KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (70) BERITA MEDIA (47) CATATAN HARIAN (47) GoBlog (12) PUISI (11) CERPEN (8)

05 May 2014

5/05/2014 06:39:00 AM

Belajar Dari Walikota Bandung


tribunews.com

Kota Bandung yang berada di Provinsi Jawa Barat mengalami perkembangan yang cukup pesat sejak kota berjumlah penduduk 2 juta sekian jiwa itu dipimpin oleh seorang dosen arsitektur dari Institute Teknologi Bandung (ITB), M. Ridwan Kamil, ST., MUD. Kang Emil, sapaan akrab warga Kota Bandung ini lebih sering memilih bersepeda ke kantor Walikota, hal yang tidak lazim dilakukan oleh Bupati/Walikota di Republik Indonesia. Sejak 16 September 2013 ia dilantik sebagai Walikota Bandung bersama Wakilnya Oded M. Danial. Pasangan itu meraih 45 persen suara dari total 950 ribu lebih suara sah. Ridwan-Oden yang mengusung tema kampanye "Bandung Juara" itu menjadi Walikota Bandung periode 2013-2018, mereka diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera, Partai Gerindra dan beberapa partai non-parlemen.

Baru enam bulan Ridwan Kamil memimpin, tokoh muda ini cukup banyak terobosan program kreatif yang dilakukan untuk menjadikan Bandung Juara. Beberapa hal unik yang menarik perhatian saya dan ini menjadi catatan bagi para pemimpin daerah lainnya di Indonesia. Sebutlah program setiap hari Senin, siswa-siswa di Bandung mendapatkan pelayanan bus tanpa berbayar dari bus Damri Dinas Perhubungan Pemerintah Kota Bandung. Program itu disebut Senin Bus Gratis. Lalu setiap hari Selasa, warga Bandung diajak Selasa Tanpa Rokok.
Setiap hari Rabu tiba, seluruh warga Bandung khususnya para perangkat pemerintah (PNS) untuk berbahasa Sunda dan memakai penutup kepala blankon khas orang Sunda. Setiap Kamis, Ridwan tak ketinggalan ide kreatifnya untuk mengajak seluruh warga khususnya siswa Bandung untuk berbahasa Ingris dalam Program Kamis Inggris. Hari Jumat Ridwan membuat gagasan Jumat Bersepeda khususnya bagi PNS di Bandung, untuk menghemat anggaran pemerintah daerah dan mengurangi kemacetan.

Era teknologi informasi yang berkembang cukup pesat ini, Kang Emil mengintruksikan untuk seluruh dinas menggunakan akun microbloging twitter. Tujuannya untuk memudahkan dinas terkait dalam menampung aspirasi warga Bandung. Ridwan Kamil sendiri aktif melakukan tweet setiap hari dan membalas pertanyaan dari warga Bandung via akun twitter resminya @ridwankamil.

Siapa Kang Emil?

Ridwan Kamil (RK) lulusan Master Perencanaan Kota dari Universitas California Barkeley itu selalu punya ide-ide cemerlang nan sederhana. Setiap melakukan rapat dengan dinas-dinas, selalu diawali dengan pembacaan doa dan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Sederhana penuh bermakna yang semestinya ditiru oleh perangkat daerah lainnya di Indonesia.

Menariknya sosok Ridwan Kamil ini, program dan ide-ide nyelenahnya bahkan sampai membikin Taman Jomblo bagi warga Bandung, dalam akun twitternya dia pernah bercanda kalau populasi jomblo paling banyak jumlahnya di Kota Bandung. Taman itu dilakukan peresmian dan menjadi perhatian media nasional. Lucu? Tentu saja tidak bagi orang-orang yang kreatif. Baru-baru ini, dia juga membuat aturan bagi hotel dan restoran di Bandung untuk bekerjasama dengan pengamen jalanan dan wajib mengajak mereka tampil di acara-acara resmi kegiatan hotel. Ini cara Ridwan Kamil dalam memberdayakan para seniman jalanan di Bandung.

