KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (70) BERITA MEDIA (47) CATATAN HARIAN (47) GoBlog (12) PUISI (11) CERPEN (8)

01 February 2017

2/01/2017 11:29:00 PM

Ho-Jak, RBT Online Karya Pengusaha Muda dari Aceh


Seorang pengusaha muda Salak Pliek-U dari Bireuen membuat aplikasi jasa transportasi online lokal yang bisa digunakan oleh wisatawan dan masyarakat umum. Ho-Jak sekaligus untuk mendukung digital tourism di Aceh.

“Kita melihat bahwa di Aceh kebutuhan terhadap akses tranportasi masih sangat susah, jadi kita buat sebuah aplikasi di mana nanti masyarakat dengan mudah mencari tranportasi yang diinginkan,” CEO Ho-Jak, Khairul Mubaraq di Banda Aceh, Kamis, 2 Februari 2017. 

25 January 2017

1/25/2017 07:40:00 AM

Kini Urus SKCK Baru dan Perpanjang Lebih Mudah

Surat Keterangan Berkelakuan Baik (SKCK) sangat dibutuhkan terutama saat melengkapi berkas lamaran kerja atau kebutuhan lainnya bagi anda. Pelamar kerja biasanya mengurus SKCK karena kebutuhan mendadak dan terburu-buru. Hal ini cukup merepotkan dan merugikan anda, apalagi kebutuhan waktu anda melamar pekerjaan yang singkat. Saya tulis ini berdasarkan pengalaman pribadi.


SKCK diterbitkan oleh Polri melalui Kapolres kabupaten domisi pemohon, untuk masa berlaku 6 bulan sejak tanggal diterbitkan. SKCK dapat diperpanjang, dan prosesnya lebih mudah daripada mengurus baru.

Reformasi birokrasi dalam pengurusan surat di kepolisian sudah cukup mudah. Bahkan sudah bisa dilakukan melalui SKCK Online, tetapi hanya berlaku bagi beberapa daerah kota besar saja.  Sebulan lalu saya mengurus SKCK di Polresta Banda Aceh.  Saya mengurus perpanjang SKCK di  Polresta Banda Aceh sudah cukup cepat, hanya menunggu sekitar 15 menit, SKCK saya sudah selesai.

Polresta Banda Aceh pada Desember 2016 lalu pernah meraih penghargaan Layanan Pembuatan SIM dan SKCK Terbaik di Indonesia dari Deputi Pelayanan Publik Kementerian PAN dan RB. Untuk yang memperpanjang SKCK, agar tidak repot kemudian hari, sebaiknya ingat kapan masa kadaluarsa.Mengingat, kisah saya yang sudah setahun habis masa berlaku, harus mengurus surat rekom geuchik dan kapolsek sejak dari awal. Tentu ini cukup merugikan karena lalai :)

Berikut ini tatacara mengurus SKCK baru :
  • Surat Pengantar/Rekom Geuchik 
Untuk mendapatkan surat dari desa, kamu harus melampirkan Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk. Sebagai bukti bahwa kamu memang warga desa tersebut. Surat dibuat oleh Sekretaris Desa (Sekdes), baru kemudian ditandatangan oleh Geuchik setempat.
  • Surat Pengantar/Rekom dari Polsek
Setelah mendapatkan surat pengantar dari Geuchik/Kepala Desa, selanjutnya mengurus surat rekomendasi dari Kapolsek. Disini kalian harus mempersiapkan berkas syarat, diantaranya:

- Surat pengantar dari Geuchik
- Fotocopy KTP 1 Lembar
- Fotocopy Akta Kelahiran 1 Lembar
- Fotocopy Kartu Keluarga (KK) 1 lembar
- Fotocopy Ijazah terakhir 1 lembar
- Pasphoto ukuran 4X6  sebanyak 3 lembar latar belakang warna merah

gambar direkam tahun 2016 di Polsek Krueng Barona Jaya, Aceh Besar
  • Saat di Polres, Mempersiapkan berkas syarat: 
- Surat Rekomendasi dari Geuchik
- Surat Rekomendasi Polsek
- Fotocopy Akte Kelahiran/Kenal Lahir 1 lembar
- Fotocopy Kartu Keluarga (KK) 1 Lembar
- Fotocopy Ijazah Terakhir 1 Lembar
- Pasphoto ukuran 4X6  sebanyak 5 lembar latar belakang warna merah

Selanjutnya menuju ke loket petugas, nanti akan diberikan formulir SKCK yang harus anda isi, selanjutnya pengambilan sidik jari yang dilakukan oleh petugas. Tinggal menunggu dan dipanggil. Biaya pembuatan SKCK baru/perpanjang Rp. 10.000. 


