KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (70) BERITA MEDIA (47) CATATAN HARIAN (47) GoBlog (12) PUISI (11) CERPEN (8)

30 March 2016

3/30/2016 08:28:00 AM

Alih Fungsi Rawa Perparah Kerusakan Lingkungan di Aceh



BANDA ACEH – Pengalihan fungsi rawa menjadi perkebunan sawit memperparah kerusakan lingkungan di Aceh. Hal tersebut disampaikan Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, Muhammad Nur.

“Kerusakan lingkungan dan tata ruang Aceh yang terjadi selama ini diperparah dengan adanya alih fungsi rawa ke perkebunan sawit,” jelas Muhammad Nur dalam diskusi publik deforestasi dan pembangunan ramah lingkungan, Senin sore, 28 Maret 2016 di Warkop 3 in 1, Banda Aceh.

Diskusi yang digelar Aceh Devolopment Watch (ADW) bekerja sama dengan Lembaga Kajian IDeAS dan Ikatan Pecinta Alam Aceh (Ikapala) ini menghadirkan empat pemateri, selain Muhammad Nur ada praktisi lingkungan Aceh, M. Yakob Ishadamy, Ketua Ikapala Taufik Hidayah, dan anggota DPD RI asal Aceh Rafly.

Senada dengan Muhammad Nur, M Yakob memaparkan, kerusakan lingkungan Aceh semakin meningkat akibat adanya peningkatan kebakaran hutan setiap tahun. “Peran serta masyarakat dalam menjaga hutan besar sekali,” ujarnya.

Sementara Taufik Hidayah menjelaskan tentang masalah pendampingan isu lingkungan yang masih kurang mendapat perhatian dari pemerintah dan kesadaran berbagai pihak terkait.

“Membangun simbiosis seluruh elemen masyarakat. Bagaimana sesungguhnya aktivis lingkungan dalam menjalankan dan mengawal kebijakan isu lingkungan” ujar Taufik Hidayat.

Pada kesempatan yang sama, Senator Aceh, Rafly mengatakan bahwa alam merupakan harmoni yang paling mahal, modal bagi anak cucu kelak. Diskusi publik yang dipandu oleh Risman A Rahman tersebut turut dihadiri oleh berbagai kalangan pegiat lingkungan, mahasiswa, unsur jurnalis dan tokoh masyarakat. [teropongaceh.com - 29 Maret 2016]

27 March 2016

3/27/2016 06:14:00 AM

Blogger Aceh Kopdar di Seminar Roadblog


@kitabmaop
BANDA ACEH – Ratusan blogger berkumpul dalam seminar dan workshop Excite Indonesia Roadblog 10 Cities. Ajang kopdar blogger Aceh itu berlangsung pada Sabtu, 26 Maret 2016 di Hotel Grand Lambhuk, Banda Aceh selama sehari penuh.
Workhsop dan seminar roadblog itu diadakan oleh salah satu perusahaan advertising PT Excite Indonesia didukung oleh Traveloka, Lembaga Sensor Film Indonesia dan Pegadaian berlangsung seharian penuh.
Selain hadir narasumber nasional, dua pemateri dari blogger lokal memaparkan tentang Hypnotize Content (konten yang menghipnotis pembaca) yang diisi oleh Yudi Randa dan Muhammad Rizal dari Aceh Blogger Community yang bicara tentang teknik search engine optimization (SEO) blog agar banjir trafik.
Yudi Randa menyebutkan, seorang blogger harus jujur dan menulis dengan melihat sudut pandang yang unik dari tulisan orang lain.

“Pilihlah judul yang bikin orang penasaran membaca. Konten jangan abaikan kata kunci. Selain itu harus jujur dalam menulis, angkat sisi lain yang benar-benar unik dan beda,” ujar pemilik blog hikayatbanda.com yang juga ayah dua anak ini.
Sementara itu, blogger kawakan nasional yang membawa materi menjadi blogger terkenal di era global mengajak peserta workshop untuk menulis sebelum ajal menjemput karena tulisan yang bagus akan selalu dikenang. Sesi akhir dari workshop kopdar blogger Aceh itu diisi dengan materi belajar SEO oleh Muhammad Rizal.
Seminar dan workhsop dengan tagar #RoadBlog10Cities itu sempat menjadi trending topik Indonesia di sosial media twitter. Acara itu diadakan di sepuluh kota di Indonesia, salah satunya di Kota Banda Aceh. [MS] | teropongaceh.com / 27 Maret 2016

22 March 2016

3/22/2016 05:51:00 AM

Komunitas Filmaker Se-Sumatera Berkumpul di Banda Aceh

sesi diskusi temu komunitas filmaker di Gedung Sultan Selim, Banda Aceh | kitabmaop
Banda Aceh – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Pengembangan Perfilman bekerjasama dengan Badan Perfilman Indonesia (BPI) memfasilitasi pertemuan antar komunitas film se-Sumatera. Acara yang diikuti oleh 5 utusan provinsi di Sumatera itu berlangsung di Gedung Sultan Selim, Banda Aceh, (21/03/2016)

Temu Komunitas itu merupakan satu dari empat rangkaian kegiatan jelang Hari Film Nasional (HFN) ke-66 yang jatuh pada tanggal 30 Maret. Peserta diskusi yang banyak didominasi oleh perwakilan komunitas filmaker di Aceh itu berlangsung akrab dengan diskusi beragam tentang perkembangan film baik itu fiksi ataupun film dokumenter. Perwakilan komunitas film di Aceh diundang oleh panitia.

Jamaluddin Phonna, mewakili Aceh Film Dokumenter menyebutkan kondisi film-film ditingkat nasional sejak dulu hingga sekarang ini banyak didominasi oleh karya-karya dari pulau Jawa. Ia mengatakan, butuh kerja keras para film baik di Aceh dan provinsi lain untuk bersaing dengan sutradara luar Sumatera.

“Gelisah dengan peluang kami yang di Aceh. Saya melihat seperti pembuat film profesional membangun kerajaan sendiri di sana,” Ujar Jamal yang pernah menjadi finalis film Eagle Award Metro Tv untuk film Garamku Tak Asin Lagi.

Jamal melanjutkan, seharusnya semua pembuat film khususnya dari komunitas bisa lebih bersatu untuk sama-sama memajukan film Indonesia.