Gebrakan Walikota Bandung itu patut menjadi contoh bagi kota-kota lainnya di Indonesia untuk amanah dan peduli pada warga kota. Bus-bus sekolah dicat dengan gambar-gambar hewan langka yang edukatif. Setiap Malam Minggu tiba, Ridwan Kamil kerap blusukan ke gang-gang kumuh warga miskin kota bersama mantan pacarnya (istri). Ia tak sungkan untuk makan bersama di rumah warga yang ia temui, berdialog bersama mereka, mengkaji setiap masalah dan mendengarkan keluhan warga untuk pembangunan Bandung yang lebih sejahtera. RK kerap melempar lelucon via twitternya untuk Malam Minggu: Mengapeli Warga Miskin.

Ia menolak menggunakan mobil dinas Camry dan memilih mobil kijang biasa untuk bepergian yang jauh, sedangkan ke kantor Walikota memilih bersepeda.

Sebulan yang lalu, Ridwan Kamil tak habis akal untuk melayani warga Bandung, khususnya bagi anak muda yang akan segera menikah. Dia mengumumkan via media dan akun twitternya kalau Pemkot Bandung menyediakan pendopo gratis bagi yang ingin melaksanakan resepsi pernikahan (pesta). Bagi yang ingin dapatkan fasilitas itu, diharuskan mendaftar terlebih dahulu, yang penting salah satu pengantinnya warga yang tinggal dan mempunyai KTP Kotamadya Bandung. Setiap bulan akan diundi, siapa yang beruntung mendapatkan tempat membuat acara dipendopo secara gratis. Tapi Ridwan Kamil menegaskan, ia hanya menyediakan gedung itu dipakai secara cuma-cuma, tetapi tidak menyediakan calon mempelai. Saya tersenyum ketika membaca isi twitternya yang bagian ini.

Lalu bagaimana dengan para Walikota dan Bupati di Aceh dengan 17 kabupaten dan 5 kota sejak dipimpin oleh para pemenang pemilu di daerahnya masing-masing? Amatan saya belum melihat ada Bupati/Walikota di Aceh yang melakukan sebuah terobosan kreatif yang benar benar menyentuh kepada kepentingan rakyat banyak. Kalaupun ada yang melakukan program Magrib Mengaji, itu sudah jadi terobosan yang cukup baik, walaupun orang yang menyuruh tersebut tidak mengaji setiap magrib.

Di Aceh, program yang menyentuh langsung bagi rakyat miskin kota dan desa belum berjalan maksimal adanya, hanya masih sebatas melanjutkan program pemerintahan “penguasa’ sebelumnya? Kita ingin ada Bupati/Walikota yang bikin program kreatif yang menyentuh langsung pada kepentingan rakyat banyak. Membangun irigasi yang bagus dan sumur bor ketika kawasan persawahan didaerah itu mengalami kekeringan. Tidak perlu muluk-muluk. Tapi ya itu, mereka kerap beralasan tidak ada anggaran dan harus diusulkan tahun depan. Kalau untuk mereka korupsi, itu ada anggaran!?

9 April pemilu legislatif akan di gelar diseluruh Indonesia. Pemilu merupakan sebuah ajang pergantian pemimpin dan atau wakil rakyat. Harusnya bisa dijadikan ajang tarung program yang menyentuh langsung rakyat banyak. Bukan cuma janji semata dan kerap lupa ketika mereka terpilih nantinya.

Kita perlu menyontek dan mengambil inspirasi dari Ridwan Kamil dalam memimpin dan menggerakkan massa rakyat untuk terus merasa memiliki kalau pembangunan itu tidak cuma melulu sebatas pembangunan fisik semata. Pembangunan mental masyarakat dalam menjaga daerah dan kotanya untuk terus maju dan bergerak ke arah yang lebih adil dan sejahtera. Para pemimpin tidak ambisius memperkaya diri dan harus bergaya hidup sederhana, tanpa perlu menampakkan gaya hidup mewah dengan mobil mentereng didepan warga miskin. Selemah lemah iman, ya jadi pemimpin itu tidak mengambil yang bukan hak. Sederhana kan? Selamat memilih! [ Banda Aceh, 19/3/2014 | Muhadzdzier M. Salda]

30 April 2014

4/30/2014 08:24:00 AM

Warung Kopi atau Warung WiFi?


Anda seorang penikmat kopi? Rasanya belum lengkap jika Anda belum menyeruput nikmatnya racikan kopi saring Aceh. Bicara soal Aceh, tentu saja tidak luput membicarakan citarasa kopi yang di seduh dalam gelas khas berbentuk kerucut di Aceh. Cara yang paling umum kita temukan di warung-warung kopi Aceh adalah dengan cara kopinya yang disaring.

