KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (70) BERITA MEDIA (47) CATATAN HARIAN (47) GoBlog (12) PUISI (11) CERPEN (8)

12 June 2014

6/12/2014 10:20:00 PM

Ini Dia Profil Moderator Debat Capres Kedua


KitabMaop, Berita - Debat Capres Minggu ke-II yang akan disiarkan oleh MetroTV akan dimoderatori oleh seorang Guru Besar Universitas Brawijaya, Malang. Acara debat itu akan dilangsungkan pada Minggu (16/6) malam di Hotel Grand Melia, Kuningan Jakarta Selatan.

Dalam debat edisi kedua ini akan mengulas tentang visi-misi capres-cawpres dibidang ekonomidan kesejahteraan sosial.

Pria bernama lengkap Prof Dr Ahmad Erani Yustika, MSc, PhD kelahiran Ponorogo 1973 ini seorang dosen Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Unibraw merupakan sosok yang telah dipilih oleh KPU serta kesepakatan timsukses capres-cawapres ini akan memandu acara debat dengan sejumlah pertanyaan yang telah dipersiapkan oleh KPU.

"Kemampuan dia (Ahmad Erani Yustika) di bidang ekonomi bagus, performance juga bagus dan mampu membawakan acara debat semacam ini," tandas Arief Budiman, Anggota KPU sebagaimana dikutip dari beritahukum.com

Melalui akun twitternya @AhmadErani mengucapkan terimakasih atas semua dukungan dan mandat yang telah diberikan kepadanya

"Tks kpd sahabat semua atas perhatiannya, smg saya bisa menjalankan mandat ini dg sebaik-baiknya. Maaf blm bisa membalas satu per satu." Twet Prof Ahmad Erani, Senin (9/6)

Dari situsnya ahmaderani.com disebutkan, Profesor berkacamata ini menyelesaikan studi srata satu di jurusan ilmu ekonomi, universitas brawijawa pada tahun 1996. Tahun 2001 menyelesaikan S2 dan tahun 2005 menyelesaikan doktoral, keduanya di University of Gottingen, Jerman. Ia memperoleh beasiswa dari GTZ dan DAAD.

Dia pernah menjabat sebagai Ketua Prodi Magister Ilmu Ekonomi, Unibraw (2007-2009) Sejak kuliah hingga sekarang, telah menulis 500 lebih artikel yang dimuat diberbagai media koran cetak. Mulai Juni 2010 ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Ekonomi Kelembagaan di Fakultas Ekonomi Universitas Brawijawa, Malang.

Ada yang pernah jadi mahasiswa Profesor ini dan penasaran seperti apa penampilannya sebagai moderator? Sebab sebelumnya moderator debat capres-cawapres menuai kritikan dari publik twitter karena memandu acara yang kurang profesional. Kita lihat saja nanti seperti apa penampilan Ahmad Erani []

09 June 2014

6/09/2014 10:05:00 AM

Ini Dialog Imajiner Capres


"Jikalau tidak dengan mereka (wanita), kemenangan tak mungkin kita capai" Gus Lenin (1870-1924)

Karena lagi copres, quote ini dianggap rasis kepada salah satu copres. Salah doi sik ngak CLBK lagi sama Mbak itu. Tapi anehnya waktu pileg lalu, ada caleg 'metultahya' yang menang tanpa ada... Ah, Sudahlah. Artinya quote Gus Lenin diatas tidak selamanya berlaku benar. Tergantung ya.

08 June 2014

6/08/2014 07:00:00 AM

Aceh, Masih Gelap

Akhir akhir ini Banda Aceh panas bukan kepalang. Jika kita melintas di jalan-jalan protokol Banda Aceh akan sangat terasa sekali panasnya. Hawa panas dari asap kendaraan bermotor yang saban hari bertambah di Banda Aceh, sedangkan pohon pohon di pinggir jalan tak membuat para pengguna jalan adem ayem ketika melintas di jalan raya. Hujan juga tidak turun dalam beberapa hari ini. Kemarin pernah sekali mendung, tapi tak hujan. Jika keseringan hujan, maka kita juga mengeluh karena tak bisa melakukan aktifitas seperti biasa. Jika panas, juga menjadi alasan kita mengeluh pada alam yang semakin tak berteman. Lalu, bagaimana Tuhan harus memberikan kepada manusia yang semakin hari semakin serakah saja di dunia ini?