Sementara itu, Aktris senior Ria Irawan dalam diskusi setelah pemutaran film Bulan di Atas Kuburan menyebutkan salah satu bentuk apresiasi film dengan membayar tiket waktu menonton di bioskop.

“Empat hal yang paling penting, edukasi pencinta film, komunitas film, sineas, apresiastif,” ujarnya seraya mengajak filmaker Aceh untuk terus berkarya dengan ide-ide baru yang cukup banyak di Aceh.

Roadshow Hari Film Nasional itu diadakan 5 kota seluruh Indonesia, untuk Banda Aceh pemutaran film Bulan di Atas Kuburan, Blue Eyes Boy (Iran) dan Polem Ibrahim (Aceh) sangat sepi penonton. Padahal ruang serbaguna di Sultan Selim itu mempunyai kapasitas mencapai duaratusan orang lebih. 

Roadshow HFN untuk Kota Banda Aceh itu ditutup dengan pemutaran film Layar Tancap di Gampong Nusa, Lhoknga, Selasa malam, 22 Maret 2016 dengan pemutaran film Sepatu Dahlan. Roadshow Hari Film Nasional ke 66 ini juga didukung oleh Komunitas Al-Hayah, Aceh Documentary Competition, Aceh Film Festival, Dewan Kesenian Banda Aceh dan Komunitas Kanot Bu[]

02 March 2016

3/02/2016 08:50:00 AM

Mawardi Ismail dan Teman Sekolahnya



​​Setiap menyebut pakar hukum Unsyiah, ingatan kita akan bersepakat pada sosok nama “Mawardi Ismail.” Saya tidak mengenal dengan baik sosok Mawardi Ismail, pakar hukum paling terkenal di Aceh. Mantan Dekan Fakuktas Hukum Unsyiah dan anggota DPRD Tk I Daerah Istimewa Aceh, era tahun 90han sampai 1999. Mawardi kalau tak salah saya jadi anggota dewan melalui Partai Golongan Karya saat itu. Saya tau tentang kesuksesannya dan keluarga besar mereka dari Alm. Ayah dan Ibu saya.

Cuma sekali bertemu Pak Mawardi secara tak kebetulan pada suatu acara. Waktu itu saya ikut salam mengikuti salaman dari peserta acara yang lain, saya ingin balik kembali untuk mengobrol dengan beliau, memperkenalkan diri. Niat itu urung, saya memilih langsung meninggalkan tempat acara.

Kampung saya dengan kampung Pak Mawardi bersebelahan. Jarak rumah saya sekitar 1 kilometer dengan rumah orang tua Pak Mawardi di Desa Tingkeum Baro, Ulee Tutu, Kutablang Bireuen.

Sewaktu saya kecil –entah adik atau abang- Pak Mawardi paling terkenal bagi kami kalangan anak anak yang ingin sunnat rasul. Pak Armiya namanya, seorang mantri (setingkat perawat?) yang bekerja di PT Arun Lhokseumawe. Tiap bulan puasa tiba, Pak Mia melakukan sunnat massal gratis bagi anak anak keluarga kurang mampu dari desa Tingkeum Baro dan sekitarnya. Di rumah orang tuanya tersebut. Saat mengadakan sunnat rasul gratis, ia pulang ke Tingkeum Baroe. Sehari hari ia berumah di Lhokseumawe karena bekerja di Arun.

Bagi yang mau sunnatan, anak anak miskin desa mendaftar melalui geuchik gampong masing masing. Langsung Pak Mia yang menangani, ia tenaga medis di PT Arun. Setiap ada sunnat anak anak dikasih sumbangan, baju koko dan satu kain sarung.

Kami 5 anak laki laki di rumah tidak satupun yang sunnat rasul dengan Pak Armia. Waled saya (panggilan untuk Ayah) beranggapan kalau keluarga kami kategori sebagai keluarga yang mampu. Waled saya seorang PNS guru SD. Kami semua sunnat rasul di mantri di kota kecamatan, Pak Ramuli Teuntra. Seorang tenaga medis yang bekerja di RS Kesrem Lhokseumawe.

Waled saya seangkatan dengan Pak Mawardi. Sewaktu sekolah di SRI (Sekolah Rendah Islam, setingkat SD/MIN) Waled saya sekelas dengan Mawardi Ismail, abang dari Pak Mia. Sampai tingkat PGA (Pendidikan Guru Agama, setingkat SMA?) Waled masih sekelas dengan Pak Mawardi, hingga sewaktu ikut penataran/pelatihan ke Banda Aceh mereka sering bersama dan tinggal serumah. Hal ini sering diceritakan Ibu. Bahkan jika di rumah ada koran dengan foto wajah Pak Mawardi, Mak saya kerap membaca dengan bangga berucap: “Nyan Pak Mawardi sigoe sikula ngon Waled.” Waled yang dimaksud Almarhum Ayah saya.

Saya tidak tau, apakah Pak Mawardi masih mengenal teman sekelasnya, M. Saleh Daud. Kerap dipanggil M.Salda sewaktu terpaksa ‘bekerja’ di kantor Camat Gandapura (Geurugok) karena Waled menolak menjadi Kepala SD. Waled saya menolak jadi kepala sekolah karena selain menjadi guru, ia juga bekerja serabutan di kampung, mengupah dan bekerja di sawah sendiri. Kalau jadi kepala sekolah, maka setiap hari harus masuk sekolah. Sedangkan jika jadi guru biasa, hanya ke sekolah pada saat jam ngajar saja. Kantor Kandep Bireuen (sebuatn untuk kantor UPTD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kala itu) memberi sanksi kepada Waled harus masuk kantor Camat 2 hari seminggu, selasa dan sabtu. Waled saya juga bergabung di Golkar, di kampung ia menjabat sebagai Ketua Golongan Karya. Tingkat kecamatan ia juga diperbantukan pada bagian sekretaris karena untuk memudahkan kerja kerja partai, di samping Waled saya punya mesin ketik milik sendiri di rumah.