direkam diruang loket pembuatan SKCK Polresta Banda Aceh, 2016
  • Syarat pengurusan SKCK Yang Masih Berlaku : 
- Asli/Fotocopy SKCK Lama.
- Pas Photo 4x6 latar belakang merah/biru 3 lembar
- Fotocopy KTP 1 lembar
  • Syarat Perpanjang SKCK Yang Tidak Berlaku/Sudah Habis Masa Berlaku
-Asli /Fotocopy SKCK Lama
-Rekomendasi Geuhcik/Lurah Setempat
-Rekomendasi Polsek Setempat
-Fotocopy KTP 1 Lembar
-Pas photo warna merah/biru 3 lembar

direkam diruang loket pembuatan SKCK Polresta Banda Aceh, 2016
Biaya pembuatan perpanjang juga sama dengan SKCK baru. Untuk memudahkan, sebaiknya anda mengurus SKCK perpanjang sebelum masa kadaluarsa habis, penting ketika diperlukan, tidak perlu mengurus surat rekomendasi dari sejak awal di tingkat desa

Demikian, ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dan sumber sebagaimana yang telah ditulis di atas. Semoga bermanfaat, dan jangan lupa untuk kabarkan ke orang lain, jika ini penting []

12 January 2017

1/12/2017 08:03:00 AM

Kembalikan Suaraku



Pada sekian purnama engkau telah pergi
Suratku tak pernah engkau balas
Aku tak juga menunggu kabar petang itu
Engkau pergi tak pernah kembali
Selepas pergi, seiring senja petang yang hilang

Rupamu mungkin tak seanggun bulu angsa, kini.
Yang mengibaskan sayapnya di kolam rumah tetangga
Kau tak juga melirik kala kupanggil pulang
Pergilah, aku tak menyesal.

03 January 2017

1/03/2017 05:43:00 AM

Kutablang; Kota Ada Blang


Menulis tentang Kutablang -satu dari 17 kecamatan di Kabupaten Bireuen- tak bisa lepas dari dua jenis kuliner yang cukup tenar di kota ketiga paling ramai di Bireuen, setelah Matang Glumpang II jika berjalan ke arah Medan. Adalah Bakso Gatok Kutablang dan Rujak Manis Kutablang, dua jenis makanan ini cukup populer dan sulit ditemukan di kota lain.

Saya bisa disebut –terpaksa- menulis tentang kehebohan warga di Kutablang yang menanam padi di pinggir jalan raya Banda Aceh – Medan. Sebagai yang lahir dan besar di kecamatan pecahan dari Gandapura ini, jarak gampong saya dengan kedai Kutablang hanya 1 kilometer saja. Tentu ini jadi alasan yang dekat dan akrab untuk melanjutkan tulisan ini.

Selebihnya hanya bagian penting saya yang sejak umur 2 tahun sudah diajak serta ke sawah, hingga masa dewasa tiba, saya bisa tau dan paham tatacara menaman padi sejak seumula hingga keumeukoh. Turun ke sawah bukan barang asing bagi kehidupan saya.

Tentu, tak ada yang bisa dibanggakan dengan profesi sebagai petani tradisional ini, sebab itu bukan pekerjaan penting meluluhkan hati para gadis manis manja anggun dengan jilbab aduhai dan mendapat restu dari calon calon ayah-ibu mertua yang bersedia menikahi anaknya dengan pemuda yang hidup sebagai petani.

Beberapa hari belakangan ini, Kutablang jadi heboh di media sosial karena sebaran foto warganet tentang pemandangan "padi dadakan" menghijau di pinggir jalan nasional. Aksi yang tak lazim. Biasanya warga yang marah dengan kerusakan jalan, menanam pohon pisang di tengah badan jalan, dengan tulisan kritik di karton sebagai bentuk protes atas kelalaian pemerintah dalam memperbaiki jalan raya.

Ini kritik secara simbolik kepada aparatur pemerintah, agar pajak yang selalu dibayar oleh warga bisa digunakan untuk kepentingan ummat banyak, dalam pembangunan fasilitas publik yang memadai dan layak.

Pemandangan warga menaman padi di pinggir jalan atau pisang di tengah badan jalan, bukan hal baru bentuk protes masyarakat. Warga sudah lelah dengan kondisi itu, akhirnya ya mereka protes agar para pengguna jalan yang kebetulan melintas jadi objek perhatian mata yang tak menyenangkan. Selebihnya agar para pihak yang  punya kepentingan untuk memperbaiki bisa tau diri atas nasib jalan publik.

Sawah di pinggir jalan tak bisa melulu dianggap sebagai hal yang negatif. Tanaman "padi dadakan" tentu saja bisa dilihat dari sisi postifinya juga. Dari penanaman padi di pinggir jalan itu, akibat lahan sawah yang kerap dialihfungsikan ke lahan bangunan, akhirnya warga tidak ada lagi sawah, lalu menanam padi di pinggir jalan nasional.

