KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (70) BERITA MEDIA (47) CATATAN HARIAN (47) GoBlog (12) PUISI (11) CERPEN (8)

07 August 2015

8/07/2015 05:51:00 AM

17 Tahun Lalu, DOM Aceh!

Saat PiasanSeni 2014 di Taman Sari, sebagai Koordinator Stand, saya ikut mendampingi kelompok  siswa salah satu SMA dari Lhokseumawe. Mereka datang khusus untuk melihat acara Piasan Seni, diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh. Mereka didampingi oleh 2 orang guru. Umumnya siswa itu kelahiran tahun 2000-an. Mereka membawa buku, mencatat apa saja hal yang menarik dari hasil amatan saat mereka tanya di setiap stand. itu tugas yang diberikan oleh sekolah. Ohya, mereka datang ke Banda Aceh dengan biaya dari sekolah, info ini saya tau dari guru yang mendampinginya.

Selain siswa itu, Saya tak bertemu ada siswa dari sekolah di Banda Aceh yang datang secara khusus ke sini atas nama sekolah dengan didampingi gurunya. Padahal di sana banyak hal baru yang bisa dipelajari oleh siswa tentang seni, sejarah dan lainnya.

Sebelumnya saya pernah menyarankan ke dinas terkait, untuk mengirimkan surat ke sekolah sekolah di Banda Aceh agar membawa siswanya ke acara piasan seni.  saat jam pelajaran berlangsung, didampingi oleh guru. Kami dari panitia siap mendampingi dan memperkenalkan setiap stand di sana. Ada hal menarik yang sampai sekarang masih membekas kenangan itu bagi saya dan teman teman Komunitas Kanot Bu (KKB), saat siswa dari SMA Lhokseumawe tersebut melihat ada pajangan kaos produksi Geulanceng Trademerk dengan gambar depan sablon KTP Merah Putih.

Saya bersama teman teman penjaga stand KKB menjelaskan tentang baju itu. Beberapa siswa mencatat di bukunya. Saat kami cerita kalau dulu di Aceh ada DOM, seorang dari mereka bertanya: "Apa itu DOM, Bang?" kami semua di stand tercengang, saling menatap tak langsung menjawab. Saya menghela nafas, lalu menjelaskan. Saat itu Reza Mustafa dan Idrus Bin Harun dan teman teman lain dari KKB ikut menjelaskan.

Selesai kejadian itu kami saling berdiskusi soal kejadian ini. Bagi kami ini penting, Reza dan Idrus bahkan menulis essai soal ini dan dimuat di rubrik budaya Minggu, Serambi Indonesia seminggu setelah itu, Juli 2014.

Setelah kejadian itu, kami sempat bikin lelucon. Semacam survey kecil kecilan tentang kondisi siswa kita dalam mengetahui sejarah Aceh. Sejarah tentu saja penting bagi masa depan pembangunan, Aceh. Jangan sampai 100 tahun akan datang, kejadian air laut mengamuk dipenghujung 2004 akan ditertawakan oleh generasi kita kalau tsunami di Aceh hanyalah sebuah cerita dongeng.

Ada banyak fakta sejarah lain di Aceh, semua mesti dicatat dan dijadikan bahan pelajaran bagi anak cicit kita ke depan sebagai penjaga amanat tanah ini, sebagaimana para pendahulu kita menjaganya dari taktik penjajah yang ingin menguasai tanah nenek moyang kita.

Hari ini 17 tahun sudah DOM (Daerah Operasi Militer) dicabut setelah operasi itu berlangsung 10 tahun. Ada banyak korban dari tragedi ini darii berbagai tempat di Aceh. Jumlah korban sekian ribu jiwa dan harta. Mari kita kirimkan Al-Fatihah untuk seluruh korban DOM di Aceh.

Saat kecil saya merasakan dan melihat efek dari DOM itu, saat itu kami kecil tak tau apa apa.

7 Agustus 1998, DOM dicabut di Aceh oleh Pangab (sekarang Panglima TNI) Jend TNI Wiranto, Presidennya RI masa itu sudah dijabat oleh Habibie, pasca Suharto mundur dari Presiden atas desakan banyak pihak. Saya kelas 1 SMA, baru masuk kurikulum dengan wajah culun. Tahun tahun setelah itu kami lebih senang tak masuk sekolah dan memboikot segala hal yang berbau pemerintah. Kami tak masuk sekolah, turun ke jalan mengecat jalan aspal dengan tulisan besar besar: Referedum.

Hari ini 7 Agustus 2015. Hari Sabtu besok 8 Agustus 2015. Saya kira, ada sesuatu yang penting juga terjadi pada 8 Agustus 1998 lalu di Aceh sehari pasca DOM dicabut, dalam doa dan air mata bagi kita yang masih cinta akan Aceh.

