KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (70) BERITA MEDIA (47) CATATAN HARIAN (47) GoBlog (12) PUISI (11) CERPEN (8)

24 February 2016

2/24/2016 05:53:00 AM

Dialog Dini Hari; Edi dan Ide

@facebook Edi Fadhil 

“Adakah yang lebih indah dari semua ini /Rumah mungil dan cerita cinta yang megah /Bermandi cahaya di padang bintang /Aku bahagia”
Itu penggalan lirik lagu Tentang Rumahku, judul sekaligus nama album perdana band yang berasal dari Bali, Dialog Dini Hari (DDH). Band indi yang dibentuk pada tahun 2008 ini beraliran lagu lagu blues tentang keresahan hati, isu sosial dan kegamangan hati sang personilnya. Saya menyukai beberapa lagu mereka karena seorang tukang memasak paling terkenal di Komunitas Kanot Bu, Tepank Fajriman sering kali memutarkan lagu lagu Dialog Dini Hari kala ia sedang memasak atau mengulek sambal Monica Belluchi, begitu nama yang Tepank tabalkan sewaktu saya mencicipinya.
Mendengar lagu Tentang Rumahku yang dinyanyikan oleh Dialog Dini Hari dengan tiga personelnya, membawa saya pada sosok Hamba Allah penyumbang tersering pada list gerakan membangun rumah kaum miskin desa. Program Rumah Harapan yang digerakkan oleh Edi Fadhil, seorang pemuda yang menggunakan media sosial fesbuk, mengumpulkan sumbangan dari orang orang yang ingin menabung untuk dunia-akhirat. Edi seorang pemuda yang sok sibuk mengurus dan membantu bangun rumah kaum miskin desa. Kasihan Edi, macam tidak ada pekerjaan lain saja yang lebih penting ia lakukan.
Sebagai pengabdi negara, dia harusnya duduk manis saja di kantor sambil apdet model jam terbaru di oldshop, menjelajah internet tentang harga tiket murah untuk liburan ke Malaysia, Singapure atau Thailand, pada akhir tahun. Atau selemah lemah bersantai maingame di ruang kerjanya. Atau paling kurang lagi haha hihi di warung kopi dengan baju dinas kebanggaan para orang tua dan mertua atau Edi bisa mikir bagaimana mengolah proposal proposal fiktif bersama organisasi abal abal untuk memperkaya diri dengan taksiran persen uang muka sekian jutaan.
Harusnya Edi duduk di kantor. Pura pura terlibat membantu orang orang berurusan dengan birokrasi dan kerjaan lain dari pimpinan sambil menunggu dan meminta jatah uang kopi. Lumayanlah untuk biaya liburan ke luarnegeri atau ke provinsi tetangga pada akhir pekan.
Dengan duduk manis di meja kantor saja, Edi tak perlu bersusah payah harus bertemu dan mengajak anak muda dan relawan lain untuk membantu pembangunan rumah yang layak, dan tentu saja pantas huni bagi penduduk miskin desa. Sunggguh, gaya hidup Edi menurut saya kurang piknik. Ia tidak belajar dari senior pengabdi lain atau sesama teman pengabdi negara yang lebih cerdas memprotes terkesan dizalimi karena pihak dinas urusan kepegawaian telat bayar gaji, menuntut kenaikan gaji. Walau sering kali mereka asyik main waifi di warung kupi. Dengan menunggu gajian tiap awal bulan, dia bisa hidup bahagia dan kaya raya bersama keluarga dan istri. Kalau sudah kaya raya, tinggal bangun mewah rumah sendiri, tinggal bersama anak istri tercinta. Ini? Halah, Edi kasihan sekali nasibnya jadi pegawai harus membantu orang orang miskin desa untuk bisa hidup dalam rumah yang layak dan pantas. Ini zaman kelezatan bakda perdamaian selepas amuk peluru dan amuk laut.
Mestinya Edi bisa duduk santai sebagai pegawai biasa sambil menerima gaji setiap bulan ditambah dengan uang sppd hasil olahan. Ngak perlu repot repot habiskan waktu dan tenaga untuk membantu warga dan anak anak yang butuh dorongan dalam bersekolah karena tidak ada biaya.
Pemuda seperti Edi, Entah apa tujuan hidupnya yang telah sukses jadi pegawai –demikian asumsi sukses bagi orang kita di Aceh-, ngapain dia menghabiskan gajinya untuk membiayai diri sendiri ke wilayah pedalaman Aceh, bertemu dan mencari keluarga miskin yang pantas dibangun rumah layak huni.
Edi entah dari mana muncul ide menggalang kekuatan menggerakkan hati manusia penderma lain untuk mau terlibat bangun rumah warga miskin desa. Bangun rumah berjamaah. Anehnya Edi tidak narsis bagikan link berita berita di status fesbuk tentang kegiatannya yang demikian banyak ditulis di media atau terekam dalam liputan reporter televisi. Tapi saya ngak habis mikir lagi, kenapa ada politisi dari lembaga negara yang memuja muji atas kinerjanya itu. Cermin mana cermin!? Apa ini sebagai alat untuk meraih simpati dari rakyat yang sudah demikian muak dan lelah atas buruknya perilaku dan perangai wakil mereka di legislatif?
Etapi ngak perlu heran dengan kondisi demikian, sudah hal lumrah dan wajar para pegiat politik di kampung kita memang begitu. Bukan tidak mungkin bulan depan akan heboh lagi dengan berita ada pejabat negara yang melaporkan rumah warga miskin harus dibangun kepada Edi Fadhil, harusnya mereka bisa lakukan sendiri toh!
Beberapa dari kalian juga lebih aneh lagi, mau usung EF dengan memasang foto dia untuk menjadi Calon Gubernur. Hei, kalian mikir bangun rumah dhuafa itu tugas pemangku pemerintah? Kalian salah besar atas itu. Warga miskin di Aceh itu salah mereka sendiri jadi miskin, harusnya mereka kerja kerja kerja, bukan mengeluh minta dikasihani sama pemerintah. Warga miskin dilarang tidur dan asyik duduk nongkrong di warung kopi kayak adek-abang peugawoe nanggroe dan tenaga kontrak yang Cuma bisa ngehe doang setiap jam kerja di warung kopi sambil main gadget, posting foto selpin ke instagram atau chek in path sedang mamam di warung kari kambing.
Ide atas kerja Edi ngak usah ditiru oleh pemerintah, sebagaimana beberapa dari kalian yang lemparkan wacana itu di media sosial atau komen di status fesbuknya. Kalian mikir pemerintah sanggup lakukan hal begitu? Ngak akan bisa terjadi keles. Itu kerja kerja bangun rumah dhuafa bukan kerjaan pemerintah, memang sudah nasibnya masyarakat kita yang miskin. Lalu apa kalian mikir ide bangun rumah ala Edi akan dilakukan oleh dedek-dedek gemes doyan selpie di luar negeri yang lagi kuliah esdua atas biaya pemerintah daerah? Ngak akan terjadi juga, mereka itu para aset bangsa Aceh dan anak terdidik nan cerdik Bahasa Inggris, yang memanfaatkan kebijakan beasiswa pemerintah di daerah untuk sekolah ke luar negeri. Apa produk karya mereka di sana kan cuma selpi-selpi kasih tampak gigi kinclong manisnya, atau paling hebat ya dimuat tulisan citizen reporter di koran cetak ternama di Aceh. Selebihnya mereka cuma bisa chek in di path lagi mamam nasi instan cepat saji di restoran megah luar negeri dan sebarkan foto dengan latar taman indah di instagram. Apa mereka ada mikir berapa ratusan juta biaya yang dikeluarkan pemerintah di Aceh untuk biaya hidup dan kuliah mereka. Apa selepas esdua mereka akan mengabdi dan atau menyisihkan gajinya untuk membantu adik-adik agar bisa sekolah, seperti yang Edi lakukan!? Lha Edi bukan penerima beasiswa pemerinta keles.
Sudah ya, saya terlalu banyak merepet. Kata kawan saya yang tidak ingin disebutkan namanya; kalau ngak bisa bantu, jangan nyusahin. Ngak usah protes sana sini dan syirik karena ngak dapat beasiswa ke luar negeri, salah sendiri dulu ngak belajar Bahasa Inggris. Bahasa yang pernah dicap bahasa kapir oleh nenek moyang kita.
Sebelum habis kalian baca tulisan sampah repetan ini, ada yang terpikir oleh saya sampai sekarang masih penasaran dengan sosok misterius yang sudah menyumbang capai ratus jutaaan via Edi Fadhil. Itu saya lihat namanya di list laporan yang ditulis Edi di laman fesbuknya. Bagi kalian yang kerap memantau status dan laporan pertanggung jawaban sumbangan masuk ke nomor rekening bank milik Edi, kalian mungkin juga akan bertanya siapa sosok penyumbang atas nama “Dini Hari?” Apa jangan jangan ada hubungannya dengan band Dialog Dini Hari yang saya kutip liriknya di atas? Toh mereka sudah menuliskan dalam bentuk lagu tentang rumah yang layak huni sebagaimana digambarkan oleh Dialog Dini Hari dalam lirik lagunya itu.
Tapi kan biasa kalau artis menyumbang ngak ada tutupi pakai nama samaran lah, pasti undang media dan diumbar besar besar saat mereka ada bantu warga miskin atau sedekah kepada anak yatim. Saya rasa personil band Dialog Dini Hari ngak ada hubungan apa apa dengan penyumbang bernama “Dini Hari.” Band Dialog Dini Hari juga ngak bakalan tau apa apa tentang gerakan rumah impian yang dilakukan oleh Edi Fadhil bersama seluruh relawan yang terlibat di dalamnya.
Menurut info intelejen jaringan kami, nama penyumbang “Dini Hari” adalah seorang warga keturunan Aceh yang telah lama bermukim di Pulau Jawa. Niatnya menyumbang dan peduli untuk membangun rumah warga miskin di Aceh, sungguh luarbiasa ikhlasnya. Padahal sosok ini bukan penerima beasiswa pemerintah. Eh. Tidak pernah sebutkan siapa sosok beliau ini. Sungguh benar benar inspirasi dan jadi cermin bagi kita yang bermukim di Aceh, punya kelebihan makanan dan rumah megah.
Sebagai perwakilan keresahan orang orang yang tak punya rumah, Band Dialog Dini Hari telah menyuarakan resah orang orang tak ada rumah dalam lirik lagu Tentang Rumahku: “Aku ingin pulang, tapi rumah entah di mana.”
Sudah ya, saya pamit. Rugi benar waktu kalian membaca tulisan sampah penuh repetan ini tak jelas tujuannya. Mending kalian yang penasaran dengan lagu Dialog Dini Hari, bisa langsung mencarinya di situs yutub. Sambil kalian mencari di mana rumah calon mertua, bagi yang masih lajang tentunya ya. Salam kupi pancong! [ sumber tulisan: aceHTrend.co / kamis, 18/02/2016]