Ini juga bisa kita sebut, warga Aceh tidak ada yang malas; di pinggir jalan saja mereka mau menanam padi. Tapi tentu saja bukan itu pesan atas aksi yang tentu saja ada penyebabnya. Warga yang memuncak amarah melakukan kritik simbolik kepada para dinas terkait dalam memelihara alat publik sejenis jalan nasional.

Warga tak mau tau, kalau jalan itu di bawah tanggung jawab pemerintah provinsi atau kabupaten atau pemerintah pusat. Yang mereka rasakan dan ingin sampaikan bahwa, jalan itu mesti diperbaiki dan tidak lagi berlumpur. Hingga bisa digunakan kembali seperti fungsi jalan yang sebenarnya. Apalagi mengingat, jumlah warga yang melintas jalan itu cukup ramai.

Kutablang kini setidaknya bisa dikenal oleh masyarakat lain yang tak bermukin di sana, selain kuliner khasnya tentu saja kota yang ada blang di pinggir jalannya. Dalam hal ini, Kecamatan Kutablang dengan luas lahan sawah beratus hektare harus terus mendapat perhatian pemerintah untuk terus membantu warga yang umumnya bekerja sebagai petani.

Di belakang Kedai Kutablang, ada lahan rawa raksasa Paya Nie yang tak difungsikan dengan baik untuk mengairi sawah warga sekitar. Padahal jika pemerintah serius membangun lahan pertanian ini salah satu alasan penting membangun waduk ini bisa menjadi tempat penyimpanan air yang bisa mengairi ratusan hektar sawah di kecamatan ini.

Di Krueng Peusangan, tepatnya di Desa Blang Mee dulunya pernah dibangun bendungan raksasa untuk mengairi air ke sawah petani di Kutablang. Tapi entah bagaimana ceritanya, bendungan itu kini cuma jadi tempat rekreasi warga sekitar, fungsi bendungan itu dikabarkan sudah rusak sekian lama.

Kembali lagi ke soal sawah dadakan di pinggir jalan Kutablang. Pemandangan sawah tak lazim itu mengundang perhatian Wakil Ketua DPRA, Sulaiman Abda yang kebetulan melintas dan sedang berada di Bireuen? Tentu saja harapan kita, sebagai pengguna jalan, respon cepat dari salah satu pimpinan DPR Aceh ini bisa ditindaklanjuti segera oleh dinas terkait baik ditingkat provinsi atau kabupaten.

Kalaupun tidak, maka kita tunggu saja, padi yang baru ditanam tersebut bisa tumbuh subur dengan pupuk subsidi hingga masa panen tiba nantinya, tunggu saja akan diundang oleh warga para jajaran pemerintah untuk hadir dan memanen padi tersebut secara bersama-sama. Inilah Kutablang, kota yang benar-benar ada blangnya. [sumber: ACEHTREND.COM]




07 December 2016

12/07/2016 02:19:00 AM

Fenomena Media Sosial, Jempol Kita Yang Latah dan Nakal

http://blog.webacosys.com

Berapa jumlah akun media sosial yang anda miliki sekarang ini? Katakan yang umum orang gunakan di antaranya; Facebook, Twitter, BBM, Whatapps, Instagram, Path, Line, belum lagi dengan jumlah Grup BBM, Facebook, Whatsapps dan sejenis akun jejaring media sosial yang lainnya.

Seorang teman pernah berujar, setiap bangun tidur pagi ia lebih dulu membuka laman Facebooknya dibandingkan mencuci muka ke kamar mandi. Saya terkadang demikian juga, bahkan kecanduan jemari pada layar lunak android bagi saya sudah –jika disebut- keterlaluan; saya harus bawa telepon pintar kalau sedang buang jahat. Saat buang air besar, ada ide liar agak mudah mengalir begitu saja seiring kotoran yang keluar dari tubuh.

Saya tak sadar jongkok berlama-lama di kamar mandi sambil membaca buku elektronik, saya mencatatnya di layar telepon pintar jika kemudian timbul ide yang liar itu. Ini inspirasi lain kalau kita kekurangan waktu dan tenaga dalam mendapatkan ide, biasanya saya memilih berjalan kaki.


Pernahkah kita mengukur berapa jam waktu dihabiskan di media sosial selama seharian? Saya bisa pastikan diri antara 5-8 jam waktu jempol saya menari nari di layar perangkat lunak Android, bahkan bisa saja lebih. Kadang kala terpikir, betapa celakanya waktu jika dihabiskan selama sehari malam capai 15 jam di layar android.

Tetapi itulah manusia era kecanggihan teknologi sekarang ini. Seakan, lengket telepon pintar dengan tangan tak bisa dijauhkan walau hanya sebentar saja. Betapa mengerikan kecanduan ini.

Pernah saya melihat di warung kopi, suami istri duduk di warkop yang asyik sendiri dengan gejetnya. Anaknya duduk galau sendirian tak dipedulikan. Atau sebaliknya, sang anak-anak yang sibuk bermain dengan telepon. Pemandangan yang cukup menyedihkan, saat begitu saya berpikir: kasihan anak itu jatuh dalam pelukan suami-istri yang salah.