24 April 2014

4/24/2014 02:35:00 AM

NEWS | NU Aceh Luncurkan Media Warga Nahdiyin

Banda Aceh, NU Online -  Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama Aceh (PWNU Aceh) telah memiliki situs resmi yang dapat dijadikan sebagai media untuk menyebarkan dan mendapatkan informasi, bagi warga NU Aceh diharapkan aktif untuk mengakses situs ini. Demikian disampaikan Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh Tgk. H. Faisal Ali sebuah kesempatan di kantor PWNU Aceh pertengahan April 2014 lalu.

14 April 2014

4/14/2014 02:24:00 AM

ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku

Review ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku oleh Muhadzdzier M. Salda
ASUS X201E, tampilan tipis, ringan, modis dan nyaman
Saya akan menceritakan pengalaman saya menggunakan ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku. Saya akan berbagi keunggulan bagi yang ingin memiliki laptop keren dan modis, harga yang murah tapi bukan murahan.

5 April 2013, setahun yang lalu saya akhirnya bisa memiliki notebook terbaik pribadi pertama kalinya seumur hidup. Seminggu sebelumnya saya mencari tau segala informasi tentang jenis laptop yang bisa saya gunakan untuk keperluan kuliah saya di pascasarjana Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh dan kebutuhan saya sebagai penulis.

07 April 2014

4/07/2014 09:29:00 AM

Anak Komunitas, Kalian Mau Apah!?

Sebagai yang muda, saya tentu menyambut positif hadirnya komunitas-komunitas anak muda dari berbagai latar belakang hobby dan kreativitas di Aceh. Mereka bergerak pada sebuah kesadaran untuk membangun negeri tempat mereka berada demi tanggung jawab sebagai anak bangsa. 
Penting juga sudah banyak para pemuda tanggung yang peduli kekurangan dilingkungannya akan gejala alam supaya bisa seimbang dan saling tolong menolong sesama. Mereka bergerak jadi relawan untuk menyadarkan orang lain, ya semisal mereka tidak ikut mengutuk pada nasib bangsa yang sudah buruh begini rupa.

04 April 2014

4/04/2014 03:28:00 AM

Gampong Saya, Jauh Sekali!

Opini Harian Aceh, Akhir Tahun 2008 |
Boleh disebut saya termasuk seorang yang beruntung terlahir sebagai anak dari gampong. Gampong sejuk dengan tatanan sosial masyarakatnya yang sangat santun dan bermoral dalam berinteraksi sesama. Rasa kepekaan terhadap segala permasalahan sosial seperti pada umumnya gampong-gampong di Aceh lainnya. Menulis gampong, pikiran saya tidak terlepas dari kenangan masa kecil saat bersama teman-teman sebaya.
4/04/2014 03:19:00 AM

Aceh; Kali ini Soal Ngangkang


KETIKA isi pidato Suadi Yahya, Walikota Lhokseumawe pada malam pergantian tahun 2012 ke 2013 di Lapangan Hiraq Lhokseumawe heboh dimedia sehari seterusnya, saya membaca berita itu di media online  disebuah warung kopi. Rasa kopi dalam gelas saya tiba-tiba jadi pahit rasanya.

26 March 2014

3/26/2014 02:50:00 AM

DIJUAL BUKU: ACEH DI MATA DUNIA

Dalam Pengantar Bukunya “ACEH DI MATA DUNIA” DR. Hasan Tiro Menulis "Bagaimana Aceh melihat diri sendiri sebagai Aceh? Inilah sebuah pertanyaan besar untuk bangsa Aceh sekarang yang harus kita pahami. Jawaban pertanyaan ini sangat menentukan nasib Aceh, nasib generasi selanjutnya dan nasib Aceh di mata dunia. Jika kita melihat diri kita sebagai sebuah bangsa yang hina, lemah, tidak mulia, ditipu, diperintahkan oleh orang lain, menyembah bangsa lain dan menerima perintah orang lain yang datang ke Aceh, maka kita akan hancur. Nama Aceh akan hilang, menjadi jajahan orang lain dan budak bangsa lain"

Baca juga tentang review buku ini di blog Reza Mustafa

25 March 2014

3/25/2014 07:56:00 AM

Jokowi Pemimpin Pengkhianat!?