05 February 2016

2/05/2016 06:05:00 AM

Dear Adinda Bella, Izinkan Kakanda Menghalalkanmu

Ukhty, jauh lebih manis pakai jilbab yang simpel begini. Apalagi memakai baju berbunga bunga. Itu yang sebelah kanan dek Bella, mirip saya waktu kecil :P | ig: laudyacynthiabella

Ke hadapanmu Ukhty Laudya Cynthia Bella. Kenalkan saya Ketua Kaukus Jomblo Peduli Syariah dan Ketua Tanfidziyah Ikatan Jomblo NU Aceh. Kali ini Kanda sangat resah, melebihi resah menjawab pertanyaan kawan kawan Abang selama tigapuluh tiga tahun bertanya tenang kenapa Abangda belum menikah. Engkau tau, Ukhty? Abang masih menunggu jawabmu untuk setuju ke pelaminan.

Hai, Ukhty Bella. Kali ini abangda ingin cerita padamu. Tentang sikapmu yang mau bela-belain jadi pengiklan jilbab yang bersertifikat halalan tayyiban. Sebagai penggemar dan fans garis militan, jujur kalau ana harus katakan; sekali ini Kakanda sangat kecewa padamu. Melebihi kekecewaan teman abangda yang kecewa karena band favoritnya diklaim mendukung salah satu calon kandidat Gubernur Aceh 2017.

Adinda Bellla tau Aceh? Itu negeri paling ujung dari pulau Sumatera. Negeri yang sejak jaman dulu kala sanggup mempertahankan kedaulatan kerajaan bangsanya dari serangan Belanda. Negeri dengan penduduknya makin tabah dan kuat, melebihi tabah dan kuatnya hati Agus Mulyadi yang masih tetap pada posisi bertahan melawan kesepian setiap malam, yang tubuhnya rela digigit nyamuk daripada digigit seorang gadis dengan penuh belaian kasih sayang.

Ukhty Bella, lupakan soal Agus Mulyadi si lelaki kesepian itu. Ana juga tak lebih buruk nasib hati yang ombang ambing remuk redam atas perjalanan pada bab cinta mencintai. Ukhty Bella, ana kecewa padamu kali ini bersebab tau engkau yang baru saja jadi gadis hijab beberapa waktu lalu, kini telah menjadi tukang jualan jilbab Zoya. Merek jilbab yang sudah klaim dirinya mendapat sertifikat halal dari lembaga yang kerap keluarkan surat keputusan satu produk halal atau harOm. Lembaga yang kerap putuskan tingkat satu keimanan dan keyakinan kami dalam berbangsa tanah dan berbangsa air. Ya, MUI. Majelis Ulama Indonesia. Ukhty Bella mesti tau, di Aceh kami tidak mengenal yang namanya MUI. Kami lebih mengenal MPU, Majelis Permusyawaratan Ulama. Nama lain dari sebutan MUI tingkat provinsi. Soal nama lembaga kami di Aceh berbeda Ukhty, Aceh yang dikenal negeri berpuluh ribu serdadu dan amuk peluru. Negeri yang sepuluh tahun lalu merasa gemuruh amukan laut ke daratan. Aceh adalah daerah model dan daerah modal, begitu lazim kami dengar.