Menurut cerita Mak saya, sebelum waled meninggal tahun 1999, umur saya 17 tahun kala itu. Waled pernah ke Banda Aceh menghadiri pesta Pakwa Muhyen, saudara sebelah Waled yang bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi D.I Aceh kala itu. Almarhum Pakwa Muhyen masih saudara dekat dengan kami dan satu kampung di desa Pulo Reudeup. Kalau tidak salah saya, istri Pak Muhyen ini adik kakak dengan Istri Pak Mawardi. Waled saya pernah sekali menjumpai Pak Mawardi kala itu beliua sebagai anggota DPRD Tk I D.I. Aceh, jumpa teman lama. Setelah itu, Waled tidak pernah berjumpa lagi. Sewaktu tahun 97 kala kakak saya ke Banda Aceh, ia kerap mewanti wanti untuk bersilaturahim ke rumah Pak Mawardi juga ke Rumah Pak Muhyen, demi menyambung tali saudara.

Kemarin Pak Mawardi meluncurkan buku Mawardi Ismail; Intelektual Organik. Saya tak sempat menghadiri. Buku itu berisi tentang testimoni para sahabat Pak Mawardi yang pernah berinteraksi dengan beliau. Selasa 1 Maret 2016 itu juga sebagai hari akhir beliau pensiun sebagai dosen di Unsyiah. Hari pensiun yang berkesan dengan meluncurkan buku testimoni. Satu hal yang tak banyak orang melakukan. Landing yang baik dari masa tugas sebagai dosen. Tentu selepas ini Pak Mawardi masih banyak sekali dibutuhkan oleh Aceh dan banyak orang yang meminta pendapatnya. Soal status sebagai dosen, hanya perkara adminitrasi pensiun saja.

Semalam saya membayangkan jika seandainya Waled saya masih hidup, maka mungkin saya akan ada tulisan Waled saya dalam buku testimoni para sahabat tersebut.

Selamat atas luncur bukunya Pak Mawardi, sosok yang seumateh (penurut orang tua) dan pintarnya Bapak saya kerap ketahui dari Ibu dan Waled saya. Saya tau ada 12 orang saudara Bapak jadi orang sukses dan berguna semua. Tokoh penuh inspirasi, Aceh masih sangat membutuhkan petuah petuah hukum dan kebijakan dari Pak Mawardi. Saya berharap, Pak Mawardi hanya pensiun adminitrasi saja sebagai dosen ilmu hukum.

Mohon maaf jika dalam tulisan ini ada yang kurang dan salah data, ini hanya review ingatan saya saja. Kiranya Pak Husaini Ismail selaku adik beliau bisa meluruskannya. Terimakasi Pak, mudah mudahan suatu hari nanti kita bisa bertemu Pak, jika selama ini hanya berinteraksi di fesbuk saja.