Banjirnya situs media daring dan situs anonim membuat pengguna harus pandai memilih berita yang fakta bukan sebuah kebohongan. Bayangkan, betapa waktu Anda yang tersita harus memilih dan memilah berita yang benar atau bohong ketika beredar di media sosial tersebut. Ada ratusan ribu yang muncul di halaman beranda akun media sosial Anda setiap hari.

Jika anda sebagai orang yang cerdas -dan mengaku santun lagi berakhlak mulia- sebaiknya mesti pikir sejenak sebelum ikut menyebarkan berita palsu di akun media sosial.

Sebab, kecerdasan sebuah telepon pintar tidak diiringi dengan kecerdasan penggunanya. Pengguna Android sekarang ini kebanyakan mudah sekali terprovokasi dengan berita sebaran kebencian, tanpa cek dan ricek terlebih dahulu akan kebenarannya.

Di beranda Facebook kita sering menemukan akun-akun yang sebarkan foto seorang perempuan tua yang sedang sakit. Pengguna diajak menyebarkan foto itu dengan ajakan bunyi: “klik like jika kamu ingin ibu ini sembuh sakitnya”, “katakan amin agar ibu ini cepat sembuh”, “katakan amin jika ada ingin masuk surga”. Dan lihatlah, betapa banyak sekali yang sebarkan berita itu. Puluhan ribu yang bagikan.



Padahal, itu ciri ciri akun yang sedang mencari pengikut, ketika jumlah pengikutnya ramai, akun itu akan berubah wujud jadi sebarkan penjualan barang online. Atau akun itu akan dijual kepada pihak lain yang membutuhkan akun media sosial dengan pengikut dalam jumlah ratusan ribu.

Pengguna media sosial cukup banyak yang latah dan kaget beraksi atas sesuatu yang sedang heboh terjadi, istilah era medsos di sebut dengan viral. Adakah Anda termasuk sebagai pengguna yang kaget dan latah sebarkan berita yang belum jelas kebenarannya? Jika ia, bertaubatlah. Malu kita sebagai yang berpendidikan tinggi tak bisa berpikir kritis dalam memilih dan memilah berita.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), kata “latah” diartikan menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain. Di media sosial, orang orang latah cukup terkaget-kaget menebarkan tautan berita secara sukarela dengan jempolnya. Tanpa beban apapun akan efek dari sebuah tautan berita yang belum jelas kebenarannya.

Sebarkan dengan jempol memang hal yang cukup mudah sekali, tinggal klik, lalu ikut tersebar berita tersebut. Jika kabar berita itu berupa hal yang baik dan kebaikan, tentu sah-sah saja, tapi bagaimana jika kabar yang teredar itu sebuah berita kebencian saling mencaci-maki sesama warganet yang berujung pada saling melaporkan ke pihak aparat penegak hukum.

Era media sosial sekarang cukup banyak sudah kasus-kasus saling baku-hantam debat dungu sesama tak berkesudahan. Isu setiap hari ada saja yang lagi heboh. Antara menantu dan mertua bisa ribut hanya gara gara mempertahankan ego debat masing masing dalam pro-kontra soal isu yang sedang hangat dibicarakan.

Sejak aksi damai 411 dan juga aksi super damai 212 saya banyak sekali harus berhenti mengikuti akun-akun pertemanan di Facebook dan Twitter yang menebarkan kebencian dan sebarkan tautan berita bohong. Beberapa tak mungkin saya hapus pertemanan. Saya memilih menahan emosi untuk tak ikut latah berdebat yang hanya menghabiskan waktu sia-sia saja.


Padahal waktu luang cukup besar bagi seorang pengangguran seperti saya, tetapi memilih otak tetap jernih dan menahan emosi tak ikut latah sebarkan berita kebencian adalah jalan yang terbaik saat ini. Hal yang cukup mudah terhindar dari pelanggaran UU ITE adalah dengan tidak menggunakan telepon pintar, tetapi era kecanggihan teknologi sekarang, agak sulit berlaku saya yang ingin tau perkembangan berita dan peristiwa setiap hari.

Kegundahan saya cukup miris saat melihat, orang cerdik pandai ada sekolahan ikut sebarkan berita berita palsu, padahal apa susahnya sih membuka laman mesin pencari di internet untuk mencari informasi pembanding?

Hello, janganlah tampak sekali kalau sampeyan dulunya jadi sarjana bermodalkan skripsi yang diperjualbelikan di rental komputer. Bertaubatlah teman, jangan menambah jumlah pengguna yang terus menebar kebencian sesama. Kalaupun tidak bisa menjadi pandai, janganlah menjadi dungu dan idiot terus-terusan.[sumber: www.pepnews.id]

23 November 2016

11/23/2016 05:47:00 AM

Agus Harimurti, Aceh, Pelukan Istri, dan Kisah Cinta Annisa

IG @agusyudhoyono


Adakah yang lebih bahagia seorang pria saat dipeluk dengan mesra oleh kekasihnya sedemikian hangat seusai ia lelah berpidato? Bisa jadi ada dan tidak. Kadang kala ada pelukan yang dipaksa dan pelukan yang harus dilepas dengan terpaksa.