Ukhty Bella, Abangda benar benar kecewa padamu ketika menjadi pengiklan jilbab Zoya yang sudah halal. Ukhty tau ngak? Ibunda saya –yang juga akan jadi Ibunda Mertua dik Bella- akan merasa bersalah dan kecewa karena selama ini beliau hanya memakai jilbab biasa, tak bermerek pula. Ibunda kami di kampung kampung tak pernah tau soal jilbab halal atau haram, beliau saat turun ke sawah kadang kala hanya memakai kerudung kain sarung sebagai penutup kepala. Beliau tak paham soal jilbab dan jilbaber yang sedang trend ala mbak-mbak yang mengakui lebih islam daripada Ibunda kami di kampung.

Ukhty perlu tau, Ibunda saya tercintah tak pernah paham kain penutup kepalanya terbuat dari bahan apa. Baginya hal terpenting hidup adalah tidak memakan harta anak yatim dan mengambil jatah fakir miskin, itu lebih terhormat daripada memilih milah jilbab halal dan haram.

Ukhty, ana makin kecewa sebab engkau terlalu ngotot mengkampanyekan jilbab zoya itu halal. Ana jadi berfikir, jika saja ada jilbab yang halal, apakah jilbab yang saya pakai itu haram? Eh maksud saya, jilbab yang teman teman saya yang cewek. Saya ngak pernah pakai jilbab seumur hidup saya, Ukhty. Sebab kaum laki-laki tak diharuskan menutup rambut dari pandangan orang yang tak berhak. Ini juga jadi kesempatan kami untuk bisa menampakkan rambut klimis dan sebeng seperti Ariel Peterpen kepada gadis gadis manis manja yang mesti kami selamatkan hidupnya dari pelukan lelaki yang salah. Ke pelukan lelaki yang saleh seperti saya, lelaki yang akan menjadi calon imammu kelak, Ukhty.

Adinda Bella, jika saja jilbab Zoya bersertifikat halal, dengan klaim jilbab syari’i berlabel kebohongan dan tipu tipu untuk meningkatkan penjualan, kami sangat bersedih dik. Ada banyak jilbab jilbab tak bermerek yang diproduksi oleh kaum ibu ibu dengan jumlah produksi kecil ala rumah tangga akan kalah bersaing dengan brand ambassador zoya yang Adinda Bella kampanyekan itu. Ukhty enak, kampanyekan jilbab halal bisa dapat barokah yang luarbiasa dengan pemasukan iklan. Lha kami ini jangankan bisa beli jilbab untuk hadiah ulang tahun pacar, untuk mengumpulkan biaya halalkan gadis saja susah minta ampun. Apalagi di Aceh, Dinda. Kadang beberapa kawan kami harus mengkontra intelejen konspirasi wayudi segala dengan menyuruh sekumpulan orang untuk grebek kami yang sedang berpacaran, kena gebuk sekali dua kali ngak apa apa, sebab kami akan dinikahkan oleh orang kampung, atau jodoh bagi kami di Aceh kadang kala berakhir di tangan WH (polisi syariat).

Adinda Bella, sebagai calon gadis yang akan jadi Ummi untuk anak anak kita kelak. Engkau mestinya lebih cerdas lagi bersikap tentang tak membedakan mana jilbab halal dan jilbab haram dalam berdakwah. Ana tau Ukhty, kamu tanpa memakai jilbab Zoya sekalipun, sudah tampak anggun aduhai bukan kepalang. Engkau tau Ukhty, kecantikan bahkan bikin ana tidak bisa tidur sebelum menatap poster wajahmu yang sengaja tertempel di kamar. Sebagai pengantar untuk bisa bermimpi basah, tentu saja bersamamu Ukhty.

Menyebut nama Zoya awalnya saya teringat merek susu. Soalnya saya tidak begitu apdet sama fesyen adek-adek kece jilbaber syariah dengan kerudung dililit seperti sarang burung atau mirip cerek air. Rumit sekali sepertinya. Apa mereka ngak tau kalau hidup ini sudah demikian rumit ditambah lagi dengan bentuk lilitan ke sana kemari di kepalanya? Tapi itu ngak rumit, kalau engkau mau menerima Abangda sebagai calon imammu, Ukh.

Melihat wajahmu di baliho dengan pertanyaan baliho iklan Zoya yang: yakin hijab yang kita gunakan halal? adalah cara iklan paling mujarab untuk menyukseskan sebuah produk yang mudah meraih untung pasar. Ukhty kasih tau sama MUI agar lebih paham, bagaimana kontroversi atas ini, kasihan kan produk-produk industri rumah tangga modal kecil harus melawan produk kapitalis yang besar ini. Emang siapa yang jamin kalau kain digunakan oleh Zoya dalam bikin jilbab itu halal? Di jamin sama MUI, lembaga yang kerap kontroversi dengan label produk produk yang sudah mereka labeli halal atau harOm?

Adinda Bella, mending sekarang mikir mikir lagi deh soal putuskan kontrak brand ambassaor dengan zoya. Sebaiknya antum mikirin diri sendiri saja tentang persiapan kapan dik Bella siap untuk abangda lamar? Akan abangda datangi orangtaumu untuk menghalakan dirimu di kantor urusan agama. Jangan sampe menunggu waktu aturan lain yang untuk beribadah nikah saja harus menunggu sertifikat halal dari MUI. Kalau ini terjadi, alamat makin banyaklah populasi lajang kesepian tak bisa berumahtangga.

Adinda Ukhty Bella, jika sudah benar benar siap untuk engkau ana halalkan, cepat kasih tau ya. Bisa cepat kita boking tempat perhelatan dan waktu di Masjid Raya Baiturrahman. Mensyen aja akun ana di twitter @azirmaop. Mie Aceh aja rasanya enak, apalagi nikah sama pemuda Aceh seperti Abang. InsyaAllah kita akan bahagia dan jadi keluarga barokah selamanya. Apalagi kami di sini ada bantuan hibah dari pemerintah daerah; Jaminan Mahar Aceh (JMA). Itu bisa membantu kita kelak, Ukh.

Syukran Ukhty, mikir mikir lagi soal jadi pengiklan Zoya ya. Mending tinggalkan kontroversi jilbab sertifikat halal itu, kita akan menikah dan mending kita berdua ke Sabang naik kapal pesiar sambil minum susu soya. Sehabis minum susu kamu. Eh, maksudnya susu yang kamu buat. #PelukTembok. []


16 January 2016

1/16/2016 08:36:00 AM

Poligami Yang Tak Dirindukan

21cineplex.com 

Tema poligami selalu menarik diperdebatkan di tengah isu gender yang diagung agungkan –yang katanya- berasal dari Barat. Semalam saya berbahagia sebab menguras air mata saat menonton film Surya Yang Tak Dirindukan, untuk memudahkan menulis selanjutnya disingkat SYTD.

Semalam, saya bersalah dengan sengaja karena menonton film ini melalui situs yutub. Tapi mau dikata apa, untuk menonton yang legal, kami harus ke Medan, menempuh perjalanan bus selama 12 jam. Film yang dirilis atas adopsi judul novel Asma Nadia ini menjadi pilihan banyak orang menonton, karena kontroversi poligami yang tak berkehabisan dibahas. Ini mungkin jadi alasan yang lain.