Untuk seluruh syuhada Aceh, sebagai Aceh saya ikut bertanggung jawab untuk menjaga tanah ini tetap damai, sehat dan sejahtera selalu. Walaupun "Aceh" tak pernah peduli akan saya. Hormat dan angkat topi  untuk para pejuang yang telah menjadikan Aceh hari terus lebih baik lagi dan lagi. Ingat, pasca kita meninggalkan Aceh, ada generasi penting yang akan mewarisi tanah ini. Ajarkan kepada mereka untuk saling gotong royong, anak anak kita yang kaya raya untuk menghargai dan membantu pada temannya yang miskin. Ajarkan mereka untuk perdamaian Aceh ini terus berlanjut. Saya cinta dan mencintai kalian semuanya, Aceh!


03 August 2015

8/03/2015 10:03:00 AM

Ini Cara Membunuh Rindu



digelapnya jalan pulang, seseorang sedang bersedih berteduh dibalik rintik rintihan hujan. berkali ku paksa engkau keluar dari kepalaku. engkau memang pergi sebentar, lalu kembali. bagimana aku ikuti titahmu, sedang aku masih ragu. .

setiap datang sebuah kepergian, kita selalu jadi paham akan makna kehilangan. ia tak kuasa melawan. dari jauh bentang dan jarak, seseorang mendoakanmu agar selalu dekat dgn mereka yg kau cinta. dan sampailah pada masa engkau memilih: terluka, sekali lalu selesai atau tersiksa, berkali dan tak berhenti.


aku rela di penjara, bahwa membunuh kerinduan padamu adalah sebuah pelanggaran kemanusiaan. kemarin teringat: engkau jadi seseorang yang sangat kukenal tapi tak bisa kumengerti bagaimana mungin ada hati yang luka.

akhirnya kita ulang; cinta itu dua sisi yg beda, jika tak siap dgn luka, engkau mestinya tak jatuh cinta. sekali masa kita pernah paham, memilih diri sebagai korban atas kebahagian dari mereka. satu hati melukaimu, satu hati melukaiku.

kopi ini jadi tambah pahit, ia terbuat dari tetesan kenangan.

14 July 2015

7/14/2015 04:21:00 AM

Lebaran dan Teror Kapan Kawin



Saya teringat sebuah film genre komedi romantis yang rilis Februari lalu di bioskop. Iya, film “Kapan Kawin” bercerita tentang seorang wanita karir 30 tahun yang sukses sebagai manajer sebuah hotel bintang lima. Wanita itu sudah berumur kepala tiga. Dia belum nikah, menjadi momok bagi kedua orang tuanya. Gadis bernama Dinda (diperankan oleh Adinia Wirasti) jadi galau gundah merana dengan desakan pertanyaan kedua orang tuanya; kapan kawin?

Berkat bantuan seorang teman, Dinda akhirnya menyusun sebuah rencana menyewa seorang aktor teater bernama Satrio (diperankan oleh Reza Rahadian) untuk mengelabui kedua orang tuanya.  Satrio disuruh berpura pura menjadi pacar Dinda yang akan dikenalkan kepada orang tuanya, saat acara perayaan ulang tahun pernikahan Ayah-Ibunya tersebut.

Rencana itu tak berjalan mulus. Akting Satrio yang bagus membuat kagum kedua orang tua Dinda, Satrio dipandang sebagai sosok pria yang pantas dampingi anak gadisnya. Lalu desakan orang tua Dinda kepada Satrio untuk segera menikahi anak gadisnya. Tentu saja Satrio, dalam hal ini digambarkan sebagai karakter idealis berperan menolak tawaran itu.  Kekacauan berakhir karena Satrio bukan pacar Dinda, ia dibayar berpura pura jadi pacarnya. Disini petualangan mengeles seribu lapis langit bikin cerita menarik.

Film Kapan Kawin ingatkan saya pada momen lebaran dan ajang sejenis saat berkumpul bersama keluarga. Lebaran adalah momen bagi ummat muslim untuk saling bersilaturrahmi sesama saudara dan keluarga. Tak peduli iya kaya-miskin atau tua muda, perawan-perjaka, tak ada batasan umur juga. Lebaran sebagai ajang untuk saling berjabat tangan-tatap muka saling meminta maaf atas sikap silap salah dan dosa. Dosa disengaja atau tidak sesama ummat manusia. Tak terkecuali dosa kepada mantan pacar yang pernah menyakiti hati dan perasaannya. Selayaknya momen lebaran dijadikan ajang untuk saling bermaaf-maafan; minal aidil wal faizin.