Saya terbawa perasaan saat melihat kemesraaan Annisa Pohan memeluk suaminya, Agus Harimurti Yudhoyono yang tak lain Calon Gubernur DKI Jakarta, purnawirawan muda dengan karir bagus di ranah seragam militer Republik Indonesia

12 November 2016

11/12/2016 05:52:00 AM

IMABSII Menyelenggarakan Rakernas ke-5

Rakernas IMABSII V_Udayana Bali | Teuku Muntadzar

Denpasar—Sebagai salah satu upaya menduniakan bahasa dan sastra Indonesia dan menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap budaya Indonesia, Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia (IMABSII) menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-5 tahun 2016 di Universitas Udayana, Denpasar, Bali, 14-18 November 2016.

Rakernas yang dibuka oleh Kepala Balai Bahasa Bali, Drs. I Wayan Tama, M.Hum dihadiri oleh 147 peserta dari berbagai wilayah dari Sumatera, Jawa, Bali dan NTT itu terdiri dari 44 kampus se Indonesia.

Azrul Rizki, delegasi dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menyebutkan kekagumannya tentang pelaksanaan Rakernas ini di Bali. “Dari segala segi ruangan acara auditorium terpampang kesan kebudayaan yang melekat pada mahasiswa, masyarakat, dan pendatang,” ujar Ketua Forum Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (MBPSI) FKIP Unsyiah ini.

“Dari Aceh ada 3 kampus yang mengikuti acara Rakernas ini. Unsyiah mengirimkan 2 orang delegasi, Universitas Serambi Mekkah 2 orang dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Bina Bangsa Getsempena mengirimkan 4 orang delegasi,” sebut Azrul yang dihubungi dari Banda Aceh melalui telepon.

Azrul menambahkan, tujuan kegiatan Rakernas IMABSII ke-V ini sebagai ajang untuk menyusun program kerja Ikatan Mahasiswa Bahasa Indonesia, disamping itu untuk menduniakan Bahasa dan Sastra Indonesia sebag iupaya memperkokoh kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia di era globalisasi.

“Saya sebagai Ketua Forum MPBSI di Unsyiah akan mewakili saudara-saudara di Aceh untuk inventarisasi penggunaan bahasa Aceh dan hal-hal lain yang berkenaan dengan bahasa,” sebut Azrul.

Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, STKIP Bina Bangsa Getsempena, Rika Kustina, S.Pd. M. Pd mengaku pertama sekali terlibat dalam kegiatan nasional dan berencana akan terus aktif dalam mengembangkan kegiatan bahasa dan sastra di kampusnya, di Aceh dan tingkat nasional.

Sementara itu, Teuku Muntazar, salah satu peserta dari Unsyiah mengatakan malam penutupan Rakernas IMABSII ke-V nantinya akan ada penampilan sastra dari seluruh peserta.

“Dari Aceh kami akan membawakan puisi, hikayat dan teater tentang adat dan budaya di hadapan peserta seluruh Indonesia,” ujar pengajar bahasa dan sastra di salah satu SMA di Banda Aceh ini.

Rangkaian acara Rakernas di kampus Udayana tersebut dimulai dengan pengukuhan pengurus IMABSII periode 2016-2018 yang dilantik oleh Dr. Yeyen Maryani, M.Hum selaku pembina dan dilanjutkan dengan Seminar Nasional menghadirkan pemateri Sastrawan pemenang Sastra Khatulistiwa yaitu Oka Rusmini dan Darma Putra.

IMABSII periode 2016-2018 dipimpin oleh Dira Wulandari dari Universitas Sumatera Utara berencana membuat advokasi bahasa-bahasa daerah di Indonesia agar tetap terdaftar dan terjaga, kegiatan Hari Besar Kebahasaan, penerbitan buku antologi puisi dan cerpen.