Saya tak ingin menyalahkan Aceh yang tidak ada gedung bioskop. Saya lebih mengapresiasi para pembajak film ini hingga kami di Aceh bisa menontonya gratis di yutub, walau harus menunggu 6 bulan kemudian sejak rilis bioskop pada Juni 2015 lalu.

Konflik film ini sungguhlah rumit. Para aktornya saling punya kisah masing masing tentang latar belakang orang tua berpoligami. Cerita berawal dari Andika Prasetya (Fedi Nuril) dengan karakter sebagai pria baik yang ringan tangan. Cerita bermula saat ia bertemu dengan Arini (Laudya Cyntya Bella) di sebuah tempat, Pras mengantarkan seorang anak kecil yang terserempet motor di jalan ke tempat belajarnya. Di tempat belajar itu ada sosok Ibu guru yang masih gadis bernama Arini. Sosok gadis berjilbab dengan wajah ramah, hingga tampak jelas akan kecantikannnya. Pras bersama dua temannya, Arman dan Hartono. Mereka adalah mahasiswa Asitektur. Pras jatuh cinta pertama kali melihat Arini saat mengantar bocah yang kecelakaan tadi. Kenalan berlanjut. Pras dan Arini menikah. Pras jadi seorang pengusaha bidang infrastuktur.

Awalnya kehidupan mereka yang bahagia, suami-istri dengan seorang putri bernama Nadia (5). Disinilah konflik dimulai, suatu hari saat Pras dalam perjalanan ke kantornya. Pras menolong seorang pengendara lalulintas yang jatuh ke jurang. Ia membawa korban kecelakaan itu ke rumah sakit terdekat. Ternyata perempuan itu hamil, ia melahirkan seorang bayi laki-laki, yang kemudian diberi nama Akbar. Suami si perempuan itu entah di mana sudah, saya membayangkan suaminya selingkuh.

Ibunya si bayi itu bernama Meirose, diperankan oleh Raline Shah. Saat dalam perawatan itu dia mau bunuh diri dari atas gedung rumah sakit, ia mempunyai latar belakang dari keluarga tak bahagia. Ibunya bunuh diri saat ayahnya menikah lagi, Meirose berumur 12 tahun kala itu.

Pras terkenal sebagai sosok pria yang baik suka menolong. Ia yang tahan badan mengaku sebagai keluarga Mei waktu di rumah sakit. Saat membujuk Mei agar tak bunuh diri, Pras berjanji akan menikahi Mei. Mei tidak mau, saat mau meloncat, dengan sigap Pras meraih dengan cepat tangan Mei, ia selamat. Mereka kemudian menikah. Pras menyembunyikan pernikahan itu kepada Arini, istri pertamanya.

Sepandai pandai tupai melompat, kalau berpoligami akhirnya ketahuan juga. Si Mbok, sang pembantu di rumah mereka menemukan faktur pembelian obat untuk bayi di apotik atas nama Akbar. Arini terkejut dan mengecek alamat yang tertera pada faktur itu. Arini mencari alamat rumah itu, iya bertemu dengan Mierose, dua perempuan istri Pras itu saling beradu mulut. Sepulang Pras dari kantor, Arini sudah bersiap minggat dari rumah. Keributan terjadi tak terhindar, Pras berusaha menjelaskan. Arini tak mengubrisnya. Konflik batin penonton cukup kuat sekali terbangun di sini.

Keributan besar itu mereda, Arini akhirnya lunak mencoba ikhlas atas apa yang terjadi pada diri dan keluarnya. Suatu hari, Nadia anaknya tampil di panggul sekolah anak anak. Nadia ingin penampilannya ditonton oleh Ayah. Sebelumnya Pras tak bisa hadir ke sekolah karena Akbar demam di rumah, pasca imunisasi. Arini menelpon suaminya dan mendengar suara bayi yang menangis, hatinya hancur bukan kepalang. Dengan suasana hati yang hancur, itu mencoba bertanya atas gejala apa saja yang dialami oleh Akbar, bayi yang tak beruntung itu. Adegan itu membuat penonton memahami akan arti keikhlasan Arini menerima Mierose dan Akbar untuk jadi bagian keluarga Arini. Mereka kemudian hidup dalam satu rumah.

Sosok ibu Arini cukup berpengaruh dalam sikap Arini menerima dipoligami. Masalah tak juga selesai, Mierose kemudian merasa bersalah karena merebut kebahagian Arini. Ia lalu mingga dari rumah denga meninggalkan pesan dengan rekaman di teleponnya, meminta agar mereka menjaga Akbar. Sebelum Mierose merasa bersalah karena berada dalam kehidupan Pras, Arini dan Nadia. Suatu kali Meirose bertanya kepada Arini kenapa dia ikhlas menerima keluarganya dalam hidupnya. Arini berujar: “Hidup itu pilihan, dan ini adalah pilihanku”

Tragedi suatu malam saat Pras pulang ke rumah. Ia menolong seorang wanita yang ingin diperkosa oleh penjahat. Pras dihajar oleh pelaku itu hingga babak belur. Adegan lalu ke rumah sakit. Kedua wanita ini bertemu dan saling menguatkan. Meirose akhirnya minggat dari rumah dengan menitipkan sebuah rekaman video, isi video itu dia pergi dan berpesan untuk menjaga Akbar. Dia tidak ingin membebani keluarga itu lagi dengan hadir kepada hidupnya. Tetapi Arini dan Pras tidak menerima itu. Mereka berdua mencari Meirose. Ia tetap memilih pergi dan mengucapkan terimakasih banyak pada Pras dan Arini atas bantuannya selama ini.

Ending film ini yang tidak mengenakkan. Citra dari awal sebagai film islami jadi tercela pada adegan endingnya. Adegan Pras merangkul Arini adalah yang kurang tepat ditampilkan, toh diluar adegan mereka bukan sebagai suami istri. Terlepas dari itu, saya memandang ada pesan yang tersirat ingin disampaikan ke publik bahwa; poligami yang kebanyakan masih terjari pro-kontra di masyarakat, akan rumit kalau tiap tiap orang akan memahami diri masing masing ketika sudah mengalami poligami.

Film ini di sutradara oleh Kuntz Agus, Produser Manoj Punjabi, dengan Pemain utama Laudya Cynthia Bella, Fedi NurilRaline Shah





21 December 2015

12/21/2015 07:19:00 AM

Arsitek Museum Tsunami Sambangi Aceh

 
@ridwankamil 


Walikota Bandung Ridwan Kamil berencana akan mengunjungi Banda Aceh pada 26 Desember 2015. Kunjungan itu erat kaitannya dengan peringatan 11 tahun bencana gempa dan tsunami Aceh yang terjadi pada Minggu, (26/12/2004).

Hal itu dikatakan oleh sang arsitek yang kebetulan jadi Walikota Bandung melalui akun instagramnya beberapa hari yang lalu. Ridwan Kamil yang akrab disapa Kang Emil mengharapkan ia dapat bertemu dengan anak anak muda Aceh.