Dalam setahun, ada dua kali hari raya dikalangan ummat islam; Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Nah, dalam edisi lebaran itulah, seluruh keluarga besar berkumpul saling silaturahmi. Yang jauh mendekat dan merapat ke rumah saudaranya. Para lajang biasanya masih tetap di rumah sendiri atau mengunjungi rumah mantan yang pernah menyakiti hatinya. Minta maaf secara baik baik, mana tau dapat kode lagi untuk diajak balikan. Itulah salah satu berkah hari raya.

Ajang berkumpul keluarga atau yang ke rumah saudara, bagi jomblo yang di rahmati Allah nan soleh/solehah. Jomblo yang mendekati waktu kadaluarsa  tak laku nan lanjut usia. Tentu saja akan tak senang dengan suasana ketika semua keluarga telah berkumpul. Atau saat lebaran biasanya ada ajang reuni halal bi halal teman sekolah. Ajang inilah, jomblo soleh-solehah sudah kadaluarsa lebih memilih tak hadir pada acara reuni teman sekolah. Ia akan minder dan malas hadir untuk menghindar dari pertanyaan klise teman teman sebangku SMA dulunya yang sudah menggendong anak dua atau tiga orang. Tentu saja hal yang menakutkan bagi dia ketika muncul pertanyaan horor dari si teman yang sudah berkeluarga.

Kapan kawin? Suasana langsung hening. Mulut langsung terkunci rapat rapat dengan mata terbuka lebar melongo kepada yang bertanya. Memasang wajah seakan tak tak jelas pada pertanyaan si teman yang sudah beranak pinak itu, seraya balik bertanya; maaf tadi tanya apa? Saat itu kuping langsung pura pura tuli tak mendengar jelas pertanyaan si teman.

Langsung pura pura gila atau meloncat ke kolam renang dan menyelam lebih dalam. Bagi jomblo, pertanyaan kapan kawin adalah hal yang sangat menakutkan dan langsung pura pura lupa diri saat ditanya oleh teman. Saya biasanya lebih memilih menjawab asal asalan, atau menjawab dengan kalimat pesimis akan kawin pada bulan depan.  Selesai? tentu tidak. Mereka masih saja kepo bertanya akan kawin dengansiapa. Sama kambing, emang masalah!
Ketika muncul lagi pertanyaan hari dan tanggal apa, saya langsung menjawab; kalau ngak Sabtu ya hari Minggu. Selesai? Tidak. Saat itu, jadilah pura pura gila tak mengenal diri sendiri dan mengalihkan ke isu lain semisal; “eh anak kamu ganteng ya, ngak mirip kamu. Agak mirip wajah mantan pacar istrinya dulu, jangan-jangan itu saham dia.”

Itu tips dan trik bagi kaum jomblo untuk melakukan serangan balik. Lihat bagaimana wajah temanmu itu, dia akan masam muka dan cemburut minta ditempel ke dinding. Kalau kalian tak percaya, boleh aplikasikan saran saya ini.

Selanjutnya tips serangan balik bagi kawan yang sudah menikah, saat dia bertanya pada kamu kapan kawin? Jika dia sudah menikah dan belum punya anak, maka inilah serangan balik itu. “eh kok belum punya anak? Mandul ya? Atau jangan jangan istrimu masih perawan. Kamu impoten?”

Lalu perhatikan apa yang terjadi, si kawan tersinggung mungkin seperti kalian tersinggung saat lagi duduk ngopi sendirian di warkop, datang mantan pacar bersama pria idaman barunya, sang mantan mendekat ke arahnya dan menyapa. Ini sungguh hal tak asyik dan sangat meresahkan hati dan perasaan.

Lagi lagi kita sebagai jomblo meraih kemenangan di bulan syawal ini. luarbiasa bukan? Kalau perlu pakai serangan yang lebih rasis dan ekstrem. “kalau belum mampu hamili dia, biar istrimu tidur sama aku semalam. Kita lihat apa yang terjadi sebulan ke depan”
Maka kamu akan menang lagi, mblo.

Jadi momentum lebaran tak perlu resah wahai para jomblo yang soleh-solehah dirahmati Allah. Tak perlu takut dengan pernyataan “kapan kawin” sebab cara terbaik menjawab pertanyaan itu adalah dengan siap sedia mencari celah untuk menyerang bagi yang bertanya. Lalu bagaimana kalau pertanyaan itu terjadi saat kumpul antar sesama keluarga besar. Mungkin kamu bisa gunakan cara seperti Dinda lakukan di film Kawan Kawin, dengan menyewa aktor pemain film atau pemain teater. Saran saja sih []

07 July 2015

7/07/2015 04:40:00 AM

Martunis dan Perjuangan Ke Portugal

Martunis Bersama Cristian Ronaldo | facebook Martunis Ronaldo
Saya tak melihat ada peran Pemerintah Aceh via Dispora atas martunis di Sporting Lisbon Portugal. Atau peran KONI Aceh atau peran PSSI Aceh dalam hal ini. Jika ada berarti saya yang tak dapat berita itu.