05 June 2014

6/05/2014 10:33:00 PM

SAMIR



SAMIR
melangkah pasti ke arah rumahnya. Tak menghiraukan gerak  orang orang lalu lalang. Kelihatan ia galau. Aku melihatnya untuk yang terakhir kali selepas kami pamit pulang setelah mengikuti mata kuliah bahasa Inggris. Bagi Samir, bahasa Inggris itu tidaklah penting dipelajari. Tapi matakuliah yang memaksakannya harus mengikuti sampai tuntas dan lulus.  “Itu bahasa orang kafir” begitu titah neneknya yang selalu menjadi alasannya.

Selang seminggu, aku tak melihat Samir di kampus. Beberapa kali aku ke kostnya di kawasan yang tak seberapa jauh dengan kampus. Kabar buruk kudengar, Samir menghilang selepas kami pulang kuliah. Sore waktu  itu hujan  deras.

Aku sudah menghubungi orang orang terdekatnya. Menelpon keluarganya di kampung juga tidak mendapatkan kabar baik. Semua orang gundah dan rasa penasaran mencari keberadaaan Samir. Kalaupun dia diculik, belum juga aku mendengar kabar berita dari koran-koran kampung kami. Beberapa temannya di kampung bahkan membuat berita kehilangan lengkap dengan poto dan identitas dirinya. Selebaran orang yang hilang ditempel di setiap sudut kota dan kampus. Berharap ada orang yang melihat Samir atau bahkan kalau pun dia telah menjadi jasad, akan membuat hati dan pikiran kami sedikit lega. Beberapa teman dekatnya mengatakan kalau Samir menghilang karena dibawa makhluk halus semacam maop atau geuntet.

Sore itu ketika hujan deras, ternyata Samir tak berbelok ke lorong rumahnya. Ia berjalan menuju arah sungai Krueng Lamnyong. Desas sesus ini terdengar dari orang orang yang pernah melihatnya. Apa ia bunuh diri ke sungai? Tapi tak ada yang menemukan jasadnya  mengapung.  Atau bisa saja mayatnya dimakan buaya.

Menjelang dua minggu kemudian, kabar baik akhirnya kami dengar juga. Dengan wajah lusuh kami mendapatinya sedang duduk di sebuah batu di kawasan Pantai Ujong Batee. Sendiri berbalut baju kumal. Seperti penampakan orang gila kesannya. Seorang penduduk sedang mendapati Samir tiap malam juga mandi di laut ketika malam beranjak pagi. Ketika orang orang desa setempat bertanya Samir tak memberi jawaban yang pasti. Kadangkala ia menyebut sedang melakukan ritual empat puluh empat hari berturut-turut.

Kadang ia beralasan untuk membersihkan dirinya dari berlumur dosa. Entah dosa seperti apa yang ia lakukan.  Sekali waktu ia juga menyebut, sedang ingin bertemu dengan putri bulan pujaan hatinya. Entah, kabar mana yang benarnya. Yang pasti, kala malam hari Samir mandi dengan badan telanjang bulat. Biar segala roh roh halus sedekat mungkin dapat merasuki tubuhnya. Itu beberapa alasan yang orang orang kampung mendengar cerita dari Samir. Sebagian lagi bahkan pernah menyebutnya sudah gila.

Ketika siang, Samir hanya mengemis sama penduduk setempat mencari makan. Kadang sama penjaja makanan di pinggir pantai ia membantu mengantarkan air bersih. Sedang ia mendapati jatah makan siang dan sebatang rokok pemanis.

Jenggot di dagunya semakin tak beraturan dan semakin nampak kotor.  Ia seperti orang yang kehilangan akal. Sebelumnya Samir adalah mahasiswa yang biasa umumnya, tak ada hal-hal aneh yang ia lakukan dikampus. Ia juga aktif berdiskusi dan mengikuti pengajian di kampus.  Aku mendekatinya sore itu bersama Rosna. Pacarnya. Kami mencoba mengajaknya berbicara. Tapi Samir seakan pura-pura tak mengenali kami, Rosna mencoba menawarkan sebatang rokok kepadanya. Rokok selera Samir dengan balutan ujungnya yang sedikit membesar. Entah apa isi didalamnya.