"Tanggal 26 Desember saya Insya Allah ke Banda Aceh. Semoga bisa bertemu dengan anak2 muda Aceh dan civitas arsitektur di sana" Tulis Emil di akun instagram @ridwankamil.

Dalam postingan itu, RK juga memposting foto Museum Tsunami Aceh (MTA) karya mahdiadama. MTA itu merupakan karya Ridwal Kamil yang dibangun oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias pada tahun 2009 dengan anggaran besar, 70 Miliyar.

Rencana kedatangan Dosen Arsitektur Institute Teknologi Bandung (ITB) itu disambut cukup positif oleh pengikut instagram Kang Emil yang mencapai 2juta lebih. Umumnya komentar positif dari insta Aceh yang ingin bertemu RK dan dapat memberikan energi positif bagi Aceh.

Ada komentar lucu dan menarik dari pengguna insta yang lain, semisal mengharapkan Walikota Bandung itu untuk menjadi Walikota Banda Aceh.

Ridwan Kamil direncanakan akan menjadi pemateri pada Seminar Nasional Pembangunan Berkelanjutan Dalam Rangka Peringatan Tsunami di Gedung AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala, Sabtu (26/12/2015).

Semoga kehadiran Pak Read One Ka Milk ke Banda Aceh nanti dapat memberikan sesuatu hal baru bagi para jomblo-jomblo Aceh untuk tahan banting terhadap segala kesepian dan godaan mantan. []

15 December 2015

12/15/2015 09:44:00 PM

Sutan Riska, Bupati Termuda di Indonesia



Bupati Termuda di Indonesia
| Bicara Provinsi Sumatera Barat tentu tak bisa dilepaskan Kabupaten Dharmasraya. Menurut situs resmi Pemerintah Kabupaten Dharmasraya terbentuk pada tahun 2003 hasil pemekaran dari Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat. Padang adalah penghasil warung nasi terbanyak seluruh Indonesia. Padang terkenal dengan nasinya, dan lebih hebat lagi provinsi ini memiliki identitas rumah gadang pada tiap gedung pemerintah/swasta.

Pilkada serentak 9 Desember 2015 lalu telah melahirkan pemimpin usia muda di Indonesia. Dia adalah Sutan Riska Tuanku Kerajaan. Walau belum ada keputusan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat, informasi yang beredar di media sudah bisa dipastikan pasangan ini  mendapat suara terbanyak pemilih di Kabupaten Dharmasraya, demikian  menurut hasil hitung cepat sementara.

Saya mendapat bagikan sebuah berita  dari beranda fesbuk akan terpilihnya Sutan Riska Tuanku Kerajaan sebagai bupati termuda se-Indonesia. Karena penasaran, saya mencari tau tentang sepak terjang calon kandidat bupati yang lahir pada 27 Mei 1989 ini. Sekarang umurnya 26 tahun. Ia lulusan sarjana ekonomi di Universitas Andalas, tahun masuk 2008.

Bupati termuda se-Indonesia sebelumnya disemat oleh Bupati Indragiri Hulu, Riau, Yopi Arianto. Bupati Yopi saat dilantik sebagai Bupati Indragiri Hulu tahun 2010, ia berusia 30 tahun kala itu. 

Pilkada 9 Desember lalu, masyarakat Kabupaten Dharmasraya patut berbangga telah menentukan pilihan pada Sutan Riska Tuanku Kerajaan. Dia berpasangan dengan Calon Wakil Bupati Amrizal Datuak Rajo Medan. Sutan Riska adalah Bendahara di PDI Perjuangan setempat. Pasangan ini meraih suara sekitar 45.000 mengalahkan pasangan inkamben Adi Gunawan-Jonsos Putra yang memperoleh suara sekitar 25.000, demikian rilis data sementara dari KPU Dharmasraya. Jika tak ada halang melintang gugat menggugat ke Mahkamah Konstitusi, pasangan Sutan-Amrizal ini akan menjadi Bupati wan Wakil Bupati Dharmasraya periode 2015-2020

Dari situs TEMPO online disebutkan, Sutan Riska yang  mengaku masih sangat muda menjadi seorang kepala daerah. Sutan ingin membuktikan kalau kaum muda bisa memimpin daerahnya dengan baik. "Anak Muda juga siap untuk memimpin dan membangun daerahnya" ujar dia seperti di muat TempoOnline. Kita tunggu saja ia membuktikan kiprahnya memimpin Kabupaten Dharmasraya mewakili harapan banyak kaum muda di Indonesia. Untuk Gubernur Termuda se-Indonesia saat ini masih dipegang rekor oleh Gubernur Provinsi Lampung, M. Ridho Ficardo.  Yang pada tahun 2014 dilantik jadi Gubernur, usinya 34 tahun.

Kenapa pasanga Sutan Riska menang pilkada Dharmasraya? Saya tidak mengetahui banyak soal kondisi masyarakat di sana. Saya menduga (sebagai terduga pengamat) perolehan suara dia karena pengaruh trah namanya sebagai keturunan raja. Dalam hal alasan pemilih, ini tentu saja jadi nilai lebih, dalam teori politik kedai kopi disebut "pemilih kaum."

Usia muda bukanlah sebuah ukuran akan kesukseskan seorang Sutan Riska akan membawa perubahan yang lebih baik bagi daerahnya. Tetapi spirit usia itu bisa jadi motivasi untuk kaum muda yang lain di seluruh Indonesia untuk berani bersaing meraih suara rakyat dan berbuat untuk kesejahteraan masyarakat.

Muda punya karya dan bisa jadi akan binasa atas lalai nikmatnya kekuasaan. Kehancuran memimpin dan berkuasa bisa karena alasan macam-macam. Termasuk bahayanya orang orang yang setelah jadi timses dan jadi sebagai orang lingkaran kekuasaan. Sekarang kita cuma bisa menerka-nerka akan kesuksesan Sutan memimpin daerahnya. Jika program dan kepemimpinannya baik, tentu ini akan jadi sejarah baru kaum muda di Indonesia dalam memimpin. Jika gagal dan masuk sel penjara karena kasus cela/korupsi, alamat binasalah nasib politik kaum muda ke depannya.

Jika Sukarno menyebut berilah saya 10 pemuda, maka akan mengguncang dunia. Maka bagi saya, berilah satu pemudi, maka akan ku ajak ia ke KUA. []


05 December 2015

12/05/2015 08:54:00 AM

Wisata Greenland Aceh Besar


Ayunan, salah satu tempat yang bisa di nikmati oleh pengunjung Wisata Greenland Aceh Besar | husaini ende


Berwisata ke Aceh Besar, rasanya belum lengkap jika anda belum mengunjungi sebuah tempat wisata di Aceh yang paling menyenangkan untuk dikunjungi. Adalah Wisata Greenland Aceh Besar, sebuah tempat wisata Aceh yang berada di pegunungan Jantho, Aceh Besar. Tempat ini adalah wahana wisata baru dengan konsep alam dan outbond.

Saat memasuki ke area ini, Anda akan menikmati pemandangan yang hijau mengasyikkan di kawasan Jantho.