Lebih lebih lagi tak ada peran Kemenpora atau PSSI ditingkat pusat. Dan anehnya via akun twittwer PSSI mengklaim kalau Martunis adalah binaan PSSI. Ini sungguh lucu dan aneh sekali. Semacam sudah jadi kebiasaan pemerintah, orang orang yang sebelumnya dianggap kurang berbakat, begitu sudah jadi sukses maka ramai orang tang akui sebagai bagian dari perjuangannya.


Martunis punya kesempatan belajar sepakbola jadi lebih baik ke sana berkat beking dan rekom Cristian Ronaldo, pemain Real Madrid Club. CR7 dulunya juga alumnus Sporting Lisbon. Sewaktu di Aceh, Martunis berlatih di sekolah binaan dan pakai sistem latihan dari Real Madrid di Banda Aceh bagi anak anak.


Di balik keberangkatan Martunis ke Portugal, saya melihat ada Mounawardi Ismail (Wartawan Harian Waspada) yang membantu urus keberangkatan Martunis. Bang Muna juga dulunya yang dampingi Martunis sewaktu di HitamPutih, acara talkshow di Trans7 TV. Bang Muna mengantar Martunis sampai di Jakarta. Lalu dubes Portugal untuk RI yang bawa Martunis ke sana. Saya tak melihat ada pejabat/politisi di Aceh yang mengantar dia ke Bandara SIM. Ini padahal kesempatan bagus bagi market pilitical. Ah, sudahlah.


Di sini tampak peran kuat seorang CR7, pemain timnas Portugal. CR7 seorang yang istiqamah, dia komit pada apa yang pernah diucap dulu. Martunis beruntung sekali bisa diundang bergabung latihan di akademi Sporting Lisbon Club, Portugal. Tempat Cristiano Ronaldo dulunya bergabung hingga membesarkan namanya.


CR7, bintang sepakbola dunia, pemain El Real yang fenomenal dan berjiwa sosial tinggi. Beda jauh sama bintang 'ecek-ecek' club lawan el clasico sana yang kurang peka pada manusia dan kemanusian. Makanya rata rata fans doi adalah orang yang tidak berjiwa sosial. Beda sama kami loyalis Real Madrid dan fans ortodox CR7. #HalaMartunis!

28 May 2015

5/28/2015 03:22:00 AM

Seuneubok Seni; Malam Amal Rohingya


foto; reza mustafa

RILIS - Berbagai komunitas yang tergabung dalam Seunebok Seni, akan menggelar Malam Amal Rohingya Selasa, 26 Mei 2015. Bertempat di Haba Café Lampriet, Banda Aceh. Koordinator acara, Muhadzir M Salda, tersebut dalam pernyataannya mengatakan, acara yang digagas bersama ini tidak hanya sekadar acara penggalangan dana. Namun lebih dari itu, acara ini untuk membangun semangat soliditas dan solidaritas antar komunitas agar senantiasa peduli pada siapa saja yang membutuhkan.

“Seuneubok Seni sebagai penyelenggara acara ini adalah forum yang bersifat temporer. Tidak mengikat komunitas secara ketat untuk suatu iniasiasi even amal apa pun” ujarnya Muhadzir yang akrab disapa Maop.

Malam Amal Rohingya berupa penggalangan dana nanti malam akan dikemas dalam bentuk penampilan musik Amroe & Pane Band dan Seungkak Malam Seulanyan yang dimotori Fuady Keulayu.

“Selain itu, musikalisasi puisi dari Komunitas Jeuneurob dan deklamasi puisi Lasykar Syu’ara 227 dari FLP Banda Aceh juga akan ditampilkan dalam acara ini. Dan yang lebih penting akan ada orasi terkini tentang pengungsi Rohingya terkini yang akan disampaikan oleh Nurdin Hasan, salah satu jurnalis senior Aceh yang pernah meliput langsung para pengungsi Rohingya” tambah sang koordinator.

Sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan kepada pengungsi muslim Rohingya yang diselamatkan nelayan Aceh selama dua pekan terakhir, karyawan Rumah Sakit AR Bunda Lubuklinggau, Sumatera Selatan menyumbang sejumlah uang pada acara Malam Amal Rohingya yang diselenggarakan oleh pegiat seni lintas komunitas, Seuneubok Seni, Selama malam, (26/5/2015). Sumbangan diberikan oleh Rahmat (64) warga Lamdingin. Banda Aceh.

Penyerahan uang dengan total Rp5 juta diterima langsung oleh Koordinator Panitia Malam Amal Rohingya, Muhadzdzier M. Salda di sela-sela pagelaran acara. Dalam sambutannya, Rahmat menyampaikan uang sumbangan tersebut diamanahkan oleh kerabatnya di Lubuklinggau Sumatera Selatan, untuk diberikan kepada para pengungsi Rohingya.

“Dulu ketika masih muda, saya sempat merantau ke Lubuklinggau sana. Hingga sampai saya pulang lagi ke Aceh, saya tetap berhubungan dengan para kerabat di sana. Jadi ketika kabar para pengungsi muslim Rohingya santer diberitakan media massa, kerabat di sana yang kebetulan bekerja di RS AR Bunda menghubungi saya, bahwa para karyawan tempatnya bekerja telah mengumpulkan uang sejumlah Rp5 juta untuk disumbangkan kepada para pengungsi Rohingya,” ungkap Rahmat. Malam Amal Rohingya yang diselenggarakan Seuneubok Seni berhasil mengumpulkan sejumlah uang dengan total Rp5.830.000.

Pada even kali ini, Seuneubok Seni menghimpun lintas komunitas di Banda Aceh, di antaranya: Komunitas Kanot Bu, Komunitas Jeuneurob, Komunitas Tikar Pandan, FLP Banda Aceh, geulanceng, Nyanban Kaos, KaosMaop, Bujroe, QIU Manajemen, Aceh Clothing.com, insta_aceh, Desain Grafis Aceh, 94.5 Three FM, AtjehLINK.COM, sumberpost.com, Acehnews.net, acehkita.com, Bandar buku, Haba Cafe, dan PAGE GRAFIKA. sumber: acehkita.com, pikiranmerdeka.co, portalsatu.com, sumberpost.com

04 May 2015

5/04/2015 01:13:00 AM

Mbongnya Orang Aceh



Mbong dalam bahasa Aceh bisa dikaitkan dengan arti sombong dalam bahasa Indonesia. Sifat ini mungkin sebagai watak dan karakter dari orang yang hidup di Aceh. Kesimpulan ini hanya bersifat dari pribadi saya tanpa hasil penelitian ilmiah, hanya (mungkin) perasaan dan pengalaman pribadi apa yang pernah saya rasa saja. 


Di Aceh, sifat sombong kerap jadi sifat paling tinggi dalam kehidupannya. Istilahnya itu dikenal dengan 'mbong'. Ya gengsinya orang Aceh itu besar, dalam hal fesyen, pergaulan, pamer harta dan kesuksesan misalnya. Hingga kemudian hadir plesetan: "untung saya ada mbong, kalau ngak, sudah dari kemarin digigit anjing. Cuma ini anjing ngak berani, karena mbong saya besar" sebegitunya lelucon pernah berbagi kabar dari mulut ke mulut. Saya mendengarkan itu dari seorang teman yang sering kali mengulang-ulang kalimat itu. 


Ada lagi lelucon satir yang pernah saya dengar dalam menggambarkan sifat 'mbong' itu tadi. Cerita bermula pada seandainya ada tumpukan mbong dan uang, sebagai Aceh kerap mengambil 'mbong' dibandingkan dengan uang. Karena kalau uang, bisa dicari dilain kesempatan. Begitu asumsi yang terjadi.


Dalam sebuah sumber tak berkutip dan kerap diulang ulang, sifat sombong ini digambarkan sebagai: "Orang sombong tidak boleh berak sembarang tempat. Karena akan berbahaya kalau kotorannya itu dimakan oleh ayam, maka ayam itu pun akan jadi sombong bersama teman-temannya"


Termasuk dalam hal rezeki, kerja, menikah dan prestasi lainnya tidak mesti sok dan mbong. Punya ilmu, adab dan aqidah kan? Jika engkau percaya rezeki, takdir, jodoh, maut itu bukti hadirnya Tuhan dalam diri dan jiwamu, maka itu akan menghilangkan sifat sombong tadi.