"Bukankah kau yang dulu melarang aku merokok ini!?"  Rosna diam. Ditatapnya wajah samir dengan gelisah. Aku memandang kejadian itu dengan rasa penasaran. Tiga puluh menit mereka bersama, akhirnya mengantarkanku dan Rosna harus pulang segera. Samir tak mau di ganggu lama-lama. Begitu alasan yang kudengar dari Rosna. Sampai di tengah jalan, aku membuka pembicaraan kami yang lama terdiam.

"Kenapa Samir minggat dari rumah kost?" Lama Rosna terdiam. Aku mengulang pertanyaan yang sama. Hingga kendaraan roda dua yang kami naiki berhenti sejenak di pinggir jalan.

"Samir telah menghamili si Ramulah. Janda beranak satu yang menjadi tetangga rumah kontrakannya. Ia diminta menikahinya"

Mulut Rosna merapat. Matanya merah menatap wajahku yang geram.   Lalu tertuntuk lesu. Kami berjalan lalu terdiam. Entah apa yang dipikirkan Samir. Senja perlahan turun. Kami berjalan lambat menuju ke Darussalam.[Harian Serambi Indonesia, Minggu 19 Desember 2010]
6/05/2014 10:53:00 AM

Surat Cinta Untuk Walikota

sumber: atjehpost.com | 7 Mei 2011

Salam manis air tebu, salam rindu air mata. Salam bahagia dan sejahtera untuk kita semua. Kehadapan yang terhormat Bapak Walikota Banda Aceh Insyiur Mawardi Nurdin, M.Eng, Sc di kawasan kota tua yang kumuh dan padat. Tak luput hormat saya yang tiada dua kepada Bunda Hajjah Illiza Sa'aduddin Djamal Sarjana Ekonomi di kota Bandar Wisata yang katanya islami. Pejabat yang satu-satunya Wakil Walikota/Bupati di Aceh yang perempuan. Kebanggaan Bunda menjadi perwakilan perempuan di jagat pemegang kekuasaan merupakan juga kebanggaan saya sebagai lelaki yang membela dan mencintai  ibu saya yang perempuan tentunya.

Pak Wali, tanpa bermaksud menjatuhkan reputasi Bapak sebagai pemimpin di kota Banda Aceh ini, saya menulis surat ini ke hadapan Bapak sekedar meluapkan isi curahan hati saya yang mendalam. Melebihi dalamnya lubang drainase di sepanjang jalan jalan di kota kita yang ramai pendatang.

Seiring waktu saya yang semakin suntuk dan ribut oleh bisingnya suara gemuruh kendaraan lalu lalang di jalan jalan kota, saya sampaikan surat ini ke hadapan Bapak dan Bunda–saya lebih sukai menyebutnya Bunda dari Ibu-berdua di ruang dingin tak berangin dan kursi empuk yang lembut. Hasrat dan maksud saya sebagai warga yang hidup dan menikmati kota Banda Aceh yang makin kotor dan suram dengan tata rumah toko yang tak layak bangun tapi dipaksakan berdiri megah, sedangkan lahan parkir sempit yang membuat jalan kian macet kadang kala waktu sibuk orang pakai. Izinkan saya menulis surat ini: sepucuk surat cinta untuk Pak Walikota. Surat ini juga saya tembuskan kepada Bunda Illiza dan harap kiranya di sela waktu Bunda yang sibuk dapat membaca surat ini. Ini surat cinta, Bunda!

Layaknya sebuah surat cinta seorang  pemuda lajang kepada kekasih hatinya dalam menyatakan hasrat cintanya yang memanas dari ubun ubun ulu hatinya yang sedang berbunga bunga. Lebih kurang beginilah surat ini saya tuliskan walau nyamuk dan kantuk harus saya lawan demi sebuah surat atas nama cinta.

Pak Wali, akhir akhir ini kota kita sudah sampai pada usia yang berpaut delapan ratus lima tahun semenjak kota ini yang dulunya megah dithe le kaphe penjajah Belanda karena betapa garang dan beraninya hingga seorang Jenderal J.H.R.Kohler  tewas ditembak oleh pasukan Aceh.