24 February 2016

2/24/2016 05:53:00 AM

Dialog Dini Hari; Edi dan Ide

@facebook Edi Fadhil 

“Adakah yang lebih indah dari semua ini /Rumah mungil dan cerita cinta yang megah /Bermandi cahaya di padang bintang /Aku bahagia”
Itu penggalan lirik lagu Tentang Rumahku, judul sekaligus nama album perdana band yang berasal dari Bali, Dialog Dini Hari (DDH). Band indi yang dibentuk pada tahun 2008 ini beraliran lagu lagu blues tentang keresahan hati, isu sosial dan kegamangan hati sang personilnya. Saya menyukai beberapa lagu mereka karena seorang tukang memasak paling terkenal di Komunitas Kanot Bu, Tepank Fajriman sering kali memutarkan lagu lagu Dialog Dini Hari kala ia sedang memasak atau mengulek sambal Monica Belluchi, begitu nama yang Tepank tabalkan sewaktu saya mencicipinya.
Mendengar lagu Tentang Rumahku yang dinyanyikan oleh Dialog Dini Hari dengan tiga personelnya, membawa saya pada sosok Hamba Allah penyumbang tersering pada list gerakan membangun rumah kaum miskin desa. Program Rumah Harapan yang digerakkan oleh Edi Fadhil, seorang pemuda yang menggunakan media sosial fesbuk, mengumpulkan sumbangan dari orang orang yang ingin menabung untuk dunia-akhirat. Edi seorang pemuda yang sok sibuk mengurus dan membantu bangun rumah kaum miskin desa. Kasihan Edi, macam tidak ada pekerjaan lain saja yang lebih penting ia lakukan.
Sebagai pengabdi negara, dia harusnya duduk manis saja di kantor sambil apdet model jam terbaru di oldshop, menjelajah internet tentang harga tiket murah untuk liburan ke Malaysia, Singapure atau Thailand, pada akhir tahun. Atau selemah lemah bersantai maingame di ruang kerjanya. Atau paling kurang lagi haha hihi di warung kopi dengan baju dinas kebanggaan para orang tua dan mertua atau Edi bisa mikir bagaimana mengolah proposal proposal fiktif bersama organisasi abal abal untuk memperkaya diri dengan taksiran persen uang muka sekian jutaan.
Harusnya Edi duduk di kantor. Pura pura terlibat membantu orang orang berurusan dengan birokrasi dan kerjaan lain dari pimpinan sambil menunggu dan meminta jatah uang kopi. Lumayanlah untuk biaya liburan ke luarnegeri atau ke provinsi tetangga pada akhir pekan.
Dengan duduk manis di meja kantor saja, Edi tak perlu bersusah payah harus bertemu dan mengajak anak muda dan relawan lain untuk membantu pembangunan rumah yang layak, dan tentu saja pantas huni bagi penduduk miskin desa. Sunggguh, gaya hidup Edi menurut saya kurang piknik. Ia tidak belajar dari senior pengabdi lain atau sesama teman pengabdi negara yang lebih cerdas memprotes terkesan dizalimi karena pihak dinas urusan kepegawaian telat bayar gaji, menuntut kenaikan gaji. Walau sering kali mereka asyik main waifi di warung kupi. Dengan menunggu gajian tiap awal bulan, dia bisa hidup bahagia dan kaya raya bersama keluarga dan istri. Kalau sudah kaya raya, tinggal bangun mewah rumah sendiri, tinggal bersama anak istri tercinta. Ini? Halah, Edi kasihan sekali nasibnya jadi pegawai harus membantu orang orang miskin desa untuk bisa hidup dalam rumah yang layak dan pantas. Ini zaman kelezatan bakda perdamaian selepas amuk peluru dan amuk laut.
Mestinya Edi bisa duduk santai sebagai pegawai biasa sambil menerima gaji setiap bulan ditambah dengan uang sppd hasil olahan. Ngak perlu repot repot habiskan waktu dan tenaga untuk membantu warga dan anak anak yang butuh dorongan dalam bersekolah karena tidak ada biaya.
Pemuda seperti Edi, Entah apa tujuan hidupnya yang telah sukses jadi pegawai –demikian asumsi sukses bagi orang kita di Aceh-, ngapain dia menghabiskan gajinya untuk membiayai diri sendiri ke wilayah pedalaman Aceh, bertemu dan mencari keluarga miskin yang pantas dibangun rumah layak huni.
Edi entah dari mana muncul ide menggalang kekuatan menggerakkan hati manusia penderma lain untuk mau terlibat bangun rumah warga miskin desa. Bangun rumah berjamaah. Anehnya Edi tidak narsis bagikan link berita berita di status fesbuk tentang kegiatannya yang demikian banyak ditulis di media atau terekam dalam liputan reporter televisi. Tapi saya ngak habis mikir lagi, kenapa ada politisi dari lembaga negara yang memuja muji atas kinerjanya itu. Cermin mana cermin!? Apa ini sebagai alat untuk meraih simpati dari rakyat yang sudah demikian muak dan lelah atas buruknya perilaku dan perangai wakil mereka di legislatif?
Etapi ngak perlu heran dengan kondisi demikian, sudah hal lumrah dan wajar para pegiat politik di kampung kita memang begitu. Bukan tidak mungkin bulan depan akan heboh lagi dengan berita ada pejabat negara yang melaporkan rumah warga miskin harus dibangun kepada Edi Fadhil, harusnya mereka bisa lakukan sendiri toh!
Beberapa dari kalian juga lebih aneh lagi, mau usung EF dengan memasang foto dia untuk menjadi Calon Gubernur. Hei, kalian mikir bangun rumah dhuafa itu tugas pemangku pemerintah? Kalian salah besar atas itu. Warga miskin di Aceh itu salah mereka sendiri jadi miskin, harusnya mereka kerja kerja kerja, bukan mengeluh minta dikasihani sama pemerintah. Warga miskin dilarang tidur dan asyik duduk nongkrong di warung kopi kayak adek-abang peugawoe nanggroe dan tenaga kontrak yang Cuma bisa ngehe doang setiap jam kerja di warung kopi sambil main gadget, posting foto selpin ke instagram atau chek in path sedang mamam di warung kari kambing.
Ide atas kerja Edi ngak usah ditiru oleh pemerintah, sebagaimana beberapa dari kalian yang lemparkan wacana itu di media sosial atau komen di status fesbuknya. Kalian mikir pemerintah sanggup lakukan hal begitu? Ngak akan bisa terjadi keles. Itu kerja kerja bangun rumah dhuafa bukan kerjaan pemerintah, memang sudah nasibnya masyarakat kita yang miskin. Lalu apa kalian mikir ide bangun rumah ala Edi akan dilakukan oleh dedek-dedek gemes doyan selpie di luar negeri yang lagi kuliah esdua atas biaya pemerintah daerah? Ngak akan terjadi juga, mereka itu para aset bangsa Aceh dan anak terdidik nan cerdik Bahasa Inggris, yang memanfaatkan kebijakan beasiswa pemerintah di daerah untuk sekolah ke luar negeri. Apa produk karya mereka di sana kan cuma selpi-selpi kasih tampak gigi kinclong manisnya, atau paling hebat ya dimuat tulisan citizen reporter di koran cetak ternama di Aceh. Selebihnya mereka cuma bisa chek in di path lagi mamam nasi instan cepat saji di restoran megah luar negeri dan sebarkan foto dengan latar taman indah di instagram. Apa mereka ada mikir berapa ratusan juta biaya yang dikeluarkan pemerintah di Aceh untuk biaya hidup dan kuliah mereka. Apa selepas esdua mereka akan mengabdi dan atau menyisihkan gajinya untuk membantu adik-adik agar bisa sekolah, seperti yang Edi lakukan!? Lha Edi bukan penerima beasiswa pemerinta keles.
Sudah ya, saya terlalu banyak merepet. Kata kawan saya yang tidak ingin disebutkan namanya; kalau ngak bisa bantu, jangan nyusahin. Ngak usah protes sana sini dan syirik karena ngak dapat beasiswa ke luar negeri, salah sendiri dulu ngak belajar Bahasa Inggris. Bahasa yang pernah dicap bahasa kapir oleh nenek moyang kita.
Sebelum habis kalian baca tulisan sampah repetan ini, ada yang terpikir oleh saya sampai sekarang masih penasaran dengan sosok misterius yang sudah menyumbang capai ratus jutaaan via Edi Fadhil. Itu saya lihat namanya di list laporan yang ditulis Edi di laman fesbuknya. Bagi kalian yang kerap memantau status dan laporan pertanggung jawaban sumbangan masuk ke nomor rekening bank milik Edi, kalian mungkin juga akan bertanya siapa sosok penyumbang atas nama “Dini Hari?” Apa jangan jangan ada hubungannya dengan band Dialog Dini Hari yang saya kutip liriknya di atas? Toh mereka sudah menuliskan dalam bentuk lagu tentang rumah yang layak huni sebagaimana digambarkan oleh Dialog Dini Hari dalam lirik lagunya itu.
Tapi kan biasa kalau artis menyumbang ngak ada tutupi pakai nama samaran lah, pasti undang media dan diumbar besar besar saat mereka ada bantu warga miskin atau sedekah kepada anak yatim. Saya rasa personil band Dialog Dini Hari ngak ada hubungan apa apa dengan penyumbang bernama “Dini Hari.” Band Dialog Dini Hari juga ngak bakalan tau apa apa tentang gerakan rumah impian yang dilakukan oleh Edi Fadhil bersama seluruh relawan yang terlibat di dalamnya.
Menurut info intelejen jaringan kami, nama penyumbang “Dini Hari” adalah seorang warga keturunan Aceh yang telah lama bermukim di Pulau Jawa. Niatnya menyumbang dan peduli untuk membangun rumah warga miskin di Aceh, sungguh luarbiasa ikhlasnya. Padahal sosok ini bukan penerima beasiswa pemerintah. Eh. Tidak pernah sebutkan siapa sosok beliau ini. Sungguh benar benar inspirasi dan jadi cermin bagi kita yang bermukim di Aceh, punya kelebihan makanan dan rumah megah.
Sebagai perwakilan keresahan orang orang yang tak punya rumah, Band Dialog Dini Hari telah menyuarakan resah orang orang tak ada rumah dalam lirik lagu Tentang Rumahku: “Aku ingin pulang, tapi rumah entah di mana.”
Sudah ya, saya pamit. Rugi benar waktu kalian membaca tulisan sampah penuh repetan ini tak jelas tujuannya. Mending kalian yang penasaran dengan lagu Dialog Dini Hari, bisa langsung mencarinya di situs yutub. Sambil kalian mencari di mana rumah calon mertua, bagi yang masih lajang tentunya ya. Salam kupi pancong! [ sumber tulisan: aceHTrend.co / kamis, 18/02/2016]