Saya warga negara Indonesia, lahir dan besar di ujung pulau Sumatera, tepatnya di Aceh sejak 32 tahun yang lalu. Saya tidak setuju dengan bakal calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang dengan resmi telah memberikan mandat kepada Jokowi (Saat ini Gubernur Jakarta) untuk dicalonkan sebagai Presiden dari PDIP. Kenapa?

Anda boleh setuju atau menolak dengan sikap saya ini, sebagai warna negara Indonesia, tentu sah-sah saja memberikan sikap terhadap calon presiden yang akan datang. Ini kan negara demokrasi.

PDIP yang mencalonkan Joko Widodo tidak jauh jauh hari mempersiapkan calon presiden dari partai mereka. Jokowi yang sejak tahun 2012 lalu menang sebagai Gubernu DKI Jakarta pernah membuat janji untuk tidak meninggalkan masa jabatanya sebagai selama menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Lalu apa yang terjadi sekarang ini? bagi saya, Jokowi adalah seorang pemimpin dan kader partai yang pengkhianat, yang meninggalkan amanah rakyat di DKI Jakarta. Dalam politik tentu apapun ada alasan Jokowi di usung untuk selamatkan kondisi Indonesia dan kepentingan perolehan suara PDIP jelang pemilu legislatif 9 April nanti.

Alasan saya menolak Jokowi sebagai Capres sederhana saja: kalau dia sudah berniat maju sebagai presiden, harusnya dulu tidak usah maju sebagai calon Gubernur Jakarta. Andai saja dia telah memimpin Jakarta 3 tahun, tentu tidak terlalu menjadi persoalan ketika dia meninggalkan jabatannya selama ini. artinya dia sudah meletakkan pondasi visi dan misinya sebagai Gubernur bagi Jakarta. Sebagaimana dulu ketika di jadi Walikota Solo. Jokowi telah memimpin lebih dari 50 persen sisa masa periode.

Saya melihat PDIP dalam hal ini tidak serius dalam menyiapkan calon presiden yang akan mereka usung nantinya. Maka inilah yang saya sebut Jokowi sebagai pemimpin pengkhianatan yang tidak amanah. dia telah mengkhianati warga DKI yang menaruh harapan besar untuk membangun Jakarta.

Jika terpilih sebagai presiden nantinya, Jokowi tak lebih sebagai presiden boneka ketua umum PDIP. Dia tak lebih akan jadi robot yang siap menjalankan bisikan dari Megawati sebagai ketua Umum PDIP. Jokowi pernah berjanji jika terpilih Jokowi janji tuntaskan masa jabatan di DKI Jakarta. Lalu apa yang terjadi dengan sikapnya sekarang ini. dia telah menelan ludah sendiri.

Yang kedua adalah, sebagai Aceh tentu saya tidak bisa melupakan -dan ingatan banyak orang Aceh pada tanggal 19 Mei 2003. Tanggal itu Provinsi Aceh ditetapkan sebagai Darurat Militer (DM). Waktu itu Megawati Sukarnoputri sebagai Presiden RI, Menkopolhukan Susilo Bambang Yudhoyono. Tepatnya pada malam tanggal itu, semua pasukan aparat keamanan dan kendali Gubernur Aceh -waktu itu Gubernur Abdullah Puteh- di bawah kendali Penguasa Darurat Militer Daerah, Mayjend Endang Suwarya sebagai Panglima Daerah Militer (Pangdam) Iskandar Muda. Aceh dipimpin oleh militer, segala keputusan berada di tangan PDMD, Gubernur di bawah kendali sang Jendral tersebut.

Pada tahun 1999, rakyat di Aceh juga tidak boleh lupa dengan janji dari Megawati ketika dia berpidato di mesjid raya banda Aceh:

"Untuk saudara-saudaraku rakyat Aceh yang sangat saya cintai, jika "Cut Nyak" kelak memimpin negeri ini, tidak akan saya biarkan setetes darah-pun tumpah di Aceh, yang amat besar jasanya untuk republik ini." baca di jumpueng blogspot.com

Bagaimana damai Aceh jika saja PDIP yang jadi penguasa di Indonesia? Saya tidak berani memprediksi macam-macam. Kita lihat saja nantinya. Toh juga Jokowi tidak bisa dipegang ucapannya yang tidak amanah pada warga DKI Jakarta yang telah percaya memilih dia sebagai pemimpin mereka.