Banda Aceh kota yang paling tua di Indonesia. Ada jutaan orang pernah hidup walau kadang sakit perut tak layak bertahan lalu memaksakan diri mengemis di lampu merah atau dari warkop ke warkop yang makin ramai pasca ombak menggulung orang orang kota dan beratus beratus ribu jiwa menghilang dan harta pusaka. Bala bantuan pun datang selepas ombak ganas itu dari orang orang yang wajah dan bentuk tubuhnya begitu asing bagi kita.

Pak Wali juga tahu, Banda Aceh adalah kotanya para radja dahulu kala. Hingga orang sepakat menyebut dengan Kutaradja pada masa zaman kerajaan. Banda Aneh, Eh Banda Aceh maksud saya kota yang ramai nan megah dengan Mesjid Raya Baiturahman. Hingga kemegahannya pada tahun ini Pak Wali dan beberapa perangkat orang orang cerdik pandai mengusung judul; Visit Year Banda Aceh 2011, Banda Aceh kota Bandar Wisata Islami Indonesia. Sepatutnya ini memang layak tapi kurang bergairah seperti gairah senyum Bunda Illiza dalam setiap pidatonya yang selalu tersenyum seakan akan dia tak pernah resah dengan masyarakat kota kita yang tidak sedikitpun menunjukkan prilaku akhlak islami. Orang orang yang lebih suka berteriak riang dijalan raya, para pemuda pemudi yang berjalan jalan berdua-duaan sambil berpeluk-pelukan seolah olah seakan akan kota Banda Aceh ini milik mereka berdua saja. Sedang ramai orang lain yang bayar pajak dan punya hak jalan yang sama di kota ini. Itulah kalau orang jatuh cinta, Pak!

Pak Wali, selepas jabat pelantikan jabatan sebagai Walikota Banda Aceh yang dipilih langsung oleh rakyat kota yang sudah hampir lima tahun lamanya, saya melihat tidak ada perubahan yang berarti sama sekali disegala lini. Gedung gedung mewah dan megah yang dibangun oleh donatur dari luar kampung kita sebagai hadiah atas laknat amuk air bah sekedar pelengkap bahagia buat warga kota yang tertimpa musibah. Lihat museum tsunami yang telah jadi bangkai tak terpakai buat mengenang para korban dan dahsyatnya gelombang laut 2004 lalu. Walau sampai hari ini ada masih ramai yang belum mencicipi nikmat musibah itu. 

Saya tidak tau pasti apa kerja bawahan Pak Wali selain mereka aktif mengejar pedagang jalanan kaki lima atau menangkap anak anak muda remaja yang berpakaian seronoh yang dicap telah meresahkan masyarakat kota. Sebenarnya resah saya lebih dalam lagi dari itu, semenjak air laut 2004 lalu, galian parit dan tumpukan material di pinggir jalan jelas sangat mengganggu ketentraman warga yang melintas. Ini tak pernah selesai, proyek gali ini ditutup, lalu bulan depan digali lagi ditempat yang sama dengan isi yang ditanam tentu sangat berbeda.

 Kenapa tidak sekali waktu dikerjakan? Ahai, soal gali gali memang proyek basah dan lumayan dapat berkah bagi yang menang proyek ini. Sekarang coba Bapak lihat, ditengah asyiknya Bapak kampanyekan Visit Year Banda Aceh 2011 dengan slogan; Peumulia Jamee Adat Geutanyoe, kok saya jadi melihatnya terbalik dari itu. Galian drainase yang memang sangat mengganggu perkampungan penduduk kota dan pengguna jalan menandakan Bapak tidak siap dalam mencanangkan tahun kunjungan wisata ini, hingga slogan itu lebih tepatnya; Jak  Ta Peumalee Jamee, Adat Geutanyoe!

Apa begini marwah kota wisata, Pak!? Kalau ia, Bapak (sepertinya) belum tau cara  menata kota, sedangkan setau saya konsentrasi Bapak sebagai orang punya pengalaman dalam pembangunan semasa Bapak bekerja di bidang Pekerjaan Umum (PU). Atau jangan jangan Pak Wali lebih dominan menyebut kepanjangan PU itu sebagai “Pajoh Ureng?” Semoga saja saya salah.  Ah, Bapak jangan asyik bercanda dong sama Bunda Illiza. Sekali waktu mari Bapak telusuri dan lihat warkop atau restaurant yang membanting harga makanan sesuka hari mereka dan ini tak pernah di atur dengan qanun kota. Belum lagi harga penginapan yang makin tinggi, bagaimana orang orang akan betah mengunjungi kota tua para radja ini?

