anda sebagai orang yang cerdas -dan mengaku santun lagi berakhlak mulia- sebaiknya mesti pikir sejenak sebelum ikut menyebarkan berita palsu di akun media sosial.

Sebab, kecerdasan sebuah telepon pintar tidak diiringi dengan kecerdasan penggunanya. Pengguna Android sekarang ini kebanyakan mudah sekali terprovokasi dengan berita sebaran kebencian, tanpa cek dan ricek terlebih dahulu akan kebenarannya.

Di beranda Facebook kita sering menemukan akun-akun yang sebarkan foto seorang perempuan tua yang sedang sakit. Pengguna diajak menyebarkan foto itu dengan ajakan bunyi: “klik like jika kamu ingin ibu ini sembuh sakitnya”, “katakan amin agar ibu ini cepat sembuh”, “katakan amin jika ada ingin masuk surga”. Dan lihatlah, betapa banyak sekali yang sebarkan berita itu. Puluhan ribu yang bagikan.



Padahal, itu ciri ciri akun yang sedang mencari pengikut, ketika jumlah pengikutnya ramai, akun itu akan berubah wujud jadi sebarkan penjualan barang online. Atau akun itu akan dijual kepada pihak lain yang membutuhkan akun media sosial dengan pengikut dalam jumlah ratusan ribu.

Pengguna media sosial cukup banyak yang latah dan kaget beraksi atas sesuatu yang sedang heboh terjadi, istilah era medsos di sebut dengan viral. Adakah Anda termasuk sebagai pengguna yang kaget dan latah sebarkan berita yang belum jelas kebenarannya? Jika ia, bertaubatlah. Malu kita sebagai yang berpendidikan tinggi tak bisa berpikir kritis dalam memilih dan memilah berita.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), kata “latah” diartikan menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain. Di media sosial, orang orang latah cukup terkaget-kaget menebarkan tautan berita secara sukarela dengan jempolnya. Tanpa beban apapun akan efek dari sebuah tautan berita yang belum jelas kebenarannya.

Sebarkan dengan jempol memang hal yang cukup mudah sekali, tinggal klik, lalu ikut tersebar berita tersebut. Jika kabar berita itu berupa hal yang baik dan kebaikan, tentu sah-sah saja, tapi bagaimana jika kabar yang teredar itu sebuah berita kebencian saling mencaci-maki sesama warganet yang berujung pada saling melaporkan ke pihak aparat penegak hukum.

Era media sosial sekarang cukup banyak sudah kasus-kasus saling baku-hantam debat dungu sesama tak berkesudahan. Isu setiap hari ada saja yang lagi heboh. Antara menantu dan mertua bisa ribut hanya gara gara mempertahankan ego debat masing masing dalam pro-kontra soal isu yang sedang hangat dibicarakan.

Sejak aksi damai 411 dan juga aksi super damai 212 saya banyak sekali harus berhenti mengikuti akun-akun pertemanan di Facebook dan Twitter yang menebarkan kebencian dan sebarkan tautan berita bohong. Beberapa tak mungkin saya hapus pertemanan. Saya memilih menahan emosi untuk tak ikut latah berdebat yang hanya menghabiskan waktu sia-sia saja.


Padahal waktu luang cukup besar bagi seorang pengangguran seperti saya, tetapi memilih otak tetap jernih dan menahan emosi tak ikut latah sebarkan berita kebencian adalah jalan yang terbaik saat ini. Hal yang cukup mudah terhindar dari pelanggaran UU ITE adalah dengan tidak menggunakan telepon pintar, tetapi era kecanggihan teknologi sekarang, agak sulit berlaku saya yang ingin tau perkembangan berita dan peristiwa setiap hari.

Kegundahan saya cukup miris saat melihat, orang cerdik pandai ada sekolahan ikut sebarkan berita berita palsu, padahal apa susahnya sih membuka laman mesin pencari di internet untuk mencari informasi pembanding?

Hello, janganlah tampak sekali kalau sampeyan dulunya jadi sarjana bermodalkan skripsi yang diperjualbelikan di rental komputer. Bertaubatlah teman, jangan menambah jumlah pengguna yang terus menebar kebencian sesama. Kalaupun tidak bisa menjadi pandai, janganlah menjadi dungu dan idiot terus-terusan.[sumber: www.pepnews.id]