Selanjutnya pada hari kedua, dilanjutkan dengan rapat kerja, penetapan komisi-komisi dan pembahasan program kerja IMABSII ke depan. Sebelum malam penutupan, seluruh peserta di bawa jalan jalan ke tempat tempat rekreasi di Bali, termasuk ke Monumen Bom Bali dan tempat wisata lainnya, demikian informasi dari Azrul Rizki. (Mhz/KontributorAceh) |

sumber: www.http://badanbahasa.kemdikbud.go.id

13 October 2016

10/13/2016 05:58:00 AM

Tiga Siswa SMK Penerbangan Aceh Ikuti Lomba Bahasa Tingkat Nasional

Muhammad Iqbal, Guru SMK Penerbangan Aceh saat mendampingi siswanya di Pangkal Pinang [koleksi foto Muhammad Iqbal]

Banda Aceh - Tiga siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Penerbangan Provinsi Aceh mengikuti Lomba Bahasa Indonesia dan Bahasa Asing bagi siswa SMK tingkat nasional di Pangkal Pinang, 10—15 Oktober 2016. Lomba Bahasa SMK 2016 itu dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah dan Kejuruan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kegiatan ini dibuka oleh Direktur Pembinaan SMK, Drs. H. M. Mustaghfirin Amin, M.B.A. yang dalam sambutannya mengatakan bahwa lomba bahasa ini untuk mempersiapkan siswa SMK dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Kegiatan yang dilaksanakan di SMK Negeri 2 Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung itu merupakan kegiatan tahunan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Muhammad Iqbal, Guru SMK Penerbangan Provinsi Aceh yang mendampingi siswa mengaku bangga sekolahnya mewakili Aceh dalam lomba tingkat nasional di Kepulauan Bangka Belitung.

Iqbal menyebutkan bahwa pada tahun 2016, Dinas Pendidikan Aceh telah mengirimkan sepuluh siswa pada empat kategori lomba bahasa, selain bahasa Mandarin dan bahasa Korea. "Taruna SMKN Penerbangan Aceh menjadi perwakilan Aceh dalam debat bahasa Indonesia. Taruna itu, yaitu Maftuh Ihsan Caifat, Jihanda Donavita, dan Muhammad Ikhsan. Ketiganya taruna kelas XII atau 3 (tiga)," ujar Lulusan Magister Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Syiah Kuala ini.

Kegiatan ini mengusung tema "Komunikatif, Kolaboratif dan Kompeten". Adapun lomba yang dilaksanakan yakni lomba bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, dan Mandarin yang diikuti perwakilan siswa dari siswa SMK se-Indonesia.

Ajang lomba ini sebagai wahana untuk mengukur kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa asing, sekaligus membentuk insan cerdas, kolaboratif dan komunikatif sebagai kader penerus dan pemimpin bangsa di masa depan. (mms/Kontributor Aceh)

sumber: www.http://badanbahasa.kemdikbud.go.id

06 September 2016

9/06/2016 12:46:00 AM

Kemenpar Ajak Pegiat Media Sosial Promosikan Wisata di Aceh

Kadisbudpar Aceh, Reza Fahlevi saat mengajak pegiat media sosial di Aceh untuk terus mendukung pariwisata Aceh

BANDA ACEH - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melalui Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara melakukan bimbingan teknis Optimalisasi Peningkatan Wisata Halal Melalui Media Sosial, acara itu berlangsung di Hotel Oasis Atjeh, Selasa, 06 September 2016.

Acara itu diikuti oleh penggiat komunitas berbagai media sosial tersebut bertujuan untuk mengajak kaum muda kreatif untuk terus mempromosikan wisata melalui media sosial.

Kepala Bidang Targer Pasar, Kemenpar, Katijah dalam sambutan mewakili panitia menyebutkan bahwa bimtek optimalisasi ini juga telah dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat beberap waktu yang lalu. 

“Salah satu strategi untuk tingkatkan pemahaman wisata halal dengan pelibatan anak muda kreatif melalui media sosial,” ujarnya.

Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh, Reza Fahlevi menyebutkan tentang pentingnya peran media sosial untuk mengkampanyekan wisata halal di Aceh. 

"Sama sama kita ketahui, peran digital sangat penting dalam mempromosikan wisata halal ini" ujar Kadisbupdar Aceh ini. Reza Fahlevi menyebutkan promosi wisata di Aceh selama ini didukung oleh berbagai komunitas media sosial di Aceh.

"Berbagai potensi di Aceh ini karena didukung oleh rekan-rekan komunitas dan foto yang diupload oleh komunitas. Selama ini komunitas sangat aktif mendukung. Kami sampaikan, kita juga sudah menyusun branding the light of Aceh. Jadi ini mudah mudahan potensi yang dimiliki oleh komunitas, agar dapat memudahkan kawan kawan dalam promosi yang tepat, "tambahnya Reza lagi.

Sementara itu, Asisten Deputi Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kemenpar,  Watie Moerany S, M. Hum saat membuka acara Bimtek Optimalisasi menyampaikan  berbagai strategi yang sudah dibuat oleh Kementerian Pariwisata, membuat tim percepatan halal.

"Kemenpar juga saat ini sedang membuat Kompetisi Wisata Halal 2016. Aceh terdapat 4 tempat diikutkan dalam kompetisi yang akan berakhir vote pada tanggal 15 september 2016," Sebutnya.

Watie Moerany menyebutkan kekagumannya terhadap potenis budaya Aceh, ia menyampaikan perlu adanya peningkatan sumberdaya manusia untuk mendukung terhadap wisata ke depannya. 