Orang memandang ketika engkau yang terlihat telah sukses, karena ketika berjuang, terjatuh, gagal, mereka tidak pernah tau dan merasakan. Bahkan ketika engkau terjatuh kerap dapat dicaci maki. Ketika sudah sukses, baru kemudian dapat pujian yang begitu luarbiasa. Semoga kita sadar diri dan paham untuk dijauhkan dari sifat sombong ini.[]


27 April 2015

4/27/2015 10:04:00 AM

Nangkring SaatnyaNonTunai, Bandar Publising Wakafkan Buku Untuk Kompasiana

Kompasiana bekerjasama dengan Bank Indonesia(BI) menggelar kegiatan “Jelajah Non Tunai Bersama Bank Indonesia” sebagai bagian dari Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) dari BI. Acara nangkring itu berlangsung meriah dan seru di Aula BI Perwakilan Aceh, Sabtu (25/04/2015)

Kegiatan itu dihadiri oleh seratusan lebih kompasianer di Aceh. Acara dipandu dengan kocak oleh Iskandar Zulkarnen yang akrab disapa Isjet. Sang admin dari kompasiana. Tanah Aceh bagi Isjet tidak lah asing, ini yang kesekian kalinya ia menginjakkan kakinya di Banda Aceh. Pada tahun 2011, Kompasiana juga mengadakan acara Blogshop Kompasiana bersama Telkomsel di The Pade Hotel. Isjet hadir menjadi pemateri tentang perkembangan media sosial era sekarang ini. 

Jelajah Non Tunai Bersama Bank Indonesia menghadirkan empat pemateri dari Jakarta. Menariknya hadir salah satu pemateri dari Bank Indonesia, Teuku Munandar. Pemuda yang juga kompasianer kelahiran Pagar Air Banda Aceh sekarang ini bekerja di staf salah satu deputi di BI Pusat. 

Pemateri menjelaskan tentang betapa pentinya dimedia sekarang ini untuk melakukan transaksi non-tunai berupa kartu elektronik. 

Sejak dicetuskan Gerakan Nasional Non Tunai pada tanggal 14 Agustus 2014 di Mangga Dua, Jakarta, Bank Indonesia terus melakukan sosialisasi penggunaan uang elektronik kepada masyarakat. Indonesia merupakan negara yang cukup tinggi dalam gunakan transaksi tunai jika saja dibandingkan dengan negara Asia yang lain. 

Transaksi uang tunai sendiri mempunyai kelemahan misalnya susah dibawa, terus transaksi tidak tercatat pada sistem, lalu kalau kirim uang ke rekan, jadi lama waktunya. Contoh itu misalnya ada orang tua dari pedalaman, akan susah kirim uang ke anaknya di kota, tetapi dengan adanya kartu elektronik non tunai, maka tinggal mengirim sms saja. Lebih mudah. 

Lalu manfaat dari penggunaan uang non tunai itu lebih mudah dan praktis, ada banyak pilihan jenis pembayarannya. tercatat dalam sistem transaksi, dan juga akan membantu pemerintah dalam perencanaan keuangat yang tepat atau akurat.  Masyarakat tak perlu takut pada keamanan teknologi chip yang cukup aman pada kartu tersebut. 

Lalu gimana kalau kita ingin dapatkan kartu elektronik non tunai tersebut? Mbak Susi dari Lembagay Keuanga Digital (LKD) menyebutan bahwa dari data BI, baru sekitar 36 persen orang Indonesia yang gunakan rekening bank. Dalam mendukung program ini, BI terus bersosialisasi kepada masyarakat dalam informasi tentang cara mendapatkan kartu elektronik non-tunai. Kita bebas memilih produk kartu tersebut dari berbagai bank konvensional yang sudah melakukan program e-kartu non tunai. 


Dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia sebagai penjual buku keliling di Bandar Buku saya mewakili Penerbit Bandar Publishing memberikan paket buku kepada Pepih Nugraha [COO Kompasiana]. Wakaf Buku ini sebagai simbol atas deklarasinya Komunitas Kompasianer Aceh [KKA] dan sebagai cikal bakal berdirinya Pustaka Kompasiana dan dimulai dari Aceh, demikian kata Pepih Nugraha.
Bandar Buku pagi tadi bersama beberapa lembaga lain melakukan peluncuran Gerakan Wakaf Buku Untuk Aceh di Museum Aceh. Aceh sebagai daerah modal model, rujukan bagi Republik Indonesia dalam banyak hal. Jika tamu dari Pulau Jawa dan Pulau Lainnya datang ke Aceh diberi hadiah batu giok, kami menggantikannya dengan pemberian buku. Semalam saya juga dapat hadiah buku Ibu Pertiwi Memanggilmu Pulang, karya Pepih Nugraha. Teurimong gaseh yang cukup besar Bang, saya sangat beruntung sekali.