04 December 2015

12/04/2015 07:06:00 AM

Empat Desember dan Kenangan Masa Konflik

Mural Dinding Karya Idrus Bin Harun | koleksi foto pribadi
Tiba-tiba saya teringat pada empat desember tahun 2000. Saya baru memasuki kelas III di STM Bireuen. Kala itu, kami tidak bisa berangkat sekolah karena imbauan mogok massal. Mobil angkutan di jalan raya tidak berani beroperasi. Termasuk minibus Bireuen Express (BE) yang biasanya kami naik untuk berangkat ke sekolah dari Kutablang ke Kota Bireuen. Tahun itu, Bireuen baru saja menjadi Kabupaten, sebelumnya masih bergabung dengan Kabupaten Aceh Utara.

Ketika terjadi mogok massal, warga kampung kerap memilih tak bekerja ke luar rumah yang terlalu jauh. Jikapun berkumpul di pos jaga gampong atau kedai kopi, mereka mengupdate informasi dari sesama warga desa tetangga yang lain yang didapat dari mulut ke mulut. Suasana pasar kecamatan juga lengang. Hanya beberapa yang keras kepala saja berani keluar kedai kecamatan.

Masa itu pasukan GAM kerap keliling dan juga berpatroli ke kampung-kampung. Kadang juga memberondong iring-iringan mobil TNI/Brimob yang melintas di Jalan Medan Banda Aceh. Setelah kejadian pemberondongan, aparat keamanan dengan pasukan tambahan akan melakukan penyisiran. Dengan jangkauan radius sekian kilometer dari tempat kejadian perkara.

Terjadinya kontak tembak GAM dan TNI membuat warga gampong menghindar sementara waktu ke gampong tetangga. Ada juga yang tetap di rumah bersama keluarga. Jika aparat keamanan masuk gampong, Geuchik yang paling sering dicari untuk memberikan keterangan kepada komandan aparat.

Jika tak menjauh dari TKP kontak senjata, risikonya sangat besar sekali. Dampak pemeriksaan identitas KTP dan pertanyaan akan keberadaan anggota GAM. Biasanya, aparat keamanan yang menyisir ke gampong membawa serta informan, mata-mata itu dikenal dengan sebutan cu'ak pada masa konflik Aceh itu.

Pemeriksaan biasa pada kedai kopi saat warga sedang berkumpul, tiba-tiba TNI/Brimob datang dengan truk reo, dengan dinding truk yang sudah dilapisi batang pohon kepala anti peluru. Jika aparat sudah datang ke gampong, memilih diam di tempat adalah jalan agak baik. Kalau lari, maka akan dikejar dengan "timah panas." Warga dikumpulkan, diminta identitas KTP dan diperiksa wajah-wajah yang dicurigai sebagai pasukan GAM. Ada warga yang diambil, dibawa naik truk reo untuk pemeriksaan lanjutan. Beberapa dilepas kemudian hari, beberapa warga lain ada yang ditemukan sudah menjadi mayat yang dibuang di tepi jalan atau di sungai. 

Kala pemeriksaan saat jawaban tak memuaskan mereka, maka bakal kena telapak sepatu lars, ditinju perut dengan popor M16, atau kena push-up dengan ditekan sepatu lars di punggung. Saya pernah kena tinju sekali karena waktu menjawab dengan bahasa Indonesia yang kacau balau.

Alat komunikasi kala itu belum begitu semudah sekarang. Media sosial belum ada, bahkan hape saja tidak pernah kami lihat.  Jika saat itu sudah ada facebook, maka informasi begitu mudah tersebar ke publik. Kita demikian mudah dan cepat mengetahui kejadian kontak senjata dan informasi lainnya.

Kebiasaan pasca terjadi pemberondongan, kami bersama anak muda gampong harus lari menjauh dari TKP pemberondongan. Pasti ada penyisiran. Pernah harus lari menyeberang sungai, hingga sampai ke pinggiran laut yang jaraknya mencapai 15 dari gampong kami. Jika kondisi aman, kami baru memilih pulang, kadang besoknya. Kadang kala tidak bisa balik gampung karena hujan deras, air sungai keruh dan arus deras.

Masa mencekam hari 4 Desember kala itu ada himbauan dari panglima GAM setempat untuk menaikkan bendera bulan bintang di setiap rumah penduduk. Himbauan itu ditempel di pos jaga gampong atau meunasah. Katanya itu instruksi dari pimpian GAM pusat. Warga gampong melaksanakan perintah itu dengan penuh ketakutan risau bukan kepalang, tapi paling cuma sejam, saat ada penyisiran aparat BKO, bendera bulan bintang kami cabut dan sembunyikan di tempat yang aman. Jika ditemukan oleh serdadu, maka sang pemilik rumah akan diangkut ke pos kecamatan, dituduh sebagai simpatisan GAM.

Selesai penyisiran serdadu BKO, datang pasukan GAM yang berkendaraan motor, bendera bintang bulan disuruh naikkan kembali. Penduduk gampong serba salah. Risikonya bagi penduduk sipil tentu saja ada, kondisi warga yang paling rentan kena imbas dari konflik. Serdadu kala itu sangat sulit membedakan mana masyarakat sipil dan mana yang anggota GAM. Penduduk gampong dengan GAM ibarat air dengan ikan.

Pasukan elit polisi masa konflik kala itu adalah Brimob (Brigade Mobil). Umumnya mereka pasukan BKO (Bawah Kendali Operasi) langsung dari Markas Besar dari Jakarta. Saat TNI BKO atau Brimob BKO masuk kampung, yang mengerikan itu pasukan infantri TNI, mereka berjalan kaki menyisir ke penjuru tempat yang dicurigai sebagai basis GAM. Orang kampung menyebut aparat keamanan pemerintah dengan istilah; sipai. Saya tidak begitu tau, darimana asal sebutan untuk aparat keamanan pemerintah itu bermula.

Kejadian itu 15 tahun yang lalu. Saya tidak begitu kuat mengingat sekarang ini. Dua tahun kemudian saya sudah kuliah di Banda Aceh, suasana konflik tak begitu kuat terasa dibandingkan dengan di gampong. Beberapa teman sebaya saya ada yang sudah meninggal, ada yang hilang sampai sekarang tidak tau di mana kuburannya. Hari ini Aceh telah damai 10 tahun lalu sejak 15 Agustus 2005 terjadi perjanjian perdamaian antara GAM dan Pemerintah RI. Konflik tentu saja meninggalkan luka yang mendalam, bagi kita yang pernah mengalaminya dan bagi orang yang bahagia setelah kejadian itu.

Mari kita doakan, semua para syuhada yang telah berjuang untuk kesejahteraan Aceh untuk dilapangkan kuburnya, diterima segala amal ibadanya oleh Allah SWT. Aamiin, Ya Rabbi. []

24 November 2015

11/24/2015 01:49:00 AM

Tutorial Mudah Menambal Timba Sumur

Pernah mengalami sumur timba yang rusak karena pecah akibat terus terusab berbenturan dengan cincin sumur atau benda lainnya? Hingga membuat bagian tertentu jadi pecah. Jika anda mengalaminya berikut ini adalah cara menjahit timba sumur yang pecah. Cara ini diajarkan secara turun temurun sejak lama dan tidak pernah sekalipun diajarkan di sekolah.