Kalau ditanya siapa Presiden yang paling tepat memimpin Indonesia. Saya harus menjawab bahwa sosok Anies Baswedan layak dan pantas jadi Presiden RI ke -7. Anies dengan ide dan gagasan dalam yang cukup memukau yang saya nonton/baca diberbagai media, cukup punya alasan yang kuat jika saya menginginkan Anies Baswedan jadi Presiden. Anies saat ini sedang mengikuti konvensi Partai Demokrat, apakah akan memenangkan konvensi dan apakah sang Rektor Termuda Universitas Paramadina tersebut akan diusung oleh Partai Demokrat? Ini jadi kekhawatiran saya.

Lalu ada banyak capres lain yang muncul dan digadang-gadangkan dimedia. Tetapi dari semua itu, cuma Jokowi dan Prabowo merupakan dua kandidat yang lebih kuat. Jika Anies Baswedan tidak menang konvensi dan tidak ada partai yang mengusung beliau. Maka saya lebih memilih mendukung Jokowi dibandingkan Prabowo yang berasal dari militer!. Dan berharap, Jokowi akan dipasangkan dengan Abraham Samad, atau Mahfud MD atau seperti yang beredar isu dengan Yusuf Kalla, Ryamizad Ryacudu (mantan KASAD era Megawati) atau dengan Hatta Radjasa? tapi Hatta Radjasa bisa jadi akan berkoalisi dengan Demokrat. Secara SBY dan Hatta besanan. Bisa jadi akan ada koalisi cinta. Kita tau, Yusuf Kalla punya peran penting terhadap perdamaian Aceh. Kita lihat nanti, gimana hasil pemilu legislatif 9 April 2014.

Sosok Jokowi memang paling disukai oleh rakyat Indonesia saat ini. dia membangun komunikasi ala wong deso, ceplas ceplos dan tidak bergaya elit sebagaimana umumnya pejabat di Indonesia ini. dia juga dibesarkan oleh media massa dengan hal hal yang unik, sikapnya yang santun dan gaya bicara yang mencoba seolah olah dia adalah seaorang yang benar benar merakyat[Sambil Buang Suntuk disebuah warkop, 24 Maret 2014]

18 March 2014

3/18/2014 07:22:00 AM

Membaca Sikap Risma

@net

Jelang pemilu legislatif (pileg) 2014, berbagai terpaan isu dan wacana mencuat dari partai politik, menarik simpati dari rakyat sebagai pemilik mandat kekuasaan tertinggi di Republik Indonesia. Serangan untuk parpol tidak saja terjadi dari luar partai, tetapi juga dari internal partai sendiri. Berebut simpati dari atas dan kalangan bawah.  Sikap partai politik yang saling serang dan salahkan partai lawannya tentu lazim terjadi. Belum selesai kasus tentang ketidakbetulnya pelantikan Wakil Walikota Surabaya dan Wacana mundur Walikota Surabaya mencuat isu sadap Gubernur DKI Joko Widodo dan sadap di rumah Megawati Sukarnoputri, Ketua Umum PDI-Perjuangan. Isu itu digemborkan ke media oleh Tjahyo Kumulo, Sekjend PDIP.


Apakah isu sadap-sadap itu erat kaitannya dari sikap elit PDIP untuk mengalihkan isu Risma mundur dan dizalimi oleh petinggi PDIP di Surabaya? Jika saja Risma mundur, maka besar kemungkinan akan berbahaya bagi perolehan suara PDIP pada pemilu legislatif 9 April 2014 nantinya. Publik hari ini sudah berpihak kepada Risma. Risma sedang melawan “Banteng Surabaya.”

Liputan Majalah Tempo Edisi 17-23 Februari 2014 tentang wacana mundurnya Walkot Surabaya Tri Rismaharini yang blak-blakan menyebutkan ketidak beresan dalam pemilihan hingga dilantiknya Wakil Walikota Wishnu Sakti. Berbagai media mengulas berbagai sisi soal kenapa Risma mewacanakan mundur dari jabatannya sebagai Walikota Surabaya. Dari soal Risma yang tidak menyetujui pembangunan jalan tol di kota Surabaya, hingga tekanan politik dari berbagai pihak yang memaksakan kepentingan politknya. 