05 February 2016

2/05/2016 06:05:00 AM

Dear Adinda Bella, Izinkan Kakanda Menghalalkanmu

Ukhty, jauh lebih manis pakai jilbab yang simpel begini. Apalagi memakai baju berbunga bunga. Itu yang sebelah kanan dek Bella, mirip saya waktu kecil :P | ig: laudyacynthiabella

Ke hadapanmu Ukhty Laudya Cynthia Bella. Kenalkan saya Ketua Kaukus Jomblo Peduli Syariah dan Ketua Tanfidziyah Ikatan Jomblo NU Aceh. Kali ini Kanda sangat resah, melebihi resah menjawab pertanyaan kawan kawan Abang selama tigapuluh tiga tahun bertanya tenang kenapa Abangda belum menikah. Engkau tau, Ukhty? Abang masih menunggu jawabmu untuk setuju ke pelaminan.

Hai, Ukhty Bella. Kali ini abangda ingin cerita padamu. Tentang sikapmu yang mau bela-belain jadi pengiklan jilbab yang bersertifikat halalan tayyiban. Sebagai penggemar dan fans garis militan, jujur kalau ana harus katakan; sekali ini Kakanda sangat kecewa padamu. Melebihi kekecewaan teman abangda yang kecewa karena band favoritnya diklaim mendukung salah satu calon kandidat Gubernur Aceh 2017.

Adinda Bellla tau Aceh? Itu negeri paling ujung dari pulau Sumatera. Negeri yang sejak jaman dulu kala sanggup mempertahankan kedaulatan kerajaan bangsanya dari serangan Belanda. Negeri dengan penduduknya makin tabah dan kuat, melebihi tabah dan kuatnya hati Agus Mulyadi yang masih tetap pada posisi bertahan melawan kesepian setiap malam, yang tubuhnya rela digigit nyamuk daripada digigit seorang gadis dengan penuh belaian kasih sayang.

Ukhty Bella, lupakan soal Agus Mulyadi si lelaki kesepian itu. Ana juga tak lebih buruk nasib hati yang ombang ambing remuk redam atas perjalanan pada bab cinta mencintai. Ukhty Bella, ana kecewa padamu kali ini bersebab tau engkau yang baru saja jadi gadis hijab beberapa waktu lalu, kini telah menjadi tukang jualan jilbab Zoya. Merek jilbab yang sudah klaim dirinya mendapat sertifikat halal dari lembaga yang kerap keluarkan surat keputusan satu produk halal atau harOm. Lembaga yang kerap putuskan tingkat satu keimanan dan keyakinan kami dalam berbangsa tanah dan berbangsa air. Ya, MUI. Majelis Ulama Indonesia. Ukhty Bella mesti tau, di Aceh kami tidak mengenal yang namanya MUI. Kami lebih mengenal MPU, Majelis Permusyawaratan Ulama. Nama lain dari sebutan MUI tingkat provinsi. Soal nama lembaga kami di Aceh berbeda Ukhty, Aceh yang dikenal negeri berpuluh ribu serdadu dan amuk peluru. Negeri yang sepuluh tahun lalu merasa gemuruh amukan laut ke daratan. Aceh adalah daerah model dan daerah modal, begitu lazim kami dengar.

Ukhty Bella, Abangda benar benar kecewa padamu ketika menjadi pengiklan jilbab Zoya yang sudah halal. Ukhty tau ngak? Ibunda saya –yang juga akan jadi Ibunda Mertua dik Bella- akan merasa bersalah dan kecewa karena selama ini beliau hanya memakai jilbab biasa, tak bermerek pula. Ibunda kami di kampung kampung tak pernah tau soal jilbab halal atau haram, beliau saat turun ke sawah kadang kala hanya memakai kerudung kain sarung sebagai penutup kepala. Beliau tak paham soal jilbab dan jilbaber yang sedang trend ala mbak-mbak yang mengakui lebih islam daripada Ibunda kami di kampung.

Ukhty perlu tau, Ibunda saya tercintah tak pernah paham kain penutup kepalanya terbuat dari bahan apa. Baginya hal terpenting hidup adalah tidak memakan harta anak yatim dan mengambil jatah fakir miskin, itu lebih terhormat daripada memilih milah jilbab halal dan haram.

Ukhty, ana makin kecewa sebab engkau terlalu ngotot mengkampanyekan jilbab zoya itu halal. Ana jadi berfikir, jika saja ada jilbab yang halal, apakah jilbab yang saya pakai itu haram? Eh maksud saya, jilbab yang teman teman saya yang cewek. Saya ngak pernah pakai jilbab seumur hidup saya, Ukhty. Sebab kaum laki-laki tak diharuskan menutup rambut dari pandangan orang yang tak berhak. Ini juga jadi kesempatan kami untuk bisa menampakkan rambut klimis dan sebeng seperti Ariel Peterpen kepada gadis gadis manis manja yang mesti kami selamatkan hidupnya dari pelukan lelaki yang salah. Ke pelukan lelaki yang saleh seperti saya, lelaki yang akan menjadi calon imammu kelak, Ukhty.