Pak Wali yang tampan dan rajin ibadah nan taat lalulintas. Sekian dulu surat cinta saya ini ke hadapan Bapak, saya tak berharap banyak jika kiranya Pak Wali tak sempat membalas surat yang resah gelisah ini. Tapi harapan saya kiranya ketika waktu luang yang tersisa Pak Wali meluangkan waktu membaca surat ini. Sudi kiranya Pak Wali tak menaruh dendam atawa marah pada saya, anggap saja ini adalah sebuah ingatan dan betapa cintanya saya kepada Pak Wali sebagai juru kritik yang sial. Saya memang mengenal Pak Wali, walau saya harus menelan pahit karena Pak Wali tak mengenal saya. Ini memang sialnya saya! Tapi percayalah kita pernah bertemu dalam sebuah acara dan saya menjabat tangan Pak Wali dengan erat karena begitu cintanya saya dengan segudang harapan kala tahun pertama Pak wali menjabat sebagai Walikota.

Walau harap harap cemas (H2C) saya menulis surat ini disebuah warung kopi yang sedia wifi gratis hingga ada yang berkehendak kota kita ini jadi kota wifi gratis. Ini memang begitu ramai di kota kita, Pak Wali. Orang orang yang duduk di warkop seperti menjadi menu wajib disetiap warung kopi, tidak juga PNS yang memang lebih santai menghabiskan waktunya di warung kopi dari pada kerja mengabdi. Tapi seiring internet gratis yang tersedia tak mengurangi harga mahalnya menu kue dan minuman di warung itu. Saya tak tau kenapa Pak Wali tak menugaskan orang orang yang disebut pejabat untuk mendamaikan harga minuman dan makanan di kota kita. Ini juga jadi alasan orang malas berkunjung ke kota kita, kan Pak!?

Pak Wali, Saya sedikit takut nantinya akan ditangkap karena surat saya yang buruk ini, seperti SATPOL PP-tentaranya Pak Wali-menangkap para gelandangan dan pengemis yang berkeliaran di lampu merah kota kita. Kalau saya harus mendekam di sel penjara karena menulis surat begini rupa, ini tidak menjadi sebuah masalah. Karena hidup di penjara adalah tempat yang aman dan damai bagi orang orang yang ribut dan sakit perut macam saya, saya tak pernah berharap Pak Wali menyusul jika memang nanti dituduh dalam sebuah kasus.

Pak wali, Sudahlah! Sudahi saja jabatan kali ini dengan happy ending. Jangan lanjutkan lagi. Karena begitu banyak dan ramai orang orang yang menuduh Pak Wali sebagai walikota gagal dalam menjalankan amanah sebagai walikota Banda Aceh. Orang orang yang suntuk dan berperangai buruk sering merepet karena air pet yang macet, listrik yang hidup hidup mati, galian got tak pernah selesai dan sampah yang masih banyak berkeliaran disetiap sudut kota. Pak Wali, Sudahi saja kepura puraan ini sambil duduk santai bersila di teras rumah minimalis yang telah Pak Wali bangun dikawasan Prada. Ada banyak orang lain yang lebih mampu memimpin dengan gaya yang lebih merakyat. Saya tak berani sebut siapa mereka, takut saya dicap kampanye yang semakin dekat. Jabat erat salam dari saya, Pak! Penduduk Prada di kecamatan Syiah Kuala(*)
6/05/2014 12:23:00 AM

3 Comic Meme Lucu Berbahasa Aceh

Hadirnya media sosial sekarang ini membuat orang kreatif begitu mudahnya bikin comic meme lucu dan menggemaskan. Berikut ini beberapa comic meme lucu berbahasa Aceh yang saya dapatkan dari facebook, twitter dan milis. Mohon izin penggunaan gambar ini, karena saya tidak tau darimana awalnya berasal, tidak disebutkan sumber yang awal mula menciptakan comic meme tersebut.