"Setelah ini nantinya akan dikukuhkan Generasi Pesona Indonesia (Genpi) wilayah Aceh. Generasi muda diharapkan jadi garda terdepan mempromosikan wisata halal untuk masyarakat luas," ujar Watie Moerany yang disambut tepuk tangan para peserta.

Kegiatan optimalisasi peningkatan wisata dihadiri oleh 60 peserta dari berbagai komunitas pegiat media sosial. Hadir sebagai narasumber  antara lain, Taufan Rahmadi, ia merupakan creative strategic expert yang mana pada tahun 2015 berhasil mengantarkan Lombok memenangkan World Best Halal Tourism. Siti Chotijah (Team Leader Communication Strategy and Media Relations Volunteer  Wonderful Lombok Sumbawa), lalu ada  Don Kardono (Staf Ahli  Menpar Bidang Publikasi).

Sedangkan narasumber dari Aceh, hadir Aulia Fitri (Co-Founder Aceh Blogger  Community, Anggota Tim  Wisata Halal Disbudpar Aceh). Selanjutnya dari blogger Aceh, Makmur Dimila  (Co-Founder Safariku.com, Redaktur Tabloid Pikiran Merdeka).

Pada akhir sesi bimtek tersebut, para peserta diajak untuk ikut mendukung destinasi wisata halal Aceh yang sedang kompetisi di situs http://halaltourism.id/ atau di bit.ly/voteaceh. yok []

[]

05 September 2016

9/05/2016 07:02:00 AM

Asyiknya Pesona Wisata Desa ala Gampong Nusa

salah satu sudut gampong Nusa dengan areal sawah dan pemandangan yang indah

Jika Anda masyarakat urban mulai jenuh dengan aktivitas kota, tak ada salahnya sekali waktu berkunjung wisata ke desa ini. Selama ini wisata masih identik dengan pantai dan tempat bersejarah, wisata desa bisa jadi referensi baru bagi anda yang ingin menikmati suasana dengan beragam aktivitas masyarakat di Gampong Nusa ini.

Untuk berkunjung ke Gampong Nusa, saya menempuh jalan bermotor dengan waktu 20 menit dari pusat kota Banda Aceh ke arah Lhoknga. Tepatnya pada kilometer 9 setelah Lapas Lhoknga atau setelah SPBU Braden. Sebuah Simpang tiga yang merujuk ke kiri, anda akan menemukan pintu gerbang Gampong Nusa yang dipugar sedemikian rupa.

pintu gerbang gampong Nusa di pinggir jalan Banda Aceh  arah Meulaboh

Memasuki jalan Wisata Gampong Nusa, anda akan disambut pemandangan kiri-kanan jalan dengan area pegunungan dan sawah membentang luas. Sedikit mendaki bukit kita akan bertemu dengan rumah rumah penduduk yang agak padat. Pemandangan suasana gampong, dengan anak anak bermain sepeda di jalan desa.

Minggu, 28 Agustus 2016 kali kedua saya mengunjungi Gampong Nusa. Sebulan sebelumnya saya sempat berkunjung ke Gampong Nusa atas ajakan dari Rubama, salah seorang warga setempat yang cukup aktif berperan dalam mengembangkan Wisata Berbasis Masyarakat di Gampong Nusa. Rubama, pemudi yang aktif di LSM Solidaritas Perempuan.
dua wisatawan asing berkunjung ke gampong Nusa, mereka ikut menyaksikan Saweu Nusa, Minggu 28 Agustus 2016
Tahun 2013, Ru –sapaan akrabnya- mendapat penghargaan dari Tabloid NOVA; Perempuan Inspiratif Nova 2013. Penghargaan itu diberikan kepada tokoh perempuan inspirasi di seluruh Indonesia. Saya mengenal Ru sejak tahun 2007, ia kebetulan juga aktif di Fatayat NU, Ormas Badan Otonom untuk pemudi Nahdlatul Ulama.

Minggu, 28 Agustus itu Komunitas Al Hayah bekerjasama dengan Mahasiswa Universitas Syiah Kuala yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Pengabdian Masyarakat (PPM) 10 mengadakan acara Saweu Nusa; Jak Beu Toe, Kalon Beudeh. Datanglah mendekat, Lihat dengan jelas.

Hari itu Nusa juga kedatangan Gilang Ramadan, drummer nasional ternama di Indonesia yang lakukan syuting bermain drum. Gilang berkolaborasi dengan sanggar rapai Al Hayah. Bagi anda yang tertarik ingin belajar rapai, bisa berkunjung ke gampong Nusa setiap malam pada sesi latihan selepas insya, kecuali malam Jumat.