Adinda Bella, jika saja jilbab Zoya bersertifikat halal, dengan klaim jilbab syari’i berlabel kebohongan dan tipu tipu untuk meningkatkan penjualan, kami sangat bersedih dik. Ada banyak jilbab jilbab tak bermerek yang diproduksi oleh kaum ibu ibu dengan jumlah produksi kecil ala rumah tangga akan kalah bersaing dengan brand ambassador zoya yang Adinda Bella kampanyekan itu. Ukhty enak, kampanyekan jilbab halal bisa dapat barokah yang luarbiasa dengan pemasukan iklan. Lha kami ini jangankan bisa beli jilbab untuk hadiah ulang tahun pacar, untuk mengumpulkan biaya halalkan gadis saja susah minta ampun. Apalagi di Aceh, Dinda. Kadang beberapa kawan kami harus mengkontra intelejen konspirasi wayudi segala dengan menyuruh sekumpulan orang untuk grebek kami yang sedang berpacaran, kena gebuk sekali dua kali ngak apa apa, sebab kami akan dinikahkan oleh orang kampung, atau jodoh bagi kami di Aceh kadang kala berakhir di tangan WH (polisi syariat).

Adinda Bella, sebagai calon gadis yang akan jadi Ummi untuk anak anak kita kelak. Engkau mestinya lebih cerdas lagi bersikap tentang tak membedakan mana jilbab halal dan jilbab haram dalam berdakwah. Ana tau Ukhty, kamu tanpa memakai jilbab Zoya sekalipun, sudah tampak anggun aduhai bukan kepalang. Engkau tau Ukhty, kecantikan bahkan bikin ana tidak bisa tidur sebelum menatap poster wajahmu yang sengaja tertempel di kamar. Sebagai pengantar untuk bisa bermimpi basah, tentu saja bersamamu Ukhty.

Menyebut nama Zoya awalnya saya teringat merek susu. Soalnya saya tidak begitu apdet sama fesyen adek-adek kece jilbaber syariah dengan kerudung dililit seperti sarang burung atau mirip cerek air. Rumit sekali sepertinya. Apa mereka ngak tau kalau hidup ini sudah demikian rumit ditambah lagi dengan bentuk lilitan ke sana kemari di kepalanya? Tapi itu ngak rumit, kalau engkau mau menerima Abangda sebagai calon imammu, Ukh.

Melihat wajahmu di baliho dengan pertanyaan baliho iklan Zoya yang: yakin hijab yang kita gunakan halal? adalah cara iklan paling mujarab untuk menyukseskan sebuah produk yang mudah meraih untung pasar. Ukhty kasih tau sama MUI agar lebih paham, bagaimana kontroversi atas ini, kasihan kan produk-produk industri rumah tangga modal kecil harus melawan produk kapitalis yang besar ini. Emang siapa yang jamin kalau kain digunakan oleh Zoya dalam bikin jilbab itu halal? Di jamin sama MUI, lembaga yang kerap kontroversi dengan label produk produk yang sudah mereka labeli halal atau harOm?

Adinda Bella, mending sekarang mikir mikir lagi deh soal putuskan kontrak brand ambassaor dengan zoya. Sebaiknya antum mikirin diri sendiri saja tentang persiapan kapan dik Bella siap untuk abangda lamar? Akan abangda datangi orangtaumu untuk menghalakan dirimu di kantor urusan agama. Jangan sampe menunggu waktu aturan lain yang untuk beribadah nikah saja harus menunggu sertifikat halal dari MUI. Kalau ini terjadi, alamat makin banyaklah populasi lajang kesepian tak bisa berumahtangga.

Adinda Ukhty Bella, jika sudah benar benar siap untuk engkau ana halalkan, cepat kasih tau ya. Bisa cepat kita boking tempat perhelatan dan waktu di Masjid Raya Baiturrahman. Mensyen aja akun ana di twitter @azirmaop. Mie Aceh aja rasanya enak, apalagi nikah sama pemuda Aceh seperti Abang. InsyaAllah kita akan bahagia dan jadi keluarga barokah selamanya. Apalagi kami di sini ada bantuan hibah dari pemerintah daerah; Jaminan Mahar Aceh (JMA). Itu bisa membantu kita kelak, Ukh.

Syukran Ukhty, mikir mikir lagi soal jadi pengiklan Zoya ya. Mending tinggalkan kontroversi jilbab sertifikat halal itu, kita akan menikah dan mending kita berdua ke Sabang naik kapal pesiar sambil minum susu soya. Sehabis minum susu kamu. Eh, maksudnya susu yang kamu buat. #PelukTembok. []


16 January 2016

1/16/2016 08:36:00 AM

Poligami Yang Tak Dirindukan

21cineplex.com 

Tema poligami selalu menarik diperdebatkan di tengah isu gender yang diagung agungkan –yang katanya- berasal dari Barat. Semalam saya berbahagia sebab menguras air mata saat menonton film Surya Yang Tak Dirindukan, untuk memudahkan menulis selanjutnya disingkat SYTD.

Semalam, saya bersalah dengan sengaja karena menonton film ini melalui situs yutub. Tapi mau dikata apa, untuk menonton yang legal, kami harus ke Medan, menempuh perjalanan bus selama 12 jam. Film yang dirilis atas adopsi judul novel Asma Nadia ini menjadi pilihan banyak orang menonton, karena kontroversi poligami yang tak berkehabisan dibahas. Ini mungkin jadi alasan yang lain.

Saya tak ingin menyalahkan Aceh yang tidak ada gedung bioskop. Saya lebih mengapresiasi para pembajak film ini hingga kami di Aceh bisa menontonya gratis di yutub, walau harus menunggu 6 bulan kemudian sejak rilis bioskop pada Juni 2015 lalu.

Konflik film ini sungguhlah rumit. Para aktornya saling punya kisah masing masing tentang latar belakang orang tua berpoligami. Cerita berawal dari Andika Prasetya (Fedi Nuril) dengan karakter sebagai pria baik yang ringan tangan. Cerita bermula saat ia bertemu dengan Arini (Laudya Cyntya Bella) di sebuah tempat, Pras mengantarkan seorang anak kecil yang terserempet motor di jalan ke tempat belajarnya. Di tempat belajar itu ada sosok Ibu guru yang masih gadis bernama Arini. Sosok gadis berjilbab dengan wajah ramah, hingga tampak jelas akan kecantikannnya. Pras bersama dua temannya, Arman dan Hartono. Mereka adalah mahasiswa Asitektur. Pras jatuh cinta pertama kali melihat Arini saat mengantar bocah yang kecelakaan tadi. Kenalan berlanjut. Pras dan Arini menikah. Pras jadi seorang pengusaha bidang infrastuktur.