  • 1. Sosok Sudirman alias Haji Uma, tokoh dalam film komedi berepisod Eumpang Breuh yang berperan antagonis itu disandingkan dengan Jowo Widodo Gubernur DKI Jakarta. Dalam gambar dengan latar belakang gedung DPR/MPR itu yang telah diedit, Haji Uma mengarahkan parang ke Jokowi dengan berkata "Pegauh Yang Beutoi Yoh Golom Kutak" (kasih tau yang benar, sebelum saya parang) Tentu saja itu cuma dialog imajiner lucu dari Haji Uma, yang dibuat kreatif oleh orang yang tidak diketahui. Hampir semua orang dari anak-anak sangat mengenal karakter Haji Uma yang beberapa waktu lalu telah terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Aceh. Apa jadinya ya jika kedua tokoh ini bertemu di dunia nyata nantinya? Hhehe

  • 2. Ini yang lucunya, comic meme tentang ulang tahu, di gambar terlihat 2 orang anak kecil. Yang satu berambut botak dan satu lagi berambut ikal. Anak yang botak kagum melihat temannya yang berambut ikal sedang melihat lilin sambil berkata: "Woww... so ulang tahun ngen?" (siapa yang ulang tahun kawan?). Dengan wajah sedih, si anak yang berambul ikal menjawab: "Mate Lampu Hai Pungo" (mati lampu hai gila). Ini sebuah comic meme lucu tentang kritik kepada PLN yang sering mematikan listrik di Aceh. Sebuah comic lucu dengan bahasa yang satir tentang mati listrik. Comic meme itu ada disebutkan dibawahnya dibikin oleh siapa, tapi dengan bahasa yang tidak lagi begitu jelas. 

  • 3.Comic meme berikut ini juga tak kalah lucunya menurut saya. Dua ekor monyet yang sedang berada di sebuah salon sedang akan melakukan pangkas rambut temannya. Trend gaya rambut anak remaja sekarang istilahnya "cincang" mengikuti gaya rambut artis dan gaya rambut pemain bola. Gaya rambut ini sebelumnya juga beredar trend gaya rambut "cubbeng" (celana kuncup rambut sebeng). Monyet yang jadi tukang pangkas bertanya kepada temannya: "Kiban takoh Bang"? (gimana gaya kita pangkas, bang?). Dengan santai, si monyet yang akan dipangkas rambutnya menjawab: "cincang beh" (cincang ya). Huahahaha.



Kumpulan gambar comic meme lucu dalam bahasa Aceh ini saya dapatkan dari internet dan dari smartphone BB. Mohon izin kepada pekarya comic meme lucu ini, karena ada yang tidak ada disebutkan atas karya siapa. Jika ada yang lain, bisa teman teman berbagi kepada saya di akun twitter @azirmaop :)



03 June 2014

6/03/2014 08:06:00 AM

Yuk Nonton Pementasan Sandiwara LUKA POMA

#KITABMAOP, Banda Aceh - Anda penikmat seni teater atau penasaran dengan aktor-aktor dari teater Rongsokan? Jangan lewatkan pementasan sandiwara "Luka Poma" yang akan digelar pada 8 dan 9 Juni 2014 di Taman Budaya Banda Aceh. Acara itu diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Rongsokan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.

02 June 2014

6/02/2014 06:53:00 AM

Jokowi Bicara Pentingnya Sastra Bagi Anak Muda

Sambil ngopi disebuah warkop, browsing membuka twitter saya menemukan sebuah share link wawancara Joko Widodo yang diupload ke youtube oleh AlineTV.COM. Saya menulis dalam bentuk terjemahan yang disampaikan oleh Jokowi via wawancara tersebut ke dalam bentuk tulisan. Menurut situs AlineaTV tersebut, video wawancara yang berjudul Jokowi Bicara Sastra itu diupload pada 23 Maret 2014. Tidak ada penjelasan dimana wawancara itu berlangsung.



Saya memandang itu penting statemen seorang Jokowi dalam pandangannya terhadap karya sastra, makanya saya tulisakan statemen Jokowi itu di blog ini dan kenapa penting sastra itu diketahui oleh semua orang khususnya bagi anak muda. Link wawancara Jokowi dapat dilihat DISINI. Berikut ini statemen Jokowi terhadap Pentingnya Sastra Bagi Anak Muda:

"Karya karya sastra. sangat penting sekali. jangan sampai nanti anak anak muda kita, baik sekarang maupun yang akan datang. tidak tergerak, tidak mempunyai keinginan untuk belajar karya-karya sastra lama. karya-karya sastra pujangga angkatan 20. angkatan 45, pujangga angkatan 60-an yang secara sastra penting untuk diketahui oleh anak-anak muda. Kita mempunyai pujangga-pujangga sastra, yang mempunyai karya-karya besar, yang mempunyai gagasan besar mengenai kesusastraan" Joko Widodo. Semoga bermanfaat bagi pecinta dan pegiat sastra di tanah air. []