Saweu Nusa berlangsung sejak pagi hingga jelang sore hari dengan serangkaian acara Promosi Potensi Desa, Wet-Wet Gampong Nusa, Tampilan Seni Tradisi dan Permainan Tradisional. Gampong Nusa hadir berbagai ragam komunitas warga untuk mendukung upaya desa wisata, salah satunya Komunitas Al Hayah sanggar seni budaya terdiri dari para pemuda pemudi yang aktif melestarikan seni tradisi Aceh.
Sanggar Rapai Gampong Nusa berkolaborasi dengan drummer nasional, Gilang Ramadan. Sanggar ini sudah pernah tampil di Jepang pada tahun 2015 | foto; M. Iqbal / +I Love Aceh 

Komunitas itu didirikan atas inisiatif para pemuda yang ingin melestarikan seni budaya Aceh. Tidak cuma Al Hayah,  di Nusa anda akan menemukan Nusa Creatif Community (NCC), komunitas ini bergerak dalam bidang pengelolaan sampah menjadi barang bernilai ekonomis.

Saya kemudian bertemu dengan Muhammad Khaidir, kepada saya ia mengaku baru dua hari menerima SK sebagai Pj Geuchik Gampong Nusa.

“Umur saya sebenarnya masih sangat muda, Bang. Tapi saya dipercaya oleh masyarakat untuk jadi Pj Geuchik sementara waktu” ujar lulusan Sarjana Teknik Sipil Unsyiah ini kepada saya.

Kesan sebagai Geuchik tampak sebagai pemimpin dari penampilan Khaidir. Ia hadir di tengah tengah warga masyarakat dan mahasiswa bersama para pemuda dalam mempersiapkan acara. Penampilannya sederhana, hari itu Khaidir memakai baju batik, berlengan panjang, ia memakai peci hitam khas Aceh.

Menurut Khaidir, potensi wisata desa ala gampong Nusa yang sudah mulai tumbuh saat ini berkat kerja keras seluruh masyarakat gampong. Kegiatan Wisata Desa dikelola oleh Lembaga Pariwisata Nusa (LPN), para pengurus di dalamnya terdiri dari seluruh masyarakat, dari kaum ibu-ibu, pemuda, remaja gampong.
Penanmpilan tarian dari Komunitas Al Hayah, sanggar ini melestarikan tarian tarian Aceh.

Di LPN inilah, setiap ada rombongan tamu yang berkunjung ke gampong Nusa akan diterima dengan baik. Khaidir menyebutkan, beberapa waktu lalu sekitar 30 siswa dari Provinsi Gorontalo juga pernah home stay (menginap) di rumah-rumah penduduk gampong Nusa selama 2 hari.

“Nah di LPN inilah, ketika ada tamu yang ingin menginap. LPN akan menentukan di rumah siapa saja para tamu akan menginap. Pelayanan layaknya kita menerima tamu. Segala sajian makan khas Aceh akan disediakan oleh tuan rumah” Ujar Khaidir. Hal ini juga pernah disampaikan oleh Rubama kepada saya. Rubama bahkan mengatakan, tamu wisata dari Malaysia sudah pernah beberapa kali menginap di gampong Nusa. Mereka ingin menikmati suasana bulan puasa di gampong Nusa.
kekompakan pemuda gampng Nusa bergotong royong seusai acara Saweu Nusa

Gampong Nusa menjadi sebuah icon baru desa wisata yang kreatif. Jarak jalan menuju ke desa dari Jalan Banda Aceh – Meulaboh menempuh jalan berbukit disambut dengan pemandangan pegunungan yang hijau. Rumah rumah penduduk gampong dipinggir sawah yang membuat suasana benar benar terasa di gampong.

Lembaga Pariwisata Nusa cukup kreatif mengemas paket wisata ala desa. Saat turun ke sawah misalnya, bagi wisatawan yang ingin merasakan bertanam padim bisa merasakan suasana menjadi petani. Wisatawan akan ke  milik warga, Gampong Nusa. Menikmati suasana areal sawah yang luas, dengan pemandangan pegunungan yang hijau merupakan kenikmatan tersendiri saat berkunjung ke Gampong Nusa.

Pj Geuchik Nusa, Khaidir kepada saya menyebutkan. Wisatawan yang berkunjung ke Nusa tidak hanya sekedar melihat suasana gampong, mereka berharap dengan adanya tamu bisa menjadi nilai tambah silaturahim, saling bersaudara. Ia mengaku sampai sekarang kerap berkomunikasi dengan tamu tamu yang sudah datang ke Nusa.

Senja perlahan turun, suasana sejuk kian terasa. Saya kemudian memilih mandi di sungai kecil di belakang Meunasah Gampong Nusa, beberapa anak-anak melonjat ke sungai dari atas pohon besar yang tumbuh di pinggir sungai. Suasana ini ingatkan saya puluhan tahun silam semasa kecil bermandi di sungai Peusangan, Bireuen.

Tertarik berkunjung ke Gampong Nusa? Tak ada salahnya anda mengajak serta keluarga, bisa menginap di rumah rumah warga.