Awalnya kehidupan mereka yang bahagia, suami-istri dengan seorang putri bernama Nadia (5). Disinilah konflik dimulai, suatu hari saat Pras dalam perjalanan ke kantornya. Pras menolong seorang pengendara lalulintas yang jatuh ke jurang. Ia membawa korban kecelakaan itu ke rumah sakit terdekat. Ternyata perempuan itu hamil, ia melahirkan seorang bayi laki-laki, yang kemudian diberi nama Akbar. Suami si perempuan itu entah di mana sudah, saya membayangkan suaminya selingkuh.

Ibunya si bayi itu bernama Meirose, diperankan oleh Raline Shah. Saat dalam perawatan itu dia mau bunuh diri dari atas gedung rumah sakit, ia mempunyai latar belakang dari keluarga tak bahagia. Ibunya bunuh diri saat ayahnya menikah lagi, Meirose berumur 12 tahun kala itu.

Pras terkenal sebagai sosok pria yang baik suka menolong. Ia yang tahan badan mengaku sebagai keluarga Mei waktu di rumah sakit. Saat membujuk Mei agar tak bunuh diri, Pras berjanji akan menikahi Mei. Mei tidak mau, saat mau meloncat, dengan sigap Pras meraih dengan cepat tangan Mei, ia selamat. Mereka kemudian menikah. Pras menyembunyikan pernikahan itu kepada Arini, istri pertamanya.

Sepandai pandai tupai melompat, kalau berpoligami akhirnya ketahuan juga. Si Mbok, sang pembantu di rumah mereka menemukan faktur pembelian obat untuk bayi di apotik atas nama Akbar. Arini terkejut dan mengecek alamat yang tertera pada faktur itu. Arini mencari alamat rumah itu, iya bertemu dengan Mierose, dua perempuan istri Pras itu saling beradu mulut. Sepulang Pras dari kantor, Arini sudah bersiap minggat dari rumah. Keributan terjadi tak terhindar, Pras berusaha menjelaskan. Arini tak mengubrisnya. Konflik batin penonton cukup kuat sekali terbangun di sini.

Keributan besar itu mereda, Arini akhirnya lunak mencoba ikhlas atas apa yang terjadi pada diri dan keluarnya. Suatu hari, Nadia anaknya tampil di panggul sekolah anak anak. Nadia ingin penampilannya ditonton oleh Ayah. Sebelumnya Pras tak bisa hadir ke sekolah karena Akbar demam di rumah, pasca imunisasi. Arini menelpon suaminya dan mendengar suara bayi yang menangis, hatinya hancur bukan kepalang. Dengan suasana hati yang hancur, itu mencoba bertanya atas gejala apa saja yang dialami oleh Akbar, bayi yang tak beruntung itu. Adegan itu membuat penonton memahami akan arti keikhlasan Arini menerima Mierose dan Akbar untuk jadi bagian keluarga Arini. Mereka kemudian hidup dalam satu rumah.

Sosok ibu Arini cukup berpengaruh dalam sikap Arini menerima dipoligami. Masalah tak juga selesai, Mierose kemudian merasa bersalah karena merebut kebahagian Arini. Ia lalu mingga dari rumah denga meninggalkan pesan dengan rekaman di teleponnya, meminta agar mereka menjaga Akbar. Sebelum Mierose merasa bersalah karena berada dalam kehidupan Pras, Arini dan Nadia. Suatu kali Meirose bertanya kepada Arini kenapa dia ikhlas menerima keluarganya dalam hidupnya. Arini berujar: “Hidup itu pilihan, dan ini adalah pilihanku”

Tragedi suatu malam saat Pras pulang ke rumah. Ia menolong seorang wanita yang ingin diperkosa oleh penjahat. Pras dihajar oleh pelaku itu hingga babak belur. Adegan lalu ke rumah sakit. Kedua wanita ini bertemu dan saling menguatkan. Meirose akhirnya minggat dari rumah dengan menitipkan sebuah rekaman video, isi video itu dia pergi dan berpesan untuk menjaga Akbar. Dia tidak ingin membebani keluarga itu lagi dengan hadir kepada hidupnya. Tetapi Arini dan Pras tidak menerima itu. Mereka berdua mencari Meirose. Ia tetap memilih pergi dan mengucapkan terimakasih banyak pada Pras dan Arini atas bantuannya selama ini.

Ending film ini yang tidak mengenakkan. Citra dari awal sebagai film islami jadi tercela pada adegan endingnya. Adegan Pras merangkul Arini adalah yang kurang tepat ditampilkan, toh diluar adegan mereka bukan sebagai suami istri. Terlepas dari itu, saya memandang ada pesan yang tersirat ingin disampaikan ke publik bahwa; poligami yang kebanyakan masih terjari pro-kontra di masyarakat, akan rumit kalau tiap tiap orang akan memahami diri masing masing ketika sudah mengalami poligami.

Film ini di sutradara oleh Kuntz Agus, Produser Manoj Punjabi, dengan Pemain utama Laudya Cynthia Bella, Fedi NurilRaline Shah





21 December 2015

12/21/2015 07:19:00 AM

Arsitek Museum Tsunami Sambangi Aceh

 
@ridwankamil 


Walikota Bandung Ridwan Kamil berencana akan mengunjungi Banda Aceh pada 26 Desember 2015. Kunjungan itu erat kaitannya dengan peringatan 11 tahun bencana gempa dan tsunami Aceh yang terjadi pada Minggu, (26/12/2004).

Hal itu dikatakan oleh sang arsitek yang kebetulan jadi Walikota Bandung melalui akun instagramnya beberapa hari yang lalu. Ridwan Kamil yang akrab disapa Kang Emil mengharapkan ia dapat bertemu dengan anak anak muda Aceh.

"Tanggal 26 Desember saya Insya Allah ke Banda Aceh. Semoga bisa bertemu dengan anak2 muda Aceh dan civitas arsitektur di sana" Tulis Emil di akun instagram @ridwankamil.

Dalam postingan itu, RK juga memposting foto Museum Tsunami Aceh (MTA) karya mahdiadama. MTA itu merupakan karya Ridwal Kamil yang dibangun oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias pada tahun 2009 dengan anggaran besar, 70 Miliyar.

Rencana kedatangan Dosen Arsitektur Institute Teknologi Bandung (ITB) itu disambut cukup positif oleh pengikut instagram Kang Emil yang mencapai 2juta lebih. Umumnya komentar positif dari insta Aceh yang ingin bertemu RK dan dapat memberikan energi positif bagi Aceh.