4/27/2015 07:31:00 AM

Komunitas Kompasianer Aceh Dideklarasikan

Sesi Foto Kompasianer Aceh bersama Admin Kompasiana, Bank Indonesia dan Beberapa perwakilan bank di Aceh | foto @iloveaceh    
Banda Aceh – Komunitas Kompasianer Aceh (KKA) akhirnya terbentuk di Banda Aceh. Deklarasi itu dilakukan pada acara Jelajah Non Tunai Bersama Bank Indonesia (BI) yang berlangsung di Aula BI Perwakilan Aceh, Sabtu (25/04/2015)

Inisiatif itu awalnya muncul dari hasil kopi darat beberapa kompasianer Aceh yang minum kopi bareng Pepih Nugraha, Iskandar Zulkarnen, admin kompasiana dan teman-teman kompasianer Aceh lainnya di Warung Kopi Solong Mini, Banda Aceh, Jumat malam (24/04/2015. Awalnya seorang blogger senior Aceh, Taufik Al Mubarak yang memunculkan nama itu dalam obrolan diwarkop yang berlangsung hangat dan penuh cerita.

Lalu Sabtu, saat acara Jelajah Non Tunai Bersama BI, wacana itu kian mencuat saat Taufik dalam sesi tanya-jawab dengan pemateri kembali melemparkan wacana tersebut dan disepakati oleh para peserta #nangkring #SaatnyaNonTunai.

Husaini Ende, kompasianer Aceh dan pegiat lembaga anti korupsi di Aceh menyambut positif atas lahirnya Komunitas Kompasiner Aceh ini. Ia menyebutkan, KKA sebagia bagian dari tempat para kompasianer di Aceh untuk saling berbagi informasi tentang menulis dan kegiatan kompasiana lainnya.

Iskandar Zulkarnen yang memandu acara #nangkring bareng #SaatnyaNonTunai juga menyambut positif atas deklarasi KKA ini. Ia menyarankan untuk lebih mudah dalam akses komunikasi sesama kompasianer di Aceh untu membuat grup di facebook sebagia tempat untuk bisa saling berbagi informasi, demikian harapan manajer kompasianatv yang akrab disapa Isjet tersebut.

Banda Aceh beruntung jadi salah satu kota dari lima kota yang dibidik oleh pihak BI dan Kompasiana untuk sosialisasi Jelajah Non Tunai Bersama Bank Indonesia. Bagi Isjet, Banda Aceh bukan tempat pertama kali ia menginjakkan kaki. Tahun 2011, dalam acara Blogshop Bersama Kompasiana, Isjet juga hadir sebagia pemateri. Lalu pada tahun 2014, Bang Is –sapaan akrab orang Aceh- mendapat kesempatan diundang oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banda Aceh untuk memberikan materi menulis bagi para blogger-traveler di Hotel The Padee, Banda Aceh.

Acara Jelajah Non Tunai Bersama Bank Indonesia itu berlangsung sukses dihadiri oleh seratusan lebih kompasianer dan tamu undangan dari Bank Indonesia. Dari kompasiana juga hadir, Pepih Nugraha, Decky Fadhillah dan yang lebih menariknya, seorang kompasianer berasal dari Aceh dan juga karyawan BI Pusat, Teuku Munandar. Acara itu ditutup dengan makan siang bersama.

Perwakilan Kompasianer Aceh juga memberikan wakaf  buku bertema Aceh,   sumbangan penerbit Bandar Publising yang diterima oleh Pepih Nugraha dari Kompasiana. Pepih mengatakan, ini sebagai cikal bakal terbentuknya Pustaka Kompasiana. Hibah buku itu atas inisiasi beberapa kompasianer yang melobi Mukhlisuddin Ilyas, Direktur Bandar Publising yang juga seorang kompasianer Aceh. 

Pada hari yang sama, Bandar Publising dengan beberapa lembaga lainya di Aceh melakukan peluncuran Gerakan Wakaf Buku Untuk Aceh. Wakaf buku untuk kompasiana diserahkan  oleh Muhadzier, sebagai perwakilan Bandar Publising yang juga pedagang buku keliling Toko Bandar Buku []

22 April 2015

4/22/2015 06:31:00 AM

Tgk H Faisal Kembali Pimpin PWNU Aceh

Warga Muda NU Aceh memasang bendera untuk persiapan Konferwil XIII NU Aceh di Asrama Haji - Banda Aceh (17-19/04/2015)
Banda Aceh, NU Online - Peserta Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama XIII NU Aceh akhirnya bermusyawarah mufakat untuk meminta kembali Tgk H Faisal Ali sebagai Ketua PWNU Aceh periode 2015-2015. Untuk Rais Syuriyahnya, mereka meminta Tgk H Nuruzzahri Yahya.