Risma lahir dari kalangan birokrasi. Jabatan terakhirnya sebelum terpilih sebagai Walikota adalah Kadis Kebersihan dan Pertanaman Kota Surabaya. Risma dicalonkan sebagai Calon Walikota berpasangan dengan Bambang DH, Walikota Surabaya periode sebelumnya. Mereka diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Pasangan ini terpilih sebagai Wali-Wakil Walikota Surabaya dengan perolehan suara mencapai 38 persen lebih. Mereka dilantik akhir tahun 2010.

Kabar mengejutkan pada pertengahan 2013, Wakil Walikotanya Bambang DH mundur karena mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Jawa Timur pada akhir 2013 lalu.

Risma bukanlah seorang politisi, alumni Jurusan Arsitektur Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) itu menjadi Pegawai Negeri Sipil di Surabaya. Dari situlah karirnya untuk dibangun hingga sekarang ini menjadi Walikota. Karya-karya nyata berpihak pada kota dan warga cukup signifikan dilakukan ketika ia menjabat sebagai Kadis Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya.

Kesuksesan Risma yang merakyat menarik disimak dan menjadi inspirasi untuk pemimpin kota lainnya. Pekan lalu itu ia terpilih sebagai Walikota terbaik dunia dari lembaga international, The City Mayors Foundation sebagai Mayor Of The Month February 2014. 

Awal Februari lalu. Mata Najwa, Sebuah acara talkshow isu-isu politik dan pemerintahan di Metro TV yang dibawakan oleh Najwa Shihab mengundang Risma sebagai narasumber. Risma bicara blak-blakan dan sesekali dia menangis. Tampak berat sekali tekanan politik yang ia terima dari mafia-mafia politik di Surabaya dan Jakarta. 

Risma mencatat sejarah penting di Kota Pahlawan itu, ia terpilih sebagai Walikota wanita pertama sepanjang sejarah Kota Surabaya. Prestasinya yang paling bergengsi menjadikan Surabaya memperoleh penghargaan tingkat Asia-Pasifik dalam Future Goverment Award 2013 dengan menyisihkan 800 kota diseluruh Asia-Pasifik. Ini menjadi prestasi yang cukup menggembirakan bagi warga Surabaya khususnya dan Indonesia secara umum. 

Risma yang blak-blakan membongkar hal ganjil tentang kondisi kepemimpinannya di Mata Najwa, menarik simpati publik via media sosial kian ramai kepada Risma. Risma pernah mau disogok 8 Miliyar oleh orang yang suruhan pihak tertentu untuk melunakkan hatinya menyetujui proyek tol di tengah kota. Dia menolak dan mengusir orang ke luar ruangannya. 

Wishnu Wawalkot Surabaya yang dilantik Mendagri sebagai pengganti Bambang DH diduga cacat hukum oleh Risma. Ada pemalsuan tandatangan panitia pemilihan pada saat pengusulan berkas ke Mendagri. Penetapan Wishnu yang juga Ketua PDIP Surabaya bermuatan politis. Risma tidak diajak berembuk dalam pemilihan itu. Ia merasa tak dihargai. 

Wishnu bukan orang baru di PDIP, darah “bantengnya” telah ada sejak kecil. Wishnu anak dari Almarhum Sutjipto (Mantan SekJend PDIP) tentu saja punya kekuatan yang cukup kuat sebagai anak ideologis mantan petinggi PDIP. Senioritas dan jasa almarhum Bapaknya untuk partai yang masih cukup kuat berpengaruh. Sedangkan Risma baru anak ‘banteng’ kemarin sore. Bukan sepenuhnya sebagai kader PDIP. Ia menjalankan mandat rakyat yang telah memilihnya 3 tahun lalu. Tentu saja banyak pihak pihak yang tidak senang dengan gaya kepemimpinanya yang tidak pandang bulu, setiap kebijakan yang tak berpihak kepada rakyat, ia tak sungkan untuk melawan ‘arus’ kepentingan partai pengusungnya. 

Jika Risma jadi mundur sebagai Walikota Surabaya, ini akan sangat berefek terhadap perolehan suara PDIP pada pemilu legislatif nantinya. Risma telah mendapat simpati publik yang luar biasa akibat pemberitaan media. Si twitter bahkan terdapat hastag #SaveRisma sebagai dukungan publik kepadanya. Beruntung Ketua PDIP Megawati sudah turun tangan mengatasi persoalan kisruh internal partainya. Jika tidak, maka siap-siap PDIP kehilangan banyak suara di pileg nantinya. []