01 June 2014

6/01/2014 06:13:00 AM

KTP Merah Putih dan Hari Pancasila



Sabtu, 1 Juni 2013 ketika ada banyak orang menulis di media sosial tentang hari lahir pancasila, saya kemudian teringat dengan kondisi Aceh era tahun 2003, dimana Aceh sejak 19 Mei 2003 ditetapkan sebagai daerah Darurat Militer (DM) oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Saat itu Menko Polhukam Susilo Bambang Yudhoyono. Hari-hari selanjutnya rakyat Aceh harus menggantikan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang berbeda dengan daerah provinsi lainnya di Indonesia. KTP khas merah putih lengkap dengan pancasila disebelah identitas si pemiliknya.


foto by tengku-muda.com

Untuk mengurus KTP Merah Putih (MP) harus melalui proses yang panjang dan rumit. Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD), yang waktu itu di jabat oleh Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Endang Suwarya. Posisi Gubernur Aceh berada dibawah kendali/komando PDMD tersebut. PDMD ingin membedakan orang-orang di Aceh yang terlibat dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan memberlakukan semua penduduk yang tinggal dan hidup di Aceh harus memiliki KTP Merah Putih. Proses peralihan dari KTP nasional ke KTP Merah Putih akan dilalui dengan antrian panjang dan rumit hanya untuk mendapatkan ‘surat keramat’ tersebut.

Saya masih ingat betul kala itu, untuk mengurus KTP Merah Putih, pertama harus didapatkan surat rekomendasi dari Geuchik (Kepala Desa), lalu surat tersebut dibawa ke kantor Polisi Sektor (Polsek). Untuk mendapatkan tanda tangan dari Kapolsek ada banyak hal dilalui dengan serangkaian ‘interogasi’ panjang, ada yang disuruh hafal sila pancasila, menyanyi lagu Indonesia Raya dan lainnya tentang ke-Indonesiaan. Kadang juga bila calon pemilik KTP merah putih tersebut, merupakan orang yang dicari oleh Pemerintah RI, diduga terlibat dengan jaringan GAM, maka siap siap saja diintrogasi lebih lama dan jauh.

Setelah rekomendasi dari Polsek, baru di bawa ke Koramil untuk mendapatkan pengesahan dari Komadan Rayon Militer (Koramil) setempat, disini juga berlaku kejadian yang hampir sama, ditanya ini itu, dicurigai terlibat GAM, pekerjaan sehari hari dan lain sebagainya. Penduduk yang nama atau wajahnya mirip dengan DPO Polsek dan Koramil, maka akan melalui serangkaian proses yang lebih lama dan lebih rumit, ada yang kemudian ditangkap, karena didugas terlibat membantu perjuangan GAM.

Setelah mendapat tanda tangan dan stempel Koramil, baru lah KTP MP itu dibawa ke kantor camat, disini tidak terlalu rumit, tetapi tetap harus melalui antrian yang begitu panjang, sama juga sewaktu di Kapolsek dan Koramil. Setelah mendapatkan legelitas dari Kapolsek, Koramil, dan Camat, barulah KTP Merah Putih sah digunakan untuk sehari hari.

Memiliki KTP Merah Putih merupakan sebuah surat keramat yang cukup berarti bagi penduduk yang tinggal di Aceh kala itu. Setiap hari ada saja razia/sweeping aparat keamanan, baik di jalan raya atau mereka yang datang ke rumah penduduk. Aparat keamanan setiap harinya melakukan penyisiran tempat-tempat yang dicurigai ‘daerah hitam.’ KTP MP begitu pentingnya, kalau tidak ada KTP MP maka akan dicap sebagai GAM dan pemberontak. Karena GAM sulit mengurus KTP Merah Putih sebab daftar orang orang yang terlibat GAM sudah ada disemua tempat pos-pos aparat keamanan di Aceh. Tetapi ada juga GAM yang bisa mendapatkan KTP MP dengan berbagai cara. Uang saja dipalsukan, apalagi yang ini.