Keinginan itu mencuat dalam pandangan dari pengurus cabang-cabang NU seanterao Aceh pasca penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) PWNU Aceh periode 2009-2014.

Konferwil NU Aceh itu berlangsung secara akrab penuh kebersamaan, walaupun sebelumnya muncul beberapa nama kandidat ketua PWNU Aceh.

Konferwil XIII NU Aceh itu diikuti oleh 23 kabupaten dan kota di Provinsi Aceh. Forum ini berlangsung di Asrama Haji Banda Aceh sejak Jum’at-Ahad (17-19/4).

Forum ini dibuka oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj. Hadir pada malam pembukaan konferwil itu Gubernur Aceh Zaini Abdullah, Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar, sejumlah kepala dinas, unsur OKP dan ormas di Aceh, pimpinan dayah, dan undangan lainnya.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Marwan Jakfar pada saat sambutan menutup Konferwil XIII NU Aceh berharap agar warga nadhlyin di Aceh menjadikan Aswaja sebagai pedoman dasar dan menjadi khittah perjuangan organisasi tersebut.

“Warga NU harus ikut serta dalam mengawasi program-program pemerintah terutama program di Kementerian Desa PDTT,” kata Marwan.

Marwan di hadapan 5.000 waga NU Aceh mengatakan bahwa kiprah NU sebagai organisasi sosial masyarakat dalam segala aspek kehidupan dari keagamaaan, ekonomi, politik, pendidikan, sosial-budaya, menunjukkan kemajuan yang sangat bagus. 

Penutupan Konferwil itu dihadiri oleh Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf, Walikota Banda Aceh Hj Illiza Sa’aduddin Djamal, pimpinan dayah, kepala dinas, dan pejabat-pejabat di Aceh lainnya. (Muhadzier/Alhafiz K | sumber: situs NU Online, Selasa 21 April 2015

21 April 2015

4/21/2015 05:37:00 AM

Lem Faisal Kembali Pimpin NU Aceh

Foto Bersama Rais Syuriyah PWNU Aceh, Waled Nu dan Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh, Tgk H Faisal Ali, Asrama Haji (Minggu, 19/04/2015) | koleksi pribadi  

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Peserta Konferensi Wilayah kembali mempercayakan Teungku H Faisal Ali atau yang akrab disapa Lem Faisal untuk memimpin Nahdhatul Ulama Aceh periode 2015-2020.

Ketua Koordinator Komunikasi dan Informasi Konferwil NU Aceh, Muhadzdzier M. Salda menyebutkan, Lem Faisal ditetapkan secara aklamasi oleh para peserta kongres. Sedangkan Teungku Nuruzzahri Yahya atau Waled Nu dipercayakan sebagai Rais Syuriah PWNU Aceh.

“Beliau berdua mendapatkan dukungan penuh dan permintaan dari pengurus cabang se-Aceh untuk memimpin kembali NU di Aceh,” kata Muhadzdzier kepada acehkita.com, Ahad (19/4/2015) malam.

Konferwil NU digelar sejak 17 April lalu dan berakhir Ahad sore. Konferensi yang diikuti 375 peserta dari unsur PWNU, badan otonom, dan pengurus cabang ini dibuka oleh Ketua Umum PBNU Prof Said Aqil Siradj Jumat malam.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah, dalam sambutan pembukaan Konferwil, berharap NU dapat menghalau perkembangan ideologi kelompok radikal ISIS di Aceh. Selain itu, Gubernur juga berharap agar kalangan NU memberantas ajaran sesat yang meresahkan masyarakat.

Konferensi Wilayah NU Aceh ke-13 ini ditutup pada Ahad sore oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar. Ia berharap, kader NU Aceh agar tetap menjaga teguh pemahamanahlussunnah wal jamaah sebagai pedoman dasar dan menjadi khittah perjuangan organisasi tersebut.

Ia juga berpesan agar kader NU mengusung Islam yang damai dan rahmat bagi semesta alam. “Pegang teguh ini sebagai landasan kita, dan NU cinta damai,” ujar Marwan.

Selain itu, Marwan juga meminta kepada para warga NU agar ikut serta mengawasi program-program pemerintah, terutama program yang dijalankan oleh Kemdes PDTT. “Agar bisa berjalan maksimal dan tepat sasaran,” tukasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf berharap warga nahdiyin berkonstribusi aktif dalam mengisi pembangunan Aceh. “Dan tantangan-tantangan tersebut tentu tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah saja, tapi juga menjadi beban tanggung jawab kita bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk Nahdhatul Ulama,” kata Muzakir. [sumber: AcehKita.Com 19 April 2015]