Saya memandang cara ini cukup kreatif dan mesti dilestarikan untuk menghemat, timba dapat terselamatkan sementara waktu membeli yang baru. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, diantaranya; Pisau, Lilin, Korek Api, Benang nilon, kawat/jarum. Lakukan langkah berikut ini:

1. Persiapkan benang nilon dan kawat untuk menjahit. Ambil lilin, kemudian bakar lilin itu dengan korek api. Siapkan pisau untuk kebutuhan pemotongan benang.


2. Selanjutnya bakar ujung kawat pada lilin yang telah disediakan. Sampai ujung kawat tampak ke merah-merahan.  Hati hati jangan sampai tangan Anda terbakar. Gunakan tang untuk memegang jika diperlukan.

3. Lalu arahkan ujung kawat panas tersebut untuk membuat lubang pada pinggir timba yang pecah. Jika ujung kawat telah dingin, bakar kembali ujungnya pada lilin. Lakukan sampai berulang kali, hingga semua pinggir timba pecah dilubangi. 


4. Ambil benang yang telah disiapkan. Masukkan ujung benang pada tempat yang sudah dilubangkan. Lakukan itu secara menyilang atau lurus. Tarik benang dengan rapat agar jahitan makin kuat.

Timba telah siap digunakan kembali. Tak perlu membeli yang baru untuk sementara waktu. Demikian tutorial cara menjahit timba yang pecah. Kasih tau pada tetangga jika tutorial ini bermanfaat.[]

11 November 2015

11/11/2015 05:36:00 AM

Tentang Seniman Aceh Ke Jakarta Beinnale 2015


"Setidaknya ada 5 orang seniman muda Aceh diundang ke Jakarta Beinnale 2015, diselenggarakan di Gudang Sarinah itu. Aceh patut berbangga dapat hadir  pada Jakarta Beinnale kali ini. Mereka diundang setelah lolos seleksi ketat tim kurator Jakarta Beinnale (JB), sebuah ajang pameran seni rupa dua tahunan yang diselenggarakan di bawah kendali Komite Seni Rupa, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ" 
 
Muhadzdzier M. Salda, Bergiat di Komunitas Kanot Bu dan Pengelola Ruang Diskusi TerasSore


Asep Topan dan Putra Hidayatullah, Dua Kurator Muda Jakarta Beinnale 2015 menjadi narasumber di Diskusi TerasSore, Banda Aceh, Rabu 24 Juni 2015 | foto koleksi pribadi

Seniman Aceh lolos  ke Jakarta Beinnale 2015 sebuah prestasi yang tidak mudah, atas kerja keras bersaing dengan karya-karya seniman lain dari 17 ribu pulau di Indonesia. Lima orang muda pegiat seni di dari tiga komunitas seni di Aceh itu bergerak tanpa biaya dari pemerintah di Aceh. Tentu saja, kendala itu tak jadi penghalang mereka untuk berkarya di tingkat nasional.  Mereka terpilih dan difasilitasi oleh kepanitian Jakarta Beinnale.

Lima orang seniman muda Aceh yang ikut  ke Jakarta Beinnale 2015 adalah Iswadi Basri, Idrus Bin Harun, Cut Sofia. Ketiganya seniman bidang seni rupa. Lalu ada Fuady Keulayu, ia   akan tampil pada pembukaan JB nanti pada Sabtu, 14 Nov 2015 di Sarinah, Jakarta. Sedangkan Putra Hidayatullah terpilih sebagai Kurator Muda Jakarta Beinnale yang berasal dari Banda Aceh.

Iswadi Basri, seniman seni rupa Aceh ini membawa 12 meter kain kanvas, dibalut dalam 3 biji pipa PVC seukuran ban sepeda motor biasa yang akan dipamerkan di JB. Cek Wadi -panggilan teman dekatnya- melukis dengan tema Air dan Lingkungan, ia menyelesaikan seni mural itu selama sebulan di studio Apotek Wareuna, Banda Aceh. Cek Wadi selama ini berkarya seni di Komunitas Apotek Wareuna. Tahun 2014 Iswadi Basri pernah menerima penghargaan seni dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, kategori seni lukis.

poster TerasSore 
Sedangkan Fuadi S Keulayu akan berhikayat modern pada malam pembukaan Jakarta Beinnale. Ia akan berhikayat dengan biola, seperti teater monolog di atas panggung dengan properti tentang cerita dalam hikayat masa konflik dan damai setelahnya. Fuadi ikut memboyong sebiji senjata mainan yang dilipat dan terbungkus rapi dan beberapa properti pendukung lain, biola adalah identitas alat yang dia mainkan di panggung. Kami sempat ketakukan akan 'senjata' itu, kau saja nantinya waktu pemeriksaan dengan xray di Bandara, bisa akan tertahan dirinya sebentar akan senjata mainan anak-anak itu.  Fuadi akan menghikayat soal cerita cerita lucu semasa Aceh dalam amuk serdadu dan riuhnya peluru di Aceh selama periode 30 tahun terakhir.  Fuadi dan Idrus bergiat di Komunitas Kanot Bu. Idrus Bin Harun, seniman rupa yang mengangkat isu tentang sejarah kekinian Aceh sebelum masa damai. Ia membuat sebuah lukisan berjudul  Bhonneka Tinggal Luka dan sejarah perjalanan akhir setidaknya selama 30 tahun lalu tentang isu kekinian Aceh. Idrus melukis mural dengan panjang 12 x 3 meter di lokasi Jakarta Beinnale.

Lalu Cut Aya Sofiana seorang seniwati yang berkarya di Komunitas Komik Panyoet Aceh, Cut Aya Sofia membuat mural di kawasan Paseban Jakarta Pusat. Diantara seniman itu, berangkat juga Zulham Yusuf. Seorang design digital yang bergiat di Kanot Bu. Zulham ke JB  sebagai tim pendukung  untuk membantu keberlangsungan kawan-kawan seniman dari Komunitas Kanotbu, selama di Jakarta, di samping ia tak ingin melewatkan ajang dua tahunan itu.

Jakarta Beinnale 2015 sendiri mengusung tema besar kali ini; Air, Sejarah dan Gender. Maju Kenak, Mundur Kenak; Bertindak Sekarang. Festival seni rupa dua tahunan itu berlangsung sejak 15 November 2015 – 17 Januari 2016 dengan serangkaian acara berkesenian dan festival karya seni rupa di dalammnya.

Diskusi TerasSore Edisi III; Aceh Un-Instalasi yang menghadirkan Octora dan Riksa Afiaty, Bilik  Rupa Pascadom, Banda Aceh, Rabu (26/08/2015) | foto koleksi pribadi 
Kami dari Komunitas Kanot Bu, sebelumnya menyelenggarakan tajuk diskusi bulanan yang kami beri nama TerasSore. Diskusi semi talkshow ala televisi itu dipercayakan saya sebagai pembawa acara. Kami pernah menghadirkan Putra Hidayatullah dan Asep Topan untuk berdiskusi tentang  Rupa Membongkar Kepura-puraan, diskusi TerasSore edisi kedua itu berlangsung pada bulan puasa, kami mengundang banyak lintas generasi muda pegiat seni di Banda Aceh dan Aceh Besar. Acara itu berlangsung disela sela menunggu waktu berbuka puasa, Rabu 24 Juni 2015.