Di KTP Merah Putih tersebut, ukurannya seperempat kertas A4. KTP tersebut berwarna merah putih, disebelah warna merah putih itu dicantumkan pancasila lengkap dengan 5 sila. Sebelahnya baru identitas si pemilik KTP seperti biasa, cuma yang bedanya adalah ada tanda tangan Kapolsek, Koramil, dan Camat. Kalau sebelum Darurat Militer, kan cuma ditanda tangan dan stempel oleh Camat saja.

Hari ini 1 Juni yang diperingati sebagai hari kelahiran pancasila yang lahir pada 1 Juni 1945. Saya kemudian jagi ingat bagaimana kami di Aceh dipaksakan menyebut sila pancasila setiap ada razia dan atau sewaktu bertemu aparat keamanan. Mungkin tiap malam/hari waktu Darurat Militer Aceh, dibariskan di pos jaga desa, disuruh hafal pancasila!


Ingat KTP Merah Putih? Disitu jelas dituliskan sila-sila pancasila, agar orang Aceh paham pancasila, itu bentuk doktrin pemerintah RI terhadap penduduk sipil di daerah Darurat Militer. Ditambah lagi dengan apel setia terhadap NKRI melalui upacara bendera menaikkan Bendera Merah Putih. Aceh benar benar jadi tempat yang menyeramkan dari berbagai aspek kehidupan kala itu.

Saya pernah kena popor senjata M-16 dari BKO TNI dua kali diperut dalam sebuah perjalanan ke Banda Aceh, karena gugul dan lupa urutan sila pancasila waktu razia di jalan raya, saya lupa sila ke-4 pancasila. Padahal jauh hari telah hafal berkali kali, dan juga telah hafal lagu Indonesia Raya. Setiap kena razia, orang-orang yang dicurigai GAM, akan diintrogasi habis habisan, ditanya macam macam, sudah pasti orang orang ketakutan bukan kepalang menghadapi kondisi ini. Darurat Militer dijadikan sebagai kampanye nasionalisme bagi penduduk Aceh, agar mereka tidak lagi mendukung perjuangan GAM.

Aceh jadi daerah yang mencekam, orang diculik dan ditembak dimana-mana, ada satu dua yang diproses dengan pengadilan, dibina, tetapi banyak juga yang dibinasakan. Istilah paling ngetren kala itu: ‘disekolahkan’ (dihabisi).

Ketika 1 Juni hari ini jadi hari lahir pancasila, saya kemudian memaknai pancasila cuma sebagai ideologi negara biasa saja. Ketika banyaknya pejabat, pemerintah, para politisi di RI ini mengagung agungkan pancasila, mereka juga ada yang benyak menghina sila sila dari pancasila tersebut. Penghinaan itu berupa prilaku mereka yang korup, tidak amanah sebagai pemimpin, mengkhianati kepercayaan rakyat, menghina rakyat dengan terus mencuri uang negara tanpa beban moral dan merasa bertanggung jawab. Apakah ini tidak disebut sebagai pengkhianatan terhadap sila sila dari pancasila?

Aceh yang hari ini sudah damai sejak 15 Agustus 2005, dimana KTP merah Putih juga telah beralih ke KTP nasional seperti didaerah lainnya. Dan ini merupakan sebuah proses demokrasi yang begitu panjang, damai yang kemudian harus dibayar dengan begitu banyak korban dari puluhan tahun konflik bersenjata, begitu banyak korban jiwa dan harta benda.

Pancasila sebagai sebuah idiologi negara RI, mestinya jadi pijakan seluruh perangkat pejabat daerah di RI, untuk tidak menghina pancasila sebagai falsafah negara RI. Sederhananya begini, kalau mereka korupsi, kalau mereka mencuri uang rakyat, artinya mereka telah mengkhianati pancasila. Dalam sila ke-5: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lalu apakah hari ini semua perangkat pemerintah telah berlaku adil bagi seluruh rakyat Indonesia?. Kalau belum, sudah seharusnya para pejabat dan penguasa di setiap daerah disuruh menghafal/memaknai arti dari falsafah pancasila dan diajari bagaimana untuk tidak ‘berkhianat’ terhadap sila-sila pancasila. Agar mereka paham bagaimana seharusnya menjadi pejabat, menjadi pemimpin yang amanah dan sosialisme kerakyatan [Banda Aceh, 1 Juni 2013]