Ada komentar lucu dan menarik dari pengguna insta yang lain, semisal mengharapkan Walikota Bandung itu untuk menjadi Walikota Banda Aceh.

Ridwan Kamil direncanakan akan menjadi pemateri pada Seminar Nasional Pembangunan Berkelanjutan Dalam Rangka Peringatan Tsunami di Gedung AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala, Sabtu (26/12/2015).

Semoga kehadiran Pak Read One Ka Milk ke Banda Aceh nanti dapat memberikan sesuatu hal baru bagi para jomblo-jomblo Aceh untuk tahan banting terhadap segala kesepian dan godaan mantan. []

15 December 2015

12/15/2015 09:44:00 PM

Sutan Riska, Bupati Termuda di Indonesia



Bupati Termuda di Indonesia
| Bicara Provinsi Sumatera Barat tentu tak bisa dilepaskan Kabupaten Dharmasraya. Menurut situs resmi Pemerintah Kabupaten Dharmasraya terbentuk pada tahun 2003 hasil pemekaran dari Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat. Padang adalah penghasil warung nasi terbanyak seluruh Indonesia. Padang terkenal dengan nasinya, dan lebih hebat lagi provinsi ini memiliki identitas rumah gadang pada tiap gedung pemerintah/swasta.

Pilkada serentak 9 Desember 2015 lalu telah melahirkan pemimpin usia muda di Indonesia. Dia adalah Sutan Riska Tuanku Kerajaan. Walau belum ada keputusan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat, informasi yang beredar di media sudah bisa dipastikan pasangan ini  mendapat suara terbanyak pemilih di Kabupaten Dharmasraya, demikian  menurut hasil hitung cepat sementara.

Saya mendapat bagikan sebuah berita  dari beranda fesbuk akan terpilihnya Sutan Riska Tuanku Kerajaan sebagai bupati termuda se-Indonesia. Karena penasaran, saya mencari tau tentang sepak terjang calon kandidat bupati yang lahir pada 27 Mei 1989 ini. Sekarang umurnya 26 tahun. Ia lulusan sarjana ekonomi di Universitas Andalas, tahun masuk 2008.

Bupati termuda se-Indonesia sebelumnya disemat oleh Bupati Indragiri Hulu, Riau, Yopi Arianto. Bupati Yopi saat dilantik sebagai Bupati Indragiri Hulu tahun 2010, ia berusia 30 tahun kala itu. 

Pilkada 9 Desember lalu, masyarakat Kabupaten Dharmasraya patut berbangga telah menentukan pilihan pada Sutan Riska Tuanku Kerajaan. Dia berpasangan dengan Calon Wakil Bupati Amrizal Datuak Rajo Medan. Sutan Riska adalah Bendahara di PDI Perjuangan setempat. Pasangan ini meraih suara sekitar 45.000 mengalahkan pasangan inkamben Adi Gunawan-Jonsos Putra yang memperoleh suara sekitar 25.000, demikian rilis data sementara dari KPU Dharmasraya. Jika tak ada halang melintang gugat menggugat ke Mahkamah Konstitusi, pasangan Sutan-Amrizal ini akan menjadi Bupati wan Wakil Bupati Dharmasraya periode 2015-2020

Dari situs TEMPO online disebutkan, Sutan Riska yang  mengaku masih sangat muda menjadi seorang kepala daerah. Sutan ingin membuktikan kalau kaum muda bisa memimpin daerahnya dengan baik. "Anak Muda juga siap untuk memimpin dan membangun daerahnya" ujar dia seperti di muat TempoOnline. Kita tunggu saja ia membuktikan kiprahnya memimpin Kabupaten Dharmasraya mewakili harapan banyak kaum muda di Indonesia. Untuk Gubernur Termuda se-Indonesia saat ini masih dipegang rekor oleh Gubernur Provinsi Lampung, M. Ridho Ficardo.  Yang pada tahun 2014 dilantik jadi Gubernur, usinya 34 tahun.

Kenapa pasanga Sutan Riska menang pilkada Dharmasraya? Saya tidak mengetahui banyak soal kondisi masyarakat di sana. Saya menduga (sebagai terduga pengamat) perolehan suara dia karena pengaruh trah namanya sebagai keturunan raja. Dalam hal alasan pemilih, ini tentu saja jadi nilai lebih, dalam teori politik kedai kopi disebut "pemilih kaum."

Usia muda bukanlah sebuah ukuran akan kesukseskan seorang Sutan Riska akan membawa perubahan yang lebih baik bagi daerahnya. Tetapi spirit usia itu bisa jadi motivasi untuk kaum muda yang lain di seluruh Indonesia untuk berani bersaing meraih suara rakyat dan berbuat untuk kesejahteraan masyarakat.

Muda punya karya dan bisa jadi akan binasa atas lalai nikmatnya kekuasaan. Kehancuran memimpin dan berkuasa bisa karena alasan macam-macam. Termasuk bahayanya orang orang yang setelah jadi timses dan jadi sebagai orang lingkaran kekuasaan. Sekarang kita cuma bisa menerka-nerka akan kesuksesan Sutan memimpin daerahnya. Jika program dan kepemimpinannya baik, tentu ini akan jadi sejarah baru kaum muda di Indonesia dalam memimpin. Jika gagal dan masuk sel penjara karena kasus cela/korupsi, alamat binasalah nasib politik kaum muda ke depannya.

Jika Sukarno menyebut berilah saya 10 pemuda, maka akan mengguncang dunia. Maka bagi saya, berilah satu pemudi, maka akan ku ajak ia ke KUA. []


05 December 2015

12/05/2015 08:54:00 AM

Wisata Greenland Aceh Besar


Ayunan, salah satu tempat yang bisa di nikmati oleh pengunjung Wisata Greenland Aceh Besar | husaini ende


Berwisata ke Aceh Besar, rasanya belum lengkap jika anda belum mengunjungi sebuah tempat wisata di Aceh yang paling menyenangkan untuk dikunjungi. Adalah Wisata Greenland Aceh Besar, sebuah tempat wisata Aceh yang berada di pegunungan Jantho, Aceh Besar. Tempat ini adalah wahana wisata baru dengan konsep alam dan outbond.

Saat memasuki ke area ini, Anda akan menikmati pemandangan yang hijau mengasyikkan di kawasan Jantho.