Lalu pada Rabu 26 Agustus 2015, TerasSore kembali kami gelar dengan mengangkat tema Aceh Un-Instalasi. Dua narasumber juga dari Jakarta Beinnale yang kebetulan sedang ke Banda Aceh, kami membajak mereka untuk berbicara dengan kawan kawan pegiat seni lintas bidang. Mereka adalah Octora, seorang Seniman Perupa Instalasi dari Bandung dan Riksa Afianty, Kurator Muda Jakarta Beinnale 2015.
Poster TerasSore Edisi  III 
Ini sesuatu kebanggaan kami Komunitas Kanot Bu dan pegiat seni di Aceh dalam mendengar banyak hal baru tentang seni rupa dari dua seniman perempuan ini. Atas kesediaan mereka berdua untuk bisa berbagi banyak hal tentang seni rupa. Hal itu tentu saja tak bisa lepas dari peran Putra Hidayatullah, Kurator Muda yang berasal dari Banda Aceh. Terimakasih banyak Putra. Ini menjadi spirit bagi pegiat pegiat seni yang lain di Aceh untuk terus berkarya di tingkat nasional dan international []

Markas Komunitas Kanotbu, 10 Nov 2015 pada sebuah malam yang suntuk dan hari hari sunyi selepasnya. 

05 November 2015

11/05/2015 02:08:00 AM

Sanger Day, Ijakrong Dan Malam Pertama

Sabtu Malam dipenghujung pekan akhir bulan Oktober, saya diundang oleh Aulia Fitri, pengelola Komunitas @iloveaceh untuk hadir pada malam acara peringatan Sanger Day. Saya berkesempatan hadir berbaur dengan puluhan pengunjung yang umumnya dari kalangan pemuda. Acara itu berlangsung di Parkiran Pasar Aceh, Sabtu Malam, (31/10/2015). Saya tertarik datang karena pengunjung akan memakai ijakrong semua, saya ingin merasakan suasana yang berbeda itu. Ternyata, malam itu hanya sekitar 10 orang saja yang benar-benar memakai ijakrong.

Perigatan Sanger Day malam ini yang ke tiga kalinya dilaksanakan sejak pertama kali pada tahun 2013. Sanger Day digagas pertama kali Fahmi Yunus dengan hestek #SangerDay di twitter pada tanggal 12 Oktober 2013. Hestek itu diikuti oleh banyak orang setelah diretwet oleh akun @iloveaceh dan mendapat respon dari nitizen.

Fahmi Yunus pada pengantarnya di peringatan Malam Puncak Sanger Day menyebutkan, Sanger dikenal akrab di Warung Kopi Atlanta, Ulee Kareng, era tahun 1997. Sanger berarti Sama-Sama Ngerti. Kala itu pengunjung Atlanta umumnya dari kalangan mahasiswa. Tahun itu masa krisis moneter. Karena mahasiswa ingin minum kopi susu tapi harga yang sulit dijangkau apalagi akhir bulan. Maka bagi mahasiswa yang ingin minum kopi dengan ada rasa susu sedikit, terjadilah negosiasi antara mahasiwa dan warkop dengan membuat kopi sedikit susu. Munculnya istilah Sanger, sama-sama ngerti antara penikmat kopi dengan warkop. Sanger berbeda dengan kopi susu.

Di kampung saya, Kutablang Bireuen, tidak ada istilah Sanger. Kami mengenal kupi stel, kupi yang distel dengan susu sedikit. Rasa masih terasa pahitnya. Tapi ini ngak disebut kopi susu. Tetap disebut; kopi stel. Kupi Stel dibuat dengan campuran susu sedikit yang dituangkan, harga tetap dihitung harga kopi biasa. Gulanya dikurangi. Tetapi rasanya berbeda dengan Sanger.

Sanger Day malam itu diperingati dengan hidangan sanger dan timphan kepada pengunjung sambil mendengarkan musik dari dua band lokal. Mereka membawa lagu-lagu milik band dari Jakarta. Tak ada sesuatu yang beda. Hanya satu lagu kreatif mereka yang nyanyikan lagu mars iloveaceh. Selebihnya saya seperti mendengar musik dari kaset biasa.

Saya tidak melihat ada sesuatu yang beda dari penampilang mereka. Jika panitia mengajak pengunjung untuk memakai kain sarung, hal itu tidak berlaku pada personel pemusik malam itu. Mereka tetap memakai celana jeans. Mestinya jika memang ingin membikin acara itu berbeda, alangkah indahnya para pemusik itu juga memakai kain sarung.

Sarung sudah jadi bagian identitas masyarakat Aceh dan Indonesia. Saya teringat cerita lelucon tentang dua pemuda yang memakai kain sarung saat berjalan menuju ke masjid. Satu pemuda adalah kader Nahdlatul Ulama dan satu lagi pemuda kader Muhammadiyah. Duanya memakai baju koko dan memakai peci hitam. Lalu bagaimana kita bisa mengetahui identitas keduanya? Menurut ahlus periwayat kisah ini, jika ingin mengetahui perbedaan keduanya, maka kita datangi mereka. Lalu sibakkan kain sarung kedua ke atas; jika pemuda itu tidak memakai celana dalam, itu pemuda NU, kalau memakai celana dalam, itu adalah pemuda Muhammadiyah. Pemuda NU kerap berasal dari kalangan pesantren. Bagi yang pernah mondok, akan paham kenapa santri jarang memakai celana dalam.

Negeri Arab, saya pernah mendengar cerita dari teman yang kuliah sana. Lelaki memakai kain sarung identik dengan lelaki pengantin baru yang sedang atau akan melaksanakan malam pertama. Ini soal budaya tentu saja yang tak perlu diperdebatkan. Bagi budaya kita, kain sarung tak selamanya juga digunakan sebagai alat untuk beribadah. Ia bisa berfungsi ganda sebagai alat untuk tidur. Jika pagi-pagi, masa zaman dulu kala saat kakus masih seluas jagat raya. Kain sarung juga berfungsi untuk menutup tubuh saat buang hajat di sungai.

Bagi kaum muda yang masih lajang, memakai kain sarung saat jalan bersama teman wanitanya adalah sebuah tips agar terhindar dari razia petugas syariah, pasangan itu akan dikira telah menikah. Pacaran ala syariah. Eh, tetapi saya tak bertanggung jawab jika kalian lakukan tips buruk ini.

Peringatan sanger day malam itu adalah bagian dari mengenalkan identitas Aceh kepada masyarakat urban kota Banda Aceh. Tradisi minum sanger + pajoh timphan + ijakrong adalah bagian dari identitas Aceh yang mesti terus digalakkan sebagai bagian dari warisan budaya. Mungkin saja masa akan datang, akan ada peringatan Hari Ijakrong Nasional sebagaimana Hari Batik Nasional.

[tulisan ini telah dipublis juga di acehtrend.co, 2 November 2015]